
Menjelang Subuh.
Seperti malam yang lalu, Shan terjaga tepat pukul setengah empat pagi. "Alhamdulillah," ucapnya kala netra membuka, melanjutkan dengan doa bangun tidur.
Ingin langsung beranjak namun dia merasa tengah diperhatikan oleh seseorang entah dari sudut pandang mana. Berusaha mengabaikan, akhirnya Shan memaksa tubuhnya bangun perlahan.
"Astaghfirullah," Dia terhenyak kaget melihat Maira telah memakai mukena duduk di atas ranjangnya, menatap lekat ke arah Shan.
"Eh maaf Sayang. Aku kira bukan kamu," ujar Shan tak enak hati, seraya mengusap dadanya pelan.
"A-ku dibangunkan siapa? kamu masih tidur sejak tadi, suara itu mirip denganmu," cicit Maira.
Shan tak mengerti apa yang Maira maksudkan namun sedikit harapannya kembali terkumpul.
"Apakah ini petunjukMu ya Robb, perlahan kau akan mengembalikan ingatannya yang terberai?"
"Sholat fajar dulu ya Sayang. Setelah aku mandi nanti muroja'ah bersama. Masih ingat kan juz 28?" tanya Shan.
"Hm, in sya Allah. Juz 28, iya." lirih Maira membalas pertanyaan suaminya.
Saat menunggu Shan selesai mandi. Dia melayangkan pandang ke bagian kiri tempat tidurnya.
Semenjak beberapa orang terdekat mengatakan padanya bahwa dia telah sadar. Maira mendapati gorden jendela dan pintu balkon kamar tidak pernah menutup. Selalu terbuka sedikit celah hingga hembusan angin kerap menerbangkan kain vitrase putih dengan gradasi jingga dibagian bawahnya.
"Allah, apakah aku pernah meminta untuk dihilangkan sebagian memory? aku hanya ingat Fayyadh, hingga ingin rasanya menanyakan tentang kabar sepupu tampan ku itu. Mengapa justru dia yang muncul menjadi suamiku?"
"Jurnal, apakah benar dia yang selalu ku sebut dalam doa bahkan jawaban setelah memohon petunjuk padamu? namun mengapa Engkau menghilangkan kepingan ingatan tentangnya?"
"El, siapa lagi itu? apakah hidupku banyak di kelilingi pria? apa yang sudah ku lakukan semenjak kembali ke sini? jika selama aku terbaring sudah tiga bulan terlewati. Artinya, masa wisudaku akan dilakukan pada awal tahun depan. Bagaimana mengingat semua ini."
"Mengapa hanya dia yang ku lupakan? Aku bagai menusuk dari belakang ya Allah sebab rasa hati sangat ingin bertemu Fayyadh, sementara dia bukan mahramku. Dosa, aku telah berdosa."
Semburat jingga mulai bergeser perlahan berganti seberkas cahaya keemasan muncul di ujung angkasa. Tiada gumpalan asap seputih kapas yang menggantung di udara menghias langit pagi. Bersih, gelap bagai hati seorang gadis yang tengah di uji.
Maira terisak. Hatinya sesak, kepalanya mulai kembali berdenyut.
"Ai, Sayang. Kenapa? mana yang sakit?"
Maira mendongak dengan wajah bersimbah air mata.
"Ini. Sakit," ujarnya menunjuk dada.
"Karena aku?" tanya Shan lirih, entah mengapa dia merasa keadaan ini akan membebani kondisi psikis Maira.
Wanita dengan wajah ayu itu tak menjawab, hanya isakan yang keluar dari mulutnya kian kentara.
__ADS_1
"Maaf ya, maaf untuk kesalahan yang tidak aku mengerti, pahami juga perbuat." Shan membelai kepala istrinya lembut, hatinya pilu.
"Apakah Engkau ingin aku belajar bagaimana mengendalikan nafsu ataukah Engkau menghendaki hamba-Mu ini menyadari rasa yang sesungguhnya halal untukku?"
Mahya Humaira tak mengindahkan ucapan Shan. Kepalanya hanya menggeleng samar. Ingin mengatakan bahwa yang dia rasa kini bukanlah salah pria nan terlihat amat sayang padanya. Namun bibir itu kelu, hanya isakan disertai sesak tiba-tiba datang.
"Sholat dulu yuk, biar tenang lagi. Nanti setelah ini kita bicara, Ok?" tawar Shan, masih mengusap kepala Maira.
Mendengar suara lembut sang suami, Maira berusaha mengakhiri sesi pilunya. Dia menyeka jejak lelehan air mata di wajah lalu bersiap menunaikan dua rokaat sunnah sebelum subuh.
Setelah salam dan doa singkat.
Sesuai janji Shan, lelaki itu duduk menghadap Maira, masih di atas sajadah. Menatap wajah sembab yang si-alnya makin menambah kesan ayu meski rasa tak tega, wanita pujaan kembali berlinang.
"Katakan apa yang membuatmu sakit, Ai. Apa kau tak menginginkan pernikahan kita ini?" tanya Shan.
