
Keesokan pagi.
Sebelum subuh Shan terbangun, merasa heran pada tautan jemari kirinya yang terpaut erat.
"Shobahal kheir wa surur wa sa'adah, Sayangku," gumam Shan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Pemandangan indah sebelum fajar, Maa sya Allah. Nikmat menikah begini ya, happy saat melihat wajah bidadari di awal pagi. Sayang, kemajuan kah? semalam gak begini. Jika ini hadiah untukku, terima kasih sudah sangat berusaha bangkit meski aku tahu semua ini gak mudah. Ai, terus semangat ya," bisik Shan, menatap wajah ayu seraya mengangkat tautan jemari mereka.
"Kesiangan buat tahajud, aku kok lelap banget ya didekat kamu. Biasanya gak begini, bismillah. Temani aku ya azizatii," ujarnya lagi. Dia mengecup pipi Maira yang nampak merona di pagi buta. Cahaya redup lampu kamar kian menambah gurat tegas pahatan setiap inci wajah ayu istrinya.
"Istriku," senyum Shan sumringah seraya menyibak selimut dan menjulurkan kakinya menapak lantai beralas karpet bulu berwarna jingga.
Ritual mandi sang bangsawan Turki rupanya memakan waktu lama bagai para putri raja. Tiga puluh menit Shan habiskan untuk membasuh semua bagian tubuh hingga suci.
Ketika dia keluar dari bathroom, wangi segar menguar ke penjuru ruangan. Membuat udara kian fresh kala Shan membuka pintu balkon kamar, membiarkan tirai tipis itu melambai tertiup angin fajar. Wangi green apple, citrus serta ekstrak moroccan mint, tercium kuat seakan menegaskan bahwa pemiliknya seorang maskulin.
Hanya tubuh bawah yang di lilit handuk. Tetesan air masih melekat di badan bagian atas, bulu halus di sekitar dada kian menambah seksi perawakan keturunan bangsawan El Qavi. Andai Maira melihat ini, tentu ia tersipu menatap body hot lelakinya.
Beberapa menit sebelum adzan subuh, dia masih sempat menunaikan sholat sunnah fajar, sholawat pembuka pagi pun tak luput di lantunkan olehnya. Tak lama suara panggilan yang ditunggu, berkumandang.
Jika biasanya keluarga Maira melaksanakan sholat berjamaah di ruang keluarga. Kali ini mereka mengetuk pintu kamar sang putri sulung.
Tok. Tok.
"Shan, sholat berjamaah di sini boleh?" suara Naya.
"Fadhol Bun," jawab Shan lalu ia bangkit dari duduk di atas sajadah, membuka pintu kamar dan menyilakan mereka masuk.
"Biasanya kan berjamaah di bawah, tapi semenjak Maira begitu, kita sholat dan ngaji disini," ujar mertua Shan menerangkan.
Shan hanya mengangguk, ia justru bersyukur keluarganya sangat menjaga dan melibatkan Maira di setiap aktivitas. Kebiasaan Guna Family baru Shan ketahui pagi ini, kereligiusan mereka kentara meski secara penampilan sebaliknya, sangat modern tidak seperti para putra Wisesa.
"Kak, pakai parfum apa?" bisik Mifyaz disela bacaan bin nadzor yang ia lakukan.
Shan sekilas melihat adik iparnya seraya tersenyum. "Body wash." Lalu ia melanjutkan bacaan yaasin serta dzikir pagi.
"Hafiz ya?" tanya Ajmi lagi namun kali ini tak ditanggapi Shan.
Satu jam terlewati begitu saja. Saat semua berbenah akan meninggalkan kamar, Shan menghampiri Maira. Menciumi wajah istrinya, membisikkan doa juga mengucap afirmasi positif.
