
Setelah kepergian mereka, Shan berbaring di sisi Maira. Melepaskan penat yang tak terlihat netra.
Huft. Nafasnya lega.
Memandang langit-langit kamar Maira, netra putra sulung Dilara datar memendar. Jika keinginan agar Maira kembali terlalu tinggi maka berada di sisinya, sudah cukup membuat bahagia.
"Ma ajmala ya Habibatii, kam ana sa'idun bi khudurik."
(Sungguh indah parasmu, dan aku bersyukur atas kehadiranmu.)
"Al uyuun tansa man taro, walaakinna al qolbu laa tansa man tuhibb." Shan menoleh ke samping kiri, lalu mencium pipi istrinya.
(Mata akan lupa siapa yang ia lihat. Akan tetapi hati tidak akan lupa siapa yang ia cinta.)
Pekan ini Shan merasakan kondisi tubuhnya tidak fit seperti biasa. Banyak pekerjaan menumpuk sekaligus aksi mendadak menikah membuat konsentrasi yang dia butuhkan untuk menyelesaikan semua itu meningkat dua kali lipat.
"Wisuda S2 ku masih dua bulan lagi, ku harap saat itu kamu sudah dapat menemaniku pergi ya, Ai."
"Jadwal celebrate kita cuma selisih satu pekan, Sayang. Sekalian honeymoon, kamu pilih kota mana yang akan kita kunjungi nanti, one month keliling Eropa kayaknya cukup buat mengenal kamu lebih dekat."
Hening.
Ada perasaan asing merayap dalam hatinya. Shan, kembali menoleh ke arah Maira.
"Ai, andai semua ini tak menjadi lebih baik. Aku akan tetap berjuang di sisimu, entah engkau bersedia atau tidak ... jangan pernah lepaskan genggaman kita ya, niatku menikah bukan lagi untuk fokus meraih perkara dunia. Maka tentulah Allah akan mendatangkan ujian, entah nikmat baik atau sebaliknya.
"Aku gelisah. Kamu ingat kan dengan El? meskipun pertemuan kita singkat tapi Mahya Humaira membekas di ingatan. Berharap kau pun begitu ... namun andai engkau lupa, aku akan terus mengulangi kisah kita, membuat hal indah bersama sehingga diriku akan tetap ada dalam setiap memory mu, masa kini, lalu dan nanti."
Ada rasa sesak yang menghimpit dada Putra Sulung Ezra sore itu. Hatinya diliputi kecemasan mendalam. Shan bagai kehilangan separuh jiwa padahal belum satu pekan dirinya menikahi Maira.
"Jagalah cinta kami ya Robb, teguhkan hati untuk sentiasa bersyukur terhadap apapun ketentuan-Mu. Diri ini akan terus bersabar hingga kesabaran itu menyerah padaku ... beri petunjuk, harus bagaimana membujuk-Mu ya Robb? agar kekasihku kembali."
"Aku bukanlah Nabi Adam yang sanggup menanggung ratusan tahun merindu. Kangen Ahya-ku, Allah, aku kangen dia." Shan menggeser posisi tubuhnya, miring ke kiri memeluk Maira.
Bulir bening pun lolos dari sudut netra meski kelopaknya menutup. Penghujung hari dilalui Shan hanya membasahi lisan dengan sholawat. Tiada doa yang paling indah selain hadiah untuk Kekasih Allah. Mengharap syafa'at agar dimudahkan segala urusan.
Hingga malam menjelang, menantu keluarga Guna tak menampakkan diri di luar ruangan membuat Naya cemas. Berkali pintu kamar putrinya ia ketuk namun tidak ada respon apapun dari dalam sana.
Shan merasakan suhu tubuh meninggi, memilih menghindari Maira sementara, tidak ingin menularkan sakitnya. Dia lalu duduk di sudut sofa kamar itu, bergeming tak mengindahkan panggilan sang mertua. Tujuannya satu, enggan merepotkan seisi rumah.
