ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 29. FLOFFY CRAFT


__ADS_3

Setelah obrolan dengan Mahendra, Amir membicarakan hal itu dengan Aiswa. Ibu tiga anak ini tak banyak berkomentar sebab semua bukan ranah dan wewenangnya meski terselip kecewa di hati.


"Rohi, bukan putramu gak pantas tapi bayangkan apabila mereka selisih paham, salah satunya tersakiti. Kamu mau pernikahan mereka bertahan hanya karena ingin menjaga kita, keluarga besar?" ujar Amir sepaham dengan sang Ayah.


Aiswa diam, menimbang apa yang suaminya katakan. "Tapi, Bii. Fayyadh?"


"Bagaimana caramu kala kita dulu? nah tularkan ke Fayyadh. Rohi, urusan kita menjaga hati semua orang, tak cuma putra kesayangan. Bukan Allah gak memihak, tapi memang cinta yang Allah titipkan pada Maira, bukan milik anakmu...."


"Mas Panji selalu support apapun untuk keluarga besar, maksimal dengan segala upaya yang dia punya. Caranya menyampaikan maksud dan penolakan juga sudah sangat santun. Mana ada kepala keluarga meminta izin ke yang bukan wali dan berwenang untuk menerima lamaran seseorang? apa namanya jika bukan karena menjaga hati kami semua? dia juga ragu, andai ku utarakan rasa keberatan tentulah beliau akan menolak, sama seperti nasib Fayyadh," pungkas Amir mencoba menyetarakan pemikiran dengan Aiswa.


Lagi-lagi Aiswa hanya diam merenungi semua ucapan sang suami. Benar, jika dulu dirinya sama saling mencintai namun dipisahkan waktu. Maka jelas perbedaan dengan kasus Fayyadh, Maira tak mencintai putranya.


Huft. Aiswa tersenyum manis untuk Amir.


"Apa senyum-senyum gitu? udah sadar?" sindir suami tampan melihat istri cantiknya sumringah.


"Bii, pinter dan bijaknya gak pernah luntur ya. Aku paham, betul yang Qolbi ucap tadi. Syukron Sayang," senyum Aiswa mengembang sempurna.


"Tidur yuk Rohi, jangan naikin mood. Kamu lagi itu," elak Amir ketika Aiswa ingin menggodanya.


...***...


Keesokan Siang, Solo.


Sesuai perjanjian kemarin, penandatanganan kerjasama dengan Tuan Glenn Tusakti dilaksanakan hari ini di tempat yang sama. Inginnya tak ikut sang kakek menghadiri pertemuan namun Abah menarik paksa Fayyadh, padahal dia masih rebahan di atas ranjang mewah berhias full ukiran Jepara.


"Mas, ayo ikut Abah dan Pak Kusno buat resmikan kerjasama dengan Floffy Craft di Kebon Jiddah Artha," ajak Abah saat telah berada di dalam kamar cucunya.


"Floffy siapa? kan aku gak ada hubungan apapun dengan ini semua, Bah," elak Fayyadh enggan beranjak, masih erat memeluk guling juga bergelung dalam selimut.


"Kata siapa, Mas Fayyadh itu loh jadi saksi dengan Pak Kusno. Juga nanti semua pendistribusian bunga, bakalan kamu yang handle selama liburan di sini. Pak Kusno ngurusin event," sahut Abah lagi, sukses membuat putra sulung Amir terjengkit kaget atas pernyataannya.


"Lah. Ogah!" elak Fayyadh.


"Buru siap-siap, Mas. Gak profesional banget nanti kalau kita terlambat," ujar sang kakek berlalu pergi meninggalkan Fayyadh dengan teriakan bak tarzan.


"Bah, Abah gak bisa gitu. Dih, Abaaaaaah," seru Fayyadh dari atas ranjang.


"Raden Mas Althafaris Fayyadh! kamu pikir rumah ini hutan?" Danarhadi yang melintas, menegur Fayyadh sebab pintu kamar terbuka lebar sehingga teriakannya menggema.


