ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 103. UJIAN MAIRA


__ADS_3

Jakarta.


Shan menunggu Maira yang tak kunjung selesai. Dia tengah mengqodho sholat saat dirinya terbaring koma.


"Ai. Sudah dulu, ayo makan. Kata Bunda, kamu melewatkan jam ngemil lagi," bujuk Shan sedari tadi.


Maira hanya diam setelah kembali dari Surabaya. Bahkan ketika Fayyadh bertanya padanya pun tak dia jawab. Shan belum berhasil membujuk wanitanya untuk bercerita.


Hampir dua jam wanita itu setia dengan mukena dan mushaf di tangan, sesekali suaranya parau dan terdengar menahan isak.


Shan habis kesabaran. Dia lalu duduk disebelah istrinya, membatalkan wudhu Maira dengan mencium pipi lembab yang basah sebab bekas jejak air mata.


"Tuman, gak nurut suami. Sudah dulu," ucap Shan lirih, meraih wajah ayu agar melihatnya.


"Kenapa? aku pulang kerja bukannya disambut, disiapkan baju ganti eh malah begini," tanya Shan lagi.


Maira melepas usapan telapak tangan Shan di wajahnya. Dia lalu merebahkan kepalanya di atas kedua paha Shan yang duduk bersimpuh.


"Sakit, Zie. Masa aku dibilang gak subur," isaknya pecah.


"Astaghfirullah. Lagi?"


Maira menarik kepala dari atas pangkuan yang dia kira akan nyaman.


"Kamu gak akan paham rasa hatiku, Zie. Dicibir dan dibandingkan dengan si A si B yang lekas hamil tak lama setelah menikah. Itu sakit," serunya marah.


Shan terkesiap. Sadar telah salah bicara.


"Maaf Sayang. Maaf, maksud aku bukan be--" elak Shan berusaha memperbaiki keadaan.


"Alah, tetap saja. Semua sama, mana ada sih yang gak kepengen hamil dan punya anak ... ya kali kalau cabe-cabean, atau hasil hubungan terlarang," imbuh Maira masih dengan nada tinggi.


Air matanya kian deras mengucur dari sudut mata amber milik Maira. Shan tak bisa melihat wanitanya menangis, bahkan bila itu sang Bunda sekalipun.


"Sini. Iya maaf, aku dengerin kamu, mau bilang apa?" ujar Shan mengalah, menarik kembali tubuh molek yang menjauh untuk masuk kepelukan.


Maira menumpahkan segala kesal, marah dan bencinya atas ucapan semua orang yang telah menyakiti hati. Wanita muda itu bahkan terisak hebat, sebab banyaknya cibiran menoreh luka.

__ADS_1


Shan hanya mendengarkan. Tiada bantahan keluar dari mulutnya lagi, dia setia mengusap air mata, menyeka keringat didahi juga mencium pipi Maira apabila tangisan kian kentara.


"Keluarkan semua, Sayang. Boleh pukul aku jika semakin membuatmu lega," bisik Shan mengecup pucuk kepala wanita yang mendekap erat.


"Aku sayang Zie, aku takut Zie terluka karena aku," ucapnya kemudian.


"Sudah ku bilang, aku cuma butuh kamu, Sayang. Cuma butuh kamu, ya Allah Ai, gak bisakah kamu rasakan betapa aku ketergantungan padamu?"


Maira tiba-tiba diam.


"Pikirkan, siapa yang setia mengambil handuk basah bekas aku dari atas ranjang tanpa banyak bicara? yang siapin breakfast? minuman hangat dalam pouch, baju ganti lengkap di mobil, kaus kaki yang kadang lupa aku letakkan di keranjang cucian?"


"Belum lagi, akhir-akhir ini istriku sangat rajin membuat berbagai snack lezat. Semua buku ku kadang berserakan, kamu selalu memperhatikan detail letaknya sehingga aku tanpa sadar bila ngeberantakin, semua pasti kembali tersusun rapi ditempatnya. Memudahkan aku mencari. Itu skill, Sayang."


"Ahya, apa yang kamu lakukan itu sudah bikin aku nyandu. Tanpa diminta, gak banyak bicara tapi ngerti banget kebiasaan buruk aku. Ya Allah, begini saja sudah sangat bersyukur hingga aku lupa akan kehadiran keturunan," tutur Shan panjang, menenangkan.


"Ta-pi, Zie. Allah kan tahu apa yang ku lakukan, doaku, tapi kenapa?" isaknya kembali datang.


