ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 83. BEGINNING


__ADS_3

Saat yang sama antara Jeddah, Switzerland dan Solo.


Jeddah.


"Siapa namamu? mengapa selalu ada dalam mimpiku, entah sekedar bersitatap sejenak atau aku melihat matamu menyipit sebab kau tersenyum di balik tabir," gumam Fayyadh setelah dia berada di perpustakaan kampus.


"Suaranya ... ketika mengatakan semangat berjuang, sangat khas mirip seseorang," lirih lelaki tampan bermonolog. "Tapi siapa? terdengar akrab namun sulit diingat."


Puk. Puk. Tepukan di bahu Fayyadh mengaburkan lamunan.


"Ya akhi, kok ngelamun disini. Baca apa? grafolog? kamu mau menyelami dunia literasi atau bagaimana? putar haluan nih?" tegur Allen Kemal, sahabat karibnya.


"Eh Al, ini buku dikasih kenalan tapi gue jadi kesian sama dia," ungkap Fayyadh.


"Why?"


"Gue barusan dapat call dari Abah, kata beliau sakit ni gadis kian parah dan gak mau berobat. Gegara ditolak permohonan ta'aruf nya," ujar lelaki Kusuma lagi.


"Sian amat. Coba gue lihat buku dia, keren banget udah bisa hasilkan karya. Pasti bukan cewek sembarangan ini," Allen meraih buku tebal yang Fayyadh sodorkan padanya.


"Hm, dia punya lisensi konsultasi juga staff HRD diperusahaan asing," jelas Fayyadh.


"Amazing." Sejenak Allen membuka halaman satu persatu, nampak menikmati sehingga mereka berdua larut dalam bacaan masing-masing.


"Abah dah dapat kabar Fio belum ya?"


...***...


Switzerland.


Sejak kedatangan mereka di negara bersalju dua hari lalu, keduanya belum mengeksplor tempat tujuan yang disiapkan Oma Shan sebab Maira sakit.


"Kamu kecapean banget ini. Jetlag parah jadinya, Ai." Shan memeriksa tekanan darah sang istri.


"Istirahat sehari lagi sebelum kita jalan-jalan nanti. Minum suplemen yang aku beli barusan satu jam mendatang," ujarnya.


Maira hanya diam, tersenyum melihat apa yang suaminya lakukan sedari tadi. "Zie, memang bawa itu kemana-mana ya?" tanya Maira melihat Shan menyimpan kembali stetoskop dan alat tensi otomatis, ke dalam tas khusus miliknya.


"Iya, udah jadi habbit sejak suka dadakan di panggil Oma waktu baru pindah ke sini. Aneh memang, dokter hewan kok disuruh periksain manusia. Mau gak mau deh, kalau sekedar cek doank sih, bisa lah," kekeh Shan, merasa lucu melakukan sesuatu yang bukan bidangnya.


"Ke Dubai kan bisa sembilan jam, keburu anfal duluan," balas Maira terheran.


"Oma cuma ngetes, kangen aku tapi gengsi bilangnya," ujar Shan seraya merapikan semua peralatannya.


"Tapi gak makan tempat ya, ringkes gitu jadi bisa dibawa kemana-mana. Kenapa memilih dokter hewan, Zie?" pertanyaan yang telah lama ingin dia sampaikan.

__ADS_1


"Karena suka kucing. Peliharaan pertama kami mati saat melahirkan. Bunda nangis selama seminggu sebab merasa bersalah tidak dapat membantu Snow kala itu. Waktu di Dubai, aku juga melihat kuda kesayangan Oma mati dengan kondisi yang sama. Beliau mengamuk sebab dokter datang terlambat."


"Bergelut dengan binatang peliharaan terkadang dapat mengurangi stres. Aku mengambil dua gelar dalam waktu bersamaan membuat otakku seakan ingin meledak, Ai. Itu yang mendasari aku, gak mau ada lagi wanita yang menangis sebab kehilangan sahabat terdekat ... Satu gelar untuk hadiah ke Ayah dan satu lagi, karena aku suka tadi, risiko sih. Alhamdulillah gak mengurangi kadar ketampanan karena mikir mulu," seloroh Shan mengundang tawa keduanya.


"Bener, kadang binatang peliharaan justru sahabat setia dalam segala hal tanpa menghakimi ... keren banget, suamiku genius ... ugh, Kepalaku sakit, Zie," keluh Maira tiba-tiba.


Shan menghampiri sang istri, menyondongkan tubuh bertumpu pada tangan kiri disamping Maira, lalu memijat pelipis pelan menggunakan jemari kanannya.


"Kau ingat sesuatu, Sayang?"


Maira diam. Kelopak matanya memejam rapat. "Zie, sakit."