"Uyut, Uyut tolong bujuk Abah donk. Kan aku gak selamanya di sini, gimana sih?" Fayyadh memohon pada Danarhadi.


Merasa kali ini butuh menenangkan cicit kesayangan, Danarhadi pun masuk ke kamar.


"Mas, biar liburan disini manfaat, bantu kakekmu. Itung-itung jalin relasi buat usaha kamu kedepannya. Umma juga kan mau ada pameran di Solo pekan depan," bujuk sang buyut.

__ADS_1


Fayyadh seketika menutup mulutnya rapat. Sedikit mencium usaha keluarga untuk menghibur hati yang tengah luka. "Gitu ya?" jawabnya kemudian.


Danarhadi mengangguk pelan. Membelai wajah tampan di hadapannya. "Pelan-pelan, ikhlas meski sulit ya, Mas. Kami selalu ada bersamamu, jangan kemana-mana nyari pelampiasan. Habiskan waktu dengan hal positif sehingga Allah nanti bakalan ganti dengan yang lebih baik atau mungkin karena ilmu kamu tinggi maka Allah pilihkan seseorang untuk kamu bantu dengan kepahamanmu," tutur Danarhadi.


Pemuda itu memeluk tubuh senja sang buyut, begitu banyak yang sayang padanya. Tak salah memang jika ia memilih Solo sebagai tempat menenangkan diri.


"Bismillah, Mas Fayyadh bisa bangkit. Do'akan Maira lekas sehat dan bahagia jika ada lelaki baik yang melamar," imbuh Danarhadi, sedikit memantik emosi.


"Memang sudah ada ya, Yut?" seakan Fayyadh ingin tahu.


Tak ada jawaban dari Tumenggung Danarhadi, lelaki renta itu hanya tersenyum penuh arti.


"Mas." Suara Abah memanggil kembali.


"Sana, Mas." Danarhadi menepuk lengan cicitnya sebelum ia beranjak keluar kamar.


"Beik, bentar Abah, ganti baju dulu," jawab Fayyadh kemudian bersiap.


Althafaris Fayyadh, patah hatinya memang tak mengeluarkan lelehan air mata namun tetap saja dia merasakan sakit. Keseharian pemuda tampan itu kerap dihabiskan dengan tidur sepanjang hari. Tiada suara merdu muroja'ah terdengar dari mulutnya lagi. Malas, sebab nafsu menguasai ketenangan batin. Inilah, yang Abah dan Danarhadi tangkap dari perilaku cicit kesayangan satu ini.


Jika ayahnya dahulu saat patah hati, mengasingkan diri ke Semarang. Menuai konflik baru disana, maka sebisa mungkin sang Kakek menggenggam Fayyadh agar tak jauh terlena.


Tiga puluh menit berlalu. Kebon ArthaFlo.


Saat ketiga pria beda jaman tiba di lokasi, rekan bisnis mereka nampak tak terlihat sehingga Kusuma leluasa menyiapkan semua berkas dan lainnya.


Rombongan Tuan Glenn Tusakti tiba. Abah langsung menyilakan mereka masuk dan mengatur tempat duduk.


"Mas," bisik sang kakek menyenggol lengan Fayyadh yang masih main game, agar menyalami rekan bisnis lebih dulu.


Fayyadh menoleh ke arah Kakeknya. "Oh iya." Dia pun menutup gawai, dan bangkit.


Degh.


"Halo Mas, kemarin belum kenalan resmi ya. Saya Glenn," ujar pria paruh baya menjulurkan tangannya ke hadapan Fayyadh.


"Fayyadh, Tuan."


"Fiora." Gadis yang kemarin mengenakan pakaian seksi minim bahan, kali ini tampak sangat berbeda. Busana yang dia kenalan lebih rapi, blazer panjang meski skirt ketat seperti biasa. Rambut ikal coklat sebahu ia gerai begitu saja, kontras dengan warna kulit putihnya. Dia menjulurkan tangan ke hadapan Fayyadh.


"Afwan, Fayyadh." Pandangannya tetap menunduk meski sekilas ia melihat perubahan penampilan Fiora. Lelaki tampan lalu menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada, sebagai isyarat salam untuk gadis itu.


