ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 37. TERTUDUH


__ADS_3

Bayangan kejadian tadi masih menggelayut di pelupuk mata. Hati Fayyadh tercubit kala melihat Fiora memegangi pipi setelah bunyi keras benturan telapak tangan dengan kulit wajah Fio. Plak, suara itu nyaring terdengar.


Hingga mobil box putih memasuki pelataran parkir Kebon, Fayyadh masih diam tak beranjak dari sana.


"Den Mas, monggo. Sudah sampai, masih mau ngecek bunga dan siapkan pesanan Nona Fio tadi kan?" tanya driver, saat melihat Fayyadh masih diam di dalam mobil.


Raden Mas Althafaris Fayyadh sadar dari lamunan. "Oh iya, Kang. Maaf nge-lag," jawab Fayyadh seraya menarik tuas di pintu mobil.


Langkah panjang pangeran Kusuma secepat kilat meninggalkan driver yang masih berdiri di parkiran.


Pria tampan itu lalu masuk kedalam kantor, bangunan modern berlantai dua yang berada tepat di tengah fasad depan Kebon sebelum undakan tangga turun.


"Assalamu'alaikum, Abah. Pak Kusno, ini tambahan order untuk malam nanti. Juga dua hari mendatang. Enaknya kita bikin sistem repeat order by web aja jadi aku gak harus minta sign. Nanti ku buatkan deh draftnya," ujar Fayyadh menyerahkan list faktur yang dia bawa.


Kedua pria di bantu oleh admin mulai merinci pesanan Floffy Craft siang itu.


"Ini serius?" tanya Abah terheran, baru kali ini partner bisnisnya dapat menjual hampir ribuan bunga hanya dalam waktu dua hari.


"Iya. Kata Fio lagi ada pesanan untuk dekorasi wedding, buket juga engagement dia lusa nanti. Dia dosen apa sih, Bah? kampus mana?" selidik Fayyadh seraya duduk di sofa center of room.


"Tusakti, kampus satelit di Solo baru buka beberapa bulan lalu. Fiora itu jenius Mas, dia sudah S2 loh hanya nunggu wisuda kata ayahnya itu. Relasinya banyak, lulusan Universitas of Amsterdam Belanda fakultas FIKOM," terang sang Abah.


"Kek kampus kenamaan di Jakarta, ThreeSakti. Jangan-jangan kakak adek dah tuh," tebak Fayyadh seraya tersenyum simpul.


"Masih kerabat katanya, beda Buyut. Sama kayak Buyut Danarhadi dan Wardhani gitu. Nah Fio yang bertanggung jawab terhadap cabang kampus keluarganya di sini," ungkap Abah.


"Lah serius? kirain becandaan. Hmm, keren sih masih muda. Disini fakultas apa donk Bah?" Fayyadh penasaran. Sosoknya yang urakan namun menyimpan banyak keistimewaan di dalamnya.


"Komunikasi dan administrasi. Termasuk sosial-politik, FiSip. Mulai kepo niye tapi dia udah mau tunangan ya Mas," goda sang Kakek melihat Fayyadh seakan antusias ingin mengetahui latar belakang Fiora.


"Sayang gak menutup aurat dan se-iman ... Maira juga ambil Fisip di Stan-ford ya. Orang pinter gitu tuh, misteri. Tapi kalau dipikir, Shan cocok dengan Mahya ya Bah. Sama-sama aktif," keluh Fayyadh lirih.


"Hmmm, Shan ambil double jurusan sekaligus dalam satu waktu, makanya dia punya dua gelar. Sama kayak Fio, kata Mas Panji sedang nunggu wisuda S2 ... Kamu itu di siapkan Allah buat wanita sholihah yang lain, sekiranya ilmu mu itu manfaat buat masyarakat banyak, gitu loh Den Mas Fayyadh. Jadi ayo move on," tegur Abah, mengingatkan lagi sang cucu kesayangan.


