
"Innalillahi. FIORA!"
Fayyadh terkejut atas apa yang sekilas netranya tangkap. Pemuda tampan itu lalu memalingkan wajah, dan bergegas ke depN kamar untuk meminta staff wanita masuk.
"Mana Richard?" tanya Fayyadh pada staff hotel yang terlihat bingung. Si pria melakukan kontak by walkie talkie yang dia pegang sementara staff wanita menunggu dengan wajah cemas atas insiden ini.
"Kabur, Tuan. Ada apa ini?" tanya sang wanita.
"Nona, tolong ke dalam. Bantu gadis itu berpakaian kembali. Aku menunggu disini untuk menghubungi keluarga. Please panggilkan dokter untuk memeriksa kondisinya dan temani Fio hingga aku kembali kemari," pinta Fayyadh pada staff wanita.
Petugas frontline itu mengangguk, memenuhi permintaan tamu suite yang urung masuk ke dalam roomnya. Dia lalu melangkah ke kamar yang terbuka, dimana insiden terjadi.
"Pak, bisa minta amankan cctv? di lorong ini untukku? aku meminta record sebagai bukti," pinta Fayyadh pada staff pria saat dia telah selesai bicara dengan security.
"Boleh Tuan. Ada hubungan kekerabatan dengan korban? apakah akan diajukan ke pihak berwajib tentang ini?" tanya staff lagi.
"Dia ... apa aku harus menjawabnya pada Anda secara detail? karena ini privasi aku. Dilaporkan atau tidak, urusan belakangan. Yang penting Fio selamat juga ada barang bukti records CCTV tadi, please." Fayyadh juga meyakinkan pihak hotel bahwasanya dia tidak berniat apapun, semua keterangan itu bisa ditanyakan pada saat keluarga Fio tiba nanti.
Setelah beberapa menit, usaha nego yang awalnya alot berhasil Fayyadh luluhkan. Sembari menunggu Fio sadar, lelaki Kusuma melangkah menuju ruangan kontrol di lantai dasar hotel mewah itu bersama staff pria.
Hampir dua puluh menit, akhirnya records berhasil Fayyadh dapatkan. Saatnya memberi kabar pada Abah agar diteruskan ke Tuan Glenn.
Tuut. Tuut. Panggilan tersambung.
"Ya Mas. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Bah, aku sedang di Hotel. Gak sengaja mergokin Fio dibawa oleh kekasihnya dalam keadaan teler dan mau di-- duh apa ya bahasanya gitu ... records CCTV sudah aman, tolong Abah hubungi Tuan Glenn bisa gak? jemput Fio di lokasi agar aku bisa kembali," ujar Fayyadh beruntun tanpa jeda.
"Innalillahi. Yang betul Mas? Ok Abah kabari Tuan Glenn segera. Tunggu di sana ya," balas Wisesa.
"Iya. Fio didalam kamar sedang di temani staff hotel wanita dan aku telah memanggil dokter guna memeriksa keadaannya," imbuh Fayyadh seraya menaiki lift ke lantai kamar bermula.
Tak lupa, pemuda itu mengirimkan capture nomer kamar Hotel saat telah tiba disana. Dia pun memindahkan file CCTV yang didapat ke Goo-gle Dri-ve serta back-up data. Hatinya tak tenang, maka Fayyadh mengirimkan juga rekaman itu ke ponsel Abahnya.
"Save ya Bah. Nitip file." Pesan terkirim tepat saat telah tiba di kamar semula.
Setelah itu Fayyadh menutup pintu kamar yang Fiora tempati. Dia memilih menunggu diluar ruangan bersama satu staff pria tadi.
Tiga puluh menit berselang.
Tuan Glenn datang tergesa dengan salah seorang asisten juga lawyer. Saat melihat Fayyadh, lelaki paruh baya itu menarik lengannya menepi. Mengucapkan terima kasih juga meminta agar bersedia menjadi saksi bilamana akan mengajukan gugatan.
Cicit Kusuma tidak dapat memberikan jawaban, Fayyadh hanya mengatakan sebaiknya beliau melihat kondisi Fio lebih dahulu di dalam sana.
__ADS_1
Satu jam kemudian.
Fiora belum sadar sepenuhnya ketika tubuh putih mulus itu di evakuasi dengan menggunakan bantuan kursi roda karena Tuan Glenn mendatangkan ambulance di pelataran lobby hotel. Dia berencana membawa Fiora untuk di visum.
"Nak Fayyadh melihat apa tadi saat pertama kali?" tanya Glenn kala keduanya mengikuti langkah petugas medis yang mendorong kursi roda Fiora menuju lantai dasar.
"Aku sekilas, hanya dua detik lalu meminta staff hotel masuk. Recordsnya akan aku kirimkan by email pada Anda, Tuan," ungkap Fayyadh tak enak hati apabila Glenn berprasangka bahwa dirinya menikmati tubuh molek putrinya saat terlentang dengan minim busana.
"Terima kasih banyak. Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya. Kami duluan," ujar Glenn Tusakti.
Lelaki tampan Kusuma lalu menuju frontline untuk mengembalikan akses card kamar milik Fiora. Setelah itu dia meninggalkan Hotel tempat kejadian tragedi siang itu.
Honda Freed putih melaju keluar Hotel.
Hati putra sulung Amir masih tidak merasa jauh lebih baik. Justru kini otaknya berkutat dengan keadaan Fiora dibanding Maira. Merasa tak memiliki hal apapun untuk bertanya perihal kondisi kedua gadis, Fayyadh memilih memutari kota Solo tanpa arah tujuan jelas hingga tanpa sadar waktu ashar hampir habis.
