
Fiora berlari ke belakang venue, tepat di balik panggung utama. Dirinya membaur dengan para kru yang tengah merapikan gulungan kabel setelah pembukaan event tadi.
Hilir mudik pegawai yang menyapu halaman rumput dari banyaknya sampah kembang api kertas saat ditarik ke udara, menyulitkan mereka.
Setidaknya disini, Fio tak merasa terlalu hening. Lalu lalang pegawai membuatnya kerap bersyukur masih tidur dan makan enak tanpa peluh berlebihan.
"Non. Kalau mau lari, kasih tahu kemana. Jadi aku gak capek nyari. Umma khawatir," tegur Fayyadh ikut duduk dipojok tumpukan sound system, berjarak dua kursi dengan Fiora.
"Thanks. Aku gak apa, dan kali ini tidak akan bertindak gila. Pakaianku tertutup, kamu boleh pergi," ucap Fio tak ingin di ganggu.
Fayyadh bergeming tak bersuara. Ingin meninggalkan gadis disamping namun hatinya meminta tinggal sejenak.
"Mas."
"Kita seumuran kan? panggil Fayyadh saja," ujarnya lagi.
"Kamu lelaki, bagaimanapun juga kedudukannya lebih tinggi dari wanita. Boleh aku tanya?" balas Fiora tak melihat pada lawan bicara.
"Mas, vibenya berasa dipanggil oleh istri, jika keluar dari mulut kamu."
"Tanyakan saja, semoga bisa menjawab dengan benar," sahut pemuda yang menarik kakinya agar saling bertumpu.
"Mengapa Tuhan gak bisa aku temukan, dilihat bahkan dipercaya? Dia pembohong, tak seperti firmannya. Contohlah Mama, beliau hamba yang taat, tapi mengapa Tuhan menimpakan sakit tiada obat bagi beliau lalu merenggut dari kami?" lirih Fiora, air mata pun kembali turun.
Fayyadh menoleh sejenak. "Bismillahirrahmanirrahim ... aku jawab menurut sudut pandangku ya," tegasnya.
"Hm, boleh. Aku justru ingin tahu tentang keyakinan yang tertanam di hatimu itu," lirih Fio, menundukkan kepala masih dengan hijab yang menutupi rambut.
"Tuhan itu ada, gak bisa dibayangkan wujud-Nya karena akal dan kemampuan manusia tiada akan sampai untuk memahami itu, ghaib ... tidak bergantung kepada siapapun karena dialah sang pencipta alam semesta. Bukti kehadiran, wujud Allah adalah langit bumi serta seisinya baik yang nyata atau tidak."
"Dalam al-quran, kitab suci kami tertuang di surat at-thaha ayat lima. Allah berada di 'arsy dan 'arsy-Nya di langit, sebagaimana disebutkan : Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas 'arsy," imbuh Fayyadh.
"Tuhan tidak terlihat pun untuk kebaikan para hamba, karena jikalau nampak wujud oleh orang ka-fir maka hilanglah keistimewaan hamba beriman. Seumpama terlihat di dunia oleh ummat beriman saja, maka kaum ka-fir akan berkata pasti menyembah-Nya juga karena melihat hal sama ... andai Allah dilihat oleh semua mahluk, maka tidak ada pembeda antara orang beriman dengan orang ka-fir," perlahan Fayyadh menyampaikan kalimat panjang.
"Sakit itu penggugur dosa, Fio. Dicabut berbagai nikmat agar manusia belajar sabar dan syukur, bisa jadi ujian untuk ditinggikan derajat ketakwaan sebab ikhlas dan kepasrahan menerima ketetapan Allah," tutur Fayyadh lembut agar merasuk dalam sukma.
"Lalu apa pembeda beriman dan tidak? dan gunanya firman Tuhan yang mengatakan agar mintalah dengan berdoa? bukti nyata, doaku tiada Dia kabulkan. Apakah aku termasuk kaum ingkar dalam ummatNya?" desak Fiora lagi.
"Ketakwaan Fio ... Tuhan tidak melulu mengabulkan doa sesuai nan hamba inginkan. Akan tetapi, Allah Ta’ala hindarkan kamu dari keburukan dan marabahaya, mungkin seharusnya akan menimpa diri. Bisa jadi Allah jadikan doa tersebut sebagai simpanan serta tabungan kebaikan di akhirat kelak, atau dikabulkan dalam bentuk, cara, di waktu yang lain," jelas Fayyadh panjang lebar, pandangannya lurus kedepan tak menghiraukan tatapan Fiora.
