ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 97. ARWA FEIYAZ


__ADS_3

"Shan, mana ya?" Fayyadh gusar takut kehilangan jejak kembali namun dia tak dapat banyak bergerak. Allen selalu mengajaknya berinteraksi.


Rombongan pria memasuki aula kediaman Bima, tempat dilakukan akad nikah. Terlihat Shan mengamati seksama semua korlap yang bertugas memandu para tamu kehormatan pihak Arundati. Lelaki muda itu sangat fokus dan nampak tenang disisi hadirin, seraya matanya memindai sekitar juga bergantian menatap layar tab yang dia gunakan.


"Emang sih, gue aja sedep liat dia itu, apalagi para gadis ... langgeng sama sepupu aku ya, Shan," doa Fayyadh lirih untuk brotie nya.


Tak lama tatapan keduanya bertemu. Shan paham arti pandangan Fayyadh. Dia menghampiri sang sepupu ipar.


"Ya, Mas?"


"Shan, gadis itu ada disini. Siapa namanya? ku lihat dia dengan Maira tadi?" bisik Fayyadh berdiri mensejajarkan diri di sisi kursinya.


"Done. Aku lupa minta pindai foto dari Ai. Nanti aku share ya, semalam juga feeling ku dia orang yang Mas cari, cuma kita belum fokus kesana. Selesaikan ini dulu ya, Mas," ujar Shan menenangkan Fayyadh.


"Oh Oke Oke, sorry ya Shan ganggu kerjaan, syukron," balas Fayyadh seraya duduk kembali ketika pemandu acara meminta hadirin tertib.


"Afwan Mas, santuy."


Shan lalu menepi, berkutat dengan earphone yang sepertinya tengah aktif. Jemari lelaki itu sigap menari diatas tab lalu berkoordinasi dengan ketiga korlap, entah apa yang akan dilakukan mereka.


Akad nikah berjalan lancar. Shan menghilang entah kemana, tak lagi dapat Fayyadh lihat. Iringan pengantin pria nampak menyambangi mempelai wanita. Suasana megah Aula masih terkendali.


Tiga puluh menit berikutnya.


Iringan kedua mempelai mulai keluar kediaman, bersiap kirab menuju lokasi resepsi di pondok As-shidqu sesuai kesepakatan mereka.


Fayyadh kembali melihat gadis itu bersama Maira.


"Oh, dia tugas dampingin keluarga Nyai rupanya," gumam Fayyadh riang sekaligus lega. Akses mencari tahu siapa dirinya akan jauh lebih mudah sebab dapat meminta bantuan Allen.


Tak lepas pandangan Fayyadh menelisik, ingin rasa hati melihat kedua mata itu lagi namun harapannya pupus. Dia kembali menghilang dengan Maira.


Saat iringan mulai memasuki jalan raya, masyarakat antusias menyambut kirab pernikahan putri pejabat serta putra tokoh masyarakat kota Solo.


Terlihat Shan di sisi istrinya, lalu sesaat kemudian berpisah lagi.


"Romantis ya, bisa kerja berdua. Ngerti bahasa isyarat sehingga gak perlu banyak bicara, sama kayak Maira dan gadis itu," Fayyadh bermonolog mengamati semua aktivitas para laskar juga terutama si wanita misterius.


Sepupunya berada di barisan ke empat bersama sepuh keraton juga sang Buyut. Maira menghampiri dengan kudanya. Berpura tak saling kenal sebab tengah menjalankan tugas. Fayyadh mendengar samar suara Shan.


"Baby, di depan aman?"


"Clear," jawab Maira, tegas di microphone. Namun tiba-tiba, kudanya dia pacu ke arah depan. Tak lama kemudian, laju kereta kirab, mulai melambat.


Kuda didepan mogok bergerak, kusir kebingungan atas kebiasaan diluar kendalinya. Maira turun dari atas kuda, ditemani Elma dia berjalan ke kereta utama.

__ADS_1


"Standby, all of crew." Suara Shan mengkomando di semua earphones laskar.


Fayyadh melihat laskar wanita nampak sigap, dalam posisi waspada. Apakah ini akan ada pertunjukan atau sesuatu.


Tak lama, gadis yang dia cari, melintas. Berbisik di earphones seperti milik Maira. "Ikuti arahan laskar, ikuti arahan laskar, standby, standby." Gerakan jemari yang tertutup sarung tangan hitam, jelas mencerminkan sebuah kode.


"Eh, suaranya?"


Suasana nampak tegang seketika. Drone mengudara ke beberapa titik. Sepuluh menit berlalu, kirab mulai berjalan kembali.


Maira berdiri disisi jalan, melihat iringan berjalan, disusul Shan menyisir semua sisi kereta yang digunakan.


Saat Fayyadh melintas, keduanya terlihat bersama, sang gadis incaran pun bergabung. Tak lama mereka bubar menempati posisi masing-masing hingga iringan memasuki pelataran pesantren, Fayyadh tak melihat satupun dari mereka.