"Mata akan lupa siapa yang ia lihat. Akan tetapi hati tidak akan lupa siapa yang ia cinta. Jagalah cinta kami ya Robb, teguhkan hati untuk sentiasa bersyukur terhadap apapun ketentuan-Mu. Diri ini akan terus bersabar hingga kesabaran itu menyerah padaku," lirih Maira masih memejam.


Degh.


"Ai, Sayang. Kau ingat itu? kau mendengarnya?" bisik Shan, mengusap peluh di dahi Maira.


"Aku bukanlah nabi Adam yang ... sanggup menahan kerinduan."


" ... yang sanggup menahan kerinduan," Shan mengikuti kalimat Maira.


Netra amber itu perlahan terbuka, dengan sorot mata mengembun. "Itu kamu kan, Zie. Semua kalimat indah itu darimu?" Maira berkaca-kaca.


"Iya Sayang. Tapi semua kalimat tadi saat kamu koma, Ai," tutur Shan, mengusap semua bulir bening dari wajah ayu Maira.


"Aku dengar, hanya saja tidak dapat merespon. Zie, tentang Sumayyah. Aku boleh tahu kisah kalian?"


Shan naik keatas tempat tidur, menelusupkan lengan kirinya ke bawah tengkuk Maira, lalu mendekap hangat tubuh wanita ayu.


"Dia teman wanita satu-satunya yang dekat denganku saat aku pindah kesini dan lanjut S2. Punya hobi yang sama juga kawan satu komunitas charity, dulu. Sekarang enggak lagi ... Sumayyah pernah menaruh suka, tapi aku tidak. Perlahan menghindar dan memberi penjelasan namun dia bersikukuh hingga akhirnya aku abaikan. Sayang, aku gak ada hubungan dengan siapapun sebelum menikah karena Bunda bilang jangan pernah menyakiti dan mempermainkan hati perempuan," jujur Shan, mengecup dahi Maira .


Hening.


"Sayang."


"Aku paham. Makasih Zie," putri Mahendra bergelung dalam pelukan Shan, dia merasa nyaman hingga mengundang kantuk datang.


"Masih sakit kepalanya?"


Wanita dalam pelukan menggeleng halus. "Enggak. Hmm ... ini gak sakit, Zie? ditahan mulu?" Maira merasakan sesuatu tonjolan di pahanya, yang menempel ketat dengan kaki Shan.


"Sakit sih enggak cuma suka pusing. Tapi kan kamu begini, aku gak tega. Sabar aja deh meski puasa hampir tiga bulan," gelaknya seraya mencium pipi Maira gemas.


"Maaf."

__ADS_1


"Eh, kenapa jadi serius. Enggak, Sayang. Aku becanda, in sya Allah sabar nunggu kamu sampai siap menerima aku," Shan meraih wajah ayu yang menunduk tertutup anak surai. "Lihat aku, Ai."


Maira menengadah. "Maaf."


"Gak usah maaf, aku ridho untukmu. Tidur ya, biar lekas pulih dan bisa pakai baju dari Bunda," bisik Shan mesra, mencium cuping telinga Maira.


"Hmm, nanti malam ya, Zie."


"Anytime, Sayang. Aku sabar untukmu, hanya untukmu. Kalau sama kamu, bawaannya pengen nempel dan ngantuk mulu ya, Ai ... nyaman banget aku, suka langsung pules, padahal selama ini terkadang insomnia," Shan ikut memejam setelah menghujani dengan kecupan.


"Sayang kamu, Mahya Humaira."


"Aku pun, Sayang Kakak, My Zie, My own Shan, like a Sun."


...***...


Solo, Indonesia.


Glenn menyambangi kost-an Kenanga yang ditunjukkan oleh Wisesa. Langkahnya terhenti kala melihat putrinya berjalan dengan pemuka agama setempat.


"Selamat siang."


"Papa."


"Ku kira kamu belok, tapi sepertinya sudah kembali sadar dimana tempatmu seharusnya," ujar Glenn kala melihat keduanya.


"Kenalin, Romo. Papaku," sambung Fio pada para pria, sejenak terjadi percakapan hangat hingga suara Glenn memutus obrolan singkat mereka.


"Pulang, Fio."


"Baik." Pemilik Floffy Craft meminta izin untuk berkemas setelah dia memberi salam pada pemuka agama.


Fiora lalu pamit pada pemilik kost, namun dia berjanji akan kembali kesini setelah urusan dengan ayahnya selesai. Fiora telah membayar kost-an mewah yang dia tempati selama dua bulan kedepan tanpa sepengetahuan Glenn.


Pasangan ayah dan anak itu lalu memutuskan pulang ke kediaman Tusakti.


"Perjalananku akan dimulai. Mas, kuatkan dan doakan aku ya. Sampai jumpa lagi."


.


.


..._______________________...


...Kejap, mau pindahan ini. Kejaapp yeuh. ...

__ADS_1


__ADS_2