
Rey mengawal sang keponakan hingga mobil yang dia tumpangi masuk ke basement apart mewah dimana orang tuanya tinggal.
Orchid Land.
Salah satu kawasan elit milik Kusuma yang dikelola oleh Exona, perusahaan properti dimana Mahendra salah satu petingginya dahulu sebelum di gantikan oleh Rey.
Reynan Lee, menunggu sang keponakan turun dari mobil agar bersama naik menuju unit mereka di lantai sepuluh.
"Maira, ayo. Sini Uncle bawakan travel bag-nya," Rey menarik koper berwarna orens, warna kesukaan gadis ayu.
"Kan lemas, kecapean. Maira, dulu Uncle juga kayak kamu kalau gak pegang sen-jata sehari aja gimana gitu. Tapi Ayahmu, ngasih obat biar gak kecanduan," ujar Rey seraya mereka menaiki lift.
"Apa?"
"Healing ... tidur, makan, denger musik, nonton atau sekedar ngopi aja," saran Rey kemudian.
"Hmmm gitu ya, kalau punya piaraan, boleh gak sih Uncle? aku pengen kucing kecil yang bulunya lebat tapi gak mudah rontok," sorot matanya berbinar kala menceritakan keinginan memelihara kucing.
Reynan Lee hanya tersenyum menoleh pada gadis disamping. Maira telah beranjak dewasa, wajah duplikat Naya namun lebih ayu, postur tegap layaknya Mahendra, juga kalem seperti pembawaan sang kakek. Sempurna, fisik idaman bagi semua gadis.
"Nanti Uncle bantu bilang ke Ayah. Karena kalau bujuk Bunda, Uncle juga gak berani."
Mereka berdua tertawa lepas, Naya memang sangat tegas dan disiplin melebihi Mahen, tak heran, akibat kebucinan sang suami padanya membuat titah Naya semakin tak terbantahkan.
Ting. Suara pintu lift terbuka.
Biip.
Sang asisten menekan panel kunci pintu apart agar terbuka. "Nona, silakan."
"Uncle, dinner di rumah kan? Onty di dalam loh," ajak Maira masuk dalam apartemennya.
"Mau mandi dulu, nanti Onty kamu ngambek kalau Uncle gak wangi," balas Rey melambai ke arah sang gadis seraya membuka pintu unitnya yang hanya dipisahkan satu tetangga mereka.
Maira menggangguk riang. Keinginan memelihara kucing akan mulus jika Rey membantu membujuk ayahnya.
"Assalamu'alaikum, Maira coming home."
Sepi.
"Kemana semua sih? tadi diminta buru-buru pulang," gumam Maira melepas sepatu, meletakkan pada rak dan mengganti dengan sandal rumah.
Kaki panjangnya dia langkahkan lemas, menggesek permukaan lantai, menuju living room.
"SURPRISE ... welcome home KAKAK...."
Maira terkejut, semua keluarganya berkumpul diruang tengah. Lengkap dengan dekorasi serba orens.
"Aah...." pekiknya tertahan karena haru, Maira membuka tangan lebar menyambut mereka.
__ADS_1
Naya menghambur ke pelukan putri sulungnya, disusul Mahen. "Aku happy, thanks Yah, Bun."
Betapa beruntung dirinya, di hujani banyak cinta dan kasih sayang terutama dari kedua orang tua juga adik lelaki satu-satunya.
"Kak, buat kakak," Mifyaz Ajmi, menunggu giliran dipeluk sang kakak idola, seraya membawa buket coklat juga bunga pink rose, persis kesukaan sang Bunda. Mendengar suara sang putra bungsu, pasangan itu mengurai pelukan mereka.
"Sayangku, My Ajmi, beloved baby boy," serunya riang sambil menarik adik laki-laki imut dalam pelukan. Ajmi, panggilan sayang Maira untuk Mifyaz.
"Kangen banget sama kamu Dek, sudah bisa bikin apa aja? rakit bom?" seloroh Maira.
Dia hanya tersenyum simpul. "Bikin robot asisten kak, tapi masih rangka, karena Ayah sibuk panen di kebun jadi belum sempat cek karya aku," jawabnya berbinar di iringi usapan tangan Mahen dikepala.
"Sabar Yaz, Ayah kan punya tanggungjawab dengan pekerja. Bunda juga, Queennaya dan Queenny lagi banyak kegiatan juga pesanan."
"Bunda lihat setelah ini ya, Sayang. Maafkan kami, lama respon," ujar Naya mengecupi pipi putranya.
Seperti biasa, Mifyaz hanya tersenyum tipis seraya mengangguk.
"Dih gemesin, belagak cool banget sih," Maira mengacak rambut adiknya yang memang jarang di sisir namun justru membuat dia semakin keren.
"Makan yuk, udah siap di teras samping nih," ajak Mega Chandini, asisten Naya sekaligus istri Rey.
"Onty, aku kangen. Masak kesukaan aku kan?" Maira menghambur dalam pelukan.
"Tentu, Bunda juga masak semua kesukaan kamu. Lihat nih...." Mega menarik lengan keponakannya melihat hidangan yang menggugah selera.
Lima menit bercengkrama melepas rindu sambil menunggu Rey tiba, akhirnya lelaki yang selalu klimis itu bergabung dengan mereka.
Tersisa Rey dan Mahen dalam ruang keluarga setelah penghuni lain memilih masuk ke kamar untuk beristirahat.
Perbincangan sesama pria dewasa pun dimulai.
"Bang, tadi saat di Istal, Maira bilang ingin punya binatang peliharaan. Kucing, boleh atau gak? kayaknya tuh bocah nyandu sama dunianya," ujar Rey membuka obrolan.
