
Maira terus mendekap erat seraya mengusap bahu Fiora yang bergetar halus sebab isakan. Dia tak ingin menambah beban luka dan kecewa terhadap sepupu iparnya ini.
Bahkan niatannya untuk meminta Fio test ulang alat kehamilan pun dia urungkan, khawatir memicu harapan baru namun seketika terhempas kembali.
Setelah beberapa lama.
"Fio, sudah merasa lebih baik?" lirih Maira bertanya pada istri Fayyadh yang terlihat lesu.
Fiora melepas niqab setelah yakin pintu kamar terkunci. "Alhamdulillah. Syukron ya Mbak, sudah meringankan beban hati aku. Gak kebayang ya gimana rasanya menghadapi pertanyaan yang sama. Kapan hamil, kapan hamil. Lah wong gak ditanya ajaa, aku baper," tutur Fiora panjang.
Maira terkekeh, ingat dirinya yang bersikap sama bagai Fiora. "Sama kok. Zie, penguatku. Dia tuh, sabar banget ... nanti Kak Fayyadh juga bakalan gitu, apalagi ada Umma, aman lah," ucap Maira memberi semangat pada Fio.
Menantu Aiswa kembali tersenyum dan mulai membagi apa yang menjadi kerisauan hati pada Maira.
"Kali alatnya gak akurat atau mungkin kalian terlalu cepat. Nanti di lihat lagi aja ya, tapi kalau masih satu itu tandanya wajib coba terus gaspol," kekeh Maira diikuti Fio.
"Sama kayak Mas, tadi bilang gitu," sambungnya.
"Nah tuh. Jadi semangat ya Fio. In sya Allah lekas isi, aamiin." Maira mengusap perutnya lalu menempelkan pada Fio.
Keduanya tertawa renyah, sejenak melupakan kegundahan yang mendera sesaat lalu. Hingga tiba waktu Ashar. Para wanita pun keluar kamar tamu menuju halaman belakang.
"Asri sekali dan itu kucingnya lucu-lucu," seru Fiora girang melihat banyak kucing dalam tiga kandang yang nampak siap untuk dibawa pergi.
"Mau? tapi janji ya, dipelihara dengan baik," ujar Maira melepas satu anakan jenis American Shorthair berwarna abu-abu.
"Enggak. Aku geli," ujar Fayyadh menyambung obrolan mereka.
__ADS_1
"Mas, darimana? kok gak boleh, aku yang akan ngurusin dia," tunjuk Fio pada anakan kucing yang bergelung di kaki Maira.
"Lihat Masjid dan workshop sebentar tadi, pulang yuk," ajak Fayyadh kemudian.
"Jangan dulu, itu Maira juga aku awasin betul kalau habis pegang kucing atau binatang peliharaan. Meski mereka terawat, aman tapi tetap saja harus jaga kesehatan juga kebersihan," saran Shan menyelamatkan Fayyadh.
Ba'da Ashar, FaFi meninggalkan kediaman Shan dan kembali menuju Bekasi.
Aiswa sudah mewanti agar Fio istirahat sebab melihat wajah pucat menantunya kala mereka tiba.
Wanita ayu itu mengikuti saran sang mertua, dia bergelung di bawah selimut sejak ba'da isya tadi. Sementara Fayyadh entah kemana, kepalanya terlalu pusing sehingga Fiora mengabaikan sekitar.
Tepat pukul sepuluh malam.
Putra sulung Amir masuk ke kamar mereka dilantai dasar. Sejak tiba tadi, dia kedatangan staff Queenaya yang memberikan busana seragam untuk pernikahan Kaffa dan Ryuki, fokus pun terpecah kala Amir mengajaknya ke Asrama sekolah yang tak jauh dari rumah itu, hingga ia lupa bahwa Fiora sedang kurang enak badan.
"Fei, sudah tidur?" tanya Fayyadh menghampiri sisi ranjang.
Lelaki itu menemukan bahwa pasta giginya telah habis, dia lalu membuka kemasan baru dan meletakkan di tempat semula. Tak lupa membuang bungkusnya ke tong sampah.
Pluk.
Fayyadh melemparkan sekenanya. Namun sedetik kemudian dia berbalik menuju tong sampah tadi.
"Eh."
Lelaki itu mengambil kemasan pasta gigi tadi. Lalu meraih benda panjang yang sejak pagi ini teronggok disana. Mata sipitnya melebar, mengerjap beberapa kali, memastikan penglihatan ini bukan sebuah kebohongan.
__ADS_1
Fayyadh tergesa, berlari kecil menghampiri ranjang berniat membangunkan Fiora namun akibat kecerobohan itu, kaki panjangnya membentur kaki sofa.
Dugh.
"Awwhh. Fei, Sayang."
Fiora mendengar samar pekikan suara suaminya, sejenak mata cantik itu terbuka. "Mas."
"Sayang, lihat." Fayyadh terpincang menghampiri sisi tempat tidur, dan menyerahkan benda ditangan, penyebab dia merasakan sakit terantuk kaki sofa.
Fiora menerima dengan lemas, uluran benda yang dia curigai. "I-ini?"
Seketika netra itu mengembun. Fiora mulai terisak saat menatap manik teduh sang suami yang juga terlihat haru.
"Selamat ya Sayang, untuk kita." Fayyadh memeluk Fiora. Keduanya sama menyalurkan rasa bahagia.
"Beneran kan ini, Mas?"
"Besok check-up, biar lebih pasti. Sekarang istirahat, gak usah mikirin apa-apa lagi. Maaf ya tadi aku ninggalin kamu sendiri," sambung Fayyadh seraya naik ke peraduan.
"Alhamdulillah."
.
.
...________________________...
__ADS_1
...Alhamdulillah, masih ada extra part. Moga gak bosen. Jangan lupa support karya baru Mommy untuk event ya. Luv ❤😘 buat kalian yang sudah baca sampai sini. ...