
"Di mobil ada perlengkapan yang biasa kubawa, tapi cuma sisa benang dark blue hampir ke navy, masih satu roll cukup untuk membuat tas kecil. Kalau Mas mau, aku buatkan sekarang. Gak lama kok," ujar Fiora tak enak hati, dia pikir cukup memberi buah tangan untuk kedua wanita Kusuma.
"Masa aku pake tas," keluh Fayyadh.
"Mas. Gak sopan, sana masuk. Urusan wanita ini tuh," tegur Aiswa pada putranya.
"Mas Fayyadh salah paham, maksud aku bukan tas. Kalau buat pria kan bisa sebagai cover buku. Lagipula warna dark blue itu netral bisa semua gender," jelas Fiora meluruskan niatannya.
"Gitu ya?"
"Iya, Mas. Aku boleh minta ukuran itu apa namanya? kitab, duh lupa yang biasa Mas baca dan kemarin jelaskan tentang makna surat itu?" Fiora lupa menyebut nama mushaf.
"Apa? al Qur'an?" sebut Fayyadh.
"Nah iya, itu. Aku buatkan covernya aja gimana?"
"Repotin Fio, gak usah." Aiswa mencegah niatan gadis ayu itu, ingin melihat respon putranya.
"Yee Umma. Fio mau ngasih ke aku kok gak boleh," gerutu si cicit Kusuma.
"Bentar ya, aku ambil dulu." Fiora bangkit lalu keluar dari ruangan menuju mobilnya.
"Ciyyeee, dapat buah tangan dari ayank," goda Aiswa lagi.
"Ayank apa sih Umma. Dia sahabat aku sekaligus rekan bisnis Queeny dan Kebon Uyut," elak Fayyadh lagi, pipinya merona digoda sang Bunda terus menerus.
Tak lama kemudian, Fiora datang kembali. Dia meminta ukuran mushaf yang biasa Fayyadh pakai agar cover segera dibuat.
Pria tampan itu masuk kedalam kamar, mengambil Al Qur'an bersampul Jingga pemberian Maira saat dia milad tahun lalu dari atas ranjang, dan segera kembali ke ruang tamu. "Ini Fio." Fayyadh menyerahkan mushaf diatas meja.
"Umma boleh tolong pegangkan? aku kan hmm belum itu, apa namanya? yang sebelum sholat?" tanya Fiora.
"Wudhu?"
"Nah iya, tolong ya Umma," pinta pemilik Floffy Craft.
__ADS_1
Aiswa membantu gadis ayu mengukur mushaf milik Fayyadh diatas media rajut. Dengan cekatan, tangan lentik itu memotong jaring sebagai alas pola, memasukkan benang pada hokpen lalu mulai merajut. Aiswa memperhatikan detail dan keseriusan Fiora, ia terpesona dengan kecepatan tangan gadis itu membuat sesuatu nan indah.
Dua puluh menit berlalu.
"Alhamdulillah, jadi. Di coba Mas, semoga cukup," Fiora menyodorkan cover mushaf yang baru saja dia buat.
"Cantik banget. Fio suka warna biru ya? biasanya orang yang memiliki jiwa seni tinggi punya makna disetiap hal yang dia senangi," puji Aiswa sekaligus bertanya warna kesukaan gadis itu.
"Iya Umma. Sebab warna biru melambangkan sebuah kesetiaan, kepercayaan, kecerdasan dan juga menggambarkan lambang pengabdian. Selain itu, teduh dan damai kala mata melihatnya," jelas putri sulung Tusakti.
"Sama kayak Mas dong, suka Biru," sambung Aiswa melirik putranya.
Fayyadh tak mengindahkan ucapan sang Bunda. Dia asik mengikuti permintaan gadis cantik yang memakai kaftan gradasi biru dan abu dipadu ikat pinggang lebar warna senada. "Cukup. Syukron, aku masuk ya. Ini di cucinya biasa saja kan? gak butuh perlakuan khusus," ujarnya lagi.
Fiora mengangguk. "Perlakukan dengan baik, dan semoga bermanfaat lama," balas Fio.
Fayyadh mengangguk lalu dia kembali masuk, kali ini langsung menuju kamarnya. Sementara di ruang tamu, ibu dan gadis itu melanjutkan urusan bisnis mereka.
