ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 105. WE MEET AGAIN


__ADS_3

Weekend gadis cantik dihabiskan untuk berkutat dengan aktivitas barunya sebagai penjual minuman kekinian.


Malam hari saat semua pekerjaan telah dia selesaikan, jemarinya membuka medsos Akshita yang baru berumur satu hari. Melihat progres follower sebab seharian tadi dia mewajibkan pelanggan untuk memfollow akun Akshita untuk mendapatkan diskon potongan harga.


"Alhamdulillah, naik drastis dua hari ini dan ulasan mereka semua Oke," senyum Fiora mengembang sempurna.


"Lelah, karena semua dikerjakan sendiri tapi capek hilang berkat respon positif kalian, thankyou," lirihnya bahagia.


Jemari lentik itu membuka direct message di akun Akshita, beberapa pelanggan menanyakan pesanan untuk sebuah acara beserta dua varian kudapan yang diusung brandnya.


"Eh ini ada pesan balasan di postingan awal," gumam Fiora, membuka foto disana.


Monolid eyes itu mengembun, mengulas senyum, dia terharu. Kekehan disertai isakan tanpa sengaja terdengar, setelah membaca barisan kata yang diduga dari seseorang.


"Mas."


"Apa-apaan ini? jangan buat aku ngarep dan baper. Altha_FaFi, apakah Fi merupakan namaku?" ucapnya membaca nama akun yang digunakan Fayyadh, di sela antara isakan sedih dan senyum bahagia.


"Aku ingin kau pulang Sayang, aku merindukanmu ... itukan artinya? kau tahu, aku juga merindukanmu."


Fiora mendekap erat ponselnya. "Mas."


Gadis ayu itu terisak, dia akhirnya menyerah, meluruhkan tangis yang berbulan tertahan. Berani menyatakan rindu meski hanya mampu menyampaikan pada kalimat yang lelaki nan sholeh torehkan.


"Mas."


Fiora akshaya pemilik Floffy dan Akshita, menangisi semua kilas balik perjalanan dalam kesendirian yang dia pilih.


Kerinduan terhadap orang-orang tersayang, karyawan, hasil karya juga sang ayah membuat hatinya sakit.


Tangisan menjelang tengah malam dalam sebuah kamar kost menjadi obat bagi hati yang sesak dan raga nan dipaksa tegar. "Aku menyerah. Aku menyerah," lirihnya pilu.


"Jaga dia, jaga mereka ya Robb."


Jika Fio menghabiskan malam dengan menunaikan beberapa rokaat sholat sunnah dan dzikir, maka tak jauh berbeda apa yang dikerjakan oleh Fayyadh.


Keduanya seakan sepakat menyimpan rasa cinta dalam diam.


Dua bulan selanjutnya.


Seorang gadis muda berdiri mematung di depan pagar putih nan menjulang tinggi. Dengan jari sedikit bergetar, dia menekan panel interkom di salah satu tembok luar pagar.


Teeeeeet.


"Ya, selamat siang?"


"Siang, Pak, Papa ada?" tanya Fio.

__ADS_1


Hening.


Security itu seakan susah payah mengenali sosok wanita yang terpampang di layar. Namun dia merasa tidak asing dengan suaranya.


"Papa siapa?"


"Glenn Aldrich Tusakti, ayahku," ujar Fiora lagi.


Jeda.


Kosong.


"Halo, Pak?" Fio melambaikan tangan di depan kamera CCTV dan layar interkom.


"Non, No-na Fi-oo?" suara terbata di balik pagar.


Fiora mengangguk pelan, matanya terlihat menyipit. "Iya, aku."


"Astaghfirullah, maafin Non. Maaf, sebentar Bapak buka. Ya Allah, maaf ya Non," ucap satpam tanpa henti, hingga pintu pagar megah itu terbuka.


"Nonaaaaaaaaaaaa," Sindy berlari dari dalam begitu melihat sosok mungil berdiri didepan pagar dengan satpam yang tak henti membungkukkan badan meminta maaf atas ketidakpekaannya mengenali sang majikan.


Brugh.


Sindy mendekap erat tubuh majikan mudanya, seraya menangis. "Sa-saya tahu dimana tempat tinggal Nona, ingin datang ke sana tapi takut ketahuan Tuan besar juga kepengen cobain kopi Akshita yang lagi booming namun isyarat Nona tak ingin didekati menahan saya," tutur Sindy panjang.


"Iya, gak apa. Sudah, sudah. Papa ada?" Fio mengurai pelukan seraya menghapus air mata Sindy.