Degh. Maira membola, merasa tertohok dengan kalimat Shan.
Wanita ayu keturunan ningrat itu intens menatap manik mata teduh milik Shan.
"Kenapa?" Shan justru tersenyum dipandang sedemikian rupa oleh wanita yang ia cinta.
"Bener begitu? jika iya, gak usah ragu bilang sama aku, Sayang. Jujur lebih baik bukan? agar tidak saling menyakiti," lirih Shan.
"Entah," gumam Maira, menundukkan kepala.
"Selama kau tak mengatakan ingin lepas dariku, aku tidak akan membebaskanmu, Ahya Sayang. Sudah berkali bilang bukan, jika akan terus berjuang. Namun apabila suatu saat aku merasa perjuangan ini tiada jua bertuah baik. Saat itulah, kamu boleh pergi dari sisiku," tegas Shan, lembut namun menohok hingga ke hati. Terselip duka di setiap kalimat, tersingkap lara yang enggan Shan akui namun kentara menoreh perih.
Maira kian terisak. Shan bangkit lalu meraih tubuh ringkih yang duduk diatas ranjang itu dalam pelukan.
"Sabar ya Sayang. Ikhlas menerima dan belajar peka terhadap sekitar namun jangan pernah mengingkari kalbu. Kita sama-sama berjuang, dengan tujuan sama namun lara yang berbeda," bisik Shan seraya mencium pucuk kepala Maira.
Sebutir bulir bening muncul di ujung kedua netra manik mata hitam legam sekelam malam. Shan pun tak menampik sayatan yang hadir di hatinya pagi ini.
"Aku gak tahu, aku gak tahu," isak Maira, memeluk Shan tanpa ia sadari.
Pasangan itu larut dalam suasana syahdu dikala mentari mulai menyingsing. Alunan adzan subuh tak pernah semerdu ini hingga merasuk kalbu dan menggerogoti jiwa yang nyatanya selalu haus akan Rahmat Tuhan penguasa semesta.
Beberapa saat, Shan masih teguh memeluk tubuh wanitanya hingga iqamah pun mulai terdengar.
"Sholat dulu ya. Lalu stretching ringan terutama area kaki sembari murajaah."
Maira mengangguki ucapan suaminya, perlahan menyadari sikap yang baru saja dia perbuat. Istri Shan, tersipu.
"Baru sadar? mulai berani peluk-peluk?" goda Shan melihat wanitanya hanya menunduk tak berani mengangkat wajah.
__ADS_1
Pagi hari saat keduanya mulai belajar saling menerima kehadiran sosok yang masih terasa asing namun terikat dalam pernikahan, mereka menjalani waktu perlahan hingga tiba saat bersiap menuju rumah sakit.
Berkat bantuan Mahendra, karena Maira masih enggan di gendong oleh Shan, wanita muda itu telah duduk manis di mobil CR-V yang Shan kendarai, perlahan meninggalkan basement Orchid untuk check-up.
Dalam perjalanan, hanya hening menemani waktu kebersamaan pasangan muda ini didalam mobil. Karena merasa teramat sunyi, membuat Maira kikuk, jemari lentik itu menekan tuts tombol audio.
Siaran pagi yang dibawakan oleh seorang penyiar, mengudara lewat saluran frekuensi yang dipilih Maira. Tak lama mengalun sebuah nada lagu, seakan menggambarkan isi hati Shan kala itu.
🎶
/Dengarkanlah aku, cerita hatiku. Cerita tentangmu.
/Aku mau ikhlas, ikhlas menyayangimu.
/Tutuplah matamu, cukup aku dan Tuhan yang tahu.
/Aku tlah berjanji menyayangimu, lahir dan batinku.
/Aku tlah berjanji, mendampingimu, lahir dan batinku.
/Andai engkau tahu, ku siap mati untukmu. Jiwa dan ragaku.
Maira melirik ke samping kanan. Seketika dia terpesona, suaminya terlihat sangat tampan kala sedang berkonsentrasi menyetir.
Sekilas dia juga melihat Shan mengikuti alunan lagu yang dinyanyikan oleh wali, kalimat menyentuh nan indah.
Shan menoleh ke arah kirinya, membuat wajah berkulit kuning langsat itu membias, merona. "Kayak aku, bakalan begitu sama kamu, Sayang," ucap Shan tepat saat mobil berhenti di lampu merah perempatan jalan.
C-up. Satu kecupan mendarat sempurna di pipi Maira.
"Mumpung masih halal buat aku," kekeh Shan kemudian.
"Ish, kesempatan." Maira menghadiahi lengan Shan dengan cubitan.
Terdengar keluhan Shan menyatakan sakit akibat perbuatan sang istri. Namun sesaat kemudian, tangan itu diraih Shan. Dia menautkan jemari ke sela jari Maira lalu menggenggam erat, dan membawa ke bibirnya untuk di kecup.
.
.
...____________________...
...Sampai sini, dah paham belum, ujian masing-masing, ketiganya? 😁...
...Yang pasti, Mommy gak pernah buang tokoh, pasti ada gunanya nanti di part selanjutnya....
__ADS_1