*
"Fio, tadi itu tantenya Fayyadh. Bunda Naya, founder Queeny dan Queennaya. Semoga kerjasama kita berjalan lancar ya Fio. Umma tunggu selalu item terbaru dari Floffy Craft menyesuaikan dengan design Queeny atau Qiswa yang akan launching," tutur Aiswa ketika gadis itu akan pamit.
"Thanks banyak ya Umma. Aku banyak dapat insight dari keluarga besar Kusuma. Jika ingin bertanya sesuatu di luar bisnis, boleh gak?" pinta Fiora meragu.
"Boleh donk. Jangan sungkan sama Umma ya, Sayang. Sehat selalu cantiknya Umma, jaga diri disini. Pandai pilih teman, dan semoga Tuhan limpahkan banyak berkah kebaikan untuk Fiora," doa Aiswa panjang bagi anak gadis yang baru dia temui beberapa hari. Hatinya menuntun untuk menyayangi dia, entah apa alasannya.
Cucu Menantu Kusuma melepaskan Fio pergi hingga mobil mewah yang ditumpangi gadis itu hilang di balik pagar tinggi Joglo Ageng.
"Ikhlas dan sabar ya Fio. Ikuti kata hati dan teguhlah."
Bila Fiora seketika merasa sepi setelah meninggalkan kediaman megah itu. Lain hal dengan Fayyadh, dia langsung mengemasi semua barang-barangnya sebab lusa sudah harus berangkat ke Jakarta bersama Amir.
"Sampai jumpa lagi, Fio. Semoga saat bertemu lagi nanti, kamu sudah jauh lebih baik. Banyak perubahan positif bagimu."
Dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
Entah mengapa hati Fio mendadak sesak. Dia meminta driver untuk mengunjungi pusara bundanya di pemakaman umum.
Satu jam kemudian.
Kaki jenjang yang kini beralaskan sandal jepit, menyusuri tanah pemakaman yang basah akibat diguyur hujan semalam. Langkahnya tertatih ketika melewati genangan lumpur hingga dia tiba di bagian ujung kiri pusara sang Bunda.
"Siang Moms, Fio datang. Moms, kata Mas Fayyadh berdoa saja meski Tuhan kita tidak sama. Aku akan rajin mengunjungi Moms kali ini, maafin Fio yang gak bisa bela Mommy kala itu ya, ma-af." Fiora terisak. Dia ingat perlakuan cueknya meninggalkan sang Bunda, menghadapi murka Papa sendirian.
"Apakah ini karma Moms? Fio gak ada kawan. Harus kemana mengadu kala hati ini merasakan dorongan aneh, bagaimana nasibku bila--"
"Berikan Fio petunjuk, harus kemana mencari jawaban yang belum jua ku dapat? bagaimana mendapatkan pembuktian bahwa Tuhan itu ada dan nyata," suaranya mulai parau.
"Apa baik saja di alam sana? apa Tuhan keyakinan Mommy mengampuni segala dosa?"
Isakan pilunya terdengar jelas kini, mengundang perhatian seorang nenek penjaga kebersihan makam disana.
"Tuhan itu ada kalau Non percaya. Seperti kita yang bernafas, gak bisa melihat apa itu warna udara tapi dapat merasakan dan yakin dapat menghirup dengan bebas. Jika Tuhan tiada, akan kemanakah larinya jiwa yang telah mati? " Suara renta itu terdengar sedikit menyeramkan.
Fiora menoleh, meski dia bergeming.
"Jika Tuhan tiada, siapa yang menciptakan alam ini? rasa buah manis pahit atau racun? darimana kecerdasan berasal? juga sosok yang menurunkan firman atas keyakinanmu?" Suara parau itu kian menjauh seiring pekerjaan nenek asing yang tengah menyapu pelataran makam.
Degh.
"Moms. Bantu aku, kemana harus menuju." Fio bangkit, menyeka air matanya lalu berlalu dari sana menuju mobil yang terparkir disisi jalan.
Dia pun meminta sang driver melajukan kendaraan entah kemana saja, tanpa tujuan jelas. Dirinya tengah mencari sesuatu rasa yang seakan meminta jawaban.
"Mas. Sampai jumpa lagi dilain kesempatan. Semoga kamu selalu dalam keadaan sehat dimanapun berada, menemukan pendamping hidup yang sesuai keilmuanmu. Hidup bahagia. Jangan lupakan aku ya, meski diri ini bukan sesiapa."
"Fayyadh, rasa apa ini?" gumam Fio, tanpa terasa bulir bening itu kembali turun.
.
.
__ADS_1
...______________________...