
Ponsel gadis cantik itu terus berdering, Maira belum ingin pulang meski tubuhnya lelah. Setelah dari lapangan Tembak tadi, dia meminta driver mengarahkan mobil Bundanya menuju tempat berkuda.
"Nona, nanti Tuan marah, sudah hampir Ashar," tegur sang asisten.
"Tanggung kan deket dari sini. Aku naik ojek online saja, kalian pulanglah ... Ayah gak akan marah, tenanglah," usir Maira karena rengekan keduanya tak henti meminta ia segera kembali ke rumah.
"Bukan begitu, tadi Nyonya kan bilang, kalau Anda sedang lelah tapi justru ke sini dan mau lanjut berkuda, bagaimana nanti saya menyampaikan laporan?" keluh sang asisten khawatir mendapat teguran dari orang tua gadis ini.
Maira mengabaikan keduanya. Hingga lima belas menit kemudian.
"Nah kan tiba. Aku cuma bentar, dua putaran lalu kita pulang. Janji ko," ucap gadis ayu bergegas turun meski mobil baru saja berhenti.
"Ya ampun, aktif banget ya. Sama kayak ibunya," gumam asisten, ikut turun menyusul sang majikan.
Gadis yang berusia tak jauh berbeda dengan Maira, kelimpungan mencari keberadaan majikan mudanya itu karena gerakan Maira sangat cepat sehingga ia tertinggal. Namun, tepukan di bahu kiri membuyarkan konsentrasi akan pencarian sang Nona.
"Mbak, cari Nona Guna ya? tuh lagi di Istal, milih kuda. Karena si anggun Elisabeth yang biasa dia gunakan sedang sakit ... saya sarankan ke kandang bagian kanan, disana ada Lydia, kuda muda keturunan bangsawan ... cocok buat Nona Guna itu, gih sana bujukin deh. Soalnya tadi dia enggan, masih di tempat Elizabeth, lagi diajakin ngomong biar mau makan...." terang si penjaga juga coach disini.
"Memang kuda kudu milih ya?"
"Hmm, kuda itu juga sama kayak kita, punya perasaan lah ... kalau dia kurang sreg atau nyaman dengan si penunggangnya, gak bakalan mau jalan atau ngapain gitu ... Nona Guna humble, sama Elizabeth klop banget, bestie ... nah Lydia ini, kayaknya cocok juga, lebih gesit," ungkap coach.
"Kenapa Nona Guna? namanya kan Mahya Humaira, Maira panggilannya." Asisten baru Naya ini masih mempelajari kebiasaan sapaan sekitar untuk keluarga majikannya.
"Kamu asisten baru ya? Tuan Mahendra Guna itu di segani disini. Termasuk Nona, jarang yang berani deketin beliau meski dia ramah, ya karena segan tadi ... makanya kami menyapa mereka dengan sebutan nama keluarga, atau marga. Sudah sana," pria paruh baya lalu berlalu menuju tempat latihan pemula.
Gadis asisten itu mengikuti perintah pelatih. Saat keluar dari lorong tunggu, menuju lahan pacu.
"Wow, kereeeen!" Asisten muda itu terbelalak takjub.
Maira keluar dari Istal menunggangi kuda putih bersih. Awalnya berjalan pelan dituntun coach hingga masuk ke lahan latihan. Memutari setengah luasnya, masih mengelus dan seakan berbicara dengan si kuda putih.
"Nona, cantiknya."
Terlihat Maira tertawa lepas setelah aksi pedekate dengan kudanya. Memeluk, mengusap punggung juga leher sang tunggangan. Kemudian, perlahan dengan gerakan anggun ... memulai latihannya.
Pashmina gradasi warna teracota, juga gamis longgar yang ia kenakan, melambai ke udara seiring laju kecepatan kuda yang dia kendalikan.
Bagai lukisan, keduanya seakan menyatukan surai yang menjuntai tertiup angin. Indah.
__ADS_1
Bukan hanya sang asisten, dibuat terpukau oleh cara berkuda Nona muda. Namun beberapa murid yang sedang latihan, berada di lahan pacu lainnya pun sama, terpesona.
Dari Istal kiri, pandangan seseorang tak lepas dari si gadis cantik pengundang pusat perhatian.
"Mempesona. Cantik sekali, siapa namanya?" suara seorang pemuda, mengagumi Maira dari kejauhan.
"Mahya Humaira, putri Tuan Mahendra Guna. Biasanya ke sini bareng sang Ayah, tapi kayaknya hari ini dia lagi longgar," jawab coach yang menerima pengembalian kuda dari si pemuda.
"Sesuai dengan namanya, Mahya, mata yang indah. Orang mana, Coach?" tanyanya lagi.
"Cibubur kalau gak salah. Keluarganya ramah Mas, kalau mau kenalan silakan. Cuma, gak ada yang berani," ungkap coach penjaga kandang.
"Why?"