"Ka-fir atau bukan, hanya Tuhanmu menentukan. Yang penting adalah jangan terburu-buru ingin doamu segera terwujud. Bilamana tak kunjung nyata maka kamu bosan dan meninggalkan doa ... awali dengan memuji Tuhanmu, hadirkan hati dan yakinlah saat memohon pada-Nya, Fiora." Fayyadh menoleh sekilas pada gadis disebelah yang juga menatapnya.
Degh. "Duh, cantiknya pakai hijab."
"Bagaimana hadir perasaan bahwa Tuhan selalu dekat? jika melihat perwujudan tidak bisa, memohon dia ada disetiap moment pun tiada terasa?" Fio menatap tajam saat Fayyad memalingkan wajah.
__ADS_1
"Perasaan dekat dengan Tuhan bisa jadi muncul karena seseorang telah berusaha menerapkan sifat-sifat-Nya dengan baik dalam hidup. Dia telah berlaku ihsan (baik, lurus, lempeng) ... tetap saja meski merasa dekat, seorang manusia tidak akan bisa melihat Sang Pencipta secara kasat mata sebab Allah hanya bisa diketahui dengan aqli dan dilihat oleh mata hati. Sampai sini, sudah punya gambaran tentang apa hakikat Tuhan, hamba, doa, Fiora?" tanya Fayyadh.
"Entah. Hatiku beku," jawabnya acuh.
"Kilas balik kejadian lalu saat malam hari ... pernahkah kamu berpikir mengapa aku ada disana? siapa yang menggerakkan hatiku agar mengambil arah memutar lebih jauh? bila bukan Allah yang berkuasa?"
Fio diam. "Ya nasib mungkin," akhirnya dia menjawab.
"Semua yang terjadi di dunia ini sudah Allah atur Fio. Tiada yang kebetulan bahkan saat kita bincang disini," tunduk Fayyadh.
"Mungkin Tuhan ingin kamu menjadi Fiora yang lebih baik dari sebelumnya. Diberikan ujian bukan berarti nista sebagai hamba, Fio. Di limpahi banyak nikmat juga tak menandakan kamu mulia. Semua ada alasannya," imbuh lelaki Kusuma.
"Berikan aku alasan kenapa Tuhan menciptakan manusia, padahal sudah tahu takdir ciptaannya? mengapa juga dihadirkan insan pendosa?" Fiora masih berapi-api, terlukis jelas kemarahan di wajah ayu itu.
"Berat amat pertanyaannya, Non. Allahu akbar, mudahkanlah urusan hamba ... seorang muslim percaya bahwa setiap kejadian di alam semesta, besar or kecil, berkaitan dengan perbuatan manusia atau tidak, semuanya sudah ditetapkan dalam Lauh al-Mahfuzh dan tidak pernah berubah."
"Jodoh, rezeki, amal, umur, bahagia, duka dan lainnya. Manusia juga diberi nafsu keinginan, diberitahu konsekuensi dari tiap-tiap pilihan yang diambil. Namun, semua itu tidak melenceng dari ketetapan serta kehendak Allah ... tidaklah kalian berkehendak kecuali jika Tuhan semesta alam menghendakinya, dalam al-quran surat at-takwir ayat 29," ucap Fayyadh hati-hati.
"Jika memang sudah ditetapkan, untuk apa berusaha jadi orang baik? bukan bersandar pada takdir saja?" cecar Fiora.
Fayyadh menarik nafas panjang. "Allah, ujianMu nikmat," dia tersenyum ke arah Fiora.
Mendapat senyuman manis dari pria tampan nan mempunyai kedalaman ilmu, membuat Fiora tersipu. Hatinya berdebar, sebuah rasa yang tak dia dapatkan dari Richard.
Huft.
"Kita hanyalah mahluk Fiora, mau ditakdirkan bagaimana itu mutlak urusan Allah. Bisa saja Allah jebloskan orang baik ke dalam neraka bukan? Tapi mustahil," tegas Fayyadh lagi.
"Kenapa mustahil, Mas? kan gimana Tuhan," cecar Fiora.
