
Berbulan kemudian.
Jeddah.
Amir membawa semua anggota keluarga menuju Jeddah, sang putra sulung akan menjalani wisuda esok hari.
Setelah urusan Fayyadh selesai, mereka berniat melanjutkan rencana untuk beribadah umroh sebelum kembali ke tanah air.
Ketika Aiswa menanyakan tentang kesiapannya jikalau di minta oleh uyut untuk menjadi penerus, mengemban tugas Abdi dalam Kasultanan, Fayyadh seakan tak bersemangat.
"Aku ikut kata sepuh saja," balasnya cepat.
"Pasrah amat, jodoh juga gitu, apa kata Umma. Gak punya tujuan hidup, Mas?" cecar Aiswa.
"Punya, tapi tinggal di Solo atau di Bekasi kan sama saja. Aku bisa membuka cabang Arza disana ... kalau urusan jodoh, sudah ku bilang, Umma pasti bakal milih yang terbaik bagiku," tegas Fayyadh seraya bersiap akan mengikuti GR.
"Umma punya satu kandidat. Setelah pulang umroh, kita ke Solo ya, Mas. Ngenalin kamu lebih dekat dengan kehidupan keraton juga survey tempat untuk sekolah," ujar Aiswa lagi.
"He em, ya Kheir, aku berangkat dulu ya Umma."
Fayyadh keluar kamar hotel, menuju kampusnya yang tak jauh dari sana.
"Kalau iya jadi menetap di Solo, aku bisa melihatmu meski sulit untuk dijangkau," batin Fayyadh.
"Mas. Mas. Kalau cinta ya bilang, jangan dipendem mulu."
"Kayak kamu, Rohi, dipendem."
"Kita, Bii. Yeeee," sungut Aiswa. Memang ia akui, sifat Fayyadh bagai dirinya.
Jika keluarga Zaidi tengah berada di Jeddah sebab Fayyadh wisuda pekan ini. Lain hal dengan pasangan Qavi. Mereka kini sedang sangat menikmati perjalanan bulan madu kedua dengan mengunjungi semua Mitra franchise pet shop Elshan yang berada di beberapa kota besar di sekitar Jawa dan Sumatra.
Ingatan menantu Dilara kian intens utuh kembali. Gunjingan rekan bahkan perjumpaan dengan Sumayyah beberapa kali yang kerap menyindir dirinya wanita tak subur, perlahan bisa Maira kendalikan. Dia mulai abai, lebih mendengarkan perkataan Shan nan menenangkan.
"Zie, masih lama? aku ngantuk." Maira beringsut meminta sang suami memeluknya.
"Akhir-akhir ini sering banget tidur sembarangan. Capek ya ikut aku kontrol Mitra?" tanya Shan seraya mengusap kepala Maira. Membuka lengan kanan agar istri manjanya masuk ke pelukan.
"Enggak, hawa Bandung emang enak buat bobok, Zie," gumamnya pelan saat kepala manja itu menempel didada Shan.
"Tidur dulu, nanti aku bangunkan," balas Shan
__ADS_1
"Sebentar lagi masuk lembang, Pak El. Nanti Anda berdua nginep di rumah pohon Cikole, sudah disiapkan oleh Tuan Sebastian. Besoknya melihat penangkaran kuda beliau, kebetulan baru di bangun," ujar driver rental yang membawa mereka menuju lokasi kediaman.
"Zie."
"Hmm, gak nyaman?" bisiknya pelan.
Sudah tiada terdengar lagi sahutan, Maira secepat itu masuk ke alam mimpi.
Shan tak mengira, Maira yang terlihat sangat mandiri, energik, cuek namun saat bersama dirinya, Ai berubah sangat manja, kadang kekanak-kanakan namun dia juga bagai sang bunda, mengerti semua kebiasaan tanpa banyak bicara.
"Semoga ya Shan, semoga. Untung ini adalah kota terakhir kunjungan."
"Baru nikah ya Pak El?"
"Sudah setahun lebih, Pak. Alhamdulillah," sahut Shan cepat.
"Masih lengket ya, saya kira baru-baru ini menikah."
Shan hanya mengulas senyum sebagai jawaban pamungkas. Bagaimana gak lengket, tampilan istrinya, seorang princess Kusuma yang hot luar dalam.
Beberapa menit berlalu.
Pasangan Qavi memasuki kawasan wisata, Shan kira lokasi ini akan sunyi. Nyatanya sangat ramai dan rumah pohon mereka terletak di dekat pintu masuk dengan sedikit privasi dibanding pohon lainnya.
