ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 108. KABAR BAHAGIA


__ADS_3

"Siapa, Zie?"


"Bunda."


"Assalamu'alaikum, ya Bun?"


"Wa'alaikumsalam, Shan, kata umma Aish ponsel kamu gak aktif daritadi, beliau mau bicara hal penting. Maira sakit ya?" tanya Naya beruntun.


"Aku nanti call beliau Bun. Ai? muntah semalam tapi sekarang baikan, besok pulang kok. Do'ain ya Bun," pinta Shan.


"Setiap hari di do'ain. Hati-hati ya kalau pulang, musim hujan. Pakai kereta kan? nanti Ratih yang jemput kalian di stasiun." Pesan sang mertua disetujui oleh Shan.


Panggilan pun terhenti lalu Shan kembali melakukan sambungan via udara ke nomer Aiswa.


Kedua orang yang terlibat pembicaraan serius akhirnya mengakhiri percakapan via udara setelah beberapa saat lamanya. Aiswa meminta agar Shan berkoordinasi dengan Queennaya untuk mengatur semua perlengkapan acara di Joglo Ageng apabila khitbah diterima dan tak lupa meminta bantuan pengamanan area sekitar kediaman sang buyut.


Maira yang mendengar sebab panggilan mereka di loudspeaker, mengucap syukur.


"Akhirnya cinta dalam diam, diwujudkan juga. Kak Fayyadh beruntung, semua peka dan bantu dia. Apa coba gunanya saling sapa di medsos tapi berpura gak paham dan mengambil tindakan," tukas Maira.


"Hush ... ada hal yang mereka jaga kok. Semua perlahan menemui jalan. Kalau melihat alur cerita kan butuh proses. Doakan saja semua lancar," ujar Shan seraya bangkit, mengambil tab dan membuat draft susunan rencana. Tak lupa, dia menghubungi Mega, asisten Naya untuk meminta jadwal koordinasi dengan beberapa staf Queennaya.


...***...


Lusa.


Jakarta, Orchid.


Shan berjalan mondar mandir didepan kamar mandi, beberapa kali mengetuk pintu bathroom yang dikunci dari dalam oleh Maira.


Tok. Tok. Tok.


"Baby, tolong buka."


Tok. Tok.


"Ai, kenapa lama sekali, tumben."


"Sayang. Ai. Ahya!"


Tok. Tok. Tok. Tok.


"Zie, bisakah kau diam? Nanti dia malu, gak jadi muncul tanda plus atau malah urung nambah garis dua. Diam sebentar lagi," sungut Maira asal. Dia pun stres menunggu hasil yang tak kunjung muncul.


"Apakah alatnya rusak?"


Shan yang mendengar seruan Maira, seketika terdiam. "Eh. I-iya, aku diam."


Beberapa detik kemudian.


"Lah sih, apa hubungannya diam dengan munculnya tanda?" gumam Shan merasa konyol mengikuti instruksi absurd Maira.


"Aaaiii. Ah--"


Ceklak. Maira membuka pintu bathroom. Wajahnya sudah bersimbah air mata.

__ADS_1


"Say--"


Maira memperlihatkan hasilnya, dia menangis diambang pintu sebelum melesak masuk dalam pelukan. "Ziiieeeeee."


Suasana haru menyelimuti kamar Maira pagi itu, Shan mendekap erat tubuh yang semakin berisi. Putri sulung Mahendra menggenggam hasil dari alat test pack yang dua hari lalu enggan dia coba.


Tangisan bahagianya, terdengar hingga keluar kamar membuat Naya mengetuk pintu bilik mereka.


Tok. Tok.


"Masuk saja," jawab Shan dari dalam. Dia sibuk menenangkan sang istri yang tersedu akibat terlampau bahagia.


"Maira? kenapa Shan," tanya Naya cemas, putrinya menangis namun erat memeluk sang menantu di depan pintu bathroom.


"H-happy, Bun. Kita h-happy, alhamdulilah."


"Ada apa, Baby? loh Shan, Maira kenapa?" giliran Mahendra bertanya hal yang sama.


"I-ini Bun." Shan menyodorkan alat test kehamilan istrinya.


Wanita cantik paruh baya menerima uluran alat dari tangan Shan. Sorot mata amber khas Naya berbinar, seketika mengembun.


"Abang, ini. Kita mau punya cucu," bisik Naya parau.


"Alhamdulillah. Ayah kira kamu kenapa," Mahendra tak kalah haru saat menerima benda itu.


Naya menghampiri putrinya, ikut membelai kepala Maira lembut. "Dijaga ya, Kak. Ikuti semua anjuran dokter dan ucapan Shan. Sampaikan semua keluhan pada suamimu juga banyak berdoa untuk jabang bayi. Bunda, ikut h-happy, bu-ah ke-sabaran kalian," ucapnya trenyuh dan terharu.


"Shan sing banyak sabar ya, Nak. Maira sendiri saja sudah manja pasti bumil suka ada aja tingkahnya," pesan Naya kali ini untuk sang menantu.


Putra sulung Ezra menyeka bulir bening yang sempat hinggap di ujung netra elangnya. Jemari kekar nan halus itu tetap membelai kepala Maira nan masih setia menempel didadanya.


