ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 54. TOUCH YOUR HEART


__ADS_3

"Jantungku."


"Ku kira sangat antipati terhadap wanita sepertiku tapi nyatanya tidak, bahkan keluarga Kusuma gak menjudge apa yang ku kenakan. Justru merekalah yang menjaga pandangan, termasuk suami Umma, dan Tuan Wisesa pun berlaku sama padahal mereka sudah sepuh. Apa agama kalian mengajarkan itu atau hanya per individu saja? bukankah banyak pria kerap menatap lapar pada wanita dengan looks seksi?" gumam Fiora, saat mulai menata tas crochet pesanan Aiswa.


Putri sulung Tusakti diam-diam mengamati karyawan berhijab. Hatinya bertanya apakah tidak merasa panas sebab di tenda stand tiada AC. Dia saja sudah berpeluh sejak mengganti baju tadi yang baru saja dia beli dari stand sebelah, demi agar ketika mampir ke stand Aiswa ia tak lagi merasa canggung.


"Mbak, panas gak?" tanya Fiora.


Karyawati itu menoleh. "Enggak Non. Kenapa?"


"Itu kan pakai, apa namanya itu kerudung ya? tertutup rapat juga bajunya, panjang pula. Bener gak panas?" desak Fiora lagi.


Gadis yang sedang packing dan duduk di karpet itu tersenyum. "Enggak, mungkin karena terbiasa dan sudah nyaman. Gerah sih ada Non, cuma kayak ya udahlah dinikmati toh hilang sendiri nanti," jawabnya lagi.


"Gak mau dibuka? kalau gerah?" Fio nampak sangat penasaran.


"Alhamdulillah enggak, jangan sampai. Karena susah payah jaga aurat, masa cuma sekedar gerah aja ngorbanin ini. Paling nanti kipas-kipas dikit," ucap gadis itu, sambil cengengesan.


"Gitu ya? wajib ya menutup aurat itu? apa enak pake baju serba panjang?" Kakak Ferdian kembali bertanya.


"Aku gak bisa jelasin detail tentang itu Nona takut salah. Tapi bagi wanita muslim diwajibkan untuk menutup aurat karena perintah Allah. Dulu aku sih asal pake, ikutan temen juga tuntutan sekolah Aliyah. Tapi, lama-lama jadi kebiasaan dan justru kalau gak berhijab serasa ada yang kurang. Nah ini entah apa namanya, hidayah atau istiqomah kurang paham, Non." Gadis muda mengulas senyum lalu melanjutkan pekerjaannya.


Hatinya bergemuruh, rasa tak sabar menunggu Fayyadh datang kembali ke stand Floffy. Namun harapan kian sirna ketika pemuda itu tak menampakkan batang hidung lagi. Pun, kala dia mengantarkan tas ke stand Queeny, tak dijumpai pria yang dicari sebab hanya ada pegawai disana.


"Ah, dia mana mau dekat dengan wanita, kan Kusuma itu terkenal sebab kesantunan baik secara tradisi maupun religionnya," keluh Fiora melanjutkan pekerjaan.


Sementara di tempat lainnya.


Fayyadh lupa untuk kembali ke stand Floffy Craft sebab di Mushola venue, dia bertemu Amir. Ba'da ashar Ayah dan anak itu lalu menuju tenda sejenak sebab Aiswa baru saja menerima order dari sesama partisipan event yang memboyong banyak gamis brand mereka. Setelah itu, kedua lelaki Kusuma pulang ke rumah untuk mengambil stock produk lagi.


Kesibukan di Stand Queeny menata ulang display dengan tas crochet Fio, akhirnya rampung tepat saat MC membuka acara ba'da maghrib. Hari pertama Fayyadh menjaga stand, menjadi bulan-bulanan para pejabat daerah terkhusus ibu-ibu agar dia menjadi model saat mereka memilah koko, kaftan, jubah dan sejenisnya.


Wajah tampan itu perlahan di tekuk. Dia memilih berdiri di bagian belakang ambalan, takut bilamana tangan jahil menyentuhnya.


Satu jam setelah pembukaan tadi, stand Queeny kini nampak longgar. Bahkan tas Fiora pun ludes sehingga Aiswa langsung mengarahkan para customer langsung ke Floffy Craft.


"Alhamdulillah. Fio kebagian laris," ucap Aiswa saat duduk menjulurkan kaki diatas karpet, disamping suaminya.


Melihat istrinya kelelahan, Amir menarik kaki Aiswa untuk dia pijat. "Mas, kamu tuh lucu ngumpet disitu tadi. Mereka gak bakal pegang lah," tegur Amir saat melihat wajah bete Fayyadh.


"Takut, Bii. Kan emak-emak suka bar-bar, endingnya eh maaf ya ganteng," tiru Fayyadh dengan nada menye-menye.

__ADS_1


Aiswa tertawa melihat kekonyolan putra sulung. Meski tak ia pungkiri hatinya pun was-was takut Fayyadh marah jika ada pelanggan yang menyentuh tubuh sang putra.


"Kan bisa bilang, maaf ya Bu jangan sentuh, masih segel," ujar Amir ikut terkekeh.


"Kenapa bukan Abi aja?" cebiknya kesal.


"Yee, Abi kan bantuin packing juga hitung pembayaran tadi. Mas kan nganggur, lagian Abi cuma punya Umma," kilah Aiswa.


"Kan, Umma juga gak mau kalau Abi dipegang-pegang. Curang emang, nasib jomblo gini nih," keluh Fayyadh seraya melepas baju koko terakhir yang dia kenakan.


Jika di tenda lainnya masih sibuk dengan para pengunjung, berbeda dengan Floffy dan Queeny. Mereka telah senggang. Keakraban keluarga Fayyadh tertangkap oleh netra Fiora yang menghampiri stand mereka.