"Eh, sorry." Fiora merasa kikuk, menarik tangan yang menggantung di udara.


Setelah sesi perkenalan, tiba saatnya penandatanganan kerjasama. Fayyadh melihat nama Fiora sebagai owner Floffy Craft yang tertuang dalam surat perjanjian.

__ADS_1


"Sh-itt, gue bakalan berurusan dengan dia lagi gitu? laki sok suci," kesal Fio dalam hati saat melihat nama Fayyadh tercantum sebagai penanggung jawab pelaksana pendistribusian bahan baku ke tokonya.


"Astaghfirullah, dia yang bakalan tanda tangani semua pasokan kami? semoga gak cari ulah nanti," batin Fayyadh.


Satu jam waktu berlalu begitu cepat.


Tuan Glenn mengajak mereka ke lokasi florist yang baru saja siap. Pasokan awal akan di kirim dua hari kemudian. Abah pun menyarankan agar florist dilengkapi ruangan khusus untuk menyimpan bunga agar tetap segar disamping penataan center view di etalase toko.


Sepanjang perjalanan yang asik bagi para Sepuh, namun tidak untuk kedua muda mudi. Hingga tiba saat di florist, Fayyadh mengamati interiornya.


"Cantik, siapa yang mendekorasi ini? chic, girly juga cozy," kagum lelaki tampan memindai sekeliling.


"Aku lah, siapa lagi? design dari Agency gak masuk ke konsepku. Karena kan ada galery crochet juga disini," jawab Fio ketus.


"Oh, gak kepikir kalau ini hasil kerja gadis macam kamu," Fayyadh tak kalah dingin menanggapi.


"Kau!" geram Fio.


Lelaki muda keturunan Kusuma, mengelilingi ruangan yang lumayan luas. Melihat beberapa koleksi tas rajut yang terpajang indah di sana.


"Ini di jual gak?" tanya Fayyadh saat melihat clutch berwarna jingga, teringat warna favorit Maira.


"Dijual lah, ngapain ada disitu kalau bukan untuk sale. Ngaco," cebik Fio merasa pertanyaan Fayyadh konyol.


"Buat siapa? pacar?" imbuhnya lagi, mendekat ke arah ambalan dimana tas itu berada.


"Bukan, sepupu. Tapi gak jadi deh, belum tentu juga dia suka dan bakalan dipakai. Apalagi untuk jenis kek gini," ucap Fayyadh lagi.


"Heh, kamu mau bilang hasil kreasiku ketinggalan jaman, jauh dari kata trendy gitu? gak branded? lihat medsos Floffy Craft makanya. Punya gadget cuma buat ngegame doank ya wajar sih gak update," geram Fiora sekaligus mencibir pernyataan Fayyadh.


"Lah, aku gak bilang gitu. Otak Bu dosen kebanyakan diksi, makanya su'udzon mulu. Cari bacaan yang berkualitas lah Bu. Jangan baca kisah baper mulu," balas Fayyadh seraya berlalu dari sana.


Ketegangan di antara mereka tak langsung sirna saat itu hingga akhirnya Abah dan Tuan Glenn kembali ke ruangan dimana kedua muda mudi berada.


"Lusa soft launching, semoga bisa hadir ya, Pak Wisesa," ujar Glenn Tusakti mengantar kedua partner bisnisnya keluar toko.


"In sya Allah. Nanti saling save kontak dengan Fayyadh saja ya Nona Fio karena bakal banyak berurusan dengannya," saran Abah melihat sekilas pada Fiora, sebelum mengajak rombongan kembali ke mobil.


Tak lama, kerumunan itu membubarkan diri. Fiora kembali sibuk dengan tokonya dan Kusuma pulang ke kediaman di Joglo Ageng.


"Mas, jaga sikap ya. Fio katanya mau tunangan," ucap sang kakek.


"Hem. Aku juga gak minat," jawab Fayyadh enteng, masih dengan gawai ditangan melanjutkan game yang tertunda.


.

__ADS_1


.


...__________________________...


__ADS_2