
TIGA BULAN SEBELUMNYA.
Bandara Soetta.
Lelaki muda berwajah tampan, mengenakan sarung hitam juga kemeja koko lengan panjang berwana krem. Menarik travel bag nya menuju ruang tunggu kedatangan internasional.
Kacamata hitam yang bertengger di wajah nan mulus, ia lepas kala memesan secangkir kopi espresso juga satu slice cheesecake. Persis kesukaan ayah dan ibunya.
"Syukron," suara maskulin yang membuat para kaum hawa di sana meleleh seketika terlebih wajah kalem nan bersahaja itu mengulas senyum tipis.
Dia menuju meja di sudut cafe, meletakkan baki berisi makanannya. Menarik travel bag agar tak menghalangi jalan.
"Kakak," seru suara seorang gadis, mengenakan gamis teracota juga pasmina berwarna senada, lengkap dengan masker.
"Maira, Baby. Sini," ujarnya sumringah kala melihat sepupu cantik itu datang.
"Baby Baby, aku lebih tua dua tahun darimu, Fayyadh," sungut Maira seraya menarik kopernya mendekat ke meja sang sepupu.
"Tapi tetap saja, kamu harus memanggilku kakak ... Delay ya? kata Ayah, kamu gak bakalan balik hari ini," ujarnya menyodorkan cake dan kopi yang belum dia sentuh ke hadapan Maira.
"Ini kesukaan kakak, aku pesan sendiri saja," sahutnya tak menjawab pertanyaan Fayyadh.
"Minta yang dingin saja, Mahya, biar kita bisa share," godanya pada adik sepupu itu.
"Ish, nanti pacarmu marah ... Ayah bilang, kakak balik hari ini jadi aku sekalian ikut balik, tuker tiket biar bisa nebeng pulang ke Tazkiya dulu." Mahya Humaira, mengabaikan senyuman manis dari pemilik wajah tampan.
Gadis ayu itu meninggalkan meja menuju order place area.
"Sayangnya kamu sepupuku, dekat pula ... makin kesini kamu cantik banget sih Maira, apalagi matanya itu, persis Bunda. Ah, kangen Bunda Naya, meski bawel tapi gaul," gumam Fayyadh menggelengkan kepalanya.
Lama keduanya bersenda gurau di sana hingga teguran sang uwa menghentikan keseruan mereka.
"Kalian, Uwa cari di depan gak tahunya ngetem disini," keluh Ahmad saat menjemput keponakan juga gadis cantik yang sudah dia anggap keponakan kandungnya juga.
"Fayyadh nunggu Maira, 'amm. Sekalian jalan nanti sore nganterin dia balik biar bisa nginep di Orchid," sahut Fayyadh, menyalami Ahmad.
"Iya gak apa, sudah selesai?" tanyanya lagi.
Maira hanya menangkupkan tangannya didepan dada pada sang uwa angkat.
"Sampun," jawab keduanya mengundang tawa.
"Hmmmm, kebiasaan klopnya sampai ke hati ya," ucap sang uwa seraya menarik koper Maira keluar cafe.
"Uwa, biar aku saja. Nanti ketahuan anak buah ayah bisa habis di omelin Bunda," Maira khawatir menyusahkan saudara orangtuanya itu.
Meski telah di nobatkan sebagai salah satu princess Kusuma, dia tak pernah diberikan keistimewaan apapun selain satu orang bodyguard bayangan, itupun atas permintaan sang Buyut Danarhadi.
...***...
__ADS_1
Pondok pesantren Tazkiya.
Kedua cucu datang, sang Nenek heboh minta ampun apalagi Farhana, putri pertama Dewiq dan Ahmad.
"Kak Maira, aku kangen, USA sangat enak kah hingga jarang pulang?" protes gadis kecil itu, menghambur memeluknya.
"Ini tahun akhir kuliah ... tinggal menunggu wisuda saja. Jadi boleh pulang dulu ... kan Kusuma mau ada acara nikahan Mbak Fatima di Semarang pekan depan," ucapnya saat membalas pelukan Hana.
"Eh iya, seragaman punya keluarga Tazkiya sudah jadi. Keluarga Kak Maira, brati sama kayak Fayyadh donk..."
"Fayyadh, kamu ikut seragaman Tazkiya atau Kusuma, pilih woyy!" seru Farhana pada adik sepupunya.
Fayyadh hanya melotot pada Farhana. Tak menanggapi.
"Maira, cantiknya. Jiddah udah lama gak lihat kamu, Maa sya Allah melebihi Bunda Naya ini sih. Mana tinggi pula," ujar Maryam membelai wajah ayu putri Mahendra.
"Beberapa kali pulang sih Jiddah sebetulnya, namun gak sempat mampir karena Ayah ngasih misi kawalan buat beberapa guru mulia saat dakwah di daerah rawan ... Alhamdulillah lancar, habis itu langsung balik ke USA lagi karena tahun akhir kuliah banyak tugas dan siapin sidang ... afwan ya Jiddah," sesal Maira merasa mengabaikan sowan ke Tazkiya.
"Ish, gak apa. Jiddah tahu, Maira sibuk. Tugas mulia Nak, membersamai para pendakwah ... lanjutkan niat kamu yaa bilamana telah teguh," saran Maryam, menepuk bahu kanan cucu bagai kandung itu. Ia kemudian menarik Maira agar duduk di ruang tamu.
