
Gerimis mulai turun saat Fayyadh masih harus menempuh lima kilometer sisa perjalanan pulang. Driver ojek online menawarkan penumpangnya untuk mengenakan jas hujan namun Fayyadh tolak halus.
Dua puluh menit kemudian.
Cicit Kusuma meminta berhenti tepat di depan gerbang kayu jati yang menjulang tinggi milik Joglo Ageng. Suara bising knalpot motor membuat security mengintip dari balik celah pintu lalu membukakan bagian kecil dari panel pagar untuk Fayyadh seraya menunduk hormat, membuat kang ojek terpana.
"Ya Allah, maafin Mas. Gak sopan saya sama Njenengan. Pantesan dari depan komplek kok bisa lewat mulus sampai sini," ujarnya tak enak hati, pakaian keluarga Kusuma yang masyhur basah karenanya.
"Gak apa. Makasih banyak Kang," balas Fayyadh menepuk lengan driver ojek sebelum melangkah masuk ke Joglo Ageng.
"Siapa didalam Pak?" tanya Fayyadh pada satpam tadi.
"Gak tahu Den Mas, cari ribut sejak tadi tapi sudah di tahan sama Pak Kusno dan putranya," jawab satpam.
Fayyadh terus melangkah masuk ke dalam menuju pendopo di mana tamunya menunggu.
"Assalamu'alaikum."
"Ini nih, si-alan Lo!!" hardik seorang pria saat melihat kedatangan Fayyadh. Dia pun bangkit menyongsong sang Kusuma muda.
"Wa'alaikumsalam. Mobilnya mana Mas, kok jalan kaki?" tanya Abah kala Fayyadh menghampiri meminta salim, mengabaikan teriakan tamu pria itu.
"Nanti aku ceritain, Bah."
"Apa maksud Lo tadi," seru Richard, menarik bahu Fayyadh kasar agar menghadapnya.
Lelaki Kusuma itu pun tak suka diperlakukan kasar, Fayyadh menepis telapak tangan Richard.
"Heh, jawab salam dulu. Gak sopan!" Fayyadh menghempas kasar.
"Lo rusak urusan gue! kamu sembunyikan dimana FIORA!" bentak Richard, tangannya hendak meraih kerah baju Fayyadh namun dihalangi oleh Kuntara, putra Kusno.
"Harap sopan, Tuan Muda Nixon! Anda tengah bertamu di kediaman kami," cegah Kuntara lagi.
"Silakan duduk Tuan Muda, kita selesaikan baik-baik. Apa yang telah diperbuat cucuku terhadap Anda? sehingga murka seperti ini, membawa serta ajudan juga lawyer," tegur Abah membuka obrolan serius.
Kuntara menyilakan Fayyadh duduk di samping Wisesa sementara ayahnya menengahi mereka. Pria muda keturunan Kusno lalu menyiapkan semua alat perekam rahasia untuk mengabadikan moment ini tanpa para tamu ketahui.
"Kalian cari masalah dengan Kusuma sama saja masuk kandang macan. Semoga Den Mas tidak melakukan suatu pelanggaran norma," batin Kuntara.
Obrolan itu dimulai oleh Richard yang menuduh Fayyadh telah melanggar privasi juga memicu keributan di ruang publik sehingga nama baik dirinya tercemar.
"Siapa mencemarkan nama baik kamu? bukankah sebaliknya? tindakan tadi itu bisa memicu gugatan kriminal terhadap apa yang akan dilakukan pada Fio?" bantah Fayyadh atas tuduhan Richard.
__ADS_1
"Itu urusanku, kami melakukan itu atas dasar suka sama suka. Apa urusanmu, lagipula dia tunanganku!" sentak Richard lagi.
"Oh ya? apa yang dinamakan suka sama suka harus membuatnya teler? dan ketika aku menemukannya, Fio dalam keadaan tidak sadar. Bukankah kau ingin mengambil kesempatan itu?" balas Fayyadh lagi.
"Kang, tahu kan maksudku?" Cicit Danarhadi menoleh ke arah Kuntara.
Pemuda itu paham, dia lalu meminta seseorang menyelidiki kemana saja tempat yang disinggahi oleh majikannya. "Nggih, Den Mas."
"FU-CKKK!!"
Asisten Richard mencegah sang tuan muda ketika hendak menyerang Fayyadh yang duduk di hadapannya.
"Pergi! Fio tidak disini, entah dia dibawa kemana tadi. Seharusnya kamu meminta maaf pada Tuan Glenn, bukan malah kesini, bodoh ... Tuan muda, ada saatnya tupai yang pandai melompat jatuh ke bumi," sindir Fayyadh tepat menohok Richard.
Akhirnya perdebatan itu di hentikan Abah. Namun lawyer Nixon meminta Fayyadh harus mengganti rugi apa yang majikannya derita, materil dan immateril.
"Kalian ini lucu. Kerugian apa? tidak bisa merenggut kesucian Fiora atau bagaimana? Immateril dalam segi nama baik? Anda salah sasaran ... cucuku tidak menyebarkan apapun, lagipula situasi lorong kamar juga lengang. Siapa yang mempunyai sumber valid jika bukan pihak terkait? silakan usut lebih jauh, kurasa Nixon berisi orang-orang mumpuni untuk hal demikian," tegas Abah mematahkan argumentasi lawyer.
"Jika cucuku bersalah, itupun hanya karena kontak fisik terhadap beliau. Selain itu berhubungan dengan pihak Hotel, sebab pengrusakan fasilitas yang mereka miliki. Anda mau menuntut? silakan ... tetapi kamu juga meminta hasil visum fisik Tuan muda, bagaimana?" tantang Abah. Sekilas melihat bahwa wajah Richard juga tidak cedera, bahkan tak nampak ada bekas pukulan Fayyadh disana.
