ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 113. AFTER HALAL


__ADS_3

"Fei, sign please," bisik Fayyadh saat keduanya duduk bersisian menerima map dari tangan Aiswa untuk Fiora tanda tangani berkas syarat akta nikah.


Setelah berkas selesai di sign. Aiswa menyerahkan kotak Mahar pada Fayyadh.


"Ini adalah hakmu, pergunakan untuk keperluanmu ... hadiah bil ghoib ku surat An-Nur juga Muhammad, mau dibacakan sekarang atau nanti?" tanya Fayyadh saat menyerahkan kotak mahar.


"Terima kasih ... terserah Mas saja," jawab Fiora lirih seraya menunduk malu.


"Disimpen buat berdua saja hadiahnya, biar syahdu sama-sama mendalami makna setiap ayat," saran Aiswa.


"Ehheemm, Mas niye. Berasa beda ya, dipanggil Mas sama istri," gelak Maira diiringi Athirah juga lainnya.


"Jelas beda lah, kek ada manisnya gitu, sseeerr mengalir sampai jauh," kekeh Fayyadh seraya bangkit.


"Ayo ke depan, setelah sungkeman, nanti ganti baju untuk syukuran di ballroom," ujar Aiswa berlalu lebih dulu keluar ruangan.


Fayyadh mengulurkan kedua telapak tangan agar Fio meraihnya, untuk memudahkan dia bangkit.


"Dingin Fei, kukira cuma aku yang nervous," bisik Fayyadh kala Fio telah berdiri, menggenggam tangannya.


"Kenapa Fei?"


"Biar kamu happy hidup sama aku, Feiyaz kan sukses atau bahagia. Jadi kesimpulannya si murah hati akan mengantarkan hingga sukses untuk bahagia," gumamnya seraya tersenyum manis, menarik jemari Fiora keluar ruangan, menyusul sang Bunda.


"Narsis ya Mas," balas Fiora lirih, matanya menyipit tanda dia tersenyum.


"Aku kangen liat senyum dibalik itu," sahut Fayyadh saat melirik dari ekor matanya.


Beberapa kerabat Glenn menyalami keduanya. Sungkeman nan haru dimulai terlebih saat Glenn mengutarakan kebahagiaannya.


"Mas, titip Fiora. Tuntun dan bimbinglah dia hingga menghadap Tuhan dalam derajat yang mulia. Jangan berlaku kasar terhadapnya karena Papa orang pertama yang memeluk, lebih dulu mencium dan mencintai Fiora, sebelum kamu hadir memilih, menjadikan ia makmummu."


"Apabila biduk bahtera dihantam badai dan membentur karang, berpegang pada tali Tuhan, khusyu’ bersujud mohon petunjuk, teguh tangguh berdampingan, tetap tegar menghadapi segalanya. Semoga tercapai semua yang kalian dambakan, kebahagiaan lahir bathin dunia akhirat. Aamiin."


"Fiora, Papa ingin mengucapkan banyak terima kasih, engkau merupakan salah satu sumber kebahagiaan, selama ini telah berusaha menyenangkan kami. Dengan berkat dan kasih Tuhan juga basmallah dari almarhumah Mama, berlayarlah engkau mengarungi samudera rumah tangga dengan niat yang lurus, iman, hati nan teguh," ucap Glenn mantap, meski beberapa bulir bening hadir dan luruh menyertai setiap kalimat indah untuk putri dan menantunya.


Rangkaian acara dikediaman Glenn berangsur rampung tepat pukul sepuluh.


Iringan keluarga yang akan ke ballroom hotel pun bertambah. Kedua mempelai kini sudah berganti busana lebih mewah dari prosesi akad nikah tadi.


Fio mengenakan kebaya berwarna navy dengan banyak aksen emas. Dipadu kain batik corak parang kusumo, kali ini di pinjamkan Danarhadi sebagai identitas status keluarga keturunan Kasultanan. Makna dibalik motif ini pun cocok untuk mereka yang selalu berjuang demi mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.


"Keturunan Kusuma, wajib make kain motif ini kalau menikah," ujar Danarhadi memberikan wejangan untuk semua cicit mantu keturunannya.


"Fio, ini kain batik hadiah dari uyut, dipake kalau hadir di acara formal keraton ya. Semua wanita Kusuma punya satu dan motif ini adalah lambang khusus keluarga besar kita," pesan Danarhadi kala memberikan kain batik motif parang dengan sebuah ciri khas logo di bagian depannya.


Fiora menerima hadiah sang buyut dengan sukacita. Dirinya bukanlah sesiapa namun di terima sangat baik oleh Kusuma.


Perjalanan menuju venue acara, mulai melaju.

__ADS_1


Fiora terkejut dengan Maira yang menempel lekat pada Shan dan memanggil Fayyadh kakak.


"Abi Amir, mertua kamu, itu kakak kandung Bundaku. Jadi aku dan Kak Fayyadh, sepupu. Dan dia, suamiku yang paling paling paling segalanya," celoteh Maira saat menjawab pertanyaan Fio diperjalanan.


"O pantesan ... Mbak Maira, lagi hamil ya?" tanya Fio lagi.


"Alhamdulillah, berkat kerja keras dia," Maira tertawa seraya mengecup pipi Shan yang tengah mengemudi.


"Ya ampun, Sayang. Kebiasaan," gerutu Shan terhadap sikap cuek Maira. "Ini tadi kepentok tuas, sakit gak, Ai?" dia mengulurkan tangan, mengusap perut istrinya.


"Astaghfirullah, Mahya! pamerin Shan, pamer terus," timpal Fayyadh kemudian melihat aksi mesra mereka.