"Ngomong sih gampang, tapi nyatanya Abi gak pernah bisa move on dari Umma kan? Abah aja masih menyimpan kenangan Jiddah Artha dalam hati, uyut pun gitu. Jadi jangan paksa aku buat lupa. Seiring waktu, semoga Allah mengganti kenangan itu dengan hal indah lainnya ... tapi Maira, akan tetap membekas. Coba tanya hati Abah. Abi aja mengakui, kenangan dengan sosok Ibu Aruni itu melekat. Hanya bergeser ke tempat private di relung hati," tutur Fayyadh panjang lebar bagai menerangkan bab waris dan mahram. Dia mulai jengah dengan kata move on.


"Iya iya, maaf Mas. Jangan bertindak di luar jalur tapi ya, janji. Sebab kamu tahu persis hukum melakukan sesuatu secara berlebihan," tegas sang Kakek.


Fayyadh mengangguk, tersenyum tipis menanggapi pesan kakeknya. Setelah obrolan ringan membahas sosok Fiora, Fayyadh mencoba browsing ke situs laman milik Floffy Craft.


"Amazing. Sebegini cantik tampilan websitenya. Jadi inget web Quenny, sama rapi dan apik berkat garapan Ayah Mahen dan Bunda Naya. Hanya tata letak saja berbeda, dan terkoneksi langsung dengan tautan media sosial lain yang Floffy miliki. Briliant ni ide team marketingnya," kagum Fayyadh, dia lirih bermonolog.

__ADS_1


"Tampilan web school milik aku dan Abi harusnya sudah mulai bebenah juga sebab laman kepunyaan Kebon Artha juga cantik begini," Fayyadh menyusuri satu persatu setiap laman website milik keluarga besarnya.


Putra sulung Amir lalu merenung. "Bah, website Abah, Kebon Artha, Queenny dan Quennaya itu kan garapan Ayah Mahen. Kenapa punya Abi enggak di percantik juga?" tanya Fayyadh.


"Abi kamu gak mau waktu Ayah Mahen menawarkan diri. Sebab waktu itu kan beliau lagi sibuk banget ngurusin panen Kebun sayur untuk eksport. Coba tanya aja, sekarang garapan web dan maintenance di pegang oleh Mifyaz ... Mas, bunga yang siap kirim hari ini hanya segitu, coba cek dulu. Paling besok pagi-pagi sisanya sekalian untuk lusa," ujar Abah saat pekerja Kebon meminta agar beliau mensortir ulang.


Abah dan cucunya keluar kantor menuju drop points di sisi kanan bangunan. "Hubungi Fio, Mas."


Fayyadh enggan jika hanya bicara di chat berdua, maka dia membuat grup bisnis dengan memasukkan kontak Abah dan satu admin ke dalamnya.


"Bah, cek grup Supplier Floffy Craft ya," ujar Fayyadh seraya mengetik pesan disana.


Supplier Floffy Craft


"Siang Nona Fio. Aku Fayyadh, kita diskusi di sini ya untuk semua pembicaraan bisnis termasuk konfirmasi order, komplain dan lainnya. Mengenai resi pembayaran, faktur atau hal penunjang transaksi mohon kirimkan berkas ke nomer admin saja ya. Terima kasih." Fayyadh menulis pesan panjang, serta mentag nomer admin Kebon ArthaFlo.


"Siang. Ok. Pesananku yang untuk malam ini sudah siap?" tanya Fiora.


"Sebagian siap malam ini, sisanya esok pagi after breakfast."


"Gak bisa kirim semua?... aku izin masukkan admin ku dua orang disini ya," ujar gadis cantik itu.


"Ok, silakan. Bunganya belum maksimal mekar, Nona. Jangan dipaksa petik karena bisa layu sebelum berkembang." Tulis Fayyadh lagi.


"Baik. Terima kasih." Balas Fiora kemudian.


Supplier Floffy Craft, end.


Dua jam kemudian, mobil box putih itu kembali mengantarkan bunga menuju venue Floffy.


Toko sudah sedikit lengang kala Fayyadh tiba di sana. Benar kata driver tadi, pasangan sejoli itu kini nampak mesra membuat Fayyadh memalingkan wajah saat kendaraan yang dia tumpangi memasuki pelataran parkir.


