ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 101. KEPEKAAN DUA WANITA


__ADS_3

"Apa?" tanya Fayyadh.


"Bentar Mas. Ai sedang mandi," ujar Shan.


Fayyadh menyampaikan pada Shan bahwa sahabatnya menceritakan detail tentang sosok Arwa. Sikon mereka saat ini juga lainnya, dia bertekad akan mengajukan proposal untuk mendapatkan kesempatan nadzor sehingga dapat lebih banyak mendengar suara gadis itu.


Saat Fayyadh sedang bicara, terdengar suara bisik-bisik dari ujung telepon.


"Woyy, lagi apa? gue dicuekin, Shan Shaaaann...." seru Fayyadh dibalik panggilan.


"Bantuin Ahya. Aku denger kok, Mas."


"Halo Kak, assalamu'alaikum ... aku langsung ya, dengerin dulu jangan dipotong. Menurut poto yang Zie pindai secara landscape saat Arwa menyusuri iringan. Kala dia menggerakkan tangannya ke atas nampak titik kecil ini bagai bandul terompah, mirip milik Fiora, foto yang kakak serahkan pada Zie, coba buka e-mail di laptop lalu zoom. Itu bukan? jika iya mirip, kakak harus pastikan sesuatu," ujar Maira.


"Wa'alaikumsalam," lirih Fayyadh.


Setelah itu. Hening.


Kosong.


"Gimana, kelihatan gak?"


"Gak yakin tapi, cuma mirip," ragu Fayyadh.


"Juga, saat Zie mencoba koordinasi dengan Shofie, dia pun melihat sekilas gelang yang sama. Jadi tugas Kakak, memastikan dua gadis. Jika bayang sepasang mata dalam mimpi sudah dapat dipastikan milik Arwa maka kita harus membuktikan gelang dengan bandul untuk mendapatkan identitas Fiora," terang Maira lagi.


"Apa Kakak ada kesimpulan?"


"Suara, Maira. Saat dia bicara, mirip Fio-ku. Cuma samar sebab hanya sekilas. Tapi petunjuk Allen bagai dua orang bertolak belakang. Gadis itu disiapkan Nyai untuk seseorang, Arwa sedang menerima dua pengajuan ta'aruf lagi. Gimana ini?"


"What? high quality jomblo. Ajukan proposal lewat Allen Kak," pesan Maira.


"Aku juga berkeinginan demikian, niat menitipkan pada Allen namun setelah memberikan jawaban pada Abi dan Umma atas pengajuan dua gadis," keluh Fayyadh.


"Yassaalaaaammmm ... laris amat ya, sampe antri," sahut Shan dari kejauhan.


"Ya sudah gitu aja dulu. Kakak kan dapat info lengkap dari Allen. Nah selidiki juga, sebab kita hampir membuka semua tabir, sisa satu doank. Isi kamar Arwa. Ajmi masih berusaha," pungkas Maira.


"Mas. Mas. Pesanku, fokus pada kondisi kedua gadis itu dulu. Kalian tahu gak sih, bagai sedang saling menunggu ... ngerasa gak?" ujar Shan.


"Maksudnya, Shan?"

__ADS_1


"Arwa seakan disiapkan untuk seseorang. Dan Mas, gak mau menerima gadis lain terlebih setelah melihat secara nyata sosok Arwa. Cobalah ajukan diri, siapa tahu memang Mas sosok yang dia nanti," imbuh Shan.


"Harus segera, gitu ya Shan?"


"Dicoba, sembari ikhtiar. Dia juga gadis dengan latar belakang baik bukan?" sambung Maira.


Sesungguhnya Shan telah mengantongi identitas Arwa, namun dia ingin Fayyadh lebih peka.


"Biarlah dia menemukan siapa sosok itu, ya Sayang."


"He em. Padahal udah jelas keliatan, tapi Kak Fayyadh masih kurang tegas. Harusnya dia kalau mengenali ya berani nyebut namanya kala itu ... kan gam-bling," tutur Maira lagi.


"Apalagi sekarang Umma ada di rumah sakit yang sama. Harusnya dia lebih mudah menemukan, kita bantu pelan-pelan biar kalbu dia nan mengenali," ucap Shan.


"Kakak tidak di treath macam kita, Zie. Dia juga banyak ragu nya, kalau di beri tahu langsung kayak dia hanya diam gitu, gak asik ah. Toh keduanya memang selalu ada di sekitar dan seakan menunggu satu sama lain. Bayangkan, banyaknya pria yang datang, gadis yang diajukan namun keduanya tak bergeming sebab apa? sudah ada sosok nan di cinta dalam hati, namun lamban menyadari," pungkas Maira panjang.


