
Setelah resepsi megah sehari penuh, pasangan Qavi bersiap istirahat. Maira sudah berbaring di ranjang saat Fayyadh mengetuk kamar.
"Ai, pake hijab dulu ya. Kalau mau tidur boleh duluan," ujar Shan saat akan membuka pintu.
"Jangan di ajak masuk lah Zie, diluar aja. Aku ngantuk," keluh Maira tak mengindahkan ucapan Shan.
Saat Shan membuka pintu, nampak olehnya kini, penampilan kusut Fayyadh namun tetap tampan meski dalam balutan kaos oblong dan sarung yang dia ikat asal.
"Kenapa Mas, kusut amat? mau sharing? masuk atau di kamar Mas aja, Ai udah tidur," ujar Shan mengajak sepupu iparnya.
"Gak usah, cuma mau ngasih ini. Shan, tolong cari Fio dan wanita satu lagi ya, please. Ini detail ciri nya," ungkap lelaki galau ini menjulurkan sebuah foto.
"Ini tasbih dan gelang? ... tasbih sih Oke sebab terlihat custom, tapi gelang ginian kan banyak, Mas," jelas Shan.
"Beda, ada bandul terompahnya," jelas Fayyadh kemudian.
"Kecil amat," kekeh Shan. "Jadi fix nih, dia?"
"Entah. Gue cuma pengen tahu kabar dia aja. Kalau bilang kangen ya itu tadi, hanya kepo," jujur Fayyadh.
"Wanita satunya, lah kenapa cuma mata? eh cakep amat ya?" jeli Shan ketika mengamati sketsa mata seseorang. "Gambar sendiri nih?"
"Iya, dia selalu muncul dalam mimpi aku. Entah siapa dan kemana aku kudu nyari dia itu," tutur Fayyadh lesu.
"Hmmm, sembunyikan aja dulu sampai setan gak bisa mengetahui cinta kamu itu, Mas. Saking kalian menjaga izzah," saran Shan lagi.
"He em. In sya Allah. Tapi Shan, cinta dalam diam itu pasti nyeri ya," gerutunya.
"Pasti lah. Tapi kita jadi terjaga dari nafsu, kek yang betul-betul pasrah tapi tetep usaha buat mantesin diri hingga tiba waktunya ditemukan kembali, ya kalau takdir. Sebab takdir itu kan Allah masih memberikan pilihan jalan...."
"Maksudnya?" Fayyadh bingung atas kalimat Shan.
"Qadha itu rencana, Qadar adalah perwujudan, kenyataan. Iman pada Qadha dan Qadhar berarti percaya sepenuh hati kan, pada ketetapan Allah tapi bukan berarti tanpa ikhtiar," jelas Shan.
"Hmm, lanjutin dulu dah, gue limbung ini," pinta Fayyadh lagi.
__ADS_1
"Sependek pengetahuanku, takdir terbagi dua, Mubram dan Mu'allaq. Yang mubram, Mas pasti tahu lah ya?" ujar Shan.
"He em. Mutlak, jodoh mati rezeki usia. Mu'allaq masih bisa dirubah dengan ikhtiar, kerja keras dan doa. Gitu bukan sih?" Fayyadh menyimpulkan.
Shan tersenyum. "Nggih, leres." (benar)
"Eh Shan Shan ... kalau jodoh sudah tertulis di lauh mahfudz kenapa ada turun banyak petunjuk ayat dan hadis bahwa kita dapat menentukan takdir sendiri, an-nur, an nahl juga anjuran Rosulullah tentang pilihlah jodoh yang baik," Fayyadh mencoba sharing opinion.
"Ke kamar Mas yuk, biar enak ngobrolnya," ajak Shan namun ditolak Fayyadh.
"Gak usah, duduk sini aja dah. Kasihan Maira kalau laki nya dibawa pergi," ujarnya menarik baju Shan agar menjauh dari pintu dan duduk di lorong koridor kamar mereka.
"Allah," kekeh Shan mengikuti sepupu ipar duduk disana. "Lanjut nih?"
"Lanjut lah," balas Fayyadh lagi.
"Jadi jodoh memang termasuk dalam takdir mubram, kata Allah A ya akan A cuma jikalau si hamba ini banyak melakukan kebaikan, merubah dirinya menjadi semakin baik, ikhtiar poll langit dan bumi, berdoa tulus ikhlas maka kadar takdirnya sedikit berubah. Bukan mutlak total ganti," terang Shan lagi.
"Meskipun tidak dapat menghilangkan bala, tetapi Allah mendatangkan kelembutan-NYA untuk mereka yang berdoa, fahim lah pasti" Shan menegaskan sekali lagi.
"In sya Allah fahim. Contohnya?"
"Apa tuh?"
