
"Berhenti mencari kebahagiaan di tempat yang sama ketika kamu kehilangan rasa itu. Karena untuk menyembuhkan luka, terkadang kita harus berhenti menyentuhnya."
Fayyadh bagai memperingatkan dirinya sendiri kala menuangkan goresan tinta hitam diatas kertas yang baru saja dia lipat.
Setelah itu, putra sulung Aiswa meminta izin pada asisten tuan Glenn agar apa yang dia tulis dapat disampaikan ke Fio.
Menjelang maghrib, Kusuma pulang kembali ke Joglo Ageng.
Selama di perjalanan, Fayyadh hanya diam. Dia memikirkan bilamana keluarga inti tiba lusa nanti. Apa yang akan mereka sampaikan padanya. Brand Qiswa dan Queenny akan berpartisipasi dalam acara pameran tahunan di Kasunanan Solo.
Dalam draft order yang sempat dia lihat, Floffy Craft pun meminta pasokan bunga di hari itu dua kali lipat dari biasanya. Mungkin untuk keperluan event. Fayyadh juga sekilas pandang melihat target plan di dinding ruangan purchase toko kala terakhir kontrol ke sana, bahwa pagelaran lusa, Fiora akan mengisi sebuah acara workshop untuk para pebisnis pemula.
"Mas."
"Y-aa, B-ah?" Fayyadh tergagap.
"Mikiri apa?"
"Lusa, Fio kayaknya ngisi event tahunan Kasunanan ya, Bah?" tanya Fayyadh memastikan.
"Kamu tahu darimana? ... Tuan Glenn diundang sebagai tamu kehormatan dan diminta membuka workshop atau pelatihan untuk para tenaga pendidik dan Fiora, bakal ngisi part membangun usaha dari rumah untuk para pebisnis pemula," ungkap sang Kakek. Abah berperan aktif dalam kesuksesan acara nanti.
"Kira-kira datang gak ya? kan dia labil," cemas Fayyadh.
"In sya Allah datang. Fio sepertinya bukan type yang mencampur adukkan masalah pribadi dengan bisnis atau pekerjaan. Kamu tumben peduli sama gadis," seloroh Abah sembari tersenyum mengembang.
"Ya merasa tanggungjawab aja dan rasa bersalah. Tapi semoga sih gak kenapa-kenapa," ucapnya masih sedikit terbersit rasa khawatir di setiap kalimat yang dia sampaikan.
Fayyadh hanya mengangguk samar, netra sipitnya dia layangkan ke luar melalui kaca mobil. Senja.
"Maira, kamu tahu gak? ada sebuah ungkapan ... jika kamu merindukan seseorang, tataplah matahari sore. Kirimkan pesan rindumu untuknya lewat senja."
"Konon, senja lebih paham bagaimana cara mengungkapkan rindu tanpa diketahui oleh angin dan juga derai nafas yang menderu."
"Fio, beberapa hari ini aku belajar dari senja yang membuatku mengerti arti sebuah kata rela. Karena ia hanya datang sebentar dan memberikan pemandangan terindahnya untuk dilahap oleh malam. Semangat ya, kita sama bangkit," batin Fayyadh.
Pandangan pemuda tampan masih setia melepas semburat jingga nan kemerahan di luar sana.
Joglo Ageng, adzan maghrib.
Alphard hitam memasuki pelataran luas kediaman Danarhadi. Fayyadh melihat mobil kakeknya telah terparkir cantik di garasi luar. Dia langsung bergegas turun saat kendaraan mewah yang dia tumpangi, baru saja berhenti.
"Kang, kok sudah diambil? memang beres?" tanya Fayyadh pada Kuntara yang menyerahkan kunci mobil padanya.
"Baru selesai, Den Mas. Nona Afra sempat kecewa dan menyusul kemari, beliau ada di ruang tamu dalam, monggo," balas Kuntara menjelaskan kejadian petang ini.
__ADS_1
"Maghrib dulu. Nanti aku temui," ujar Fayyadh seraya berlalu masuk ke dalam rumah melalui jalan samping untuk menghindari Afra.
Abah telah jauh ditinggalkan oleh sang cucu, menghampiri Kuntara dan mendapat penjelasan yang sama darinya. Tidak mengikuti Fayyadh, Wisesa justru masuk melalui pintu depan bangunan utama.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Raden Mas Wisesa," sapa Afra, bangkit memberi hormat pada tuan rumah.
"Silakan duduk Nduk, mau maghrib dulu? di samping pendopo ada mushola, monggo," balas Abah menyilakan sang tamu.
"Aku hanya sebentar Den Mas, hanya ingin menyampaikan permohonan maaf juga terimakasih. Jangan dimasukkan hati perkataan Bapak tentang Anda melalui Kang Tara, ini murni kesalahanku. Pamit ya Den Mas, sampai ketemu lagi di event lusa nanti," ucap Afra bangkit. Gadis bercadar itu lalu membungkukkan badan dan berlalu keluar dari ruang tamu Joglo Ageng, ditemani asistennya.
Abah hanya tersenyum, mengangguk samar seraya mengantarkan kepergian gadis itu.
"Sudah lebih baik ya sekarang, Nduk. Bima Arundati harusnya bersyukur Afra mau hijrah. Malah masih saja menuduhku mempengaruhi keluarga dia. Bima Bima, jika bukan kawan kecilku, sudah aku bongkar semua aib kamu dulu," gumam Abah, teringat masa lalu mereka.