"Non, jangan pergi lagi," sambung security yang turut murung.


Fiora hanya mengangguk samar, hatinya pun tercubit. Dia lalu memberanikan diri melangkah masuk ke hunian utama ditemani Sindy.


Putri Georgia akhirnya menjejakkan kaki kembali diteras luas yang masih dihiasi dua pot besar tanaman aglonema peninggalan sang Bunda, melewati pintu utama lalu berbelok ke arah kanan.


"Saya tunggu di ruang keluarga ya, Nona. Teriak saja bila Tuan besar mengamuk nanti," kekeh Sindy menggenggam erat jemari Fio sebelum meninggalkannya.


Kakak kandung Febian, berdiri mematung di depan ruang kerja sang ayah. Jantungnya berdetak lebih kencang bagai genderang mau perang, persis penggalan bait lagu Dewa 19.


Tok. Tok.


"Masuk." Suara berat terdengar dari dalam.


Fio menekan pelan ke arah bawah, handle pintu stainless itu. Perlahan lempeng kayu pun terbuka.


Sesaat kedua pasang mata bersitatap. Keduanya pun membeku ditempatnya. Tak percaya pada penglihatan satu sama lain.


"Hai Pa-aaaa," sapa Fio terbata.

__ADS_1


Lelaki senja masih bergeming, meski tak dia pungkiri mengenal suara itu, merindu sapaan lembutnya setiap pagi namun penampilan sang anak gadis kali ini tetap menoreh luka di hati.


"F-fio?"


Susah payah Fiora menggerakkan lehernya agar mengangguk, kekakuan masih sangat menguasai raga sehingga hanya isyarat kelopak mata yang dapat dia suguhkan, seiring jatuhnya bulir bening mengalir dari ujung netra.


"S-sini, N-nak ... Pa-paa, Pa-ppaa ka-kang-eeen F-fioo," ucap Glenn, dia bangkit dari kursi kebesaran.


Tangan lelaki tua itu menyusuri meja, agar dapat menopang tubuh yang bergetar ingin menyambut sang putri kandung.


Fiora masih terdiam diambang pintu, otaknya memerintahkan agar kaki melangkah namun seakan keduanya berat dibanduli batu.


"F-fioo rin-duuu, Pappaaa," balas Fio tak kalah haru, hatinya panas, sesak, bronkusnya kekurangan oksigen sehingga dada gadis itu bergemuruh turun naik kentara.


Glenn berhasil berdiri bersandar di mejanya, kedua lengan itu terbuka, siap menyambut pelukan Fiora.


"Papaaa," putri Georgia, akhirnya mampu memberai ikatan rantai kekakuan di kakinya. Dia berjalan lambat menyongsong uluran lengan yang lama dia rindu.


"Sini Nak, Fiora Akshaya," balas Glenn terisak.


Jarak pendek namun seakan jauh membentang, membuat moment perjumpaan keduanya kian dramatis.


Fio berlari kecil menuju sang ayah. "Paaaa."


Grepp. Keduanya saling memeluk.


"Fio, Fio-ku, putri-ku."


"Pa, maafin Fio. Maaf," isakan Fio kentara dalam pelukan hangat yang dia rindu.


Glenn tak sanggup berkata, dia hanya mengangguk samar, memeluk, menciumi pucuk kepala sang putri yang dia dekap erat seakan tak ingin lagi kehilangan.


"Fio-ku. Thank God," bisik Glenn mengucap syukur.


Lama keduanya di posisi demikian hingga mengurungkan langkah Aldo untuk masuk kedalam ruangan. Sindy yang mendengar kedua majikannya saling melepas rindu disertai tangisan, tak pantas membuat air matanya surut.


"Alhamdulillah, yolo, Do. Alhamdulillah, yolo," ujarnya seraya menepuk lengan Aldo berkali-kali hingga membuat pemuda itu meringis, namun tak kuasa menghalau tindakan Sindy.


Aldo lalu menutup pintu ruang kerja sang pimpinan lembaga pendidikan itu, agar keduanya leluasa mencurahkan rasa rindu.


"Jangan lagi terberai, semua pada akhirnya terluka. Tiada tempat seindah rumah, apapun isi penghuninya, pasti selalu mampu membuatmu pulang."


.


.


.

__ADS_1


..._________________________...


...Allahumma barik lana fi rajaba wa sya'bana wa ballighna romadhon wa hashshil maqoshidana, bi rohmatika ya arhamar rohimin. ...


__ADS_2