
Saat CR-V silver itu memasuki pelataran lobby rumah sakit, Dewiq telah menyambut kedatangan keponakannya di parking area VVIP. Pasangan Guna berada di mobil Toyota Voxy, tepat di belakang kendaraan yang Shan kemudikan, mengikuti arahan parkir valley atas instruksi Dewiq. Wakil Direktur itu menunggu di pintu masuk aula rumkit.
Mahendra menghampiri mobil Shan, saat menantunya itu menyiapkan kursi roda bagi Maira.
"Biar aku, Yah," cegah Shan saat Mahen hendak membopong putrinya.
"Sama Ayah," rengek Maira tetap meminta Mahen yang membantu dirinya.
"Izinkan aku, mungkin tak lama lagi waktu untuk selalu dapat bersamamu kan, Sayang," bisik Shan, jua menatap sendu.
Keduanya terdiam sesaat, lalu Maira mengizinkan dia untuk membantu. Pria berpostur tegap itu mengalungkan lengan Maira ke pundaknya lalu tangan kanan Shan meraih tubuh sang istri, menyelipkan lengan kiri ke bawah lutut. Perlahan menantu keluarga Guna, menarik tubuh semampai itu menjauh dari mobil.
"Wangi banget suamiku, segar tapi lembut." Maira membatin saat mereka bersentuhan secara fisik.
Kini, Shan harus memastikan bahwa posisi duduk Maira telah aman sebelum dia mendorong kursi roda menuju lobby dimana tante mereka telah menunggu.
"Bisa Shan?" tanya Mahen melihat menantunya sigap.
"Alhamdulillah, Yah."
Naya sudah bergabung dengan Dewiq saat Mahen dan Shan juga si pasien tiba di lobby. Tanpa banyak kata, Dewiq meminta rombongan keluarga Mahen untuk menaiki lift ke lantai tiga dimana ruangan tindakan bagi Maira telah disiapkan team dokter.
"Langsung yuk karena bakalan sampai siang, sudah siap kan Maira?" ajak Dewiq sekaligus bertanya kesiapan mental sang keponakan.
"In sya Allah, Tante," ucap Maira.
"Tumben, biasanya kamu manggil Onty sama aku," seloroh Dewiq belum menyadari kejanggalan yang terjadi pada Maira.
Ting. Lift khusus petinggi Hermana, terbuka. Mereka pun masuk ke dalam kotak besi yang akan membawa ke ruangan.
Dua menit kemudian. Pintu lift kembali membuka.
"This way, Dokter Dewiq," suster wanita telah menunggu kedatangan mereka.
Satu persatu anggota keluarga Guna memasuki ruangan yang serba putih dengan bau khas desinfektan. Namun sejurus tersamarkan oleh parfum ruangan beraroma jeruk yang baru saja diganti oleh petugas.
Si bintang pasien, dibantu Shan saat dokter mulai memeriksa. Lelaki tampan dengan outfit kemeja lengan panjang berwarna navy dipadu trouser semi formal, tampak tenang, cekatan hingga menambah kesan maskulin siapapun yang melihatnya.
"Mantuku ajib," bisik Naya di telinga Mahen yang duduk disampingnya.
"He em, kalem tapi gesit dan gak banyak cakap," lirih Mahen membalas kalimat Naya.
Dua jam berlalu.
Dewiq melihat ke arah Naya, tatapan matanya seakan mengatakan bahwa, apakah Maira kehilangan ingatan parsial, melihat test kognitif baru saja usai dilakukan. Naya mengangguk samar hingga wanita yang berdiri tak jauh dari dirinya menutup mulut rasa tak percaya.
__ADS_1
Berdasarkan test pertama, pemeriksaan fisik dan kognitif. Dewiq lalu meminta agar dilakukan test diagnostic, CT Scan, MRI, tes darah, tes neurologis, dan EEG.
Sang Wakil direktur Hermana Internasional Hospitals, meminta Shan mendampingi Maira saat dilakukan rangkaian test kedua sebelum kesimpulan diagnosa sementara muncul.
Banyaknya pemeriksaan yang dilakukan Maira membuat waktu bergulir dengan cepat. Keluarga Guna kini tengah berada di ruang perawatan sementara meminimalisir fisik princess Kusuma agar tidak kelelahan.
Berbagai makanan jamuan yang disiapkan oleh Dewiq membuat mereka tidak perlu bersusah payah menuju cafetaria sekedar untuk mengisi kosongnya lambung.
"Makan yuk, temani aku sejenak. Nanti ku tinggal bentar ya sekitar tiga puluh menit lepas ini, sebab visit rutin," ujar sang Dokter cantik.
"Iya gak apa Wiq, kita malah repotin. Semua pakai fasilitas ninja begini, ekspres dan ajib," sahut Naya, sekalian mengucapkan banyak teirma kasih atas perlakuan istimewa terhadap mereka.
"Apa sih, kalian keluargaku. Papa kan sudah gak Dinas setiap hari, jadi ini termasuk permintaan beliau," ujarnya lagi.
Satu jam kemudian, waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Pemeriksaan Maira ternyata lebih lama dari yang diduga.
Setelah kepergian Dewiq, dua orang dokter masuk ke dalam ruang perawatan mereka. "Mohon maaf, siapa wali Nona Maira? " tanya dokter wanita paruh baya.
"Aku, El Shan," ucap Shan.
Degh.