"Sibuk Mas. Jangan di cari mulu," tegur buyutnya.


"Aku nyari seseorang, bukan Maira atau Shan," jawab Fayyadh.


"Oh dikira Uyut, kamu terpesona sama kerjaan mereka itu. Shan udah mirip paspampres soale," ujar Danarhadi lagi.


"He em mereka keren, Shan punya info penting buat aku. Rasanya gak sabar nunggu ini selesai," ucap Fayyadh lagi.


Jam sembilan malam. Shan dan Maira baru berjumpa lagi, pasangan muda ini undur diri pada kedua shohibul hajat sementara tugas inti selesai. Besok pagi akan pamit secara resmi dengan para korlap.


Joglo Ageng.


"Shan, gimana?" serbu Fayyadh, mengabaikan sepupu ayu yang melewatinya.


Pemuda yang masih terlihat tampan seperti pagi tadi, tersenyum. "Ada. Bentar, Mas," Shan meminta ponsel Maira. Istrinya telah melangkah jauh didepan.


"Baby, Ai. Mana ponselnya?" Shan mengejar Maira.


"Habis daya, Zie. Aku charge dulu dan send ke tab Zie ya," ujar Maira saat membuka pintu kamar.


"Gimana?"


"Habis daya, Kaaaaakkk. Sabar ngapa, aku dan Zieee mandi dulu," ujarnya lagi.


"Jiaaahh, nasib amat ya. Nunggu lama ini Mahya!"


"Ya udah kalau gak sabar, masuk dan tungguin tuh hape nya didepan meja. Kita mau mandi, ya kali mau liat live," sungut Maira kesal seraya berlalu, Fayyadh tak sabaran.


Shan hanya tertawa menimpali kalimat istrinya didepan sepupu ipar. "Mau masuk, Mas?" tawarnya.


"Dih, ogah amat ya," cebiknya namun tak beranjak dari depan pintu kamar pasangan Qavi.

__ADS_1


"Makanya kamu mbok sabar toh Mas. Mereka capek, kasih jeda waktu dulu," tegur Abah, menarik lengan Fayyadh menuju ruang keluarga.


"Shan, gih bersih-bersih lalu minum jahe anget yang sudah disiapkan uyut di meja makan ya. Ada oat panggang kenari juga disana, kesukaan Maira," imbuh Abah pada cucu mantunya.


"Nggih, syukron, Bah." Putra Dila lalu masuk ke kamar, bergabung dengan sang istri di bathroom, saling membantu meluruhkan peluh penyebab lelah.


Menjelang tengah malam.


Shan baru bergabung di ruang keluarga bersama Abah dan Fayyadh, sementara Maira kelelahan setelah aksi ugal-ugalan mereka dikamar.


"Astaghfirullah Pak, hampir tiga jam gue nunggu. Ngapain sih, heran. Mandi aja lama," kesal Fayyadh kala Shan menemuinya.


"Kamu gak bakalan paham, Mas. Mandinya pengantin baru itu lama, kan dua kali mandi ya Shan," gelak Abah seraya bangkit masuk ke kamarnya.


Shan hanya tersenyum simpul menanggapi godaan sang kakek. "Begitulah, Bah."


Kedua pria lalu bercengkrama disana, disuguhi wedang jahe oleh mban.


"Ini, Mas. record dia." Shan menyodorkan tab diatas meja.


Fayyadh memutar video saat gadis itu sibuk hilir mudik melayani keluarga inti.


"Dia khidmah kesayangan, bernama Arwa Feiyaz. Info tentang dirinya sulit ditembus, seakan Nyai melindungi gadis itu. Cerdas, lincah juga tak banyak bicara namun disegani para santri khidmah lain sebab tata krama juga banyak skill yang dia kuasai. Itulah alasan mengapa dia menjadi utusan penting bagi semua kepentingan Nyai," terang Shan.


"Ini, video dia saat main rebana juga sedikit cuplikan darbuka, ckck gak main-main ya pilihannya beginian," ujar Shan.


"Cakep kan, mata dia. Gue aja gak tahu, tiba-tiba muncul di mimpi dan konsisten hadir. Apa coba maksud semua itu, gak sengaja juga ketemu di Bandara dan anehnya seketika aku bisa mengenali," jujur Fayyadh lagi mengungkap gundah.


"Kode itu, tapi sayang...."


"Sayang gimana?" cecar Fayyadh.


"Dia sedang di ajukan pada putra Kyai dari gresik," ujar Shan lagi.


"Hah? gimana gimana?"


"Lagi jalani proses ta'aruf," jelas Shan.


Seketika Fayyadh lunglai, melepas tab Shan diatas meja.


.


.


...____________________________...

__ADS_1


...🤭 lemes bestie...


__ADS_2