Meski wanita ayu itu tersadar dan meminta turun dari gendongan, namun Shan tak mengizinkan. Walhasil, Maira kembali lelap hingga dibaringkan diatas ranjang.
"Aku jadi malas kemana-mana, Ai." Putra Dila ikut berbaring disebelah wanita cantik yang tertidur pulas. Dia melihat note di ponselnya untuk memastikan sesuatu. Perlahan senyum menawan itu mulai intens terbit.
“Pokoknya aku happy, Sayang," Shan menarik selimut, mendekap wanita ayu dalam pelukan.
...***...
Solo.
Saat yang sama.
Danarhadi sedang kurang fit akhir-akhir ini, sementara Wisesa sibuk dengan berbagai aktivitas di Kesultanan juga mengurus bisnis keluarga.
Siang itu kediamannya menerima utusan dari seorang tamu. Sebab sang tuan rumah udzur maka hanya titipan pesan dalam bentuk surat saja, yang sampai ke tangan Danarhadi berkat bantuan Kuntara.
"Ndoro, ini ada amanah. Saya letakkan di atas meja sofa, nggih," ucap Tara saat memasuki kamar sang Tumenggung.
__ADS_1
"Matursuwun, nanti bilang sama Sesa ya, Tara. Bacakan itu untukku," pesan Danarhadi pada Kuntara, putra asisten kesayangan.
Abdi dalem kepercayaan Arya Tumenggung itu menunduk pelan seraya pamit dari sana.
Menjelang Maghrib.
Wisesa baru tiba di Joglo Ageng saat kakeknya berada di ruang keluarga seorang diri.
"Assalamu'alaikum. Loh Kek kok disini?"
"Wa'alaikumsalam, Sa. Sepi amat ya rumah, kalau aku padem, kamu nanti sama siapa?" celetuk Danarhadi dengan wajah muram.
"Astaghfirullah, kok mikir begitu? sehat ini sya Allah panjang umur," balas Abah menghampiri dan duduk disisi Danarhadi.
"Tetap saja, kullu nafsin dzaikotul maut. Semua bakal mati, aku takut masuk neraka. Kamu ridho kan, Sa, maapin semua kesalahanku dulu?" sedih dan tangis lelaki senja itu menguar hingga Abah merangkul bahu Danarhadi.
"Sampun, ikhlas ridho kagem Kakek dhohir sareng batin."
Sebab obrolan mengingat mati, Danarhadi baru menyadari sebuah pesan yang diletakkan Kuntara siang tadi.
"Sa, ada surat di kamarku, diatas meja sofa. Gih ambil, entah dari siapa itu barangkali penting," ucap sang Tumenggung.
Baru saja Abah akan bangkit, Kuntara datang membawa titipan pesan yang dimaksud. Wisesa pun menerima dua bundel map coklat juga satu buah amplop putih dari tangan Kuntara.
Lelaki Kusuma itu memakai kacamata plus nya dan mulai membaca surat.
"Assalamu'alaikum, Den Mas. Afwan tidak menyampaikan secara langsung, sebab Ana sedang berada di Dubai dan khawatir tidak kembali dalam waktu singkat."
"Khidmah Ana menemukan satu map coklat di kamar Arwa saat beres-beres di sana. Dia adalah gadis yang Den Mas titipkan pada Ana, hari itu. Meminta agar mendidiknya dan menyetarakan kedudukan dengan santri lain. Namun amanah dari Den Mas, nyatanya sangat cerdas hingga gadis itu cemerlang dalam waktu singkat."
"Berbagai kalangan pun mulai melirik kehadiran sosok misterius sehingga Ana tak lagi mampu menghalau gempuran ajakan untuk ta'aruf dengan Arwa. Berbagai alasan penolakan halus diutarakan oleh gadis ini terhadap semua proposal yang datang. Dibalik itu, nampaknya amanah Den Mas telah memiliki tambatan hati, terbukti dengan ditemukan map coklat yang Ana maksud."
"Tugas Ana telah selesai. Dia kini kembali ke orang tuanya. Doakan Istiqomah ya Den Mas. Matursuwun sudah memberi kesempatan bagi Ana mengenal sosoknya. Pilihan Kusuma memang tiada cela, Maa sya Allah."
"Dia, Ana beri nama Arwa Feiyaz Akshita. Wassalamu'alaikum."
"Sa, apa isinya?"
"Bentar Kek. Aku buka map coklat dulu."
.
__ADS_1
.
...____________________...