ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 88. KEYAKINAN


__ADS_3

Sudah satu bulan Glenn mencoba berbagai cara untuk membujuk Fiora agar kembali padanya. Mulai dari kunjungan rohani ke kediaman, mendoakan gadis itu dengan ritual suci, meminta dokter kejiwaan memberikan konseling hingga memanggil pemuka agama, bergantian untuk menasehati dengan sedikit tegas pada nona mudanya.


Upaya pria yang kian lemah itu tak kunjung berhasil. Justru Fiora semakin kokoh pada pendiriannya. Sindy, sang asisten kerap memergoki anak gadis semata wayang menangis di penghujung malam, entah apa yang dia minta.


"Pa, makan ya. Fio masakin kesukaan Papa," sodornya di depan mulut sang Ayah.


"Kamu bukan lagi anakku."


"Fio akan tetap jadi putri Papa. Tidak ada yang mengambil ku. Hanya saja, izinkan aku menimba ilmu ditempat seharusnya agar dapat berbakti lebih untuk Papa, ya?" mohon Fio lembut.


"Enyah!" Glenn menepis kasar.


Prang. Suara pinggan terjatuh dilantai, makanan berceceran dimana-mana.


Fiora menghela nafas, ada saja tingkah sang ayah setiap kali dia membujuk. Bila semua upaya ayahnya tak membuahkan hasil. Mungkin kali ini, beliau akan menggunakan hati untuk menekan Fiora agar luluh.


Nona muda memungut semua makanan diatas lantai dengan tangannya. Kemudian meminta pada maid agar mengambil kain untuk mengepel lantai serta menyiapkan makanan pengganti.


"Aku gak akan makan. Sampai kamu insaf," tukas Glenn memunggungi sang putri.


"Fio pun sama, tetap sayang Papa apapun keadaanku nanti. Aku tinggalkan buah kesukaan Papa disini ya," putri sulung nan ayu, keluar dari kamar ayahnya.


Dia menuju dapur, ingin membuat sesuatu yang membangkitkan mood.


"Mba, tolong buatkan roti selai strawberry juga jus nya," pinta sang majikan muda pada maid yang masih ada di pantry.


Tak lama kemudian.


"Strawberry, manis asem sedikit salty, rame rasanya kek hidup," kekeh Fio ketika melihat kudapan telah tersedia di meja.


Selama sepekan, Fiora tetap sabar menghadapi sang Ayah sembari mengerjakan rajutan tas yang di minta Queeny.


Malam berikutnya.


Kondisi fisik Glenn kian memburuk saat Fio sedang mencoba mempelajari satu buku, kini gadis keturunan Tusakti kian berani menunjukkan identitas. Dari bibir pucat tubuh senja itu selalu saja menguar kalimat yang memintanya kembali.


"Fio gak kemana-mana, Pa. Disini, putri Papa," bisik sang sulung di telinga ayahnya.


"Kak, ngapain sih belajar gituan? mau ikut Mama ya?" tukas Febian si bungsu.


"Jangan ikut campur." Fio bangkit, keluar kamar Glenn. Meninggalkan sang ayah dengan seorang suster pria didalam ruangan.


Febian berbalik badan, menyusul Fiora keluar kamar. Dia juga menarik lengan sang gadis. "Jelas dong aku ikut campur, Papa begini kan karena Kakak. Cobalah, loloskan keinginan Papa, jangan membuat beliau menderita seperti Mama," tuduhnya.


"Febian. Kau pikir Mama juga tidak menderita? kamu kira, batinku baik saja melihat Papa begini?" bantah Fio sedikit tegas.


"Ya kalau merasa sakit, let it go! jangan membuat susah! apa semua ini ada kaitan dengan lelaki itu? dia yang mempengaruhi? apa yang dijanjikan olehnya? ... KATAKAN PADAKU!" Febian emosi melihat kakaknya yang keras kepala.


"Dek, kamu gak akan paham rasa hatiku, prinsip itu bagai cinta, separuh jiwa, kau tahu itu? apa yang kamu lakukan ketika sangat mencintai seseorang, Feb?"

__ADS_1


Bungsu Tusakti hanya diam.


"JAWAB!" sentak Fio tak sabar.


"Hah, gak bisa kan? karena kamu tahu jawabannya. Bila sudah sangat mencintai, mustahil jiwa raga goyah hanya oleh ucapan, ancaman bahkan paksaan. Dia hanya akan luluh oleh bukti yang meresap dalam nalar ... kau bisa membuktikan apa yang akan aku tanyakan?" tantang Fio.


Febian Alsaki tak bergeming.


"Jangan ganggu aku!" tepisnya pada cekalan sang adik.


Putra bungsu Georgia menatap nanar kepergian sang kakak. Dia tahu, tiada dapat memaksakan kehendak pada gadis keras kepala itu. Hanya Mama, pengobat semua kekakuan sikap dirumah ini, namun sayang beliau telah berpulang meninggalkan luka di hatinya, Glenn juga Fiora.


"Semua karena Mama!" geram Febian kembali masuk ke kamar sang ayah.


Gadis ayu itu lalu mengeluarkan motor matic miliknya, hasil menabung dari setiap laba Floffy Craft setelah dikurangi pengeluaran, charity juga salary para pegawai. Hatinya gamang, setelah pemutusan kontrak kerja ArthaFlo, omset Floffy turun drastis. Masa kerjasama dengan Queeny juga akan berakhir.


Fiora bingung, bagaimana dia akan tuntas melepaskan diri dari sang ayah apabila harus pergi nanti. Kalbunya risau.


"Allah. Bantu Fio, jangan sampai pegawai ku kekurangan pangan sebab Floffy gulung tikar."