"Tuhanmu tidaklah zalim terhadap hamba-Nya, kata Allah dalam surat Fusshilat 46. Tugas kita hanya berusaha Fiora, agamaku menganjurkan untuk ikhtiar dan tidak berpangku tangan, apalagi bersandar pada takdir. Masih belum puas, Nona?" ucap Fayyadh seraya tersenyum.
"Haus, aku cari minum dulu ya," sambungnya lagi seraya bangkit.
Fiora hanya diam membiarkan Fayyadh pergi. Namun sejurus kemudian dia menyusul langkah pemuda itu.
"Satu lagi. Berarti kita harus menerima segala perbuatan buruk meski bertentangan dengan agama? kan sudah kehendak," Fiora masih belum puas.
"Takdir terhadap perbuatan manusia tidak semestinya dijadikan pembenaran dari pilihan buruk yang diambil," pungkas Fayyadh saat telah tiba di stand kopi.
Fiora menatap punggung tegap dari belakang, terlihat tidak peduli tapi sabar menjelaskan padanya yang bebal.
"Mas, terima kasih banyak," Fiora mendekat, tersenyum manis namun diabaikan Fayyadh.
"Buat istrinya, less sugar ya Pak?" tanya waitress stand minuman.
__ADS_1
"I-stri?"
"Iya, betul," jawab Fio cepat.
"Mas harus hafalin kesukaan aku, semua minuman, less sugar," bisik Fiora.
"Katamu, kita gak seiman. Maka berat untuk bersama jika tidak Allah takdirkan," sindir Fayyadh atas ucapan Fiora saat di stand.
"Bukankah tugas manusia hanya berusaha ya Mas? takdir atau tidak ya usaha aja dulu, gitu kan?" senyum Fiora cerah.
"Ehheemm," Fayyadh kikuk di tatap wajah ayu dengan hijab warna biru laut dalam, kian kontras dengan kulit putih dan pipi pink akibat udara dingin mulai menusuk.
"Langsung pulang ya setelah ini. Jangan lupa doakan Mama, sampai atau tidaknya biarkan Tuhan yang mengatur. Tugas anak adalah mendoakan ... aku tinggal gak apa?" cemas Fayyadh.
"Kopi pesanan selesai," barista meletakkan minuman mereka di serving table.
"Thank's," ucap Fayyadh menyerahkan selembar uang ke waiter.
"Ehm, gak apa. Gomawo Oppa, mianhae udah bikin kalian cemas," ujar Fio tersipu.
"Afwan." balas Fayyadh seraya menggeser kopi milik Fiora agar mudah dijangkau, dia pun berlalu dari hadapan gadis itu.
"Dih jawabnya pake bahasa Arab. Althafaris Fayyadh, thanks untuk segalanya." Fiora menyeruput kopi panas lalu dia berjalan cepat menuju stand sebab karyawannya pasti menunggu.
Dari kejauhan, Fayyadh yang sengaja sembunyi menunggu Fiora lalu mengikuti langkah gadis itu hingga tak lama dia melihatnya kembali ke stand.
"Lama amat, mojok ya?" tegur Amir, ia duduk didepan tenda mereka yang telah tertutup seraya memeluk Aiswa, saat melihat putranya tiba.
"Kata Umma kan tadi suruh nemenin," elak Fayyadh.
"Ish, liatin dari jauh. Kata Mas tadi, dia butuh waktu buat sendiri, kok ditemenin?" goda Aiswa lagi.
Fayyadh kikuk, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Mas, jangan sampai lepas. Kan pria muslim punya pengecualian jikalau dia tetap teguh berkeyakinan semula," pancing Amir.
"Gak sesederhana itu. Tidak hanya mengandalkan dalil bahwa dibolehkan. Abi tahu kan harus banyak yang di telaah, nasab keatas juga lainnya. Lagipula aku pengen, alfatihah serta doaku ada yang mengamini," ujarnya berlalu meninggalkan ayah ibunya.
"Eh ciyyeee seiman dan se-aamiin," jawab dua A serempak menggoda Fayyadh. Ketiganya lalu menyapa Fio saat bertemu di parkiran luar venue.
"Scarf itu belum dia lepas. Syukurlah."
.
.
__ADS_1
..._________________________...
...Part berat, done. Its just my opinion yaa. Mommy gak maksa kehendak atau ngajak debat....