
Saat telah didalam mobil. Maira menahan Shan tak segera meninggalkan tempat itu. Dia meminta agar diceritakan tentang foto di pigura.
Putra sulung Ezra menjelaskan peristiwa pertemuan mereka kala itu. Keluarganya diundang Kusuma sebab tante Shan menikahi salah seorang kerabat Maira.
Lamat-lamat ingatan itu perlahan tersambung. "Kau, kita?"
Shan mengangguk. "Iya, pertemuan setelah di Istal, sebelum charity," tegasnya.
"Charity?"
"Hmm, Angelisbeth."
"Angelisbeth? aku familiar dengan nama ini, milik siapa?" gumam Maira.
"Milik Istriku. Coach menjulukimu begitu saat latihan memanah sambil berkuda untuk partisipasi kamu di Charity," ungkap Shan. Dia tersenyum melihat ke arah Maira.
"Really?" lirihnya antara kagum dan terheran.
"Apa sudah banyak mengingat? adakah aku disana?" tanya Shan lagi.
Maira menggeleng pelan. "Bawa aku kesana, ayo lekas, ayo," rengeknya. Dia mengguncang bahu Shan berkali agar segera menyalakan mobil dan meninggalkan tempat itu.
"Sabar Sayang. Iya ini mau jalan." Shan mulai menyalakan mesin mobil dan melaju menuju Istal, tempat latihan berkuda.
Selama dalam perjalanan, Maira gelisah. Shan menarik telapak tangannya, lalu membawa ke bibir. Mengecup pelan disana.
"Feel better?"
"Hmm. Sini," Maira membawa satu tangan pria itu guna meraba dada kirinya. "Berdebar, entah kenapa. Aku gak sabar," ucapnya riang.
Shan tersenyum melihat Maira ceria, dia mengusap kepala wanitanya. Namun respon yang didapat pria itu diluar ekspektasi. Sang istri justru menggelayut manja di lengan kiri suami tampan.
"Manja banget tumben," bisik Shan saat lampu lalu lintas berwarna merah.
"Lagi pengen."
Keduanya menikmati moment manis menjelang pertemuan siang nanti dengan Fayyadh. Pria penentu rasa hati Maira.
Beberapa menit kemudian.
Pasangan pengantin baru itu langsung menuju Istal. Kali ini Shan membawa Maira, ditemani coach menuju ke kandang Elizabeth, kuda yang biasa dia sewa.
"Ingat dia Ai?"
__ADS_1
Maira mengangguk. "Dia sakit sebab tungkai kanannya cedera."
"Nona, itu hampir empat bulan yang lalu," sahut Coach. "Apa anda lupa?" tanyanya lagi.
Shan menutupi kondisi Maira yang sesungguhnya dari publik. Dia tak ingin kekurangan Maira saat ini menjadi bahan perbincangan.
"Dia kira belum sehat. Sebab kami baru bisa kesini lagi sejak minggu lalu," jawab Shan untuk sang pelatih.
"Kami? Kalian, meni-kah?... sebab Nona Guna tak biasa didekati pria, juga Anda El, gak pernah akrab dengan siapapun terlebih wanita," Coach kembali menyimpulkan.
Shan hanya diam, namun Maira menanggapi. "Hem, dia suamiku."
"What? oh God. Boom ini namanya," pekiknya riang.
"Rahasia. Coach, tolong keluarkan Rollies dan aku ingin menyusuri lahan pacuan bebas di belakang," pinta Shan lagi.
"Siap 86, rahasia. El, tunggu sepuluh menit di depan istal sana ya." Pelatih itu lalu bergegas pergi.
Setelah pria itu berlalu. Shan mengajak Maira ke kandang sebelahnya. "Ingat Lidya?"
"Lidya?... aargh." Maira memegangi kepala lagi. Kilatan ingatan dirinya membelai Lidya saat pertama kali akan menunggangi kuda putih itu menguar.
"Sayang, kenapa?" Shan panik melihat Maira berjongkok seraya memegangi kepala.
"Aku ingat dia. Aku ingat, aku ingat Lidya," ucap Maira berkali-kali, matanya berkaca-kaca saat meraih lengan Shan.
Dewiq berpesan padanya, jika Maira mengingat sesuatu agar tidak serta merta membebankan atau memaksa untuk terus memancing reaksi ingatan sebab akan menekan syaraf yang belum sepenuhnya pulih akibat trauma, meski harus tetap distimulasi.