"Bunda," keluh Kakak ipar Ajmi. Ingin mendengar suara Dila namun ponselnya tergeletak di atas meja nakas samping ranjang. Dia malas beranjak, tubuh melemas, kepala didera sakit hebat. Shan pasrah.
"Ai, tolong."
"Ai, bangun, sini. Bantu aku ambilkan pereda nyeri, sakit banget Sayang," lirih Shan menyebut nama Maira.
"Bunda," gumam Shan lagi. Dia akhirnya menahan semua sendiri, tubuh sakit itu dipaksa rileks semampu yang ia bisa. Menantu Naya, tertidur meringkuk di sofa tanpa selimut.
Menjelang dini hari.
Hosh.
"Engghh."
__ADS_1
Suara lirih halus terdengar dari pemilik bibir pucat yang terbaring di atas ranjang. Beberapa kali gerakan halus jemarinya mulai intens terlihat. Shan tak menyaksikan detik demi detik moment berharga nan sangat dia tunggu. Lelaki tampan itu sedang menanggung sakit seorang diri di ujung sofa.
Dalam bawah sadarnya, gadis bernama Maira sedang bertarung dengan suara yang mencegah dia bangkit.
"Tidak ada yang menantimu di sana, Maira."
"Semua abai terhadapmu."
"Kamu penyebab rekan laskar meninggal."
"Dengan wajah mana kau menghadapi teman dan guru mu, Mahya?"
"Sakitmu belum sembuh betul."
"Ayahmu sakit dan menanggung malu karenamu."
"Enggak ... tidak, bukan!" Maira tengah menghalau mimpi buruknya.
Malam panjang bagi kedua insan yang berada dalam satu ruang namun berjuang dengan sakit masing-masing.
Pukul 04.00.
Shan terjaga, jam biologis telah membuatnya kembali menapak bumi. Masih dia rasakan sakit bagai semalam. Kepala kian berdenyut hebat, bulu kuduk pun ikut meremang merasakan suhu dari pendingin ruangan.
Suami Maira, mencoba bangkit hendak menuju bathroom untuk berwudhu dan bersiap sholat subuh.
Pertama-tama bangun, ia terhuyung dan memilih duduk sejenak. Tangan kirinya terangkat memegang kepala, memijat pelipis pelan disana berharap sakit itu sedikit sirna.
Kedua kali, perlahan Shan mencoba bangkit dengan memegang sandaran sofa. Kaki panjang itu ia angkat melangkah, menggesekkan sandal rumah di lantai. Kedua tangan kekar El Shan mencari tumpuan agar dapat merambat layaknya anak kecil yang sedang belajar jalan. Langkahnya tertatih namun berkat kesabaran, Shan berhasil mencapai pintu bathroom.
Tak ingin berlama di ruangan itu sebab tubuhnya kembali menggigil, Shan terburu keluar dari sana.
"Argh." Pekiknya tertahan, karena gerakan tiba-tiba tadi membuat denyutan di kepala kian hebat.
"Aaaaiiii, Sayaaang, tolong aku!" teriak Shan dari balik pintu. Dia memegang erat handle hingga buku jari memutih, berusaha menahan bobot tubuhnya disana agar tak rubuh.
"A-Ahya! Sayaaaang, aku gak kuat!" lagi, Shan berharap Maira bangun mendengar teriakannya.
Jeda. Hosh. Hosh.
Deru nafas pemuda tampan memburu. Dia tahu, sia-sia memanggil pujaan hati. Dengan tenaga tersisa, perlahan handle pintu bathroom ia buka lalu kakinya kembali di langkahkan.
"Eengghhh." Maira mengeluarkan suara lirih. Kepala wanita muda itu mulai bergerak pelan ke kanan dan kiri.
Sementara di ujung sana.
Karena licin dan pijakan kaki belum sempurna menapak lantai, tubuh kekar itu gontai. Tangannya berusaha menggapai buffet table di dekat pintu kamar mandi namun nahas, jarak antara tubuh dan almari itu masih tersisa satu jengkal. Shan hanya berhasil meraih vas bunga diatas meja itu.
