
Hiks.
"Biii."
Fayyadh memeluk sang ayah erat, menumpahkan segala rasa malunya disana.
"Sabar ... boleh jadi menurut kita, Maira adalah sosok wanita terbaik. Namun belum tentu bagi Allah. Di terima ya Mas, biar hatimu lapang dan selalu menyadari bahwa masih banyak nikmat Allah yang wajib kamu syukuri," bisik Amir seraya menepuk bahu anaknya.
"Sakit dan malu, Bii. Harusnya aku peka jika Maira tak merasa hal yang sama," sesalnya masih dalam isakan di pelukan.
"Maira masih fifty-fifty ... dia punya rasa padamu, namun meragu karena menimbang situasi kami secara garis besar. Pada akhirnya ia bertemu seseorang yang menggugah keyakinan hati sehingga berpaling," imbuh sang ayah lagi, mengurai pelukan.
Dia menatap wajah tampan putra sulungnya, kini telah kembali tenang.
"Mau jalan dulu biar hatimu lega? ... Abi juga pernah di posisimu, bahkan umma itu kabur menemui Abi ... ujungnya, ya kami di hujat meski Abi mengembalikan umma pada Njid kamu ... sakit mana Mas, kamu ditolak Maira atau kalian dipaksa berpisah akibat kelalaian seseorang meski saling cinta?" tanya Amirzain, mengenang masa lalunya dengan Aiswa.
Fayyadh terpana. Kedua orang tua panutan tak pernah membahas hal ini, ia kira Abi Umma nya memiliki kisah cinta sempurna.
"Ayo, jalan. Lepasin beban kamu sebelum pulang ke Rusyaifah, Mekkah."
Amir menarik paksa lengan putranya masuk ke mobil mereka untuk menuju suatu tempat.
Satu jam berlalu. Marina Beach Bay.
Disinilah, tempat Amir melepaskan sesak hati kala kehilangan Aiswa hingga dua kali.
"Sana, Abi tunggu di sini. Serah mau apa asal jangan bunuh diri, dosa besar. Lagian sayang Mas, ganteng-ganteng ko mati nya konyol," kekeh sang Ayah.
"Ck, Abi nih. Bukannya kasih semangat malah ngatain. Aku masih waras Bii, hanya sesak dan malu karena mengabaikan isyarat-isyarat Maira," keluhnya kembali murung.
Amir hanya mengangguki keluhan sang putra, menepuk kedua bahunya lembut sebelum pemuda tampan itu menuruni dermaga menuju hamparan pasir pantai.
Tap.
Tap.
Tap.
Langkah kaki milik pemuda yang baru saja kehilangan harapan merengkuh cinta, masih gamang memijak bumi.
Desir angin malam nyatanya tak jua merasuk ke dalam sukma. Hati Fayyadh bagai tergodam, terlampau pedih, lebam dengan luka menganga akibat tusukan panah patah Sang Dewa Cinta. Seketika memupuskan bumbungan asa untuk menghabiskan jatah usia dengannya.
Dash. Bunyi hempasan ombak membentur karang.
Ingatan juga indera pendengarannya mengulang kalimat lembut Mahendra namun terasa bagai sayatan pisau mengiris kalbu.
"Benar. Aku bukan dambaan Maira."
Hiks.
__ADS_1
Satu, dua, tiga.
Kucuran lava bening itu tak sanggup lagi ia bendung. Menganak sungai, deras menuruni lapisan kulit wajah nan mulus.
"Mahyaaaaaaaaaa....!"
Daaasshh.
Gempuran gelombang bergulung di depan sana seakan menyahuti pekikan pilu seonggok daging bernyawa di bibir pantai.
"Aaaaaarrrrrrggghhhhhhh!"
Brugh.
Postur tegap pun tiada lagi, kini hanya tersisa sosok lemah tak berdaya jatuh terduduk diatas lembabnya butiran pasir. Lagi-lagi sebab perkara cinta.
Andai, hamparan pasir pantai bagai karpet ini dapat bicara. Mungkin ia akan berkata bahwa pria ini tengah mengulang sejarah kelam kisah cinta pendahulunya.
"Aku terlalu percaya diri, lupa bahwa Sang Pemberi Cinta Maha Kuasa segalanya ... Maira, jika tiba waktunya kita bersua lagi nanti ... ku harap kamu tidak perlu menjauh sebab aku sudah lebih dulu melangkah mundur."
"What goes around, comes around, even easier said than done. Bismillah, aku bisa ... do'ain ya Mahya," lirih Fayyadh masih dengan sisa air mata.
(Apa yang terjadi, terjadilah meski lebih mudah berkata daripada dilakukan.)
