ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 79. GAMANG


__ADS_3

Keesokan pagi, USA.


Maira masih bergelung dalam selimut setelah subuh. Dia sedikit merasa pusing sebab Shan mengganggu tidurnya semalam. Tidak ada yang mereka lakukan, hanya saja sang suami tampan kerap menggoda dengan berbagai macam sentuhan.


Princess Kusuma sudah menawarkan diri, namun Shan menolak. "Kamu cape, aku cuma mau kenalan doank," kekeh Shan sebelum dia mendekap erat wanitanya.


Pagi ini seharusnya mereka berdua terbang ke negara yang terkenal romantis dengan nuansa saljunya namun Shan menunda keberangkatan sebab Maira masih tidur pulas.


Putra Ezra tak jemu memandangi wajah ayu yang sebagian tertutup anak surai. "Dia manis banget kalau tidur, beneran persis sleeping beauty. Pantas Fayyadh enggan melepas. Kalian besar bersama, hafal kebiasaan satu sama lain namun aku justru beruntung."


Waktu hampir menjelang dzuhur. Maira menggeliat. Netra bulatnya memicing akibat terkena bias cahaya dari tirai yang sengaja Shan buka.


"Zie?"


Sunyi.


"Zie?" suara manja Maira saat baru bangun tidur.


"Kak."


"Aku disini." Shan muncul dari balik punggung wanita ayu. Mendekap dan menciumi pipi Maira.


"Zie, sekarang jam berapa?" ujarnya menelusupkan kepala, beringsut membalik tubuh menghadap Shan.


"Zie? who's that?"


Maira diam, dia kembali terlelap. Shan tak ingin wanitanya tertidur kembali, dia menciumi pipi dan hidung bangir istri cantik dalam pelukan.


"Sayang, siapa Zie? kamu ngigau ya, aku jealous loh."


Putri Mahendra terusik. Dia membuka sedikit netra. "Kakak."


"Hmm? maksudnya?"


"Zie itu kakak. Azizi, kesayangan aku," ujar Maira, kembali setengah terpejam. Kantuknya sulit menyingkir, kian menggelayut di pelupuk mata.


Shan terdiam, tak salah dengarkah? wanita ayu ini menyebutnya demikian. Memang ada keinginan meminta Maira mengganti panggilan untuknya, namun dia segan.


"Ulangi, Sayang." Shan mengusiknya lagi dengan ciuman basah di semua inci wajah.


Maira menyerah, dia membuka lebar matanya. "Beloved Zie, my own Azizi, kesayangan aku."


Keturunan El Qavi sumringah. Dia menatap manik mata amber yang masih mengerjap. "Manisnya. Makasih cantik, aku happy banget, makasih ya Sayang, makasiiiiiiiih." Shan kian menghujani istrinya dengan berbagai kecupan, ungkapan cinta, sebab dirinya gemas.

__ADS_1


"Udah udah. Iya aku bangun." Maira berusaha melepaskan diri dari cekalan.


"Setelah dzuhur, kita berangkat. Jangan lupa niat sholat jamak dengan Ashar," ujar Shan menarik kedua lengan Maira agar bangkit.


"Loh Zie, udah packing? kok ringkes semua?" tanya Maira heran melihat kopernya juga ransel Shan telah rapi. Satu kotak besar juga sudah nampak siap kirim via bagasi.


"Teddy bear, juga baju lain yang gak terpakai aku send kargo saja ya, Ai. Di travel bag kamu hanya berisi barang penting."


Satu jam kemudian, mereka telah bersiap menuju Bandara guna melanjutkan perjalanan menuju negara tujuan honeymoon.


...***...


Indonesia, Solo.


Abah bersiap menuju pondok Yai Shodiq guna mengabarkan tentang jawaban Fayyadh atas permintaan Afra yang baru dikirimkan Aiswa semalam.


Pria paruh baya itu pergi ditemani Kuntara, membawa map milik gadis sholihah sekaligus draft lembar jawaban yang diamanahkan oleh sang menantu.


Satu jam perjalanan, akhirnya Honda Freed putih memasuki kawasan pesantren. Kedua pria di arahkan untuk menunggu di ruang tamu pondok.


Tak lama, pasangan alim pemilik pondokan, menemui Abah. Ketiganya berbincang sejenak sebelum menyampaikan maksud.


"Cucu Ana sudah memberikan jawaban semalam. Monggo, silakan ditelaah," ujar Abah menyerahkan berkas diatas meja.


Abah tak berani memberikan saran, beliau memilih manut, saat ini.


Atas anjuran suaminya, Nyai urung mempertemukan Afra dengan Kusuma, menimbang berbagai kondisi. Tak lama, Wisesa pamit undur diri asbab maksud dan amanah cucunya telah tersampaikan.


Sebelum pulang kembali ke Joglo Ageng. Abah menyempatkan diri melihat Kebon. Sudah lama dirinya tidak berjalan menyusuri banyak pos di sekitar perkebunan bunga milik sang kakek.


Dia rindu. "Meela, cucu kita semuanya alhamdulillah sudah mandiri juga berakhlak baik. Aku sedang menunggu waktu untuk bertemu lagi denganmu," gumamnya kala melihat hamparan tanaman mawar putih juga bunga sedap malam, kesukaan sang istri yang lama telah berpulang.


"Hatiku tetap sama, mencintaimu hingga akhir hayat meski aku tak berani meminta balasan darimu, atau bahkan memohon pada Allah agar di kehidupan lain, kamu juga mempunyai rasa yang sama untukku." Netra tuanya mengembun. Rindu pada seseorang yang tak mencintai dirinya ternyata juga dapat menoreh luka.