"Karena terlalu tinggi. Menurut kawan saya yang pernah kerja dengan beliau, keluarganya baik banget. Keturunan ningrat dan terpandang ... akademis gak main-main, cerdas, skill Nona Guna juga banyak, jadi pria rata-rata ngeper duluan," jelas pelatih seraya mengunci kandang ketika kuda jantan yang di sewa telah selesai di gunakan.
"Skillnya banyak, bener, meski aku baru tahu dua jenis. Tapi gak keliatan tomboy, malah girly banget ... keluarga terpandang, hmmm jelas terpancar dari gaya busana juga cara bicara. Tanya Ayah ah, kali kenal orang tuanya," batin pemuda yang diam-diam mengagumi Maira.
"Thanks ya Coach. Aku permisi, titip Rollies. Oh ya, sudah waktunya dia ganti sepatu, ku rasa," saran sang pemuda berlalu pergi.
Lelaki tampan, gemar bersosialisasi dengan banyak orang, menyusuri lahan pacu dari lorong seraya tak melepas pandangan dari Maira yang masih berlatih disana. Hingga ia tiba di ujung jalan, tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
"Afwan, maaf aku salah, teledor," ucapnya seraya meraih ransel yang jatuh.
"Hmmm, Tuan muda?"
Pemuda keturunan timur tengah, menengadahkan kepala.
"Eh, Om Rey? tumben ke sini, cari siapa?" tanyanya, kebetulan mengenal sosok yang dia tabrak tadi.
"Putri Abangku, eh Bos rasa Abang, mau jemput Princess Kusuma. Kata asistennya gak mau pulang dari tadi padahal baru tiba dari USA. Kebetulan aku sedang di sekitar sini, jadi sekalian mau jemput," ujar Rey.
"Oh gitu. Aku duluan ya Om. Di tungguin Ayah di Kantor juga mau lihat indukan Persia yang kemarin baru lahiran. Bye Om," balas sang pemuda hendak berlalu.
"Pak dokter, hati-hati ya. Aku mau minta anakan jenis Sphynx masih ada kan?"
"Masih Om, lekas tapi ya. Ke petshop saja atau nanti aku send pict. Om pilih mana, biar diantar kurir nanti ... atau kita ketemu di tempat latihan seperti biasa," ujar dokter muda seraya menjauh.
Reynan Lee mengangguk, seraya mengacungkan jemari membentuk isyarat Ok pada sang Dokter hewan.
__ADS_1
"Masih muda banget tapi karir sudah banyak dan mapan, memang jenius dia itu. Cocok sama Maira kayaknya. Eh tapi lebih muda dia deng." Reynan Lee lupa akan misinya, dia malah sibuk dengan pemikiran konyol tentang rencana comblangin mereka nanti.
Dari kejauhan.
"Uncleeeeeeee," Maira girang, berlari menyongsong Rey yang masih di ujung lorong.
"Hey bocah, bandel ya. Ayah nyuruh balik sekarang, Sayang ... untung aja kamu cantik, kalau gak, udah di unyel," tegur Rey kala Maira dan asistennya telah di hadapan.
Maira mundur selangkah.
"Gak boleh pegang yeeee, bukan mahram kata Ayah," seloroh Maira, saat Rey menggoda akan mencubit pipi keponakan angkatnya itu.
"Pulang ya Cantik, gak usah ke mana-mana lagi. Capek loh Maira, besok lagi latihan sama Uncle Rey, Ok?"
"Besok pergi sama Ayah, ke markas. Mau ada misi kan untuk acara uwa Abyan, nikahin Mbak Fatima. Kata Bunda, aku boleh ikutan kali ini."
"Gak boleh, kamu kan keluarga inti, Sayang. Uncle Rey yang pegang keamanan nanti," ujar Rey, menjulurkan tangan untuk membawa ransel Maira, namun ditolak gadis itu.
Ketiganya lalu melanjutkan langkah menuju parkiran.
"Uncle juga deh, gak bisa jadi komando karena kan cicit angkat Uyut."
Rey mengabaikan ocehan sang keponakan. Dia lalu mengajukan pertanyaan iseng hanya untuk melihat respon Maira.
"Maira, mau nikah muda gak? dengan seorang pria muda nan jenius? dokter hewan," ujar Rey, jemarinya menekan remote mobil. Biip. Biip.
"Kalau nikah muda, hmm asal gak larang hobi aku aja. Kalau masalah laskar, aku bisa di balik layar macam Ayah. Dia harus tahu dunia aku pokoknya," Maira mengutarakan keinginannya.
"Cocok. Nanti Uncle kenalin, mau gak?"
"Ya kenalan sih boleh aja. Ayah gak melarang nambah pertemanan ko," balas putri Mahendra seraya masuk kedalam mobilnya.
"Pulang ya, Uncle kawal nih," ujar Rey diangguki Maira. Kemudian mereka berlalu meninggalkan tempat latihan.
"Misi baru, di mulai. Bang, balas budi aku mengawal jodoh terbaik buat Maira ... jika Abang tahu siapa orang tuanya, aku yakin pilihan Abang juga akan sama denganku," gumam Rey dengan senyum mengembang.
.
.
__ADS_1
...______________________...