ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 71. UPAYA KUSUMA


__ADS_3

Cirebon, malam hari.


Aiswa menyampaikan pesan dari ayah mertuanya tepat saat Amir masuk ke kamar.


"Sayang." Pria itu langsung menghambur memeluk Aiswa yang baru selesai mengganti seprei.


"Bii, ada email dari Abah, Afra ingin ta'aruf dengan Mas, coba Qolbi lihat dulu," ujar wanita ayu, meraih gawai suaminya dimeja.


"Bii."


Amir tak mengindahkan, dia asik menciumi rambut Aiswa. "Ini gak pernah berubah wanginya, sama seperti baru nikah dulu," bisiknya mesra.


"Astaghfirullah, Bii, ini baca dulu," Aiswa mendesak, meronta melepas pelukan erat lelaki tampan meski usia tak lagi muda.


"Mood Sayang, mood."


"Enggak, ini dulu. Ditunggu Abah," elak Aiswa berhasil melepas cekalan lengan.


Amir mengalah, namun tetap tak melepaskan istrinya itu. Dua menarik Aiswa hingga duduk di pangkuan pada tepi ranjang, lalu mulai membuka email.


Beberapa saat berlalu.


"Terserah kamu sih, Rohi. Ini mau diteruskan ke Fayyadh atau enggak. Aku keberatan jika Mas harus turun ke dunia politik, terlepas nasab, ilmu, adab dan sebagainya. Aku gak suka, maaf Sayang. Kamu bicarakan dengan Mas," gawai itu dilemparkan begitu saja. Dia asik menciumi pipi Aiswa.


"Loh kok aku, kan Qolbi biasanya rundingan dulu sama Mas. Call dia deh, buru ... Allah, Qolbi!" Aiswa menghindari kecupan bertubi mencubit lengan suaminya agar mendengarkan apa yang sedang dibicarakan.


"Iya Umma, Iya."


Tuut. Tuut. Nada panggilan video call terhubung.


"Assalamu'alaikum, Bii. Innalillahi, mataku!" seru Fayyadh disebelah sana.


Amir tertawa renyah. "Maaf, liat live ya Mas."


"Mau lanjut ngomong apa cuma mau pamer? astaghfirullah sengaja ya. Gak tahu anaknya lagi patah hati," protes Fayyadh. Dia meletakkan ponsel diatas ranjang. Layar gawai itu hanya menampakkan plafon kamarnya. Terdengar pula omelan Aiswa pada ayahnya itu.


"Mas ada yang ingin ta'aruf sama kamu. Sudah ngajuin proposal CV ini, Umma kirim by email ya," suara Aiswa menjelaskan maksud pangggilan.


"Siapa?" tanya Fayyadh acuh.


"Afra."


"Afra? hmm, sini mana CV nya. Aku mau lihat," ujar Fayyadh.

__ADS_1


Degh.


"M-mas, kami kira kamu menolak," sahut Amir dan Aiswa, mereka terkejut atas respon putranya itu.


"Gak baik langsung menolak, dilihat dulu. Kan dia muslimah, meski Abah pernah mengatakan aku harus menjauhinya, tetapi itu tidak menentukan bahwa kepribadian dia buruk," tegas Fayyadh dengan ekspresi yakin.


Pasangan dua A saling melempar pandangan. "Mas, syaratnya harus terjun ke dunia politik loh," cemas Aiswa.


"Aku juga bisa mengajukan syarat bukan? kirimkan saja dulu, Umma. Aku mau lihat detail permintaannya apa saja. Jika tiada bertentangan dengan syara' kenapa tidak dicoba bukan?"


"Mas, tidak untuk coba-coba loh. Bukan pengobatan macam patah tulang, 3D, di lihat, diraba, di tarik pretek," desak Aiswa lagi mengundang tawa kedua pria.


"Umma nih, sini dulu mana aku mau lihat. Kali cocok nanti tinggal nadzor sebelum khitbah kan?" ucap Fayyadh ringan tanpa beban.


"Kamu terikat janji sama Umma, Althafaris Fayyadh!"


"Iya Umma, iya. Kirim aja ya, aku tunggu. Selamat ehem, Abi udah gak sabar itu," pungkas putra sulung Amir memutus panggilan video call.


Setelah panggilan berakhir, Aiswa tersulut emosi. Dia khawatir Fayyadh goyah karena Afra adalah sosok sempurna disamping latar belakang keluarganya itu.


"Bii. Ish, Biii!" Aiswa kesal, Amir mengacuhkan ucapannya.