Kuda besi beroda empat itu dia arahkan memasuki sebuah masjid lumayan asri masih di pusat kota Solo. Dia lalu memutar stir, memarkirkan mobilnya mundur ke belakangan mengikuti tanda di paving agar posisi freed putih itu rapi sejajar. Tak lama kemudian, si pemilik kaki panjang turun dan bergegas menuju tempat wudhu.
Baru beberapa langkah menjauh.
Brakk. Fayyadh menoleh ke sumber suara.
"Mobilku!" serunya panik, mobil Abah di tabrak dari belakang.
"Maaf. Aku belum begitu lancar jadi masih kikuk," ujarnya kala membuka kaca mobil.
"Turun dulu, Nona. Diselesaikan dengan pemilik mobil yang Anda tabrak. Silakan," balas juru parkir pada si pengemudi.
Gadis belia itu lalu turun, menundukkan wajah ketika melewati Fayyadh. Dirinya takut ditatap sedemikian intens oleh pemilik manik mata sipit dan tajam.
"Untung pakai ini, jadi ekspresiku gak kentara," batinnya.
"Nona. Tunggu di teras saja, aku hendak sholat Ashar dulu. Jangan kabur!" hardik Fayyadh, seakan memiliki pelampiasan atas kekesalan yang tak dapat dia keluarkan sejak tadi.
"Aku gak akan kabur, Pak. Tanggung jawab, sebab Arundati bukanlah berisi orang-orang pengecut," jawabnya tegas.
"A-Arundati. Si-silakan Nona tunggu di kantor saja," ujar juru parkir mendadak ramah.
"Arundati, siapa itu? kenapa kang parkir mendadak hormat setelah mendengar nama Arundati?" batin Fayyadh.
"Ya kudu lah, malu sama itu," Fayyadh menunjuk niqab yang dikenakan gadis itu seraya berlalu melanjutkan niatannya untuk sholat ashar di ujung waktu.
Pemuda itu lama merenung setelah salam dia tuntaskan. Dzikir singkat lalu bergegas menuju kantor administrasi DKM dimana gadis itu menunggu, untuk segera menyelesaikan perkara ini.
__ADS_1
Kesepakatan pun dicapai oleh keduanya setelah bertemu juga berdiskusi, mobil Abahnya akan di derek menuju bengkel untuk di perbaiki hingga mulus seperti semula dan Fayyadh akan diantar pulang oleh driver online yang dipesankan oleh sang gadis.
"Ini name card aku. Jika Anda membutuhkan mobil pengganti, akan aku kirimkan ke kediaman sembari menunggu Freed diperbaiki," tawarnya seraya menyerahkan kartu nama.
"Afra Arundati, Certified Grafology ... gak usah, syukron, aku pulang pakai ojek online saja," gumam Fayyadh membaca tulisan disana serta menolak tawaran sang gadis yang bernama Afra.
Fayyadh lalu memasukkan name card tadi ke dalam dompetnya dan memutuskan untuk stay di masjid dan berniat akan kembali pulang ba'da isya nanti.
Masih sepuluh menit jelang adzan. Merasa lambungnya sedikit perih dia lalu pamit keluar ruangan administrasi DKM menuju kantin di ujung pusat jajanan kawasan itu. Fayyadh memesan teh manis hangat juga roti bakar dengan selain strawberry lalu duduk di salah satu meja.
Saat tengah menunggu pesanan tiba. Seseorang menghampiri.
"Pak, Afwan. Aku lupa minta nomer ponsel Anda. Boleh?" suara gadis tadi.
"Fayyadh saja. Apa wajahku sudah kebapakan?" sindirnya tak suka.
"Ya kan laki-laki dipanggil Bapak. Masa Jeng atau ses? mau emang?" balasnya enteng.
"Ponselku mati, gak hafal nomer pribadi. Nanti bakal hubungi kamu, kan tadi udah ada name card," sahut Fayyadh berbohong sebab mulai keberatan diusik.
"Ya sudah jika begitu. Syukron. Kamu butuh pelepasan energi negatif, atau bahkan perlu merombak gaya tulisan tangan agar lebih friendly yang bakal berguna buat masa depanmu," tutur sang gadis seraya melenggang pergi meninggalkan Fayyadh.
Merasa kepribadiannya di usik, lelaki dengan wajah tampan itu menoleh ke sosok yang perlahan menjauh.
"Grafology, apa begitu ya kerjaan dia. Ah bilang aja biar aku konsultasi ke klinik kamu," lirih Fayyadh bertepatan saat pesanannya datang, aroma makanan yang menggugah selera tak membuat seporsi roti itu bertahan lama diatas pinggan. Dalam sekejap semua telah berpindah ke lambung hangatnya.
Ba'da Isya.
Baru saja dia mendapatkan ojek online untuk mengantar pulang, ponselnya berdering.
"Mas, lekas pulang. Ada yang nyari kamu ini," ujar Abah.
Terdengar suara bising di belakang Abah, seorang pria tengah beteriak lantang memanggil namanya.
"Siapa Bah?"
"Pulang Mas. Nanti dijelaskan dirumah. Hati-hati," pesan sang Kakek.
Hati cicit Kusuma mulai resah. "Apalagi ini?" batinnya saat ojek yang ia tumpangi sudah meninggalkan pelataran masjid.
.
.
__ADS_1
..._________________________...