Sejenak dia ingin melepaskan penat. Gadis ayu lalu mengenakan jaket milik Fayyadh yang lupa dikembalikan saat pemuda itu menolongnya terakhir kali di jalanan.


"Mas, minjem dulu ya. Lapar, tiba-tiba pengen bakso," ujarnya seraya melajukan kuda besi keluar dari kediaman.


Lama dia mencari kios bakso yang buka dimalam hari, namun tak jua kunjung di temui. Hingga tanpa sadar, dirinya telah berada di sekitar Joglo Ageng.


Dia pun memarkirkan kendaraan ke halaman kedai. Lalu memesan beberapa porsi untuknya juga para maid dirumah.


Sekilas dipojok sebelah kiri, nampak ibu tua menjajakan dagangannya yang masih banyak. Fio merasa terketuk dan menghampiri wanita itu.


"Bu, jualan apa?"


"Eh, ini Non. Sabun kopi, tapi buatan sendiri belum ada merk nya."


"Berapaan? Fio beli semua deh, biar ibu pulang, sudah malam," ujar sang gadis mengeluarkan dompetnya. Meski dia tak tahu akan diapakan semua sabun ini.


"Lima ribuan, ini ada dua puluh. Semuanya?" binar mata itu berkaca-kaca.


"Iya, semua. Ini uangnya, tolong dikemas ya." Fiora menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan padanya lalu menuju kios bakso guna membayar pesanan.


"Kebanyakan, Non. Ini uang dan sabunnya. Te rima ka sih," isak si Ibu penjual sabun.


"Buat Ibu aja. Fio in sya Allah masih ada. Allah sudah jamin rezeki aku. Dan ini, buat anak ibu dirumah ya," ujar Fio menyerahkan dua porsi bakso padanya.


Bukannya pergi, Ibu penjual sabun malah menangis. Dia berkata, bahwa Tuhan maha pengasih, ia sedari tadi bersholawat sambil terus memohon pada Allah agar dagangan ini laku meski hanya dua buah sabun agar dapat membeli beras. Sebab sudah dua hari berpuasa, sedangkan ketiga anaknya tengah menunggu dirumah berharap ada hasil yang didapat untuk makan malam ini.


Mendengar kisah pilu, Fio meneteskan air mata. Tanpa segan, gadis ayu itu memeluk tubuh tua beraroma keringat dalam dekapan. Hatinya tercubit.


"Ampuni Fio ya Allah, maaf sudah meragukan-Mu."

__ADS_1


"Gusti Allah mbayar kontan, makasih Non." Ibu tua itu tak henti mengucapkan rasa terimakasih dan berlalu pulang.


Dhuaar.


Seketika Fio teringat kisah sayyidina Ali bin Abi Thalib saat membelah buah delima untuk Sayyidah Fatimah yang tengah ngidam dan pengemis tua dijalanan. Langsung Allah bayar kontan lewat Salman al Farisi, sang sahabat pun langsung mengantarkan hasil panen delima ke kediaman putri Rosulullah.


"Abah." Fio menghapus jejak airmata lalu bergegas menuju Joglo Ageng tak jauh dari sana.


Beberapa saat kemudian.


Kedua pria terburu menyambut sang Nona muda di pendopo menjelang pukul sembilan malam, saat Kuntara mengatakan Fiora bertamu.


"Nak Fio, ada apa?" tanya Abah cemas.


"Fio, nanti pulang di kawal Warni, gak boleh bantah. Uyut masuk ya, ngantuk," pesan Danarhadi saat tahu gadis lucu itu datang seorang diri.


Fiora mengangguki pesan Danarhadi seraya tersenyum manis. "Matursuwun Uyut."


Setelah kepergian sang sepuh. Fio bertanya pada Abah tentang masalah yang dia hadapi.


"Yakin dengan apa yang Nak Fio yakini. Dan tetap ikhtiar. Sebab rezeki itu banyak jalur datangnya ... wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib, Tuhan akan menghendaki dari jalan mana saja, tiada dapat disangka-sangka," Abah menenangkan Fiora.


"Tentang Papa, teruslah berbakti ... jika hatimu teguh, juga haqqul yakin bahwa Tuhan Maha Penolong, maka tetaplah berprasangka baik pada-Nya bahwa semua akan baik saja." Pungkas Wisesa.


Ting. Notifikasi masuk.


Fio membaca pesan Aiswa. "Alhamdulillah." Gadis ini lantas terisak.


"Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya," ucap Fiora didepan Abah.


"Allahu akbar," Abah terpana.


"Allah juga membayar kontan Fio, Bah. Umma bilang, ada pejabat yang mau ngasih souvenir untuk syukuran tujuh bulan cucunya dengan memesan 300 item tas crochet aku, untuk bulan depan." Fiora menangis haru.


"Aku baru saja mengeluh dalam hati, dan entah hal apa yang mengarahkanku, tiba-tiba ingin bakso dan sampai disini sebab sepanjang jalan kios tutup, ketemu ibu tadi hingga mampir kesini. Fio malu sama Allah. Begitu indah cara-Nya menyampaikan rezeki bagi hamba nan yakin," isaknya lagi.


"Alhamdulillah, baru saja dibahas. Sudah malam, pulang dulu ya Nduk, diantar Warni, nanti Papa nyariin," saran Abah kemudian.


Fio mengangguk. "Bah, adakah tempat belajar untuk...."


Wisesa terperanjat, bibirnya tak henti mengucap takbir. Lalu dia memberikan sebuah alamat pada gadis ayu itu. Tak lama, gadis ayu kembali pulang di kawal oleh Abdi dalem Joglo Ageng.


"New hope, new life. Bismillah."


.


.


...______________________...

__ADS_1


__ADS_2