Prangg. Suara benda pecah dan jatuh.
Bruugh. Shan ambruk, kepalanya membentur lantai. Tubuh tegap itu seketika diam tak bergeming diatas pecahan kaca vas bunga.
"Bundaaaaaaa!" Suara Maira, dia berteriak memanggil Naya, seiring terkulainya Shan disana.
__ADS_1
Hosh. Hosh. Nafas Maira tersenggal. Mata bulat itu membelalak.
Brakkk. Mahendra mendobrak paksa pintu kamar putrinya. Naya menemani di belakang punggung lebar sang suami, berharap cemas terhadap keadaan putri dan menantunya.
Mereka mendengar teriakan juga suara benda jatuh dari kamar Maira.
"Maira!" Seru Mahendra.
Lelaki paruh baya itu langsung menghambur masuk, menyongsong sang putri yang duduk diatas ranjang dengan tatapan kosong. Mahendra lalu memeluk anak kesayangannya, menenangkan agar ritme nafas Maira kembali teratur.
Naya tercengang, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan kala melihat putrinya siuman dari tidur panjang.
"Shan, mana Shan." Naya mencari sang menantu. Mahendra baru sadar tak melihat suami Maira sedari tadi.
Netra amber itu pun memindai sekeliling.
"Allah! Shan!" Pekik Naya melihat menantu kesayangan jatuh didepan pintu kamar mandi dengan pecahan kaca dibawah tubuhnya.
"Abang, tolong Shan dulu. Angkat, dia putraku juga," Naya panik, tanpa sadar berteriak histeris sembari menangis.
"Mifyaz, Yaaaazzz," Ibu dua orang anak, kembali lantang memanggil putra bungsu.
Mendengar suara nyaring bundanya, Mifyaz yang berada di kamar tergopoh setengah berlari menuju sumber suara. "Ya Bun ... loh, Kak! Kak Shan!" Ayaz bingung harus menolong yang mana.
"Ayo bantu Ayah angkat Shan," ujar Naya masih dilanda cemas berlebih.
Susah payah, ketiga orang itu berjibaku menopang bobot Shan menuju sofa, tempat terdekat dari pintu bathroom.
"Disini dulu. Ayaz, panggil dokter jaga dibawah lalu minta uwa Dewiq kesini, lekas!" pinta Naya, dia harus berpikir cepat.
Mahendra bergegas mengambil kotak P3K untuk membersihkan luka di tubuh Shan. Sementara Maira, masih diatas ranjang menatap heran atas apa yang keluarganya lakukan.
"Cepat Abang! ya Allah panas sekali ini tubuh Shan. Nak, El, bangun Sayang," Naya terus terisak disamping Shan.
"Sayang, coba lihat Maira. Shan, denganku." Mahendra meminta Naya mengecek kondisi putrinya di sudut ruangan itu.
Naya mengangguk, dia mengangkat tubuh rampingnya menjauh dari sofa dimana sang menantu berada, berjalan menuju ranjang Maira.
"Sayang, Maira. Alhamdulillah," Naya memeluk putri sulung. Mengecupi puncak kepala.
Istri Shareef Shan hanya diam tak merespon apa yang ibunya ucapkan. Tubuh yang terlihat kurus itu masih mengatur nafas juga membiasakan kembali retina mata menangkap cahaya disekitar.
"Haus ya?" tanya Naya, melihat Maira hanya diam.
Maira hanya menatap tak mengerti pada wajah ayu di hadapannya. Dia lalu perlahan mengangguk.
"Sebentar, Bunda ambilkan minum."
Netra amber milik menantu Dilara mengedip beberapa kali, dia berusaha memindai cepat bias cahaya juga mengingat dimana ia kini berada.
.
.
__ADS_1
..._________________________...
...Gado-gado ðŸ˜...