"El, dia El? suara yang menyebut namanya El, itu juga Shan?"
"Baik, Tuan El Shan. Kami akan membacakan hasil sementara terhadap test awal tadi," imbuh sang dokter lagi.
"Bismillah, kami siap mendengarkan," sahut Shan.
"Menilik riwayat pasien sebelumnya, kami menyimpulkan sementara bahwa Nona Maira kehilangan ingatan, terdiri dari kejadian atau pengalaman di masa lalu yang tersimpan di memori jangka pendek dan jangka panjang."
"Amnesia terbagi menjadi dua, reterograde (sulit mengingat kenangan atau kejadian masa lampau) dan anterograde (sulit mengingat ingatan atau kejadian baru). Penyebabnya seringkali karena trauma pada kepala, seperti yang pernah dialami pasien."
"Kecurigaan lain bilamana terjadi amnesia adalah pengaruh obat obatan yang bisa mempengaruhi kinerja otak pasien. Sehingga memungkinkan mengalami keterlambatan dalam proses mengingat sesuatu. Perlu diketahui bahwa benturan saat trauma terjadi dapat mempengaruhi fungsi memori di otak baik bersifat sementara maupun secara permanen," tutur dokter masih menjelaskan.
"Pulihnya kesadaran seseorang dari koma biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan bertahap. Ada sebagian dari penderita koma dapat sembuh total tanpa mengalami gangguan atau cacat sedikitpun. Pada kasus yang terjadi pada pasien, kemungkinan besar mengalami penurunan fungsi mengingat," terang Dokter paruh baya melanjutkan diagnosanya.
"Apakah ingatan itu dapat kembali seperti sediakala, Dok?" tanya Shan, menjeda penjelasan tenaga medis.
"Belum ada obat yang menjamin ingatan dapat pulih dengan cepat, namun suplemen bisa membantu meningkatkan daya ingat," kali ini Dokter wanita satunya yang menjawab pertanyaan Shan.
"Cara kedua dapat dilakukan terapi, Tuan El Shan," lanjut beliau lagi.
"Apa saja?"
"Terapi Okupasi, menggunakan ingatan yang ada atau masih tersimpan untuk menggali informasi baru. Disertai terapi kognitif, memfokuskan pada perubahan pola pikir, perasaan, dan perilaku. Juga peran keluarga agar dapat intens merangsang memory pasien," tegas sang dokter.
__ADS_1
"Berarti tidak dapat dipastikan kapan Maira sembuh total dan pulih ingatannya ya, Dok?" Naya ikut menimpali, dia juga ingin mengetahui sepanjang apa perjuangan yang akan Shan lalui nanti.
"Betul, tergantung dari tingkat keparahan pasien. Meskipun demikian bukan berarti tidak dapat sembuh atau ingatan pulih kembali. Semakin ringan amnesia yang dialami, maka peluang normal juga akan tinggi. Jadi optimis dan semangat selalu ya," tandas dokter paruh baya, memberi support positif bagi keluarga Guna.
"Peran orang terdekat juga keluarga sangat penting. Juga rutin kontrol dan konsultasi dengan tenaga medis akan dapat membantu semua proses ini. Ada yang ingin di tanyakan kembali?" tanya dokter muda, bertepatan saat Dewiq bergabung dengan mereka.
"Insya Allah aku paham," jawab Shan lugas.
Kedua dokter pun pamit setelah memberikan beberapa resep suplemen untuk Maira. Dewiq lalu duduk di tengah keluarga jauhnya itu.
"Maira secara fisik tiada perubahan berarti, semua yang dia katakan, dan lakukan nanti harus dalam pengawasan ya Shan. Kamu save nomer Onty agar kita mudah koordinasi. Aku akan terus memantau perkembangan keponakanku," ucap Dewiq menenangkan Shan juga Naya.
Sang princess hanya diam. Sibuk mencerna segala yang didengarnya. Ingatan itu berkelebat namun masih dalam bentuk bayangan hitam.
"Kepalaku suka sakit, kalau dipaksa mengingat terlalu gigih," keluh Maira, memberanikan bicara.
"Gak apa Sayang, jangan dipaksa ya," saran Dewiq, kemudian dia menunjukkan bagaimana cara meredam sakit hebat apabila muncul tiba-tiba.
Setelah info detail betul-betul telah mereka pahami, dan Shan bertukar nomer ponsel, akhirnya Maira diizinkan pulang oleh Dewiq.
Ba'da Ashar, keluarga Guna meninggalkan rumah sakit Hermana, kembali menuju Orchid.
Dalam perjalanan pulang, dimobil Shan. Maira membuka suara. "El itu kamu?"
"Iya. Kenapa?" tanya Shan.
"Dia ternyata yang sering membangunkan aku, tapi mengapa wajahnya tidak sepertimu?" heran Maira, menelengkan kepalanya miring ke kiri, menatap Shan.
"Gak tampan apa gimana?" Shan mengulas senyum menawan diwajahnya.
"Ya tentulah gak tampan, wong wajahnya hitam tidak jelas terlihat," gerutu Maira.
Shan tertawa. "Lalu mengapa tadi mengatakan bahwa wajahnya tak mirip aku?" cecarnya lagi.
"Ya ku kira bukan."
"Apa kamu kecewa bila itu bukan aku, Sayang?" desak Shan, menoleh sekilas pada Ai-nya.
"Hmm, aku--"
.
.
...__________________________...
__ADS_1