"Selamat Malam, semuanya," suara Fiora.


"E-eh Fio. Allah, aku lupa, maaf," sahut Fayyadh kala melihat Fiora berdiri di sisi manequin.


"Iya gak apa, Mas." Pemilik Floffy Craft melihat Fayyadh sekilas.


"Sini masuk Fio, Umma lagi di pijitin Abi, cape berdiri tadi," ajak Aiswa melambaikan tangan padanya.


Gadis ayu itu masuk, melepas alas kaki. Menghormati mereka.


"Umma, Om, terima kasih banyak sudah di bantu penjualan hari ini. Aku h-app-y," ucap Fiora terbata.


Wanita dengan outfit kaus lengan panjang juga pant longgar itu tersenyum. "Ini buat Umma, free." Dia mendorong satu clutch berwarna ungu tua, untuk Aiswa.


"Eh gak boleh begini, Umma niat beli kok tadi." Aiswa menarik kakinya lalu duduk bersila berhadapan dengan Fiora.


"Gak apa, diterima ya Umma. Sebagai rasa terimakasih bahwa kalian mau berteman dengan aku, di luar hubungan bisnis," ujar Fiora mencoba mengutarakan gundah.


Aiswa paham. Dia melirik Amir, sedangkan suami tampannya itu mengisyaratkan dengan lirikan pada Fayyadh. Namun, putra sulung mereka tak peka, dia asik bermain game. "Kita barter aja gimana? Fio pilih design Umma deh, custom juga. Boleh outfit apa saja," tawar Aiswa.


Fiora menimbang. "Kalau itu aja boleh gak Umma?" cicitnya malu, menunjuk pashmina, scarf yang Queeny miliki.


"Boleh. Yuk pilih, nanti Umma share beberapa style," Aiswa bangkit, mengajak Fio ke display depan.


Kedua wanita asik berbincang ketika memilih beberapa scarf. Aiswa juga menjelaskan makna di setiap design.


"Ini aja," pilih Fiora. Dia mencoba melipat kain itu, mencoba untuk menutupi rambutnya.


Aiswa terpana. "Sini, Umma bantu. Memang tahu ini dipakai untuk apa?"

__ADS_1


Fiora mengangguk. "Tahu dong Umma. Bisa sebagai hijab, buat syal juga, apalagi motifnya cantik," sahutnya lagi.


"Ocean, deep blue sea. Varian terlaris dari Queeny. Mengartikan bagai laut, menjadi sumber penghidupan bagi banyak mahluk Allah disana. Tidak pernah berkurang meski ikan diambil setiap hari. Tiada pernah dapat bercampur walau kedua jenis air bertemu bahkan sungai yang mengalir di dasarnya. Bagai wanita, memiliki banyak potensi, kuat dan selalu dapat keluar dari berbagai masalah menghimpit. Gelap karena kompleks untuk dipahami, damai, adem sebab dia sumber ilmu dan kasih sayang," tutur Aiswa panjang.


Fiora tanpa sadar menitikkan air mata. "Mama."


"Iya, Ibu adalah tonggak peradaban. Makanya Allah sangat memuliakan wanita, menjaga marwahnya," sambung Aiswa.


"Dengan cara apa Umma?"


"Di dalam agama kami, di awali dengan cara menutup aurat ... nah selesai, cantik tanpa kesedihan," imbuh Aiswa menghapus air mata Fiora.


Putri sulung Tusakti mematut dirinya di depan cermin. Dia teringat ibunda tersayang. Air matanya kian deras. Aiswa bingung bahkan Amir berdiri mendengar isakan halus disana.


Aiswa menyentuh baju Fio, seketika gadis itu memeluknya. "Kenapa, Sayang? tanya Aiswa seraya telapak tangannya melambai, meminta para pria berpura tak tahu dan duduk kembali.


"Kangen Mama. Maaf Umma, maaf." Fio menyeka airmatanya. Mengurai pelukan sesaat tadi.


"Temui," saran Aiswa, membelai kepalanya sayang.


"Beliau berpulang beberapa bulan lalu. Tuhan gak adil padaku, DIA juga tiada pernah mengabulkan semua permohonanku."


"Do'akan beliau saja jika begitu," bisik Aiswa lagi, menggenggam erat jemarinya.


"Tidak akan sampai, karena Tuhan kami berbeda," ucap Fio, melepas cekalan tangan Aiswa lalu berlari entah kemana.


"Mas ... Mas, kejar. Awasi dari kejauhan saja. Umma khawatir," Aiswa memanggil Fayyadh untuk melihat kemana Fio pergi.


"Biar saja Umma. Dia butuh waktu sendiri," elak Fayyadh, dia tengah berbaring dengan gawai ditangan.


"Mas!"


"Astaghfirullah, Umma. Beik," Fayyadh bangkit, mengikuti permintaan ibunya untuk melihat kemana Fiora pergi.


"Kalau dia aman, kamu balik sini. Kita langsung pulang," ujar Amir kemudian.


"Heemm. Kan, nyusahin aku lagi."


.


.

__ADS_1


..._____________________...


...Salam kenal buat KAMU yang suka tekan tombol MINTA UPDATE tapi belum terdeteksi sistem untuk support karya mommy, boleh ketuk jempolnya sekalian buat klik tombol like yaa (ikon jempol dibawah bab, tahu kan 🤭) . Jangan anu ya, karena mommy gak pelit buat nulis per-bab lebih dari 1300-1500 kata. Syukron and lope sekebon buat kesayangan yang jempolnya ikhlas, aktif dan menghargai karya mommy ❤....


__ADS_2