Merasa tak mendapatkan apa yang dia mau, meskipun sudah mengintimidasi Kusuma akhirnya Nixon pergi meninggalkan Joglo Ageng.
"Awas kamu, kita belum impas!" tatap tajam Richard untuk Fayyadh.
Setelah kepergian mereka, semua penghuni kembali membubarkan diri. Hanya tersisa Fayyadh dan Abah disana.
Lelaki sepuh berusia lebih dari setengah abad itu membuka percakapan dengan sang cucu. "Monggo Raden Mas Althafaris Fayyadh bin Amirzain Zaidi, ceritakan secara utuh semua peristiwa hari ini," ujar Abah menyilakan cucunya.
Fayyadh sadar, jika namanya disebut secara lengkap oleh Abah, maka dia telah melakukan satu kesalahan dan wajib mengklarifikasi. Ajaran ini pun diterapkan oleh sang Abi.
"Bismillahirrahmanirrahim." Fayyadh memulai kisah sejak dirinya keluar dari Joglo Ageng menuju cafe. Disanalah ia bertemu pasangan itu dan mendengar suatu percakapan namun tidak diinginkan salah satunya. Juga kecurigaan terhadap Richard yang memasukkan sesuatu dalam minuman Fio dengan bantuan waiter saat Fayyadh memergoki aksi mereka.
Kecurigaan itu lalu membawanya ke Hotel tempat kejadian yang hampir merenggut kehormatan Fiora. Hingga tibalah pengiriman file dan berakhir ke sebuah Masjid.
"Abah, maafin aku. Freednya ditabrak orang saat aku parkir di Masjid buat sholat ashar tadi. Wanita bercadar tapi kayaknya masih belajar, dia salah atau panik lah intinya gitu. Jadi gadis itu membawa mobil kita untuk diperbaiki ... nah, ini kartu nama orang yang nabraknya," Fayyadh setengah berdiri, meraih dompet di saku celana belakang dan mengeluarkan name card pelaku penabrakan tadi.
"Kagok ya dia. Ya sudah gak apa kalau tanggung jawab sih Mas ... astaghfirullah, Arundati? Tara, Dek," Abah terkejut saat melihat kartu nama yang dia raih dari tangan Fayyadh. Beliau pun memanggil Kuntara.
"Nggih Ndoro, pripun?" ujar Tara saat telah hadir di hadapan Wisesa.
"Ini punten nanti besok kamu ke kediaman Pak WaBup, ambil mobilku. Jangan sampai dia antarkan kesini, gak enak," titah Abah.
"Lah, biarkan dia tanggung jawab sih Bah. Kan bukan salah kita, jangan hormat pada manusia berlebihan," tegur Fayyadh mengingatkan.
__ADS_1
"Bukan begitu Mas. Jangan urusan sama beliau lah, ini kalau Uyut tahu bisa berabe. Pokoknya kita menghindari sesuatu dan in sya Allah nanti kamu paham ... Dek, punten, tolong ya rahasiakan," Wisesa memberikan perintah pada Kuntara agar tetap melakukan niatnya. Juga mengingatkan Fayyadh supaya tak lagi berhubungan dengan keluarga beliau.
Kuntara mengangguk, lalu menarik diri dari kedua majikannya.
"Apa sih Bah. Dia anaknya? keliatan taat kok, kan pakai itu," bantah Fayyadh seraya memperagakan gerakan menutup wajah.
"Entah, sementara jaga jarak dulu, Mas. Istirahat sana, besok semoga semua urusan selesai. Bunga buat Nona Fio padahal sudah dikirim, kelanjutan acara itu gimana ya?" risau Abah memikirkan nasib pertunangan rekan bisnisnya.
"Gagal pasti. Tapi gak tahu sih, Fio kayaknya cinta mati sama breng-seekk itu," kesal Fayyadh.
"Ciye, mulai perhatian," timpal Abah atas kekesalan cucunya.
"Gak seiman Bah. Catat itu, gimana mau satu, Tuhan kita aja beda," balas Fayyadh seraya bangkit meninggalkan sang Kakek menuju bangunan utama Joglo Ageng.
...***...
(balik lagi, nyambungin dari bab 42, saat yang sama di dua kota berbeda.)
Orchid, Cibubur.
Shan menengadahkan telapak tangannya di udara, memanjatkan doa sebab dia telah selesai murajaah satu juz malam itu. Kisah Nabi Ibrahim betul-betul membuatnya belajar untuk ikhlas dan yakin bahwa ini akan berakhir indah.
Lelaki sholeh nan tampan itu mengira Maira yang tidur memunggungi dirinya telah lelap. Diusapkanlah telapak tangan kanan Shan ke kepala hingga turun ke bahu, lengan, tubuh sampai ujung kaki.
"Malam, Sayang. Kita mesraan di mimpi aja ya. Love you Ai and get well soon," bisik Shan mengecup pucuk kepala Maira.
Degh.
Degh.
Degh.
"Kenapa setiap perlakuan manisnya, membuat jantungku berdetak hebat namun sama sekali sosok Shan tidak muncul dalam ingatanku ya Robb."
Putri sulung Mahendra merasakan gerakan halus diatas tempat tidur. Shan menarik satu bantal kemudian membuka lemari untuk mengambil selimut. Indera pendengaran Maira mendeteksi langkah kaki yang perlahan menjauh dari ranjangnya.
"Maafkan aku, belum dapat mengingatmu," batin Maira.
.
.
..._______________________...
__ADS_1