"Mesra kok di tempat umum. Mana keliatan dari luar pula," batinnya.


Pemuda tampan itu tak ingin berlama di sana. Namun agaknya kehadiran Fayyadh sedikit mengusik kekasih Fiora.


"Jadi kamu orangnya?" tuduh pria itu tiba-tiba pada Fayyadh, saat pria tampan Kusuma baru masuk ke ruang purchase.


"Maksudnya?" tanya Fayyadh bingung.


"Nomer pria yang Fio save, itu kamu?"

__ADS_1


Fayyadh mengerti. "Seharusnya Nona Fio sudah menjelaskan siapa aku, semua tertuang dalam surat perjanjian kerja, Tuan Muda," jawab Fayyadh lugas.


"Tapi gak saling save kontak juga kali, kamu pasti suka chat dengan tunangan ku kan?" tukasnya lagi.


"Nona Fio tolong jelaskan," Fayyadh meminta Fiora bicara.


"Dia hanya pengawas dari supplier, Baby. Kan udah aku jelasin tadi," ucap Fiora menenangkan Richard Nixon, kekasihnya.


"Tampangnya bukan kek pekerja. Mana ada koordinator pake branded begini? looknya macam anak borju," kilah Richard diambang emosi.


Fayyadh tak mengindahkan sindiran, cibiran kekasih Fiora. Dia tetap melanjutkan pekerjaan meski dalam hati kecil mengeluh. "Tahan Fayyadh, hanya hari ini begini. Besok sudah tinggal kirim saja tanpa kamu ikut serta," ucapnya dalam hati.


Ketidakpedulian Fayyadh rupanya memancing kembali amarah Richard. Dia melampiaskan kekesalan pada Fiora. Pertengkaran itu terdengar sangat jelas. Makian, hinaan meluncur ringan dari mulut Tuan Muda.


Telinga lelaki keturunan Kusuma yang tidak pernah mendengar kata-kata kasar, dan sangat menjaga lisan pun terusik. Namun lagi-lagi driver menahan Fayyadh untuk ikut campur.


Prang. Suara benda jatuh dan pecah.


Kedua pria yang tengah di dalam chiller keluar, khawatir akan keadaan Fiora.


Beberapa pekerja hendak melerai pasangan itu namun ancaman Richard menahan langkah mereka untuk bertindak lebih jauh.


"Kau membelanya? apa karena dia lebih tampan dari aku? terlihat alim? come on Fio, sejak kapan kamu berubah haluan?" Richard menarik paksa rambut Fiora hingga kepala gadis itu mendongak. Bibirnya tertarik ke atas, membentuk seringai kesakitan.


"Dia muslim. Lepas, sakit!" teriak Fiora.


"Ingat janji kamu itu. Buat aku percaya, serahkan padaku atau kita batalkan pertunangan ini," ancam Richard seraya melepas dan menghempaskan cekalan tangannya dari rambut Fio.


Tubuh mungil itu terhuyung membentur ambalan. Sempat membuat pilar rak tempat tas crochet nya bergoyang akibat benturan namun ditahan oleh para pekerja sehingga tak sampai rubuh.


Richard keluar dari toko, tak melepaskan pandang pada Fayyadh yang masih berdiri melihatnya pergi.


"Fu-ckkk." Richard mengumpat.


Inginnya menghampiri Fio karena simpati namun dia urungkan. Status bukan siapa-siapa, maka jangan ikut campur, Fayyadh teringat pesan sang Kakek.


"Nona, sudah selesai. Aku pamit, selanjutnya kita connected by grup. Terima kasih," ucap Fayyadh kemudian, berlalu tanpa melihat ekspresi wajah Fiora yang menahan malu, kisah pribadinya sedikit demi sedikit diketahui lelaki itu.


.


.

__ADS_1


..._______________________...


...Silent readers, boleh donk bagi Rate daripada jempol nganggur kan, 😂. ...


__ADS_2