"Istriku yang jelita, akan kembali afiat fii thoatillah wa rosul. Mencintai keluarga juga aku, serta kerabat dan Ummat. Ahya ku akan terus berjuang dan semangat kembali menggapai mimpi bersama. Menyongsong setiap hari dengan bahagia, di rahmati Allah, dijaga dari segala hasad juga di dekatkan dengan para mahluk-Mu nan sholihah, Aamiin. Morning My Ai," ujar Shan. Perlakuan manis yang disaksikan oleh keluarga Guna membuka pagi dengan banyak syukur.
"Aamiin." Suara Mahendra, Naya juga Ajmi, mengamini apa yang Shan ucapkan membuat pria itu tersipu malu.
"Udah halal Shan, bebas mau ngapain juga," seloroh Mahendra meninggalkan keduanya disusul Ajmi dan Naya. Menantu Guna itu hanya tersenyum simpul.
Ritual pagi sebelum sarapan pemilik nama Shareef Shan selain murajaah adalah bicara dengan sang Bunda meski hanya sekedar menanyakan kabar. Dia lalu menekan tombol panggilan cepat dan me-loudspeaker agar Maira juga mendengar suara lembut Ibunya.
__ADS_1
Sepuluh menit ia bicara pada Dilara, semangatnya kembali berkobar. "Syukron Bun. Hari ini jadwal ku padat, in sya Allah nanti mau minta nomer para suster agar aku mudah menghubungi Ai," ujarnya pada sang Bunda.
Semua telah dilakukan, saatnya bersiap ganti baju. Bukan seorang Shan apabila lisan hanya diam tanpa faedah. Pagi ini yang keluar dari bibirnya adalah nada indah kebanggan para santri.
🎶🎶
"Qola Muhammadun Huwabnu Maliki, AhMadu Robbillaha Khoiro Maliki."
"Musholliyan Alannabiyyil Musthofa, Wa alihil Mustak MilinNas sharofha."
"Wa Asta'inulloha Fil Alfiyyah, Maqoshidun Nahwi Biha Mahwiyyah."
"Tuqorribul Aqsho Bi Lafdin Mujazi, Wa Tabsutul Badla Bi wa’din Munjazi."
"Wa taqtadi Ridhon Bi Ghoiri Sukhtin, Fa Iqotan Alfiyyatabni Mu’thii."
"Wahwa Bi sabqin Ha’izun Tafdhila, Musthaujibun Tsana’iyyal Jamila."
Suara merdu Shan terdengar oleh Mifyaz yang melintas di depan kamar sang Kakak. Adik bungsu Maira masih mencari tahu kepribadian yang iparnya miliki sebab Mahen tak berniat membagi apapun tentang Shan dengannya.
"Eh, Kak Shan bisa? ah coba nyambungin, dia marah gak ya?" Mifyaz iseng mengikuti lantunan bait ke tujuh dari balik pintu.
"Wallahhu Yaqdhi Bi Hibatin Wafirooh, Liwalahu Fi Darojatil Akhirooh."
"Kalamuna Lafdhun Mufidun Kastaqim, Wasmun Wa fi’lun Tsumma Harfunil Kalim."
Shan yang masih asik dengan nadzomnya mendengar sayup suara yang mengikuti. Masih melanjutkan syair, dia membuka pintu dan mendapati adik ipar di sana.
"Eh Kak. Maaf ikutan," Ajmi salah tingkah melihat kakak iparnya memergoki.
"Bisa? gak sekolah? sini masuk Yaz, sambung syair bait kalau hafal," ajak Shan agar Mifyaz masuk ke kamarnya.
"Masih Homeschooling Kak ... hafal tapi gak banyak, hanya 100. Kalau Kakak hingga 400," ujar Ajmi.
"Siapa yang mengajarkan?" tanya Shan karena ia tahu baik Maira maupun Mifyaz tidak mengenyam pendidikan pesantren.
"Bunda. Meski kita gak nyantri, tapi bisa memahami meskipun tidak sebaik para santri. Aku dan kakak juga paham fiqh dikit-dikit," jawab sang adik ipar.