"Jiddah bilangin donk ke Maira, jangan mainan senjata mulu ... meski dia pandai wushu, memanah, menembak, strategi, hacker ... sesekali pegang wajan, sutil kek belajar masak," sambung Fayyadh, ikut duduk diujung kursi.
"Haduh, suka-suka Maira donk, Fayyadh. Memang kamu suaminya? ngatur-ngatur gitu," cibir Umma kala Fayyadh tak terima bila Maira berkutat dengan pekerjaan menantang bahaya.
"Ya kan kali aja jodoh," seloroh Fayyadh di hadiahi cibiran Farhana dan gelengan kepala oleh Maryam.
"Kak, team private laskar akhwat sudah jalan kan? lolos donk cita-cita," tanya Hana.
"Hmmm, gak niat sih sebetulnya tapi ingin jadi pejuang. Juga karena Ayah memberikan izin ... Aku suka coding seperti Ayah namun hobi broadcast juga ... entahlah masih dipikirkan, fokus dengan acara akbar Kusuma dulu," jawab Maira atas rasa ingin tahu Farhana.
"Fayyadh, sana dih, ngerumpi bareng cewe," usir Farhana.
"Fayyadh Fayyadh! Kak, meski kamu kakak sepupuku, tapi umurmu dibawahku. Maira saja panggil aku kakak, gak sopan dasar Hama," sungut Fayyadh kesal.
"Yeee, Hama hama, Far-ha-na ... Jiddaaah," rajuk Farhana pada Maryam.
"Iya sana, ke kamar Umma kamu tuh, istirahat," Jiddah rewel melihat Fayyadh hanya diam duduk memperhatikan para gadis.
"Pandangan, pandangan dijaga. Heran, gak kayak Abinya yang hati-hati makai mata," Maryam mengomeli sikap Fayyadh yang tak jarang mencuri pandang pada Maira.
"Bawelnya Jiddah ku. Memang yang paling baik itu hanya Umma dan Bunda," keluhnya bangkit menarik koper menuju ke dalam.
...***...
Inginnya menunggu Mahendra tiba, namun tubuh Maira terasa lelah. Hingga gadis itu memutuskan meminta asisten sang Bunda menjemput di Tazkiya.
Satu jam menunggu, jemputan untuknya pun tiba. Maira pamit pulang pada Maryam dan Farhana. Setelah itu, dia menghilang di balik tembok tinggi setelah mobil yang di tumpangi melaju meninggalkan halaman pesantren.
Maira tidak mempunyai hubungan apapun dengan Tazkiya. Fayyadh lahir dari Aiswa, putri bungsu Maryam, menikah dengan Amir kakak Naya, Bunda Maira. Sepupu, gelar yang tersemat pada keduanya.
__ADS_1
Setelah tiga puluh menit berlalu.
Putri sulung Mahendra, meminta driver mengarahkan mobil menuju lapangan latihan tembak. Dia butuh melatih skill setelah satu bulan tidak menyentuh besi berat itu.
Mobil pun terparkir cantik di pelataran latihan. Maira turun melenggang masuk, memperlihatkan kartu member pada frontline dan bersiap menuju lokasi.
Dor. Dor. Dor.
Suara letusan senpi, mulai memekakkan telinga karena dia belum mengenakan pelindung untuk kedua pendengarannya.
Sepanjang jalur bilik latihan.
Maira mengamati seorang pemuda, mungkin keturunan timur tengah.
"Gila, bidikannya gak ada yang meleset, ckckck, keren," gumam Maira seraya meletakkan ransel juga menyiapkan senjata. Di bilik yang dia pilih, tak jauh dari si pemuda tadi.
"Nona, ini." Asisten ibunya menyerahkan satu pistol yang sudah di kokang pada Maira.
Putri sulung Mahendra memulai persiapan. Hand clove, headband, juga kacamata, telah tersemat rapi pada setiap anggota tubuh ... lalu ia memasang kuda-kuda dan mengatur posisi beban badan, apakah sudah benar saat akan melepas peluru karet.
Sasaran tembak telah sedia di depan sana.
Huft.
Dor. Dor. Dor.
Papan bidik otomatis, mendekat dalam jarak pandang agar sang pemula dapat memperbaiki tembakan di sesi berikutnya.
"Good job, Nona. Satu meleset kayaknya nih," ujar sang asisten.
"Keren." Suara seorang pemuda, mengomentari hasil bidikan Maira, dari balik biliknya.
Maira menoleh sekilas.
"Meleset satu nih. Goyang tadi," balas Maira seraya kembali mengisi peluru.
Pemuda itu, melihat pada papan bidik.
"Arah angin, jika kau merasakan hembusannya sedikit kencang, maka posisi kaki yang semula begini ... geser sedikit, bahu tetap tegap ... juga perhitungkan efek hentakan sebelumnya. Eh, maaf, aku gak bermaksud ngajarin ... sama coach bisa minta di arahkan nanti. Afwan ya," pemuda itu merasa bersalah seakan sok tahu, padahal Maira tidak berkata demikian. Dia lalu melenggang pergi, mengambil ransel dan berlalu.
"Eh, Kak ... Mas, eh siapa namanya, makasih ya," seru Maira namun pria itu tak menoleh padanya.
"Siapa ya? aku baru lihat dia disini, member baru kah? analisanya keren," Maira kagum sekaligus penasaran akan sosoknya.
.
.
..._____________________...
__ADS_1