
"Raline, benar kan?" tanya Dila memastikan saat mencapai ambang pintu.
"Iya, benar Bunda."
"Masuk dulu yuk, temani Bunda ngeteh Delima dan cobain Turkish delight," ajak Dilara seraya menarik tangan Raline.
"Hmm, cemilan ya itu Bun?" tanya nya ragu, saat melewati ruang tamu.
"Iya dessert. Macam manisan, bentuknya mirip dodol kalau disini, ada campuran cincangan kacang pistachio, juga aroma buah. Raline gak alergi kacang atau madu kan?" selidik Dila ketika telah mencapai ruang keluarga.
Gadis ayu itu menggeleng pelan. "Enggak Bun, aku pemakan segala," kekeh Raline sambil memutari sofa dan duduk disana.
Nyonya Qavi meminta maid menyiapkan teh delima Turki hangat untuknya dan dingin bagi Raline, tak lupa meminta dua toples Turkish delight juga baklava.
Syaharan masih setia menemani kedua wanita yang seakan asik bercengkrama melupakan dirinya dan paper bag oleh-oleh dari Raline.
"Ck, aku gak di tawarin, Bun?" iseng Aran mengusik obrolan seru dua wanita, yang membahas tentang kepulangan Maira dan Shan.
"Eh, kamu kok disini? gak jadi keluar ngopi?" ujar Dila mengingatkan putra bungsu akan niatan semula.
"Enggak jadi ah." Aran berpura membuka bag yang Raline bawa, mengeluarkan beberapa bungkus dari sana.
"Katanya Mbak tadi, mau menghilangkan penat. Ngopi santuy dibawah. Eyang juga sikembar disana loh Ran," goda Dila lagi.
"Ish, dibilangin enggak jadi, Bunda suka maksa dih," keluh Syaharan.
"Hei, ini apa namanya?" tanya Aran pada Raline saat mengangkat satu box teh kemasan.
"Gak sopan, namanya Raline. Putri uncle Rey teman kakakmu. Ibu Raline bekerja dengan Bunda Naya, mertua kak Shan. Bingung kan? panggil nama saja makanya, dan sana gih, ini urusan wanita," tegur Dila kembali mengingatkan Syaharan.
"Biar Bun, gak apa. Itu teh jahe, mix dengan sereh bisa meredakan mual. Juga racikan Ibu, teh rempah bisa di minum dengan susu. Ibu hamil biasanya moody jadi siapa tahu minuman ini cocok buat Mbak Maira," jelas Raline.
"Kamu, anak uncle Rey? yang mantan spy itu ya? jago nembak donk," cecar Aran, teringat sosok lelaki maskulin yang menjodohkan Shan dengan Maira.
Raline hanya tersenyum seraya mengangguk samar merespon ucapan Aran.
"Jangan mulai," ingat Dilara pada sang putra.
Putra kedua Dila memasang wajah datar atas teguran Bundanya. "Kalau kamu ahli nembak, coba tembak aku," kekeh Syaharan lagi.
"Kan, mulai. Pergi gak," usir Dila menghampiri Aran bersiap menjewer telinga putranya yang sedikit bandel.
"Tembak kamu, maksudnya?" Raline mencerna ucapan pria belia didepannya. Lalu dia menyuguhkan senyum sinis. Dasar genit, pikirnya.
__ADS_1
Sementara Dila mengusir Syaharan, maid datang membawa suguhan dan menyajikan ke atas meja.
"Silakan," ucapnya seraya mundur perlahan.
"Makasih Mbak ... ayo, Raline, di cicipi. Teh delima ini enak banget, kalau suka madu, boleh mix," ujar Dilara seraya kembali duduk ditempat semula setelah anak badungnya berhasil dia usir.
Bukannya keluar rumah melanjutkan niatan, Syaharan justru menemui Ezra lagi dikamar. Menanyakan detail tentang Raline juga masih kukuh dengan Athirah tentunya.
...***...
Satu bulan kemudian.
Akhir pekan nanti, resepsi pernikahan putra Gamaliel akan digelar di Jakarta. Kedua keluarga kembali disibukkan dengan acara besar Kusuma Wardhani juga Ar-rasyid.
Fayyadh telah berada di Bekasi sejak dua hari lalu, mendiami rumahnya, bersama keluarga besar Zaidi.
Bila Maira lebih santai menjalani kehamilan yang memasuki trimester kedua. Lain hal dengan Fiora. Fayyadh tengah tegang menanti hasil dari alat test kehamilan yang baru saja Fiora coba.
"Fei, sudah?" tanyanya didepan pintu kamar mandi.
"Sudah, Mas. Tapi kok cuma satu ya?" jawabnya saat membuka pintu bathroom.