"Innalillahi, Aiswa Fajri. Sudah malam, teriak macam di hutan. Kenapa sih ngomel melulu. Fayyadh gak salah kok, tinggal kita aja bujuk Allah jika memang kurang suka. Yang menjalani pernikahan adalah dia, bukan keluarga besar. Urusan kita berdua adalah ini," tegur Amir, menarik kembali tubuh seksi itu dalam pelukan.


"Sholat hajat habis ini. Besok aku tanyakan pada Abah ya."


Kemelut apalagi ini. Semoga janji Fayyadh padaku, adalah solusi tepat.


...***...


Jakarta.


Malam ini Maira packing beberapa pakaian ke dalam koper, termasuk busana milik Shan. Dia berniat menyusul suaminya ke tanah suci.


Seperti biasa, sang Bunda membawakan makan malam untuk putrinya itu karena Maira menolak mengunyah kudapan sore tadi. Alasannya, ingat El.


"Maira, sedang apa?" Naya terkejut atas apa yang dilakukan sang putri.


"Kalau izin El turun untukku agar bisa pergi, aku ingin menyusulnya. Bunda, rasa hati gak sabar pengen bilang kalau aku mulai mengingatnya," tutur Maira beruntun.


"Gak bisa, karena kamu besok fitting kebaya juga lusa sudah harus ikut GR," balas Naya, meletakkan baki makanan di meja sofa.


"Bun, please. Bisa kali mampir ke Dubai dulu. Kan El hari itu mungkin sudah selesai. Kata Ayah, dia bakal transit ke Omanya," rengek Maira.

__ADS_1


"Gak bisa, Sayang. Mepet waktu. Kamu gak balik ke kampus karena koma, seharusnya menyelesaikan semua prosedur yang belum kelar. Maka dari itu kehadiranmu di majukan dari jadwal semula sebab dosen meminta demikian," Mahen menyambung obrolan mereka, berdiri diambang pintu.


"Ayah, please. Tolong sempatkan, make it happen to me, i beg you, Dad," Maira memohon.


"A-aku ingin mengatakan bahwa aku mengingatnya meski belum sempurna. Tolong, izinkan aku pergi sebentar lalu langsung ke California," Maira bersimpuh dikaki Naya.


"Maira gak begini, sabarlah sedikit." Naya mensejajarkan duduk di karpet dengan sang putri, membelai lembut kepalanya.


Sementara Mahendra duduk di sofa, menghitung waktu yang dimiliki Maira untuk menyusul Shan juga terbang ke USA.


"Maira. Izin dari Shan baru berlaku besok ... Indo ke Dubai itu sepuluh jam dengan regulasi. Dubai California dua belas jam belum ***** bengek urusan di Bandara. Kamu cuma punya waktu satu jam di sana, Sayang. Lelah, Maira. Kondisimu baru pulih, ditambah jetlag dan semoga gak delay," urai Mahen, menggambarkan sikon apabila putrinya memaksa.


"Gak apa Yah. Please," desak Maira.


Mahendra menatap tajam pada istrinya yang duduk disebelah Maira. Naya mengangguk samar, mengiyakan keinginan sang putri.


"Bunda kamu itu, urusan begini selalu nomer satu ... Ok lah, ditemani Ratih perginya karena Ayah dan Bunda harus ngurusin akademis kamu lebih dulu. Semua perlengkapan untuk Wisuda, kami yang bawakan. Jaga diri disana, turuti Bunda dulu, selesaikan urusan disini, baru pergi. Deal?" tawar Mahen.


"Gak bisa langsung pergi ya? Inginnya besok terbang."


"Yes or No."


"Yes! ok deal," ujar Maira terpaksa menunda keberangkatan satu hari. Dia memeluk Bundanya. "Horeee ... thanks Bunda," serunya Girang.


"Ainnaya, jangan lupa bayar," ujar Mahen bangkit. Dia pun meminta Adnan mengatur keberangkatan Maira sekaligus mengawasi hingga putrinya landing dengan selamat. Tak lupa, mengabarkan pada Ezra akan rencana Maira agar Shan bisa mengira waktu titik temu.


"Bayar apa, Bun?" selidik Maira polos.


"Gak usah dipikirin. Hmm, itu urusan Bunda."


"Raden Ayu Ainnaya Misbach Shaki, lekas," seru Mahen memanggil istrinya.


"Dimakan ya menu sehat kamu, Sayang. Besok bangun pagi biar segera selesai urusan kita," ucap sang Bunda meninggalkan kamar Maira.


Gadis ayu yang masih duduk diatas karpet itu mengangguk. Melanjutkan packing lalu beranjak memakan kudapan yang ibunya siapkan.


"Kak. Aku memanggilmu Kak, kan? sampai jumpa besok malam. Miss you Kak El, suamiku."


.


.


...________________________...

__ADS_1


__ADS_2