
PIK Tower, Jakarta.
Semenjak pengajuan lamaran itu menggantung, Shan kian menutup rapat pintu kamarnya. Ia hanya keluar ke kampus untuk mengajar beberapa jam lalu menyambangi pekerjaan di tempat lain. Hanya setengah hari waktu yang di perlukan putra sulung El Qavi berada di luar rumah.
Dilara berkali mengajaknya bicara namun kalimat yang keluar dari mulut sang putra hanyalah permohonan doa, juga agar ditemani dalam masa-masa membujuk Allah untuk melembutkan hati Mahendra sehingga khitbah tempo hari dikabulkan.
"Kak, Bunda ingin bicara. Jangan di kunci pintu kamarnya ya," pinta Dilara tak menyerah berusaha mencari tahu apa yang Shan lakukan, saat sang putra baru saja tiba dan menghampiri dirinya di pantry.
"Hem ... Bun buat apa? sandwich? sekalian ya, aku juga mau," ucap Shan saat melihat Bunda Dila membuat cemilan sore, biasanya jam segini si kembar sebentar lagi akan pulang.
"Seperti biasa Kak? roti dioles selai coklat dan peanut dengan sedikit susu?" tanya Dilara setelah Shan menciumi tangan juga pipinya.
"Iya. Bun, aku mandi dulu yaa biar enak ngobrolnya," balas Shan seraya berlalu.
Sepuluh menit kemudian.
Pasangan Ibu dan anak itu kini telah berada di atas ranjang king size sang putra. Kamar Shan didominasi warna dark teracotta dan broken white. Kesan teduh sekaligus maskulin masih tetap terasa, tidak banyak ornamen terpajang di dinding. Hanya sebuah foto keluarga dan dirinya di salah satu meja nakas. Simple, itulah Shan.
"Cerita donk Kak, ngapain aja di kamar? jangan terlalu berharap pada manusia, karena Allah gak suka di duakan. Kamu aja marah kalau Bunda pehapein---" ucap Dila terjeda.
"Kapan? gak pernah pehape ah, semua ucapan Bunda itu belum pernah ada yang sia-sia padaku," sangkal Shan.
"Contoh Kak. Ayo, ceritakan." Dilara masih saja mendesak agar Shan berbagi dengannya.
"Bunda tahu, selama ini kalian adalah tempatku berkeluh kesah dan sering melampiaskan kekesalan pada si kembar, meski aku sayang banget sama mereka. Sebelum melamar Maira, dia mengganggu benak dan hatiku hingga rasanya aku bagai melakukan satu dosa. Untuk itulah, ingin menyegerakan urusan ini, akan tetapi kini perasaanku resah, Bun," keluh Shan. Merebahkan kepalanya di pangkuan Dila.
__ADS_1
"Jadi, Shan tahu kan apa obatnya?"
"Iya, dan itu yang aku lakukan. Tiada kuasa ku tanpa pertolongan-Nya. Aku mengirimkan fatihah juga mencoba khatam dalam satu pekan ini Bun, hadiah bagi Ai. Jika dia di cintai oleh Hubabah tentunya sosok Ai istimewa bukan?" jelasnya, ia tahu kabar ini dari Rey tentang team santri wanita yang setiap hari datang ke rumah Keluarga Guna untuk menghadiahkan kalam Allah bagi Maira.
"Maa sya Allah. Makin getol, pantesan. Mau kasih bil ghoib atau bin nadzor nanti kalau di loloskan? punya nadzar gak?" Dila mengingatkan agar putranya bersiap.
"Keduanya Bun, hadiah untuk Ai dalam setiap kesempatan. Nadzar jika lamaran diterima, Bunda gak suka aku masuk komunitas mobil sport kan? maka Lamborghini yang di garasi, jual aja dan uangnya untuk maslahat Ummat. Bangun masjid kek atau apa gitu," terang Shan. Ia tak ingin melakukan sesuatu yang Dilara larang. Membeli mobil impian hanyalah nafsu sesaat, setelah itu konon barang mewah pembuat booster Prestige, hanya teronggok di garasi.