Fayyad melihat pada benda panjang itu, memastikan apa yang Fiora katakan. "Coba lagi, Anda belum beruntung ini tulisannya Fei," kekeh Fayyadh, menarik Fiora dalam pelukan. Meredam kesedihan yang mungkin timbul pagi ini.
"He em." Fiora menduselkan kepalanya didada sang suami. Tak ingin melihat wajah kecewa Fayyadh pagi ini.
"Kita main ke Shan. Di Cibubur, lihat pusat pelatihan gratis untuk anak-anak yang ingin belajar panahan atau berkuda. Kerennya lagi, halaman rumah Maira itu langsung menghadap masjid juga area tadi," terang Fayyadh tak henti mengagumi otak brilian Shan.
Kompleks perumahan yang semula sangat sepi, dia ubah menjadi center poin wisata religi di Cibubur. Banyak organisasi yang Shan kelola disana, termasuk aksi sosial peduli hewan liar juga workshop bagi para breeder pemula.
"Bakat jadi mantu Ayah, idenya cemerlang. Projectnya dengan Syaharan sukses ternyata," ungkap Fayyadh seraya membantu Fiora berganti pakaian.
"Mas."
"Aku gak kecewa, banyak kesempatan coba lagi, Sayang."
Fiora menatap manik mata sang suami, dan mencoba tersenyum sebelum mereka meninggalkan kamar.
Satu jam perjalanan menuju rumah sang sepupu.
Fiora terlihat lemas, saat Honda City milik Fayyadh hampir tiba dikediaman Shan. Maira telah menyambut mereka di depan pelataran rumah, samping kanan kediaman futuristik itu terdapat masjid dengan arsitek unik namun tetap terkesan religius.
"Hai, apa kabar Fio eh Arwa," sapa Maira saat melihat wanita dengan niqab keluar dari mobil.
__ADS_1
"Fio saja Mbak," sambut Fio seraya memeluk sepupu iparnya.
"Shan mana?" tanya Fayyadh.
"Tuh, di halaman belakang Masjid. Lagi minta Elma gantiin latih anak-anak," sahut Maira seraya jari telunjuknya mengarah ke arah barat.
"Ziiieeeeee, Sayaaang, Babyyyy ... ada Mas," seru Maira dari teras sambil melambai dan kiss bye agar sang suami menoleh ke arahnya.
Fiora tertawa atas kelakuan Maira, kapten Laskar ternyata kocak. "Mbak, bisa-bisanya lagi hamil teriak, gak kram perut?" tanya Fio lagi.
"Enggak. Paling Zie nanti yang sibuk kalau aku ngeluh," kekeh Maira seraya menarik lengan Fio untuk masuk kedalam.
Beberapa menit kemudian.
"Pak dokter sibuk amat ya," sapa Fayyadh saat Shan menghampiri tamunya.
"Assalamu'alaikum, Mas. Maaf ini keringetan kena panas, masuk yuk ... ngisi waktu aja kalau gak ke klinik dan ngajar. Aku udah ngurangin jam ke kampus juga di klinik semenjak Ai hamil," terang Shan seraya masuk ke dalam hunian.
Baru saja keduanya duduk di ruang keluarga, menanti suguhan khas Turki juga kopi jahe buatan Baba Gamal, Fio mual dan nyaris muntah disana.
"Innalillahi, Fei," Fayyadh panik. Langsung menyongsong sang istri menuju wastafel.
Maira tak kalah gusar, namun Shan menahan agar dia tetap tenang.
"Hamil kayaknya ya, Zie?"
"Coba kamu tanya, Ai. Ajak test ya, juga cek tekanan darah Fio, bisa kan Sayang?" saran Shan, seraya mengusap perut buncit Maira.
"Ehm, bisa. Bentar aku balur juga." Maira meninggalkan Shan di ruang keluarga menuju bathroom kamar tamu.
"Kak, telat berapa lama? biar sama aku, cek tensi dulu." Maira menepuk dan memijat pelan tengkuk Fiora.
"Tadi pagi test, tapi negatif Mbak. Tiba-tiba pusing dan mual, emang sudah kerasa sejak dijalan saat menuju ke sini," bantah Fio atas prediksi Maira.
"Ikut kata Mahya dulu, Fei. Yuk ke kamar," ajak Fayyadh agar Fiora berbaring diatas ranjang.
Shan masuk kedalam kamar, mengecek apakah istrinya melakukan tugas dengan baik.
"Ini tensinya lemah, Mas. Nanti minum yang hangat dulu ya, biar lebih segar. Biarkan para wanita disini. Ai dan Mbak nanti bantuin Fio," ajak Shan pada Fayyadh agar memberi ruang.
Setelah kepergian para pria, Fio terisak. Maira mengerti, dia pun pernah merasakan hal yang sama. Bibirnya tak ingin banyak berucap, wanita pimpinan laskar itu hanya memeluk Fiora erat. Menyalurkan kekuatan baginya.
.
__ADS_1
.
..._____________________...