
"Apa sih Umma?" elak Fayyadh. Telapak tangannya menutup mulut, dia menguap tanda kantuk mulai menyergap.
"Gak apa. Fokus sekolah dulu ya Mas, jangan ingkar janji sama Umma. Masih satu tahun lagi kan memadatkan jadwalnya?" Aiswa mengingatkan Fayyadh.
"Setelah lulus, ambil S2 di Tazkiya saja Mas. Nanti sekalian ngabdi bantuin Njid dan uwa Ahmad disana. Bekasi ke Jakarta sebentar," tandas Amir menyarankan agar Fayyadh fokus dengan sekolah milik keluarga.
"Zeda akan tetap boarding school dan pulang weekend. Hanan mulai masuk ke Pesantren Kyai Maksum Tegal awal tahun depan. Rumah bakalan sepi deh," ucap Aiswa masih membelai rambut Fayyadh.
"Nanti pasti rame lagi kalau Zeda nikah. Dia gak bisa jauh dari Abi jadi bakalan stay di Cirebon kan. Kalau aku di Bekasi harus sudah punya istri ya Umma. Biar gak kesepian," gumam Fayyadh, kemudian memejam.
"In sya Allah. Nikah muda, Mas? kayaknya udah siap lahir batin ini ya?" imbuh sang Bunda menanggapi kalimat harapan Fayyadh.
Sepi.
Hanya terdengar deru mesin mobil yang mereka tumpangi.
"Tidur ya Rohi? capek mungkin. Bantu sounding agar ketika kami sowan ke Mas Panji dia dapat menekan perasaannya saat bertatap muka dengan Shan dan Maira. Shan itu maa sya Allah sabar ngadepin keponakanku. Kata Naya, Maira bahkan gak mau satu kamar dengannya. Sekejap sadar siapa Shan namun tak jarang dia enggan, ujian berat," ungkap Amir kala mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki halaman Joglo Ageng.
"Kelihatan banget kalau Shan itu penyabar, persis Nyonya Dila. Aku ingat dulu pertama kali ketemu beliau kan, bicara agak tidak jelas di beberapa kata, ku pikir kenapa tapi ternyata memiliki keistimewaan. Kerennya lagi, bisa mendidik Shan dengan baik," kenang Aiswa saat mereka bertemu saat lamaran belasan tahun silam.
"Sekarang gaya bicara beliau sudah jauh lebih baik ... alhamdulillah sampai," Amir turun lebih dulu memutari sisi mobil dan membuka pintu dimana Aiswa duduk.
"Turun dulu, Sayang. Biar aku bangunkan dia," pintanya untuk sang istri.
Aiswa pun menggeser duduknya sementara Amir menahan kepala Fayyadh, lalu wanita cantik itu perlahan turun dari sana, kemudian dia memutar ke bagasi guna membawa standing hanger yang tidak terpakai.
"Mas. Mau bangun atau Abi gendong nih?" Amir menepuk pipi putra sulungnya.
"Cantiknya." Fayyadh lirih mengigau.
"Rohi, sinyal apa bukan ini?" ujar Amir melihat pada Aiswa yang tengah membuka bagasi.
"Bukan. Hanya bunga tidur," ucap Aiswa dari sisi belakang, lalu berlalu meninggalkan kedua pria disana.
Keesokan Pagi.
Pasangan Zaidi sudah menata ulang display mereka sejak pukul sepuluh pagi. Karena weekend, venue event dibuka lebih awal dari kemarin.
Benar saja, banyak tenda partisipan nampak sibuk dan ramai dikunjungi pelanggan, tak terkecuali milik Kusuma. Aiswa kembali meminta sample Floffy Craft untuk dia pajang bersama produk Queeny.
Menjelang dzuhur, seorang gadis ayu menghampiri tenda Kusuma. Namun dia tak melihat sosok yang dicari. "Siang, Umma. Do'akan lancar workshopku siang ini. Dan nanti setelahnya aku mau minta tolong, boleh?" Fio menyapa Aiswa, meraih tangan wanita lembut itu untuk dia cium.
"Siang Fio, boleh jika Umma mampu ... Maa sya Allah, cantik sekali. Sukses ya acaranya, in sya Allah jadi manfaat kebaikan bagi orang banyak, menjadi pembuka jalan rezeki buat yang membutuhkan ide usaha dari rumah, serta keberkahan untuk Fiora sebagai perantara pembagi ilmu, aamiin," doa Aiswa meluncur tulus untuk gadis itu, membelai pipinya.
"Istiqomah berbagi kebaikan ya Nak Fio," sambung Amir.
__ADS_1
"Aamiin. Terima kasih banyak. Aku pamit, semoga laris manis hari ini ya Umma. Biar bisa contribute donate for charities di penghujung event nanti." Fiora undur diri, namun sebelum melangkah, jemarinya digenggam Aiswa.
"Aamiin. Mas Fayyadh gak kesini, dia lagi sibuk benahin website sekolah miliknya dan Abi, sekaligus jagain Athirah, Hanan di rumah. Pekan depan, Umma juga akan kembali ke kota asal sementara Abi dan Mas ke Jakarta sebab dia harus balik ke Jeddah," ungkap Aiswa.
"Nanti kita bicarakan tentang rencana colabs sebelum kembali ya, Fio. Umma tunggu di Joglo Ageng lusa setelah event selesai," tawar Aiswa lagi.
Tersirat kecewa di wajah ayu Fiora kala mendengar penuturan Aiswa. Dia bakal sulit melihat pemuda itu lagi. Baru saja hatinya nyaman menemukan sosok sahabat yang tak menghakimi namun lagi-lagi harus menelan pil pahit nan getir karena kehilangan.