"Apa? kan suamiku, yeee. Kalau mau ya ikutan aja Kak, sudah halal ini. Asal jangan fore-play disini," gelak Maira lagi.


"Ai, jaga lisan Sayang," tegur Shan, mengusap pipi istrinya.


"Astaghfirullah, maaf Zie. Oke aku diam," balas Maira cepat.


Sementara di jok belakang.


"Fei, lihat sini," pinta Fayyadh.


Fiora menoleh ke arah kanannya, jemari kiri gadis ayu ini menggenggam buket bunga namun seketika Fayyadh angkat.


"Bismillah," Fayyadh membuka niqab Fiora.


C-up. Pria muda Kusuma, mengecup bibir lembut sang istri.


Beberapa detik Fayyadh tak mengindahkan ocehan Shan. Dia memejam, menikmati cecapan sensasi benda kenyal yang terasa lembut nan manis.


"Udah woyy!" seru Maira.


Jeda.


"Gak sempet ngasih kode lah, kan dorongan tiba-tiba," kekehnya seraya menarik lagi niqab Fiora dan membenarkan posisinya.


"Mas, ish."


"Mau lagi?" goda Fayyadh saat Fio mencubit lengannya, namun dibalas putra Aiswa dengan kecupan mesra di dahi.


Saat lampu lalu lintas berwarna merah.


Maira mencondongkan wajahnya ke sisi kanan, menyentuh pipi Shan. "Zie."


"Hem," Shan menoleh.


C-up. Mereka saling memagut mesra.


"Ampun, kalian, heyyy! yang nikah tuh aku!" Fayyadh terbahak. "Mesum!" Fayyadh memukul keduanya dengan buket bunga Fiora.

__ADS_1


"Awh. Duh." Suara Shan dan Maira mengaduh akibat pukulan bunga.


"Kita juga bisa gitu, yeee. Jangan manasin ibu hamil, berabe. Kalian masih malu-malu lah kita udah biasa disemua tempat, ya Zie," kelakar Maira mengundang tawa semua penghuni mobil.


"Maapin istri cantik aku ya, bumil lagi hot banget," tawa Shan lagi, tepat saat mobil melaju.


Perjalanan berakhir sepuluh menit kemudian. Mereka menjalani prosesi panggih, beramah tamah dengan para tamu juga keluarga besar hingga menjelang pukul satu siang.


Private wedding party yang diinginkan Glenn terpenuhi. Keluarga besar pun satu persatu mulai pamit kembali ke kamar mereka untuk beristirahat sebab besok pagi Danarhadi akan open house di Joglo Ageng.


Pasangan pengantin mulai bersiap naik ke kamar mereka di lantai tiga yang telah Shan siapkan.


Biiip.


Fayyadh membuka kunci kamar mereka, menyilakan Fio masuk lebih dulu. Wanita ayu terlihat lelah, matanya pun sayu tanda dia mengantuk.


"Mandi dulu Fei lalu sholat berjamaah, sini aku bantu." Fayyadh mendekat pada Fiora yang tengah membuka hijabnya.


"Hm, aku bisa, Mas."


Fayyadh mengurungkan niat, dia kini hanya mengamati gerak gerik istrinya, terlebih saat hijab telah terbuka. Rambut coklat tua, melewati bahu nan bergelombang nampak dihadapan lelaki itu.


Wangi semerbak floral menusuk indera penciuman Fayyadh, naluri lelakinya menuntun untuk mendekap raga dihadapan. "Aku bantuin buka." Dia membuka ikatan niqab Fio.


Kini wajah ayu seputih susu nampak dalam pantulan cermin besar. Fayyadh membalikkan badan Fiora agar menghadapnya. "Yang ku rindukan, Maa sya Allah, milikku, hanya aku yang dapat melihat ini," bisik Fayyadh, membelai lembut pipi Fiora.


C-up. Kali ini pagutan keduanya lebih intens dan dalam hingga Fio melerai.


"Kan mau sholat, sudah hampir habis waktunya," tunduk putri Glenn malu dengan nafas terengah akibat aksi mereka.


Fayyadh tersenyum, menyapu jejaknya di bibir merona Fiora. "Mandi samaan aja, biar hemat waktu," saran Fayyadh namun di hadiahi cubitan Fiora.


Sementara Fiora mandi, Fayyadh membuat sebuah postingan status. Dia mengunggah foto genggaman tangan keduanya dengan buket bunga. "Hanya milikku."


Beberapa saat kemudian. Keduanya telah sama diatas sajadah, menyempurnakan salam terakhir empat rokaat. Fayyadh menengadahkan kedua tangan, memanjatkan banyak doa untuk rumah tangganya kelak. Suara aamiin Fiora menjadi pamungkas kegiatan mereka.


Fio masih duduk diatas sajadah, memegang tasbih milik sang suami, dan berdzikir disana. Tiba-tiba.


Putra Aiswa yang belum beranjak dari mimbar imam, merebahkan badan hingga kepala yang masih basah akibat tetesan air wudhu itu berbaring diatas pangkuan kedua paha sang istri. Fayyadh meraih telapak tangan kanan Fio yang menggenggam tasbih, lalu mengecupnya seraya mulai melantunkan surat An-Nur hadiah pernikahan untuk kekasih hati.


"Jazakallah, Mas." Putri Glenn meneteskan air mata meski bibir tak henti berdzikir sambil membelai lembut pipi lelaki pujaan.


"Sabar bersamaku ya, Fei Sayang," bisik Fayyadh disela bacaannya, seraya menciumi kedua telapak tangan Fiora.


.


.


...____________________...

__ADS_1


...Jangan kepengen ya......


__ADS_2