ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 67. TRY SO HARD


__ADS_3

Berkat little fly, Rey menemukan pria muda yang di cari tengah tidur dikamar kediaman Ezra. Dia pun lega, namun sayangnya memilih menyimpan berita ini hingga menunggu datang fajar.


Karena merasa himpitan kinerja menerjang lelah raga, Rey perlahan terlelap. Dia lupa belum mengabarkan pada Mahen tentang keberadaan Shan.


Sementara di kediaman Ezra, dini hari.


Dilara merasa Shan ada dikamarnya. Setelah tahajud, wanita paruh baya itu masuk kembali ke sana.


Feeling itu tepat. "Shan. Ya Allah, kamu disini Nak?" seru Dila bahagia, memeluk putranya. Namun dia heran, Shan sudah rapi dan bersiap pergi lagi.


"Bun."


"Mau kemana? Maira sakit Shan," ujar Dila berusaha menahan kepergian putranya.


Putra tampan itu nampak sedikit terkejut dan menimbang keputusan.


"Ke Oma dulu. Aku segera kembali. Titip salam dan surat untuk Ai. Aku gak bawa ponselku ya Bun. Pokoknya ada yang harus aku cari disana," ujar putra sulung Dila, berlalu.


Dilara mencegah. "Shan. Shan. Jenguk Maira dulu, beri penjelasan padanya. Jangan begini," serunya mengundang Ezra keluar kamar. Dila memeluk tubuh sang putra erat.


"Ayah, tolong. Paham kan perasaanku?" ujar Shan memohon pada sang Ayah.


Ezra diam, dia menimbang. "Biarkan dulu. Ini caranya, nanti kamu juga akan mengerti, Sayang." Dia menenangkan Dila.


"Shan, hati-hati ya. Ayah bantu jelaskan ke keluarga Guna. Pergilah dan lekas kembali," ucapnya lagi.


"Syukron, Yah. Janji lekas kembali," ucap Shan mantap.


Dilara melepaskan dekapannya. "Jangan lama-lama. Kasihan Maira, kamu masih sayang sama dia kan?"


"Banget Bun. Percayalah, ini usahaku agar leluasa membawa cintaku kembali, maaf sudah membuat susah. Aku pergi dulu," Shan mencium kening ibunya, memeluk erat lalu turun ke lantai dasar keluar dari hunian mewah mereka.


Ezra menarik Dilara. Lalu menghubungi Rolex agar menempatkan anak buahnya menjaga Shan hingga dia terbang. Juga membagi info pada Asyraf Hamid bahwa Shan menuju Dubai tanpa membawa ponsel. Tak lupa mengabarkan sang besan, Mahendra.


Panggilan menjelang subuh mengenai menantunya membuat Mahen sedikit naik pitam. Namun saat Ezra mengatakan ada surat yang Shan tinggalkan untuk Maira, lelaki paruh baya disana mulai melunak.


Naya menanggapi kejadian ini, perlahan mengerti. Masing-masing tengah berjuang dengan caranya sendiri. Seakan tak terlihat usaha, anggapan dimata orang lain salah, namun ini penting bagi keduanya.


"Aku ngerti kenapa Shan begitu," ujar Naya pada suaminya.


"Why?"


"Ini Sayang. Hati. Shan mengajak kalbu Maira untuk belajar terpaut dengannya. Kadang kita baru menyadari bahwa dia berharga setelah tiada di sisi. Shan memantik rasa itu, sebab yakin bahwa cinta Maira tengah tumbuh," Naya menunjuk dada seraya tersenyum, dia membaca karakter sang menantu demikian.

__ADS_1


"Gitu ya? lain daripada pria biasanya," Mahen masih kontra dengan gaya Shan.


"Percayalah, dia akan sangat manis setelah ini. Maira sepertinya mulai mengingat menantuku," imbuhnya lagi.


"Biasanya feeling kamu ngena, Sayang. Kok bisa sih punya pikiran gitu?"


"Karena Shan, bukan dididik untuk menyiakan wanita. Dia putra Ezra yang notabene me-Ratu-kan Nyonya Dilara. Jangankan Shan, Syaharan saja sangat menghargai ibunya. Abang tahu kan, behaviour dan manner seperti itu? bilamana mengagungkan Ratu keluarga, maka dipastikan juga akan men-treat wanitanya like a queen. Sebab mempunyai contoh. Lihat Fayyadh, dia tidak pernah menentang Mba Aiswa. Pandang Kaffa, bagaimana anak itu menjunjung tinggi Alma?" Naya mengajak Mahendra kembali peka. Tidak menyalahkan siapapun namun harus mendukung ketiganya.


Mahen terdiam. Opini Naya bisa dia terima. "Benar, Shan bilang kemana dia pergi. Meninggalkan sesuatu dan juga keluarganya bertanggung jawab. Kita support Maira kalau begitu, juga Fayyadh."


