ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 80. RAHASIA TERKUAK


__ADS_3

Sepanjang perjalanan dering ponselnya tak kunjung berhenti berbunyi sehingga membuat si gadis ayu tergesa memasuki hunian mewah Tusakti.


Asistennya mengatakan bahwa tuan besar menunggu Fio di kamar. Gadis itu juga berpesan nona muda agar hati-hati.


Fiora mulai berprasangka, hatinya ketar ketir kala menaiki puluhan anak tangga menuju lantai dua.


Betapa malang nasib Fio hari ini. Dia melihat pintu kamar terbuka lebar, nampak sosok sang ayah tengah berdiri di dalam ruangan, berkacak pinggang membelakangi. Matanya terbelalak kala melihat rahasia kecil itu terbongkar.


Glekk.


"Papa, ada apa ini?" suara lembut Fio bergetar menahan ketakutan.


"Kamu pikir sendiri. Pantaskah aku marah?" tegur Glenn, masih dengan nada datar.


"Aku hanya membaca, tidak mendalami. Apa masalahnya?" Fio berusaha mengelak seraya berjongkok membereskan semua kekacauan yang ayahnya perbuat.


Glenn diam, namun hembusan nafas pria itu mulai terdengar kasar. Seperti orang yang tengah menahan amarah.


Tusakti mulai geram. "Tata cara berwudhu dan sholat, belajar tajwid yang benar, pernikahan dalam islam, fiqh wanita. Anak si-alan! kau mengkhianatiku?" cecar Glenn, menghempaskan buku ke wajah sang putri, yang dia temukan tersembunyi di bawah kolong tempat tidur.


"Awh." Dahi Fiora terasa berdenyut nyeri akibat terkena ujung jilid buku nan tebal.


Pemilik Floffy Craft membola. Tiada daya upaya mengelak kini, namun dia tak pantang menyerah.


"Layaknya seseorang yang belajar berenang, itu bukan berarti akan langsung menjadi penyelam, Pa. Aku hanya penasaran saja mengapa ketika adzan orang-orang bergegas bahkan berlomba. Ya ku cari tahu lah," bantah Fio lagi. Dia menjaga intonasi suaranya agar tetap lembut terdengar.


"Cerdas tapi salah kaprah. Papa respect dengan gaya busana kamu kini Fiora, lebih santun namun tidak dengan apa yang kamu baca dan pelajari!" amuk Glenn, menendang tumpukan buku yang susah payah Fio rapikan.


Huft. Putri Georgia menghela nafas, menepuk dadanya pelan.


"Aku tidak akan mengkhianati Papa. Aku tetap anakmu, akan berbakti serta bertanggung jawab atas segala keputusan nanti. Apa kurangku selama ini?" ujar Fio menahan sesak.


"Fiora Akshaya sangat menyukai dunia seni namun aku mengikuti keinginan Papa untuk mengambil jurusan PR, bahkan hingga S2. Otakku dipaksa bekerja, berpikir cepat ... aku lupa jika diri ini masih remaja."


"Apa Papa pikir aku bahagia? iya, benar aku happy tapi hanya sebagai Fiora Akshaya, putri Glenn. Bukan Fio sesungguhnya ... mana teman-temanku? apakah aku sering kongkow? pernahkah aku ngeclub atau dr-ugs? tiada. Aku sibuk dengan dunia yang Papa ciptakan untukku," isak Fio, terduduk dilantai bersama bukunya.


"Hingga bertemu dengan Richard pun, Papa sudah mengaturnya bukan? dia disiapkan untuk menghiburku karena kehilangan Mama sejak beliau berpindah keyakinan. Misi Richard agar tetap menjagaku secara Rohani, namun prediksi Papa salah ... aku perlahan nyaman dan mencintai dia namun Papa juga yang memisahkan kami meski demi kebaikanku? kapan Papa lelah dengan semua kepuraan?" Fio menatap nanar sang ayah.


Jadi kau mengungkit?" wajah Glenn sudah merah padam, giginya mengetat tanda ia tengah menahan ledakan emosi.


"Tidak Pa. Aku masih bisa bernafas dengan semua tas-ku, dengan buku ku. Please, kali ini berilah kelonggaran seddiiikkkiiitt saja untuk mempelajari apa yang ku suka," tunduknya, tak kuasa menatap tatapan tajam sang ayah.


Putrinya mulai membangkang setelah mereka mengenal Kusuma. Ingin tidak peduli namun Fio adalah harapan keberlangsungan trah keluarga Tusakti. Tangan kekar itu mengepal, merasa gagal mengawasi anak gadisnya agar tak mengikuti jejak Georgia.


Glenn melihat Fiora sangat menyayangi berbagai judul buku religi, gadis belia itu memunguti lagi bahkan menangisi buku yang dia robek sebelum kedatangannya.


"Semua gara-gara Kusuma!"

__ADS_1


Fio menyalak, saat keluarga santun itu dituduh membawa dampak buruk. "Jangan salahkan orang lain. Cukup aku, Pa. Aku saja!" teriak Fio lantang. Dia tak lagi dapat menahan sabar.