...***...


Fayyadh mempertimbangkan saran Maira, terlebih ucapan Shan yang meminta fokus pada kesehatan keduanya.


"Shan, syukron clue nya. Aku tahu, kalian sudah menemukan Fio-ku tapi ingin agar hati ini teguh lebih dulu bukan?"


...***...


Indonesia, Solo.


Rumah Sakit Kencana Biru.


Aiswa memperhatikan seksama semua perilaku pasien di sebelah bilik kamar sang putri.


Saat tirai itu tersibak, santri penjaga sejenak meninggalkan pasien disana seorang diri, Aiswa menghampiri.


"Sudah merasa lebih baik?" tanya Aiswa lembut, membelai kaki yang tertutup selimut juga selonjoran diatas ranjang.


"Alhamdulillah," jawabnya lirih.


Istri Amirzain menatap lekat ke dalam dua manik mata gadis didepannya. Perlahan dia mendekat lalu duduk disamping ranjang. Jemari lentik putih bersih itu menggenggam telapak tangan si gadis.


Ditatap intens oleh sosok bersahaja, gadis yang setia dengan niqabnya menunduk. Tak lagi berani menatap kedua bola mata teduh Aiswa.


"Umma kangen seseorang, rindu banget. Seumuran kamu kayaknya. Umma berharap, dia baik saja meski dalam kesendirian, sehat dan dikuatkan disemua keadaan walau tiada penopang," Aiswa membelai wajah yang tengah menunduk. Menggenggam pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Sehat selalu ya, Sayang."


Aiswa beringsut mendekat. Wanita Amirzain menangis, memeluk tubuh ringkih yang terkulai lemah disana. Dia membelai lembut kepala wanita yang nyata sama terisak tanpa suara.


"Umma pulang dulu. Semoga Allah berkenan mempertemukan kita lagi ya," bisik Aiswa mengecup dahi gadis yang dianggap asing bagi orang lain yang melihatnya.


Saat Aiswa mulai berkemas, Athirah yang sudah duduk di kursi roda menghampiri sosok dibalik niqab.


"Hai Kak. Aku Zeda, mau berterimakasih sama ini sudah selalu membawanya kemana-mana. Zeda akhirnya bisa ketemu Kakak, kuat ya," bisik putri Amir, seraya menunjuk sesuatu sebelum mencium telapak tangan sang gadis yang masih terisak.


"Aku irit bicara terlebih pada orang asing. Tapi seakan punya ikatan dengan Kakak. Syukron," ujar Athirah tersenyum manis.


Aiswa lalu mendorong kursi roda Athirah setelah Warni menjemput mereka di kamar, membawakan beberapa barang mereka.


Dia memandang hampa kedua wanita yang baru saja berlaku baik terhadapnya. Setelah pintu kamar perawatan itu tertutup, tangisnya pecah.


Bahu sempit dan terlihat kuyu itu bergetar hebat. Dia meraih bantal untuk menutupi wajahnya yang telah tertutup niqab. Agar isakan tegas itu tak terdengar.


Tiada yang dapat menolak pesona keramahan Aiswa namun bibirnya kelu, has-rat hati menahannya untuk bicara meski sekedar membalas pelukan hangat seorang ibu.


"Aarrggghhh, kuatkan hatiku ya Robb. Pantaskan aku," isakan pilu terdengar hingga tanpa sengaja membuat selang infusnya macet.


Sang santri penjaga yang baru saja masuk kembali setelah dari cafetaria terkejut mendapati khidmat amanah Nyai terkulai lemah dengan selang infus sebagian telah berwarna merah.


"Arwa!"


Dia bergegas meletakkan barang belanjaan sembarang diatas lantai lalu berlari menuju meja suster di depan cluster meminta bantuan agar segera memperbaiki selang infus milik sahabatnya.


...*...


Sepanjang perjalanan pulang menuju Joglo Ageng, Aiswa tak henti menelaah kejadian semalam di kamar perawatan mereka. Apa yang dia lihat hingga mengatakan kalimat kesedihan nan rindu pada sosok asing yang baru dikenalnya.


"Mas, harus tanya sama Mas," ujarnya ingin memastikan sesuatu.


.


.


..._____________________...


...😭 bab 100 naik setelah 19 jam, semoga yang ini lolos cepat....

__ADS_1


__ADS_2