"Mungkin dengan adanya baby sekarang ini kamu bakal abai terhadapku atau pekerjaan dan tanggung jawab lainnya. Allah simpan untuk waktu yang tepat, Sayang," bujuk putra Dilara, lembut.


"Hmm apa," Maira semakin merapatkan diri ke dada bidang suaminya.


"Bismillah ... suatu ketika Abu Nawas jatuh cinta pada seorang gadis. Maka dia pun berdoa pada Allah. Kata Abu Nawas, bila dia baik untukku, maka dekatkanlah namun bila tak baik bagiku, tolong pertimbangkan lagi ya Robb. Kata Abu nawas," kekeh Shan.


"Doanya terkesan memaksa Allah kan ya, Sayang ... sadar bahwa dia kurang pasrah dan tulus setelah berbulan tak kunjung terkabul maka Abu Nawas mencoba berdoa lagi namun dengan strategi dan cara yang berbeda," Shan sudah tak dapat menahan tawa, kisah lucu namun bagai permohonan manusia, pikirnya.


"Zie, kok ketawa sih. Ya kan itu doa," protes Maira.


"Iya doa. Denger dulu sampai selesai nanti ada pengajarannya," ujar Shan lagi.


"Abu nawas bermunajat lagi, gak seperti cara pertama namun kali ini dia berdoa ... ya Allah berikanlah aku istri terbaik. Akan tetapi hasilnya sama, tak kunjung Allah kabulkan juga. Walhasil Beliau tiada putus asa, maka ia berdoa kembali disuatu ketika."


"Dan doanya adalah ya Robb, kali ini aku tidak meminta untuk diriku namun berikanlah ibuku yang sudah tua itu seorang menantu berupa wanita nan ku cintai," kekeh Shan.


"Padahal Allah itu tahu gak perlu diatur atau intimidasi bahkan di politisasi doa. Abu Nawas bereksperimen cara berdoa. Mungkin berkat kepolosan dan keteguhan nya itulah yang membuat Allah mengabulkan doa beliau."


"Jadi gimana, Zie?" tanya Maira.

__ADS_1


"Gak gimana-gimana. Berdoa yang tulus, tanpa menuntut apa yang menjadi tujuan. Cukup minta semua hal terbaik dan mudahkan jalan, ikhlas atas ketentuan-Nya. Manut caramu ya Allah, gitu aja. Paham gak, Sayang?" pungkas Shan.


"Termasuk keturunan?" cicit Maira.


Shan menciumi pipi yang terlihat berisi, "Iya, sudah pasti untuk semua hajat, diperbaiki niatnya. Syukur dulu in sya Allah bakalan ditambah lagi nikmat lain," bisik Shan gemas.


"Sudah, makan ya. Ini jelang maghrib."


Maira enggan beranjak dari pelukan Shan. Sehingga membuat keduanya tetap diposisi yang sama hingga adzan maghrib menggema.


"Ya Allah, sabarnya suamiku."


...***...


Jeddah.


Allen mengabarkan pada Fayyadh perihal pengajuan Proposal untuk Arwa. Kabar buruk sore itu dia terima.


Suami Afra itu mencari keberadaan sang sahabat di beberapa lantai kampus, namun tak jua dia temui.


Bersamaan dengan itu, Fayyadh yang baru keluar ruang perpustakaan menerima panggilan dari Allen yang mengajaknya bicara di cafe lantai dasar.


Keduanya pun bertemu. "Fayy, umma Ana bilang. Arwa keberatan menerima ajuan lain. Hanya dua CV yang sudah masuk saja akan dia telaah. Sejauh ini kandidat kuat baginya adalah kerabat Mangkunegaran, sebab Arwa bersedia nadzor. Kemajuan pesat dari banyaknya permohonan, gadis itu baru kali ini bersedia bertemu calon pria untuk proses ta'arufnya," ujar Allen tak enak hati.


"Jadi nasib Ana?"


"Afwan ya Akhi, meski sudah Ana kirimkan ke umma, namun hasilnya entahlah," tegas Allen lagi.


Fayyadh diam mencerna keadaan. Sejurus kemudian hatinya berkata. "Ya sudah, mungkin Allah mau Ana konsentrasi dulu ke sidang yudisium dan skripsi dulu. Urusan jodoh, sudah Ana serahkan pada umma sih, syukron ya Akhi," ujar Fayyadh seraya bangkit dan meninggalkan Allen disana.


.


.


...________________________...


...Sabar, ini isinya gak melulu Fayyadh 😭. ...

__ADS_1


__ADS_2