Huft.


"Aku cuma bisa memohon pada-Mu ya Allah. Jangan Kau timpakan sakit yang sama pada keturunanku sebab perkara hati dan tradisi apalagi secara syar'i. Aamiin."


Langkah kaki senja Wisesa berlanjut menuju sektor pos lima. Kawasan ini menurutnya tempat paling nyaman dan sunyi untuk menikmati Kebon sebab posisi yang rendah di tepi jurang, memiliki keindahan tersendiri.


Netra nya tak sengaja melihat sosok wanita seperti yang dia kenal namun rasa meragu sebab dia mengenakan busana berbeda.


Abah menghampiri, sayup terdengar isakan halus dari bilik beratap daun kelapa kering disana.

__ADS_1


"Nak Fio?" Abah mencoba memanggil gadis itu.


Fio menoleh. "A-abah." Dia menyeka air matanya.


"Kenapa disini, kok nangis? bukannya menikmati pemandangan," tanya Abah lembut duduk di hadapan gadis sebaya cucunya.


"Fio baca ini. Kisah ini, kenapa beliau begitu cinta dengan Rosulullah? mengapa yakin dengan ajaran yang dibawanya? dan ini, putrinya sendiri bahkan rela melepaskan suaminya sebab tak seiman," gadis cantik yang kini berbusana sangat rapat itu kian terisak.


"Tauhid Nak Fio. Keesaan Tuhan. Banyak tatanan, anjuran juga cara memuliakan manusia, keadilan yang ummat butuhkan di tengah ke jahiliyah-an ... jadi menangis sebab itu?" selidik Abah.


"Iya. Hatiku, Abah. Mama Fio memeluk Islam menjelang akhir hayatnya. Aku gak membela Mama saat Papa murka, mengabaikan beliau dan membiarkan seorang diri merasakan sakit hingga ajal menjemput. Tapi anehnya, wajah Mama berseri saat Papa menyerahkan jenazah untuk di urus secara islam. Fio merasa durhaka," tangisnya pecah.


"Alhamdulillah. Tuan Glenn bijaksana, dia tidak ridho namun paham agama istrinya ... Banyak berdoa untuk Mama ya Nak Fio," ujar Abah menenangkan.


"Semakin aku mempelajari ini, semakin hatiku condong kian dalam. Tapi aku takut," ujarnya disela isakan.


"Hidayah itu datang bukan dari mahluk atau para Nabi, murni hak preoregatif Tuhan pada siapapun yang Dia kehendaki, hadir berwujud dalam lima bentuk yaitu al-wijdan atau al-ilham (naluri), al-hawas (indera), al-‘aql (akal rasio), al-wahyi (wahyu, agama) dan al-tawfiq atau al-ma’unah (pertolongan spontan dari Allah dan sesuainya kehendak Tuhan dan rencana manusia)."


"Apa saja Bah, contohnya? agar aku mudah mengerti," Fio menyeka air matanya.


"Yang pertama, naluri bisa kita analogikan pada bayi, dia menangis, merengek minta Asi saat lapar atau semua binatang ketika dia akan membangun sarang. Darimana ilmu itu? kan binatang tiada akal sempurna kecuali insting ... kalau hidayah tentang indera contohnya respon. Kalau Nak fio happy pasti bahagia dan sedih ya tentu menangis," imbuh Abah.


"Untuk contoh ketiga, hidayah yang khusus diturunkan pada manusia agar dapat berpikir, mempelajari suatu ilmu ... ini bisa hadir atau dimiliki ketika kita menghadapi satu masalah. Kebanyakan orang menyebutnya sebagai hikmah atau ketika kita dapat mengambil pengajaran dari suatu peristiwa, kayak tadi, penyesalan."


"Hidayah keempat ini, yang sering disebut sebagai petunjuk dari Tuhan. Sebab hanya Dia-lah yang berkuasa atas ini. Panduan agar manusia tahu mana baik dan buruk. Kalau dalam dunia kerja mungkin S.O.P gitu, kewenangan ada pada puncak."


"Dan paling akhir, hidayah yang dapat menjadikan manusia teguh ada di jalan-Nya. Bersih hati jiwa raga sehingga yang terpancar dari diri itu hanyalah amal kebaikan. Nah, Nak Fio, simpulkan sendiri ya."


Gadis belia nan ayu seakan mencerna apa yang dijelaskan sepuh berkharisma di hadapan. Bibirnya tersungging senyum manis. Namun meredup seiring nada dering ponselnya berbunyi. "Papa."


"Abah, doakan Fio ya. Maaf pamit duluan, di cari Papa. Nanti aku tanya lagi, makasih banyak Abah."


Putri Glenn Tusakti bergegas merapikan semua buku bacaan yang berserakan diatas bilik. Dia pun berlari kecil menaiki undakan tangga setelah berpamitan, menuju parkiran atas.


Wisesa hanya memandang penuh kekhawatiran padanya. "Semoga kamu dimudahkan ya Nak, dalam segala urusan. Gigih sekali," ujarnya kemudian seraya bangkit.


Baru beberapa langkah. Kakinya berhenti kala melihat satu buku terjatuh. "Kayak punya Fio, Kisah cinta putri Rosulullah," lirih Abah membaca judul buku.


Bibir pria ningrat itu menyunggingkan sebuah senyuman, seraya membawa buku yang dia temukan.


.


.

__ADS_1


...__________________________...


__ADS_2