"In sya Allah, Yah, Bun. Doakan kami selalu. Untuk rencana pindahan, gimana Ahya saja. Aku ikut dia, ini mau ke rumah sakit dulu sekalian bawa Jasper. Kucing Ai juga sedang masuk musim kawin," jelas Shan lagi.


"Telat berapa lama, Shan?" tanya Naya sebelum keduanya pergi.


"Kalau dari note aku perkiraan empat minggu, berarti hampir dua bulan kalau gak salah," jelasnya lagi.


"Tiga, Zie." Suara Maira, disela isakan.


Naya menggelengkan kepala atas kelakuan putrinya. Bahkan Mahendra harus membujuk Maira agar mau melepaskan diri dari pelukan Shan sehingga mereka dapat segera pergi ke rumah sakit.


...***...


Solo.


Kediaman Tusakti.


Pemilik universitas Tusakti, menerima panggilan via telepon dari mantan rekan bisnisnya dulu. Wisesa langsung menjelaskan duduk perkara sebenarnya pada beliau dan perlahan menyampaikan maksud ingin meminta waktu bertemu.


Glenn sudah menangkap gelagat sang Kusuma yang berniat akan meminta putrinya untuk menjadi bagian dari keluarga besar Arya Tumenggung.


Petang ini Kusuma akan menyambangi kediamannya. Fiora sudah diganti agar tidak keluar rumah hari itu demi menghormati tamu yang akan tiba meski Glenn tak menyampaikan maksud kedatangan mereka nan sesungguhnya.


Beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Alphard hitam mulai memasuki pelataran kediaman Tusakti. Kedatangan Kusuma disambut oleh Aldo. Asisten tuan besar itu menyilakan keduanya menunggu di ruang tamu.


Tak lama kemudian, Glenn menghampiri mereka dan berbincang disana.


"Panggilkan Fio, Do," ujarnya lagi pada sang asisten.


Beberapa menit berlalu, seraya menunggu Fiora. Glenn menyampaikan sesuatu.


"Aku tahu, kalian sudah mengatur ini bukan? sengaja menjebak putriku agar satu keyakinan dengan Kusuma hingga berujung seperti ini," sinis nya lagi.


"Kami membawa ini, pesan dari Nyai untuk Anda. Aku tidak membacanya, surat itu diselipkan oleh beliau dalam map milik Fio," terang Abah menegaskan kembali.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Kusuma terpaku melihat penampilan gadis yang baru tiba dan duduk dihadapan mereka.


"Pa, sebelum memutuskan mengikuti jejak Mama, aku sudah mempelajari berbagai macam ajaran agama lain ... pilihanku jatuh pada keyakinan yang sama dengan Ibuku. Ini sudah kita bahas bukan," cicit Fiora.


Glenn hanya diam tak menanggapi, setelah perjumpaan haru mereka, keduanya telah membahas ini meski ujungnya Glenn masih tetap enggan menerima keputusan Fiora.


Aiswa menatap penampilan Fiora dari atas sampai bawah. "Kita bertemu di rumah sakit bukan?"


Fiora menunduk. "Umma, maaf."


Ibunda Fayyadh memandang lekat gadis yang duduk dihadapannya, mengangguk penuh baru.


Abah menanyakan apakah map yang dibawa oleh mereka adalah benar milik nona muda Tusakti.


Fiora mengangguk. "Benar. Milikku, yang urung disampaikan."


Setelah Abah meminta izin pada Glenn untuk bicara pada Fiora, Aiswa mulai mengutarakan maksud.


"Fiora Akshaya atau Arwa Feiyaz Akshita, Umma datang dengan Abah sebagai wali yang mewakilkan Mas, bermaksud mengkhitbah Ananda. Umma memutus proses ta'aruf sebab menilik proposal kalian berdua. Sebagai tanda keseriusan niatan Mas, jika khitbah diterima maka kami mengikat Fio atau Arwa dengan ini," tutur Aiswa lembut seraya menyerahkan satu kotak perhiasan untuk Fiora.


Glenn terkejut. Beginikah tata cara pendekatan dalam agama mereka? setelah melihat calon mempelai, langsung mengajukan permohonan keseriusan. Ayah kandung Fiora menatap lekat sang putri dari samping.


Fio menunduk. Dia menimbang, "Berapa lama waktuku?"


"Dua hari, Nak." Aiswa membalas cepat dengan senyuman menawan.


Putri sulung Glenn membola. "Cepat sekali."


"Istikharahnya sudah terjawab. Jikalau pun Ananda menolak, hadiah ini untuk Fio ya," pungkas Aiswa.


Tak menunggu lama, Abah dan Aiswa pamit undur diri dari kediaman klan Tusakti, meninggalkan tanda mata diatas meja.


Setelah kepergian Kusuma, Glenn membisikkan sesuatu. "Terimalah lamaran Fayyadh, tapi Papa tidak akan hadir pada hari pernikahanmu nanti," ujarnya sambil lalu.


Dhuuaaaarrr.


"Paaaaaaaa...."


.


.

__ADS_1


..._________________________...


__ADS_2