
Fiora Akshaya terus memandang keluar dari jendela mobil. Driver mulai kebingungan kemana lagi mobil akan dia lajukan. Hingga sayup suara adzan bergema dari Masjid Agung yang tak jauh dari lokasi mereka saat ini, membuat sang supir pribadi melabuhkan kendaraan mewah Tusakti memasuki pelataran masjid.
"Nona maaf, saya sholat ashar dulu ya. Anda bisa turun dan menuju kantin atau tetap disini? paling lama sepuluh menit," ujar pria paruh baya saat menarik tuas rem keatas dan membuka pintu.
"Aku ikut turun, Pak." Fiora membuka pintu samping lalu menuju cafe di sayap kanan bangunan.
Sebelum iqamah, mengalun merdu suara seorang pria dari pengeras suara. Fio mengenal hal demikian sebagai pujian. Hatinya seketika kembali gerimis. Entah apa yang dia rasa, batinnya mulai gelisah.
"Mba, tolong iced lemon tea juga roti bakar selai strawberry ya satu," ujar Fiora saat dia menduduki salah satu bangku cafe.
Mata gadis ayu itu terpejam, menikmati lantunan sholawat nariyah disambung dengan ke dua puluh sifat wajib bagi Allah.
"Allah wujud qidam baqo mukhaolafatul lil khawadisi...."
Tak lama, pelayan kantin mengantar pesanan Fio ke meja.
"Mbak ini pujian apa namanya?" tanya Fio, dengan mata sembab.
"Oh, sifat wajib bagi Allah Non. Menceritakan semua tentang keesaan Tuhan intinya. Allah itu ada, terdahulu sebelum semesta dan isinya, kekal, berbeda dengan mahluk, berdiri sendiri gak butuh bantuan siapapun dan apapun, satu, berkuasa, maha mengetahui, melihat, mendengar, berkalam juga banyak lagi. Pokoknya gitu lah," ujar sang pegawai menjelaskan pada Fiora.
"Hmm, makasih banyak." Fiora merenungi ucapan gadis itu seraya menyeruput minuman yang dia pesan.
"Persis seperti yang Fayyadh jelaskan padaku, juga ucapan nenek tadi."
Tak lama kemudian, iqamah menggema. Fiora melihat bukan hanya beberapa pria yang nampak tergesa, juga satu dua wanita tergopoh menuju kedalam bagunan putih nan megah disamping dirinya berada.
"Fayyadh juga gitu. Apakah ini bentuk ketaaan manusia terhadap Tuhannya? ... ck, aku juga bukan hamba yang taat, tapi mengapa takjub ketika melihat mereka ya? mulai dari aturan melepas sandal di batas suci lalu berwudhu, membasahi semua anggota tubuh dan bergegas memenuhi seruan. Apa makna wudhu itu ya?" gumam Fiora. Dia membuka gawai, memilih membuka aplikasi ikon merah disana.
Yang dicari, mendadak muncul begitu saja. tanpa bersusah payah mengetik kata kunci.
"Ustadz Adek Hidayat. Tata cara berwudhu yang benar. Eh, dibawahnya apa ini? ... menjemput hidayah," gadis ayu itu mengklik video kedua, berisi tausiah seorang guru mulia disana, dia mendengarkan seksama.
Entah apa yang Fio rasa, air mata dari netra cantik itu terus berderai mengundang perhatian pegawai cafe tadi. "Mbak, maaf ini tisunya."
Putri sulung Tusakti tergagap, dia tanpa sadar menyentuh wajah. Merasakan pipinya sangat basah. "Eh, ko nangis? why?" gumam Fio seraya menyeka lelehan bulir bening dari sana.
Asik berkutat dengan isi konten yang mudah ia pahami, Fiora mengabaikan panggilan driver.
"Non. Mari."
"Eh, Pak. Stay disini aja bisa gak? sampai petang nanti. Aku mau jalan-jalan ke bagian wanita didalam, boleh gak sih?" tanya Fio pada driver.
"Boleh Non, ke bagian akhwat saja disana. Sampaikan keperluan dengan penjaganya nanti di pinjamkan kerudung. Mari saya antar," tawar sang supir namun Fio tolak halus. Dia lalu meminta drivernya makan dikantin yang sama.
Pemilik Floffy Craft, menarik nafas lalu bangkit menuju seperti niatan semula. Safari Masjid.
...***...
Orchid, Jakarta.
__ADS_1
Saat yang sama.
Shan baru saja selesai melaksanakan sholat ashar dengan Maira. Hari ini, istrinya sangat manis sebab mengikuti semua arahan sang dokter hewan saat memandikan Jasper. Pun melakukan hal lainnya.
"Ai, aku juga pengen kamu sayang, bukan cuma Jasper," Shan menggerutu.
"Ya gimana, aku belum bisa."
"Malam ini boleh tidur disana gak? kangen kamu, di depan mata tapi bagai di ujung samudera, susah digapai," keluhnya lagi seraya menunjuk ranjang mereka.
"Enggak." Maira bersiap meninggalkan shan sendiri di kamar.
"Ahya," lirihnya lagi.
Maira menoleh, sejujurnya dia tidak tega melihat pria nan selalu sabar menghadapinya ini.
"Lepaskan aku, hatiku gak sanggup melihat kamu tersiksa begini," Maira urung pergi, dia lalu duduk di sofa, menundukkan kepala merasa bersalah.
Putra sulung Ezra menghampiri Maira. Dia duduk bersimpuh di depan lututnya, menaruh kedua lengan diatas kedua paha sang istri.
"Jika keinginan untuk pergi hanya merasa kasihan padaku, maka jawabanku tidak, Sayang," tegas Shan.
"Tapi," cicit Maira.