"Udah bilang dari bulan kapan ya masalah kucing, cuma kan dia pergi pulang mulu. Naya sudah padat jadwal, aku gak tega kalau harus nambahin kerjaan ngurus peliharaan Maira ... nanti di bicarakan lagi sama anak itu, kali ini bakal Naya loloskan atau sebaliknya," balas Mahen seraya menyesap kopi terakhir.
"Semoga di kabulkan. Oh ya, satu lagi ... ada calon ideal buat Maira," imbuhnya.
"Masih jauh lah Rey, biarkan dia milih sendiri kalau masalah itu. Tapi jika buat kandidat sih boleh ... putranya siapa?" Mahen penasaran, tak biasanya Rey mengurusi hal demikian.
"Abang pasti tahu lah, siapa saja customer loyall Queenny, ayahnya lumayan famous ... dia termasuk jenius sih. Dokter muda dan dosen di usia 20 tahun ... satu lagi, sudah mandiri, punya beberapa petshop juga penangkaran hewan peliharaan ras unggul," terang Rey lengkap.
"Detail amat, terniat ya?" kekeh Mahen. "Briliant, sholeh gak? semua tadi nol besar kalau agamanya tidak baik Rey," imbuh Ayah Maira.
"Aku cari tahu lagi. Hobi sama kayak Maira ... tadi aku ketemu di Istal, kalau mau lihat profile dia masuk ke LinkedIn aja, blog atau channel You-Tube ... ini nama dia...." tutur Rey kali ini jauh lebih lengkap, mengirimkan tautan medsos kepunyaan sang kandidat.
"Padat amat jadwalnya. Punya waktu cukup gak nanti buat Maira ku? aku cuma ingin pria yang---"
"Yang kayak Abang, paket komplit Rey. Titik," Naya bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Rey balik gih, jangan ajak suamiku begadang lagi, sana kekepin Mega daripada terong ama terong kan," ucap Naya asal.
Mahen hanya tertawa, kelakuan bar-bar istrinya tak pernah berubah.
"Ya ampun Naya, blak-blakan amat ya ngusir orang, kan kita udah lama gak ngobrol ini," kilah Rey enggan beranjak.
"Lagak, ngaku gak suka ngobrol tapi tiap pagi sarapan disini. Tetangga macam apa itu?" bantah Naya lagi, seraya menggelayut manja dalam pangkuan Mahen.
Kali ini kedua pria tak dapat menahan tawa, atas ocehan sang Nyonya Guna. Sifat asli ini muncul kala tidak ada para bocah. Penjaga image nomer wahid, julukan dari Rey untuk istri mantan Bosnya.
Tak lama Rey pun pamit pulang. Sementara pasangan yang selalu mesra itu melanjutkan obrolan tentang keinginan Maira juga sang calon kandidat seraya melihat profil dari Rey tadi.
"Aku cuma ingin Maira di hujani cinta, kesetiaan dan dimuliakan oleh suaminya kelak. Persis cinta yang selama ini dia terima, semoga di dekatkan dengan lelaki sholeh, seperti suamiku, aamiin ... kalau urusan kucing, boleh deh asal dia tanggungjawab nanti," Naya membelai wajah tampan suaminya. Meski sudah berusia setengah abad, namun pesona Mahendra tak pernah surut di mata ibu dua anak ini.
C-up. Naya mengecup berulang bibir beraroma kopi.
"Jangan mancing ... Baby kamu tahu aku kan. Nanti ngeluh capek padahal kelakuan begini," seloroh Mahen.
"Masih sanggup ya?" Naya tergelak, sejujurnya dia khawatir. Mahendra tidak pernah setengah-setengah jika urusan ranjang.
"Bikin kamu gak bisa bangun, sangat sanggup. Ayo," Mahen menggendong tubuh seksi istrinya meski sudah tak lagi muda. Keturunan Kusuma di tuntut menjaga badan tetap proporsional. Tak heran semua wanita Kusuma tetap mempesona.
"Bun, Ayah. Ckck kelakuan nih ngumbar mulu, bikin pengen nikah muda nih nanti," Maira memergoki kemesraan orang tuanya, sambil lalu menuju pantry.
"Serius, Maira?" tanya Mahen masih menggendong Naya di ujung anak tangga.
"Hmmm ... kalau ada lelaki sholeh, boleh ajukan ke Maira," ujarnya lagi melanjutkan langkah.
"Baby, gimana?" bisik Mahen.
"Apanya? aku siap lah," sahut Naya asal diselingi tawa keduanya.
"Sayang, kita bicara after breakfast ya," seru Mahen pada Maira yang menyusul mereka, mempercepat langkahnya sambil membawa gelas berisi minum.
"Ok ... jangan terlalu berisik moms, aku dengar nanti," gelaknya mendahului langkah kedua orang tuanya yang masih dilantai dasar.
"Maira, dih."
Mahen hanya tertawa melihat sikap putri sulung yang perlahan mirip istrinya.
.
.
...____________________...
...Kisah Naya bisa baca di judul Dia pilihan untukku yaa, buat yang baru nemu karya mommy....
...Queenny itu butik Naya join dengan Amir dan Aiswa (ortu Fayyadh) sebagai designernya. Quennaya, nama EO milik Naya sendiri. Kisah ini di karya kedua, Di Antara 3A. Nah, ini sekuel nya....
__ADS_1
...Dua judul tadi, saling runut ya. Maapin kalau mommy gak kreatif 😂. But cerita ini, bisa di baca mandiri ko, karena mommy pasti selipkan info didalamnya....