"LEPASKAN SEMUA YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUSUMA!"


Sraaatt. Glenn melempar beberapa ikat uang ke arah Fiora.


Blugh.


"Bayar wan prestasi kerjasama! aku gak mau tahu!" tegasnya menatap nyalang pada putri kebanggan.


"Ini keyakinanku. Tidak berhubungan dengan Kusuma, Pa!" Fio berteriak lantang.


"Bukan salah mereka, Pa. INI GAK ADIL!" kesabaran Fiora diuji, dia berusaha berontak.


Glenn berbalik badan pergi, dia menahan diri agar tak melayangkan pukulan pada Fiora.


"PA! PAPA!" Fio menarik paksa lengan sang ayah, agar membawa tumpukan uang itu kembali.


"Lepas, Fio!"


Plakk. Tamparan mendarat di pipi mulus Fiora.


Putri Georgia terhuyung, hampir jatuh terduduk namun kakinya berhasil menjadi tumpuan tubuh sehingga dia tetap berdiri.


Monolid eyes gadis ayu bertumpuk cairan bening, menatap sendu sang ayah. Sudut bibirnya luka akibat kerasnya pukulan.


"FIORA, mau kemana kamu!"


"FIORA!" teriak Glenn, suara beratnya bergema ke penjuru rumah.


Gadis ayu itu terus melangkah, menuruni tangga tergesa. Dia mengabaikan panggilan para maid, security juga driver kala melewati mereka.


"Nona. Kami antar, Nona mau kemana?" driver menghadang langkah sang majikan meski nafasnya tersenggal akibat mengejar langkah panjang Fio.


"Ming-gir Pak, Fio mau ke Mama. Jangan bilang Papa ya," isaknya pilu.


"Bapak antar ya," bujuk driver.


"Gak usah. Fio ingin sendiri," ujarnya melenggang pergi begitu saja.


Driver tak habis pikir, dia meminta Sindy untuk mengikuti dari jarak jauh dengan sepeda motornya.


"Ya Allah, masih muda, pinter, mandiri tapi tetep aja gak sempurna hidupnya. Non Fio gak punya teman, sibuk sekolah padahal usia segitu biasanya lagi demen hura-hura. Nyonya Georgia kenapa mati muda sih, anaknya kasihan. Tuan besar terlalu keras," keluh driver juga security Tusakti.


Fiora berjalan menundukkan kepala, wajahnya sembab, sesekali air mata masih menetes di pipi nan mulus. Jari lentik itu lalu mengeluarkan ponsel dari tas yang masih menggantung dibadan sejak ia tiba tadi, dengan cepat memesan armada ojek online.


"Mas. Mas Fayyadh."

__ADS_1


Hanya nama Fayyadh yang terlintas dalam benak kini.


"Mama, aku harus bagaimana?" lirihnya menghapus sisa cairan bening di ujung netra.


Dua puluh menit berjalan, akhirnya gadis ayu pergi dengan ojol yang telah menunggu didepan gerbang komplek mewah sekitar kawasan kediaman Tusakti, menempuh perjalanan menuju taman pemakaman umum berjarak sepuluh kilometer dari tempatnya kini.


Kini, Putri Georgia menangis tersedu di sisi pusara sang Bunda. Tiada kata yang terlontar dari bibir manisnya. Hanya terdengar irama tangisan yang menyayat hati.


"Mas. Umma. Mas. Umma."


...***...


Saat yang sama.


Amir melihat istrinya termenung di depan manequin saat hendak fitting kain. "Rohi, kenapa? ngelamun daritadi," tegur sang suami.


"Hmm, eh, gak tahu kenapa. Kenapa ya? aku kenapa sih, Bii?" tanya Aiswa bingung.


"Hm, kelakuan. Fayyadh tuh calling," ujar Amir sembari menunjuk pada ponsel yang berdering diatas meja.


Aiswa lalu meraih ponsel dari meja, tak jauh dari posisi ia berdiri. "Halo, Mas Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Umma, Zaynah pakai niqab atau gak?"


"Kenapa?"


"Gak apa, aku cuma nanya. Kan disini gak ada foto jelasnya," ujar Fayyadh lagi.


"Sepertinya tidak. Tapi kalau ada acara besar dan jama'ah umum yang datang. Njid bilang, keluarga Yai Zainal akan memakai tabir atau niqab langsung," tegas Aiswa lagi.


"Gitu ya. Umma tahu kabar Fio?"


"Baik, tapi udah lama gak kontak sih. Terakhir hanya ngobrol bisnis aja. Kenapa, kangen?" pancing Aiswa.


"Gak tahu kenapa. Cuma pengen nanya dia aja, semoga dalam keadaan baik."


Panggilan singkat diakhiri Aiswa sebab dirinya harus menerima panggilan dari client.


"Mataku melihat Zaynah namun hatiku memikirkanmu."


"Fio, gimana kabarnya ya anak itu. Setelah ini, aku coba call dia deh."


.


.


...________________________...

__ADS_1


__ADS_2