Wanita Kusuma, sumringah. Dia kian semangat membantu putrinya pulih lalu menyusul Shan.


Pukul sepuluh pagi.


Dilara mengunjungi kediaman Guna bersama Syaharan. Dia membawa ponsel Shan juga sepucuk surat yang putranya titipkan.


Wanita itu kemudian dibawa Nyonya rumah menuju kamar Maira.


"Assalamu'alaikum, Sayang. Sudah merasa lebih baik?" tanya Dila lembut disisi ranjang seraya menggenggam jemari Maira.


Putri Mahendra bingung. "Wa'alaikumsalam."


"Beliau Bunda Dila, Ibu Shan, Mama mertuamu, Maira," jelas Naya mengerti kebingungan yang tercetak di wajah Maira.


"Suara?" tanya Dila.


"A-aku mendengar suara mirip Anda, beberapa kali tapi entah dimana. Dia, dia kemana?" lirih Maira. Mencoba mengingat seraya memejamkan mata.


"Shan ke Oma dulu sebentar. Dia janji lekas kembali," Dilara menenangkan Maira.


"Saat demam, Maira mengigau, ku rasa kilasan ingatannya sedang muncul satu persatu," duga Naya.


"Alhamdulillah. Bunda bisa bantu apa, Maira?" tanya Dila ikut bersemangat.


"Cerita, sebanyak apapun yang Bun-dda bisa. Aku ingin mengenali suara-suara itu, please." Princess Kusuma gigih berusaha.


Naya meminta Dewiq juga beberapa dokter datang siang nanti untuk memeriksa kondisi putri sulungnya ini.


Hingga dzuhur, Dilara baru meninggalkan kediaman besan sebab Syaharan akan homeschooling. Wanita ayu itu sumringah, Maira banyak kemajuan terlebih ketika dia menceritakan sosok Shan kecil padanya, sang menantu terlihat antusias.


"Bun, aku tahu kenapa Kakak begitu," ucap Syaharan ketika mereka telah berada di mobil, bersiap meninggalkan Orchid.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Hati, Bun. Juga, penyelesaian sesama pria. Kakak bukan lelaki breng-sek, dia pasti sedang berusaha membantu keluarga Ayah Mahen agar tidak tercipta jarak dengan Fayyadh juga Kusuma lainnya. Kakak memang pendiam, tapi semua yang dikerjakan, ia pasti sudah menimbang dengan benar," ujar Aran berargumen.


"Benar. Shan tak banyak bicara beda sama kamu," sindir Dila kemudian.


"Ya bagus donk jadi Bunda gak susah payah cari jawaban kek lagi ngisi TTS," seloroh Aran.


"Bagus kalau gak bikin malu. Tapi kan kebalikannya," bantah Dila lagi.


Aran tertawa. Sifatnya bertolak belakang dengan Shan. "Jadi kapan mau lamarin Athirah buat aku, Bun?"


Kali ini Dila tersenyum. "Kan, baru aja dibilang. Athirah pasti sudah ada yang minta ta'aruf. Cari yang lain saja," tawar Dila.


Syaharan hanya tersenyum menanggapi ketidaksukaan Dilara atas keinginannya. Dia juga mawas diri.


...***...


Dibelahan kota lain.


Siang hari nan terik tak menyurutkan langkah seorang gadis mendatangi gurunya, menanyakan apakah boleh jika wanita mengajukan permohonan untuk meminta lelaki sholeh sebagi imamnya.


Sang guru yang kebetulan mengenal keluarga dimaksud, bersedia menjadi perantara asbab keinginan muridnya. Terlebih wali sah, telah mengizinkan meski dengan satu syarat bahwa calon menantu itu harus bersedia turun ke dunia politik.


"Ana gak yakin, karena keluarga beliau sangat menjaga tradisi dan santun. Tapi akan dicoba, ini ya CV-nya?" ujar sang guru.


"Nggih. Semua sudah lengkap dalam bundel yang ini, Nyai," wanita bercadar mendorong berkas di atas karpet kehadapan gurunya.


"Istikharah kembali. Jangan memaksa agar Allah menetapkan hatimu teguh, biarkan petunjuknya hadir dan maknai dengan bijaksana," pesan sang Nyai.


"In sya Allah. Ana siap," balasnya menunduk.


"Bismillah. Niatkan untuk meraih kemuliaan juga kebaikan bagi semua. Baik kalian maupun keluarga."


Wejangan guru mulia meluncur ke hadapan gadis belia yang tengah menaruh hati pada seorang pria muda.


Perjumpaan terakhir serta pesannya tak pernah sampai. Bahkan tiada kabar. Namun pesona lelaki itu telah mencuri perhatian sejak awal mula jumpa.


"Lihatlah aku. Nampakkanlah aku dalam pandangannya, ya Robb."


.


.


^^^_______________________^^^

__ADS_1


__ADS_2