"Boleh, Ok. Semoga urusan keluarga Umma juga Mas, lancar segalanya." Fiora tersenyum seraya mencium kembali tangan Aiswa dan melepas perlahan genggaman seiring langkah kaki menjauh.
"Aamiin. Syukron, Sayang."
Amir tak biasanya melihat Aiswa demikian ramah terhadap seorang gadis asing, perlakuan sikap manisnya berbeda hanya untuk sosok Fiora.
"Rohi, tumben," tanya Amir seiring datangnya seorang wanita berpakaian syar'i ke tenda mereka.
"Apanya tumben? Fio? aku su--" ucap Aiswa terjeda.
"Assalamu'alaikum," sapa gadis bergamis coklat tua lengkap dengan niqab senada.
"Wa'alaikumsalam. Eh, Nak Afra. Baru datang atau sekedar jalan?" tanya Aiswa menjawab salam Afra.
"Baru datang, Umma. Fayyadh gak ke sini ya?" tanya Afra langsung.
"Enggak. Mas lagi sibuk di rumah nemenin adiknya," balas Aiswa.
"Oh gitu."
"Ada perlu dengan Mas? nanti Umma sampaikan," tegas Aiswa lagi di kata Mas. Amir menunduk menyembunyikan senyumnya melihat ketidaksukaan Aiswa bila ada yang memanggil Fayyadh hanya dengan nama.
"Hm, mau share buku tentang Grafolog, Umma. Inginnya sih beri langsung tapi--"
"Tulis aja apa yang ingin Nak Afra sampaikan, Umma gak akan baca kok. Mas jarang share nomer kontak karena privasi katanya, dan Umma tidak berani melanggar apa yang menjadi prinsip dia," pungkas Aiswa, mengerti isyarat Afra yang mungkin berharap dirinya memberikan kontak Fayyadh.
Afra menimbang. "Ok, Umma." Dia lalu menuliskan banyak kata, kemudian diselipkan dalam buku yang hendak dititipkan.
"Syukron Umma. Aku pamit ke tenda dulu," ucap Afra seraya menyerahkan titipannya pada Aiswa.
"Afwan." Bunda Fayyadh hanya tersenyum melepas gadis itu pergi.
"Katanya dia ramah, sopan dan baik. Kok MaMer jutek sih?" sindir Amir.
"MaMer apaan? ... Aku gak suka Bii. Masa manggil putraku cuma nama, aku aja selalu menghormati anakku dengan menyebutnya Mas, kecuali jika sedang kesal. Fayyadh Fayyadh," gelak Aiswa.
"Gak bisa disamaratakan, Rohi. Dan kita harus tetap menghargai sikap mereka, gimana sih anak Buya," sindir Amir lagi. Si Putri emas Tazkiya masih sama seperti dulu, apa adanya.
__ADS_1
...***...
Lusa.
Pagi ini Fiora tersenyum cerah, pasalnya dia diundang Aiswa untuk membicarakan prospek bisnis mereka.
"Jadi atau enggak, urusan nanti. Yang penting, aku bisa belajar banyak dari Umma," gumamnya mematut diri di cermin.
Sementara di Joglo Ageng.
Fayyadh tidak diberitahu bahwa Fiora akan datang pagi ini. Amir pergi ke Kebon dengan Abah, sementara sisa penghuni bercengkrama diruang keluarga.
Sejak Aiswa memberikan buku titipan Afra, Fayyadh belum sekalipun membuka isinya. Ketika ditanya, lelaki itu hanya menjawab nanti saja, belum butuh. Berbeda saat Amir menceritakan tentang Fio yang mencarinya, wajah sang putra sumringah.
Satu jam kemudian.
Mobil Alphard silver memasuki pelataran depan pendopo. Mban memberitahu pada majikannya bahwa ada seorang gadis yang mencari beliau bernama Fiora.
"Fio?" tanya Fayyadh pada Mban, dia buru-buru bangkit dan berlari ke depan rumah.
"Mas, Umma dulu, gak sopan!" seru Aiswa menyusul sang Putra.
Saat keduanya bertemu, Fayyadh tertegun melihat sosok yang berdiri di depan pintu, memunggunginya. Suara sapaan Aiswa dari jauh, menahan putra Amir bertindak lebih jauh.
Mendengar suara Aiswa, Fiora berbalik badan. "Pagi Umma, eh ada Mas juga," sapanya manis seperti biasa.
"F-fio?" dia melihat gadis itu sekilas pandang lalu mundur ke belakang tubuh ibunya.
"Pagi juga Sayang. Maaf ya Fio, Umma lama, duduk sini yuk ... kamu cantik sekali, ini kaftan yang kemarin Umma bantu pilihkan? setelah workshop itu?" Aiswa menarik lengan Fio untuk masuk ke ruang tamu, bukan di pendopo.
Putri sulung Tusakti mengangguk pelan, dia malu takut terlihat kaku saat mengenakan kaftan namun tetap memakai Obi di pinggang.
Kedua wanita lalu duduk, disusul Fayyadh di kursi sebelah ibunya.
"Ini draft kerjasama, coba Fio baca dulu," ujar Aiswa langsung menyodorkan map berwarna biru tua di atas meja yang telah dia siapkan.
"Umma, aku lupa bawa clutch buat couple dengan adik perempuan Mas. Nanti dikirim kurir saja ya," Fio ingin memberikan kenangan pada mereka sebelum pulang.
"Buat aku, gak ada?"
"Eh, Mas mau minta dibuatkan apa?" tanya Fiora, mata cantiknya mengerjap beberapa kali membuat wajah oval itu kian ayu menggemaskan.
"Hish. Pengen nyubit."
.
__ADS_1
.
...________________________...