"Semoga kamu gak kecantol sama Afra ya Mas. Gadis itu baik, sholihah in sya Allah dalam bimbinganmu tapi keluarganya, astaghfirullah," imbuhnya lagi.
Wisesa lalu menutup pintu, dan masuk ke dalam untuk menunaikan tiga rokaat wajib petang itu.
Ba'da Isya.
Setelah makan malam, Fayyadh pamit ingin menghirup udara malam kota Solo. Dia meminta kunci motor matic yang jarang keluar garasi pada Abah.
"Jangan pulang terlambat. Jaga kesehatan, gak baik kena angin malam, Mas," pesan sang kakek seraya menyerahkan kunci Vario merah pada cucunya.
"Jangan ngebut, Mas."
Fayyadh mengangguk sembari berlalu dari ruang keluarga menuju garasi. Tak lama, dia sudah meluncur dengan kendaraan roda dua meninggalkan kediaman.
Tidak semua orang patah hati harus menangis meraung. Kesendirian menjadi cara bagi Fayyadh melepaskan sedikit nan perlahan apa yang menusuk kalbunya, meski cara ini jauh lebih lama dan susah payah bangkit.
Setelah satu jam melaju dengan kecepatan lambat melebihi para emak-emak. Motor vario yang dia kendarai menepi di salah satu angkringan dekat dengan pusat kota. Suasana malam kota Solo sedikit menghibur kegelisahan. Beberapa sate baceman juga wedang jahe telah Fayyadh pesan sebelum dia duduk diatas lesehan tikar trotoar.
Betul-betul menikmati kesendirian dalam keramaian. Fayyadh tak peduli sekitar, persis Aiswa. Hanya fokus pada dirinya sendiri, hingga waktu pun perlahan beranjak mendekati tengah malam.
Lelaki muda Kusuma bersiap meninggalkan lokasi. Inginnya tetap bertahan namun angin terasa mulai dingin menusuk kulit meski ia mengenakan jaket, memaksa dia untuk bangkit.
Vario merah itu kembali menderu, membaur dengan suara bising kendaraan lalu lalang disekitar. Fayyadh melajukan pelan berniat pulang.
Entah nasib apa yang membawanya. Asik menikmati suasana jalanan nan mulai lengang, tanpa sengaja netra sipitnya melihat seorang gadis, sedang di goda beberapa pria, sebab pakaian minim melekat ketat ditubuh.
Fayyadh berhenti, memarkirkan motornya asal di tepi jalan, mencabut kunci lalu menghampiri kerumunan.
"Permisi," ujarnya.
__ADS_1
"Pergi sana, bukan urusanmu," sentak salah satu pria bertubuh ceking.
Betapa Fayyadh terkejut, gadis yang sedang di jamah oleh tangan-tangan haram itu adalah Fio.
"Fiora!" serunya.
Wanita seksi itu menoleh merasa namanya dipanggil seseorang. Namun Fayyadh mengira, Fio sedang setengah waras.
"Lepasin Kang, dia adikku," sebut Fayyadh asal.
"Adik apa, ketemu gede? bayar sini, tinggalin motor Lo," hardik pria berbadan kekar yang memeluk Fiora.
"Beneran teler," batin Fayyadh, melihat Fiora pasrah bahkan nampak nyaman dalam dekapan lelaki preman itu.
"Rich, bawa aku kemana kau mau," gumam Fiora tak jelas.
"Kau dengar? dia yang mau dengan kami, pergi!"
"Lepasin gak. Minggir," Fayyadh memaksa.
Terjadi perkelahian diantara ke empat pria malam itu, baku hantam. Tenaga Fayyadh kalah telak, dia mulai tersudut. Bibirnya terasa sakit, perutnya mual terkena pukulan preman.
Priiiittttt. Priiitt.
Terdengar suara peluit panjang petugas Satpol PP, berlarian ke arah mereka. Bunyi sirine khas mobil pengangkut sampah masyarakat itu sukses membuat ketiga preman pun kabur, lari sekencang yang mereka bisa.
Salah satu petugas menghampiri Fayyadh yang terengah, masih berdiri meski bertumpu pada kedua lututnya. "Mas ada yang luka?" tanya petugas.
"Gak a pa Pak, terima kasih. Hanya me mar dikit," jawab Fayyadh tersenggal.
Dia lalu melangkah ke arah Fio yang terjatuh, duduk di atas trotoar. Melepas jaketnya untuk menutupi tubuh terbuka gadis itu.
"Jangan sentuh, dia adikku. Apakah ada selimut?" tanya Fayyadh, dia menepis tangan salah seorang Satpol PP yang hendak meraih tubuh Fiora.
"Eh, adiknya? ada Mas, sebentar kami ambilkan," ujar salah satu petugas.
Mereka lalu meminta keterangan pada Fayyadh atas peristiwa tadi. Setelah memesan ojek online car, Fayyadh kebingungan bagaimana cara agar dia tak menyentuh tubuh Fiora.
"Tuhan maha baik padamu, Fio." Fayyadh melihat ibu-ibu pemulung tengah mendorong gerobak melintas ke arah mereka. Dia pun meminta bantuan sejenak, dengan mengimingi upah untuk beliau.
Setelah memastikan Fiora masuk kedalam ojek online car, Satpol PP meninggalkan mereka. Fayyadh pun mengikuti dari belakang laju kendaraan yang membawa gadis malang itu.
"Semoga kali ini tiada salah paham lagi. Entah apa maksud dibalik semua ini ya Allah. Hamba manut cara-Mu."
.
__ADS_1
.
...__________________________...