"Maa sya Allah keren. Al Ummu madrasatul ula. Iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq. Lanjut yuk," ucap Shan kemudian, dia melanjutkan aktivitas ganti baju yang tertunda sebab Mifyaz, masih seraya bersyair.
Keseruan pagi antara kedua pria berlanjut hingga sesi sarapan. Mifyaz mengantar breakfast Shan ke kamar karena tadi iparnya itu meminta izin untuk duha lebih dulu.
Ketika di dalam kamar.
"Titip Ai ya Yaz. Hari ini Jasper aku bawa dan akan di rawat di klinik dulu. Setelah itu ke Ayah sebentar ngurusin project aku dan Ai nanti, baru pulang," Shan menitipkan pesan pada Mifyaz.
"Ajmi Kak. Itu aja, karena kakak manggil aku, Ajmi," ujar Mifyaz, dia merasa Shan istimewa bagai Maira, maka pantas memanggilnya dengan sebutan Ajmi.
__ADS_1
"Oh Ok, Ajmi. Tolong ya, syukron."
Senyum mengembang diwajah abege sebab di amanahi oleh sang ipar kebanggaan. Dia mengikuti permintaan Shan saat itu juga, memindahkan semua homework ke kamar Maira. Mifyaz pun mencatat apa saja skill si idola barunya.
...***...
Solo, saat yang sama.
Sudah hampir satu jam Danarhadi mengetuk pintu kamar Fayyadh namun tak kunjung di buka, hingga Kusno terpaksa membongkar kunci panel pintu agar dapat melihat kondisi sang penerus Kusuma.
Setelah pintu kamar terbuka.
"Mas." Panggil Tumenggung karena mendapati Fayyadh masih bergelung dalam selimut. Sang Buyut pun mendekat ke ranjang, menggoyang tubuh cicitnya perlahan.
Sebab tak ada respon, Danarhadi menyentuh tangan Fayyadh yang terkulai. "Innalillahi, panas," ucapnya terkejut kala sentuhan kulit itu merasakan suhu tubuh tak seperti biasanya.
"Demam tinggi ini, Kusno tolong panggilkan dokter ya," pinta sang majikan pada asistennya.
Selepas Kusno pergi, dia bergegas meminta Mban agar mengambil peralatan untuk mengompres sebagai pertolongan pertama.
Saat dirinya kembali, beliau langsung menempelkan handuk hangat ke dahi Fayyadh. Memperhatikan bibir pucat dan kering tanda suhu tubuhnya meninggi.
"Mas, Mas. Kenapa begini, kamu mendem rasa. Harusnya hempaskan, keluarkan biar gak sakit sendiri ... gak apa wes, habis ini sehat ya Le," gumam Danarhadi membelai wajah cicitnya.
Dua jam berikutnya.
Kondisi Fayyadh berangsur-angsur membaik. Dokter mengatakan lambungnya kosong dan dehidrasi ringan. Lengan mulus pemuda tampan itu kini telah di hiasi selang panjang bening dengan ujung kantong diatas tiang. Fayyadh di infus agar tubuhnya lekas pulih.
Rasanya Danarhadi ingin mengabarkan pada Amir namun dia masih dapat mengatasi situasi ini hingga niat itu urung dilakukan.
Dahi pangeran Kusuma, kini nampak berpeluh.
"Hai, lekas sehat ya. Jangan berlama berkubang duka, yang butuh kamu itu banyak. Semangat."
"Apa pedulimu?"
"Tentu aku peduli. Wanita sholihah bukan hanya dia, buka mata dan hatimu, wahai Fayyadh. Jangan siakan ilmu yang kau miliki."
"Siapa? kamu siapa? Hai, wanita bercadar."
.
.
..._______________________...
...Maaf baru UP. Jemput sulung dulu hari ini karena sudah masuk liburan. 🙏🏾🥰...
__ADS_1