"Cinta pertama ku sirna seiring cahaya yang baru saja bersemi, bagai fajar menyingsing tergantikan oleh mentari," lirih Fayyadh, masih dengan nada pedih meratapi nasib.
Sadar dirinya membuang waktu sia-sia. Putra sulung Amirzain memutuskan bangkit dari duduknya kini.
Perlahan akhirnya ia tiba di hadapan sang Ayah yang setia menunggunya.
"Lega?" tanya Amir kala sang putra kesayangan tiba di hadapan.
Fayyadh hanya mengangguk samar, tersenyum getir seraya membuka handle pintu mobil sisi kiri.
Ayah tiga anak itu lalu masuk dan duduk di belakang kemudi. Melajukan pelan kendaraan roda empat kembali ke Tazkiya.
"Life would not be better because a chance, but always be better because of the courage to take action at every chance," nasehat sang Ayah.
(Kehidupan tidak akan menjadi lebih baik karena sebuah kesempatan, tapi selalu menjadi lebih baik karena keberanian untuk mengambil tindakan di setiap kesempatan.)
"Pass the bad days first to get the best day in the future, Mas," Amir masih setia memotivasi putranya
(Kadang kamu harus melewati hari-hari yang buruk untuk mendapatkan hari terbaik di masa depan.)
"Hmmm, do'ain Bii."
Tangan kirinya menarik tuas disamping kursi agar posisi tubuh lebih landai sehingga kepala yang mulai terasa berat, nyaman bersandar. Tak lama, Fayyadh pun memejam, memilih berdamai dengan sunyinya malam.
...***...
__ADS_1
Orchid.
Setelah kepergian Fayyadh dan mendoakan Maira, keluarga Tazkiya pamit undur diri. Rey berinisiatif mengantar rombongan hingga ke basement.
Kaffa masih enggan beranjak dari kediaman Mahendra, meminta izin menginap sembari menunggu keluarganya tiba esok.
Dua puluh menit berlalu.
Kaffa meminta waktu sejenak pada sang Paman lintas uyut Kusuma itu, sebelum Mahendra menaiki tangga menuju lantai dua.
"Om, Bagaimana nasibku kelak? apakah akan ditolak juga oleh Abi Amir karena hmmm aku menaruh suka dengan Athirah," tanya sang keponakan.
"Ungkapkan saja Fa, ke Abi Amir ... kalian sepupu beda lajur meski masih Kusuma. Istikharah dulu dan siapkan mental ... istirahat gih, besok kita lanjutkan lagi." Mahen pamit undur diri, ia merasa masih tak enak hati setelah peristiwa malam ini.
Istri dan putranya telah naik ke kamar masing-masing. Namun Mahendra memilih melihat kondisi putri kesayangan lebih dulu.
Kamar Maira.
Mengetahui majikannya masuk kamar pasien, suster jaga pamit undur diri keluar ruangan. Membiarkan ayah dan anak itu berbagi rasa.
Menantu Abah, lalu duduk disisi tempat tidur putrinya, memegang jemari pucat itu erat.
"Sayang ... Ayah tahu, kamu dengar ... Maira, maafkan Ayah ya sudah membuatmu mengalami hal ini ... Maaf."
Rasa bersalahnya masih menggelayut, terlebih mengingat raut wajah kecewa Fayyadh tadi.
"Maira please, wake-up ... bantu Ayah agar tak salah mengartikan semua isyaratmu, seandainya ia meminta apakah harus Ayah terima?"
Mahen menciumi telapak tangan lunglai sang putri, tanpa sadar air mata senjanya ikut luruh.
Setelah memastikan keluarga Tazkiya pulang dengan selamat, Rey kembali ke kediaman Mahendra. Namun ia tak menemukan siapapun di lantai dasar. Lewat pancaran sinar lampu dari kamar Maira yang terbuka, ia memutuskan menyusul kakak angkatnya.
Tok. Tok.
"Bang...." tegur Rey hendak menyampaikan sesuatu.
"Rey, aku gak mau menerima tamu dalam waktu dekat. Hubungi ponsel Naya saja jika ada hal urgent," sela Mahen sebelum lelaki itu mengutarakan maksud.
CEO GunaFarm.id merasa bahwa setelah ia menolak lamaran Fayyadh, Knight of Rollies akan datang menghadap. Namun Mahen masih enggan, ingin mendedikasikan waktu luang yang ia miliki hanya berdua dengan Maira, putri kesayangan, princess barbie miliknya.
"Tapi, Bang...."
"Nanti ya Rey, please."
.
.
..._______________________...
__ADS_1
...Baru menolak saja, rasa hati sudah berkecamuk. Bagaimana jika pasangan Fayyadh-Maira bersitegang kemudian hari dalam RumTang nya? gak kebayang... 😓...