Shan meraih dagu Maira, mendongakkan wajah ayu agar menatap manik mata dirinya.
"Hmm ... tapi aku gak bisa masak. Nanti gak enak," cicitnya lagi.
"Ayo. Apapun rasanya, akan aku makan. Janji, yang penting tangan ini yang membuatnya. Love you Sayang, apapun adanya dirimu," Shan bangkit, mengecup sekilas bibir Maira.
"Diiiihh, kesempatan," seru Maira melayangkan protes sementara Shan tertawa keluar kamar.
Sore seru dilalui oleh pasangan Qavi muda saat keduanya di dapur. Shan selalu mencuri kesempatan untuk kontak fisik dengan Maira. Dia ingin, ketika saatnya keputusan sulit diambil, istri cantik ini dapat mengingat setiap sentuhan darinya.
"Gak gini Sayang. Aku bantu ya," ucap Shan kala Maira tidak dapat menyayat daging dengan benar.
Pria muda nan wangi, masih mengenakan setelan koko dan sarung itu berdiri dibelakang istrinya. Tangan kanan Shan membimbing tangan Maira saat memegang knife lalu menuntun perlahan. Bagian telapak tangan kiri memegang potongan daging di ujung. Dia lalu mulai menyerongkan pisau agar lebih mudah memotong serat daging.
"Wangi sekali. Lama-lama bisa kecanduan nih."
"Gini, lebih mudah menyayat dan akan cepat empuk. Sebelum dimasak, permukaannya harus kering lalu seasoning. Panaskan sekali balik agar tetap juicy. Nah, lanjutkan," ujar Shan melepas Maira agar dia bisa belajar.
C-up.
"Ish, ganggu aja, kapan matang nanti?" keluhnya saat Shan mengecup pucuk kepala princess Kusuma.
"Sayang."
Maira diam, berkonsentrasi memasak sesuai arahan Shan sementara suami tampan itu menatap lekat.
__ADS_1
"Hm, apa?" putri Mahendra menoleh.
C-up.
Shan mencuri ciuman lagi, bibir merona Maira dia cecap sejenak. Tangan kanannya menahan tengkuk sang istri sementara lengan kiri Shan merapatkan pinggang wanita pujaan menempel ketat padanya.
Suasana syahdu, ditemani suara gemericik daging dengan minyak membuat ciuman mereka tak biasa. Lu-matan pertama Shan terhadap Maira sejak dia siuman. Susah sekali mendapatkan moments seperti ini.
Perlahan, Maira mulai menikmati permainan mesra suaminya, tangan kanan wanita ayu merambat merangkul leher Shan kala pria itu menuntut lebih.
Gerakan Shan yang lembut, menjelajah setiap inci kedua benda kenyal nan manis membuat tubuh Maira mulai melemah larut dalam gempuran gelombang yang baru dia rasa. Namun kesadarannya kembali saat ia mencium aroma sesuatu.
"Su-dah. Go-song," Maira memaksa melepas pagu-tan.
Shan tersenyum, membiarkan Maira menjauh sejenak mengecilkan api stove dan melanjutkan kegiatan memasaknya. Dia lalu memeluk dari belakang.
"Lihat sini sebentar, Sayang," bisik Shan lembut di telinga wanita yang dia kasihi.
"Gak mau, nanti kayak tadi. Kan bilangnya gak sentuh aku sampai ingat tapi melanggar melulu," cebik Maira kesal.
"Ini, kenapa berdebar, Sayang? hatimu gak bisa bohog, meski ingatanmu menolak." Shan meraba degup jantung Maira, tak memperdulikan protes istrinya itu, dia terus menempel ketat hingga masakan mereka matang.
"Coba, enak gak?" tanya Maira kala hidangan telah tersaji di meja.
Shan mengambil sedikit apa yang tadi mereka masak. "Ini e-nak." Dia lalu mengambil nasi, juga lauk. Bersiap makan, namun urung sebab Maira meraih pinggannya menjauh.
"Why Sayang, aku lapar."
Wanita cantik yang masih mengenakan apron itu menangis. "Kenapa kamu gak pernah mau jujur sama aku. Ini tuh gak enak, asin banget, gak layak dimakan ... mengapa selalu bersikap sempurna dan manis begini namun aku justru sangat tersiksa sebab seakan menerimamu namun sebagian diriku menolak? sesekali katakanlah keburukan terhadapku, El!"
Shan mengerti pergolakan batin Maira, persis yang dikatakan terapis terakhir kali kala mereka kontrol.
"Kamu istriku, baik buruknya sudah satu paket. Apa yang Ai-ku lakukan semua indah dimataku. Sayang, rasa itu hanya ada dilidah, selanjutnya akan sama diolah dalam pencernaan bukan? ini masih bisa dimakan asalkan kamu di sisiku. Manis akan semakin sweet sedangkan lainnya akan berubah menjadi legit . Sini, kita makan sama-sama, aku suapin." Shan menarik Maira hingga duduk dalam pangkuan, lalu melanjutkan niatannya.
"Bagaimana bisa?" lirih Maira.
"Bisa. Karena setiap rasa, sayatan, potongan bahan makanan hingga masakan ini matang, banyak pahala mengalir untuk istriku, dan aku tidak mau membuat semua usaha kamu dalam menghimpun amal dan ganjaran itu lebur hanya karena aku mengeluh ... bismillah baca doa, Sayang," Shan mulai menyuapi Maira bergantian dengan dirinya.
"Bekas aku, El!" Tangan Maira menahan saat Shan ingin makan dari sendok yang sama.
"Biarin. Makan berdua begini itu sunnah, Sayang."
"Ya Allah, bagaimana nanti?"
.
.
..._______________________...
__ADS_1