Hampir dua jam keduanya di lokasi itu. Bersama menunggangi Rollies, Shan memacu kudanya menyusuri taman ilalang yang belum pernah diketahui oleh Maira. "Aku suka mengenangmu disini. Bagaimana mendekatimu dan sebagainya," bisik Shan memeluk Maira sekaligus memegang tali kendali Rollies.
"Indahnya."
"Turun yuk, biar Rollies istirahat dulu." Shan lebih dulu turun dari si kuda jangkung, menengadah kedua tangan siap menyambut Maira.
"Ingat aku ya. Bila nanti kau kembali ke sini dengan ingatan yang utuh," tarik Shan pada jemari Maira menyusuri jalan setapak menuju savana. Memupuk memori manis berdua.
Menjelang dzuhur, keduanya sudah dalam perjalanan pulang ke Orchid.
...***...
Orchid, lantai 10.
Amir dan Fayyadh baru saja tiba di kediaman Mahendra. Mereka kini tengah bercengkrama di ruang tamu sang ipar.
__ADS_1
Biip. Pintu apartemen terbuka.
"Assalamu'alaikum. Ish susah jalannya, lepa--" suara riang Maira, sebab Shan memeluk dari belakang saat hendak memasuki apart. Kalimatnya terjeda kala melihat sosok yang dia tunggu di ruang tamu.
Wanita ayu lalu melirik pada Shan, berharap pria itu melepaskan pelukannya. Namun nihil, Shan justru sengaja memperlihatkan kemesraan mereka.
"Wa'alaikumsalam." Penghuni apart menjawab salam keduanya.
"Kami bersiap dzuhur dulu ya, permisi," ujar Shan mengurai pelukan lalu menarik jemari Maira menuju tangga ke lantai dua.
Tatapan gadis ayu sekilas bersirobok dengan netra sipit Fayyadh. Lelaki itu lalu menundukkan kepala melihat kedekatan mereka berdua. Maira, merasa bersalah.
Pemilik Elshan Pet Shop melepaskan jemari Maira begitu saja saat mereka baru memasuki kamar, dia langsung menuju bathroom. Wanita muda itu hanya diam, mengerti perasaan kedua pria yang kini tengah perang batin, sama seperti dirinya.
"Tunggu aku." Maira bergegas kala Shan hendak menggelar sajadah.
Beberapa menit dalam hening, keduanya larut dalam doa masing-masing. Satu dua tetes bulir bening mulai merangsek di netra Shan. Hatinya diterpa sesak.
"Ai. Temuilah dia dibawah, aku memberimu izin. Bicarakan apa yang ingin kamu sampaikan ya," ucap Shan, membalikkan badan menghadap Maira yang masih berdoa.
"Aamiin. Jangan pergi ya, tetap disini, tunggu aku. Mau kan?" balas Maira, meraih tangan Shan untuk dia kecup.
"Iya Sayang. Aku menunggu disini." Shan bangkit, melipat sajadahnya lalu memilih berdiam diri di balkon. Keduanya salah tingkah. Maira pun meragu.
"Saat kamu keluar dari pintu itu, kala itulah aku telah kehilangan separuh dirimu, Ai."
"Apakah keinginanku salah? hanya sekali ini saja ya Allah, berilah petunjukMu. Tuntun aku agar kembali pada posisiku yang sebenarnya."
Putri sulung Mahendra Guna membuka mukena, dia menarik nafas panjang. Mata bulatnya melihat ke arah balkon, punggung tegap itu adalah tempat ternyaman beberapa hari ini.
"Bismillah. Maafkan aku ya," lirih Maira membuka handle pintu kamar dan keluar dari sana.
Suara daun pintu yang menutup seakan bagai duri menusuk gendang telinga. Air matanya lolos seiring langkah princess Kusuma pergi.
"Allah. Nyatanya sangat sesak, aku cemburu. Bahkan tak rela bila dia menatap Ahya, namun ini adalah jalan yang harus kami lalui. Aku mengizinkannya ya Robb, jangan timpakan dosa atas keinginan istriku," gumam Shan, pilu.
Dia membiarkan setetes bulir bening itu luruh membasahi pipinya kini. Kesedihan menggelayuti pemilik wajah tampan, Shan menengadah berharap sang bayu menghapus nestapa.
Telapak tangan putra Dila mengepal, memukul dadanya pelan.
"Bunda," lirih Shan. Teringat Nek Inah, saat menceritakan kisah pilu bundanya kala meninggalkan rumah. "Samakah rasanya, Bun?"
.
__ADS_1
.
..._________________________...