"Sumayyah, dia dulu adalah gadis yang aku pilih. Namun saat uncle Rey mengajukan Fathia, diri ini berubah karena melihat kedudukan keluarga Buya Abyan yang ke-religius-annya tinggi. Aku getol menghafal lagi bahkan merambah hadist. Seiring waktu, entah mengapa kala melihat Ahya, justru diri kian terpacu agar dapat mengenalnya ... gadis dengan segala hobi ekstrem juga dicintai oleh para Dzuriyah, membuat aku ingin dekat, apapun itu ku lakukan meski cara halus diam-diam ... apa kesimpulannya, Mas?" tanya Shan.
"Kamu dapat semuanya. Bener gak? hobi yang sama, sholihah sebab Maira juga hafidzah meski baru lima juz kurasa dan dekat dengan keturunan Rosulullah, berkat usaha gigih kamu. Tabarokallah Shan," jawab Fayyadh.
"Alhamdulillah, allahumma sholli ala sayyidina Muhammad. Jangan bilang-bilang ya, Fathia gak tahu kalau aku nadzor dia secara sembunyi," kekeh Shan.
"Robbi sholli alaih ... bisa runyam," kekeh Fayyadh. "Berarti langkah aku betul ya Shan? tetap ikhtiar hingga Allah mau mengarahkan lagi jodohku."
"Usaha gigih ikhtiar langit bumi. Jodoh Mas sudah ada kok. Meski ada yang disegerakan, diberikan tepat pada waktu dan tempat, atau masih tersimpan ... karena sesungguhnya Allah tidak mengubah sesuatu kalau bukan kita nan berusaha pada diri sendiri. Husnuzon, ucapkan yang baik-baik Mas," pungkas Shan.
"Maa sya Allah, tenang gue. Emang ya, Lo tuh paling enak di ajak ngobrol, adem. Pantes Maira tetap stay gak mau pisah. Syukron ya Akhi atas pencerahannya, aku tunggu info baru," ujar Fayyadh bangkit dari duduk lesehan.
__ADS_1
"Afwan, Mas."
"Fayyadh aja." Putra Amir keberatan Shan memanggilnya dengan sebutan Mas.
"Gak bisa. Ai panggil antum kakak, bahkan semua Kusuma demikian. Secara kedudukan, memang seharusnya aku memanggil akhi, dengan sebutan Mas," balas Shan, berusaha menjaga unggah ungguh yang dia pahami.
"Hmm, lanange jagat emang ya," ujar Fayyadh menepuk lengan Shan, berlalu meninggalkannya. (pria idaman)
"Mas juga, sejagat buana," kekeh Shan seraya masuk ke dalam kamarnya. (se alam semesta)
Shan berwudhu lalu tak lama bergabung dengan Maira. Namun dia mendengar isakan halus dari balik selimut.
"Loh, Ai. Kenapa? kok nangis?"
"Zie, jangan nikah lagi ya."
"Innalillahi, Sayang. Sini lihat aku," Shan menarik bahu Maira agar tubuh dalam balutan lingerie itu berbalik menghadapnya.
"Zie," Maira masih terisak.
"Ahya, menikah itu isinya komunikasi, se-ks hanya sepuluh persen. Kamu itu amanah, janji langsung sama Allah. Semua yang ku lakukan akan dihisab nanti, aku paham ilmunya, ngerti banget tapi belum ada kemampuan. Kenapa? nih contohnya, kamu masih nangis untuk hal yang belum bisa ku buktikan secara kuat," Shan mengecup dahi Maira.
"Istriku sholihah, alhamdulillah. Ada atau tiada anak, kamu tetap satu di sisiku Ai. Aku takut Sayang, ketika meninggal nanti bagaimana jika istriku di hisab sebab aku belum mampu membimbing kalian dengan baik? ... enggak Ai, aku gak mampu, perkara dunia saja sangat pedih apalagi urusan akhirat," suara Shan parau.
"Zie, maaf."
"Jangan lagi hiraukan perkataan orang yang bertanya kapan hamil, ya Ai. Masih panjang, banyak hal yang harus kita syukuri selain itu. Baru mau tujuh bulan belum puluhan tahun macam Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. Sabar ya Sayang," Shan menenangkan Maira.
"Yang paling penting nanti, saat di hisab, aku gak ingin kita justru bagai musuh, Ai. Ingatkan aku jika sudah banyak keluar jalur ya Sayang, doakan agar suamimu ini mampu lahir bathin memenuhi semua kewajiban tanpa ada kekecewaan meski sebesar zarrah di hati istri dan anakku nanti." Netranya mengembun, sejumput bening muncul dipelupuk mata.
"Zie maaf ... ampun ya Allah sudah bikin suamiku risau," cicit Maira, menghapus bulir kecil di ujung mata Shan.
"Kita nikmati hidup ya Sayang, selagi masih bersama, jangan risaukan hal lain selama aku di sisimu, Oke? mending ikhtiar bikin baby," bisiknya lagi menghapus cemas.
.
__ADS_1
.
..._______________________...