"Nanti di bicarakan dengan Ayah kalau tentang jual mobil. Sudah siapkan mental untuk jadi suami siaga, Sayang?" Dila membelai rambut sang putra. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, putra sulungnya akan mengemban tugas dan kewajiban baru bersama belahan jiwa.
"In sya Allah. Akan aku lakukan apa saja agar Ai sadar. Urusan hasil gimana Allah, yang penting semua upaya telah dijalankan. Bun kalau ditolak gimana?" cemas Shan.
Dilara tersenyum teringat perjuangan kala dulu membujuk Ibu Ruhama yang terang-terangan menolak rencana pernikahannya.
"Bujuk Allah saja. Jika hatimu teguh. Bunda tahu, rencana kamu hampir rampung, namun ingat satu hal ya Kak. Tidak mengapa jika semua yang kamu rancang sepanjang tahun ini belum tercapai, termasuk menikah. Mungkin masa itu masih dalam perjalanan menembus lorong waktu." Dilara masih membelai kepala Shan lembut.
"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad. In sya Allah Bun. Aku beruntung banget punya Bunda, sehat selalu ya moms, bantu do'akan Ai dan aku," Shan memeluk pinggang Dilara erat. Menumpahkan gelisah nya disana.
"Selalu Kak. Kamu cinta kedua Bunda setelah Ayah. Sabar, ikhlas, teguh juga lakukan semua kewajiban kamu selayaknya suami yang mempunyai istri normal ya. Hargai dan sayangi Maira karena bagaimanapun, dia prioritasmu nanti. Penuhi segala hak keluargamu lebih dulu sebelum kamu memberi hal yang sama pada kami, Ya Sayang. Gih makan dulu sandwichnya dan temui Ayah untuk meneruskan niatan nadzar kamu," pungkas Dila, mengecup dahi putra kesayangan lalu beranjak keluar kamar.
Setelah kepergian ibunda idola, Shan menyantap snack buatan tangan lembut itu. Dia menangis, begitu banyak nikmat namun masih mengharap berlebihan. "Aku pasrahkan semua padamu yaa Robb. Permudahlah urusan Ayah Mahen menghadapi keluarga besarnya sehingga jalan untukku terbuka, aamiin."
...***...
Solo.
__ADS_1
Danarhadi juga Abah terkejut sore itu kala melihat Fayyadh menemui mereka di sana.
"Mas, kok gak bilang? bukannya belum liburan ya?" Abah menyongsong cucu kesayangan kala baru keluar dari taksi.
"Dua hari lagi pengumuman libur. Aku sudah menyelesaikan semua tugas remedial, Bah. Baru kali ini begini, makanya ke sini biar damai dulu deh," sahutnya berlalu menggandeng sang Kakek.
"Sudah bilang Abi belum, Mas?" tanya Danarhadi saat sang cicit menyalaminya.
"Uyut aja ya, please. Bukan aku menghindari beliau cuma lagi gak mau denger nasehat aja," kekehnya kemudian.
"Aneh kamu ini, nasehat kok enggan di dengarkan. Raden Mas Fayyadh sepertinya masih patah hati, gih sana istirahat," titah sang Kakek seraya memanggil Mban untuk membantu menyiapkan kamar bagi cucunya.
"Patah hati dikit. Lebih banyak malu nya karena kepedean juga belum bisa ikhlas nerima jika ada yang melamar dia setelah aku," ucap Fayyadh lagi.
"Ya gak bisa gitu. Haknya Ayah Mahen menerima siapapun lelaki sholeh yang datang untuk Maira. Kamu gimana tho?" sergah Danarhadi.
"Ckck, Uyut juga belain. Kayaknya aku salah milih tempat kabur ini," keluh sang prince Kusuma.
"Sana, wudhu lalu sholat atau ngaji biar tenang. Kalau mau disini ya gak apa asal bilang ke Abi. Abah gak mau mewakili ya Mas. Besok kalau senggang ikut ke kebun dan pendopo, refresing," pinta sang kakek sebelum cucu emas itu berlalu.
"Ok, Bah. Aku melepaskan semua kenangan pahit di mana semua ini bermula."
.
.
__ADS_1
...________________________...