
"Semoga kali ini tiada salah paham lagi. Entah apa maksud dibalik semua ini ya Allah. Hamba manut cara-Mu."
Fayyadh mengulang kalimat panjangnya beberapa kali hingga tanpa terasa dia telah tiba di kediaman Glenn Tusakti.
Pemuda tampan itu turun dari motornya, memencet bel interkom di tembok gerbang megah kediaman orang tua Fiora. Tak lama, wajah security muncul di layar menanyakan maksud kedatangan tamu di jam istirahat. Fayyadh menjelaskan singkat kondisi yang dia temui, memotret sang Nona Muda nan lunglai didalam mobil.
"Oh iya, Mas." Security akhirnya membuka gerbang utama sehingga mobil ojek online itu masuk.
"Tolong sampaikan pada siapapun di sana agar tubuh Nona Fiora hanya diangkat oleh sesama wanita ya Pak. Saya langsung pamit, sampaikan permohonan maaf pada Tuan Glenn, Fayyadh gak bisa menemani beliau hingga ke dalam, Assalamu'alaikum," ujar cicit Kusuma bergegas meninggalkan kediaman megah itu.
Baru saja beberapa ratus meter menjauh dari Tusakti House, ponsel dalam saku celana pun berdering. Fayyadh tahu itu pastilah dari sang Kakek yang cemas mencarinya.
Jalanan telah lengang, maka dia memberanikan diri memacu motor matic itu dengan kecepatan tinggi membelah sunyi, menantang angin malam.
Dini hari.
Wisesa masih duduk di pendopo, setia menunggu cucunya kembali bersama Kuntara, main catur di temani kopi, kacang rebus dan goreng campu (singkong).
Tak lama kemudian, suara deru mesin motor mendekat. Benar saja, Fayyadh tiba namun ada yang janggal dari penampilan pemuda itu. "Mas, jaketmu mana?" tanya Abah saat melihat sang cucu memarkirkan motor di depan pendopo, hanya mengenakan kaus panjang.
"Sampun, Den Mas. Biar saya saja yang masukkan motor ke garasi," pinta Kuntara, agar Fayyadh menyerahkan kunci padanya.
"Dek, nanti kalau mau lanjut main, ini diantar ke pos satpam aja ya, kopinya bikin lagi ke dalam umpamane kurang," ucap Abah apda pemuda itu sebelum merangkul Fayyadh masuk.
"Nggih, Ndoro," sahut Kuntara.
Hatcwi.
Cucu Wisesa lalu menyerahkan kunci motor pada Kuntara. "Makasih Kang."
"Jaket aku? buat nutupin tubuh Fio, barusan dia sedekah lagi," jawab Fayyadh asal sedikit kesal.
"Sedekah gimana," kekeh Abah melihat raut wajah cucunya yang seakan menahan marah.
"Disebut apa, Bah? Kalau di anugerahi tubuh molek sempurna bagai gitar espanyola, mulus ayu mirip Rosalinda namun di umbar gratis? sedekah kan namanya?" sungut Fayyadh.
Hatcwi.
Abah tertawa lepas mendengar ocehan pangeran Kusuma yang jarang berargumentasi terhadap sekitar. "Subhanallah, Mas. Fio nampaknya nguras emosi kamu ya? do'akan juga nemu hidayah darimu kalau gini," sahut Abah mengantar sang cucu ke kamarnya.
"Heeeemmm."
"Memang tahu rupa Rosalinda?" goda sang Kakek.
__ADS_1
"Tahu, dari yuyun."
"Yuyun?" Abah mengernyitkan dahi, tanda tak mengerti istilah kata anak jaman sekarang.
"Yutub Yuk, Ndro," jawab Fayyadh asal.
Sang kakek tertawa atas kalimat-kalimat aneh cucunya. Beliau lalu menanyakan peristiwa apa yang membuat Fayyadh bersikap demikian.
"Ya sudah, mandi air hangat gih. Nanti Abah balur punggung kamu sama buatkan jahe anget biar gak masuk angin," ujar Wisesa membiarkan Fayyadh masuk ke dalam kamar sementara dirinya menuju pantry.
"Oh ya Bah. Pesanan uyut batal ku belikan tadi gara-gara dia itu," kesalnya masih kentara.
Abah berhenti, menoleh ke arah Fayyadh. "Nolong orang mbok ikhlas, Mazzeeee," ujarnya sambil lalu.
Hampir pukul dua dini hari, akhirnya pemuda sholeh itu memejam di temani sang Kakek yang setia mengusap punggung lebar dari balik selimut.
Malas beranjak dari sana, tubuh lelah Wisesa pun kemudian ikut berbaring asal di ranjang sang cucu.
Keesokan pagi.
Kediaman Tusakti.
Terdengar keributan di pagi buta dari kamar nona muda mereka. Fiora muntah hebat, dirinya kini dibantu oleh dua orang maid yang menopang tubuh lunglai itu kembali menuju ranjang.
"Fio, Papa kira semalam kamu hanya keluar sebentar. Namun Sindi malah kembali seorang diri, dia mencarimu ke berbagai tempat hingga pulang dini hari setelah kamu di temukan dan diantar Fayyadh," tegur sang Ayah.
Fiora tak bergeming, dia hanya diam menutup diri dibalik selimut.
"Sayang. Maafkan Papa jika banyak salah pada kalian, bilamana semua ini adalah akibat kekosongan tempat yang biasa terisi oleh Mama, katakan Nak. Lelaki tua ini akan berusaha mewujudkan dan mengisinya lagi," lirih Glenn, duduk di tepi tempat tidur Fiora.
"Kembalikan Richard," isaknya lagi.
"Gak bisa Nak. Dia malah ke luar negeri dan di kabarkan menjalin hubungan dengan rekan bisnis keluarga Nixon. Kamu cuma cadangan, Fiora," ungkap Glenn pada akhirnya.
Gadis ayu itu menangis mendengar penjelasan sang ayah, isakan pilu menusuk gendang telinga Glenn Tusakti. Tiada lagi percakapan antara ayah dan anak. Mantan suami Georgia Florian itu memeluk putrinya, mencoba menyalurkan sisa kehangatan yang ia punya.
"Aku juga sama kehilangan Georgia, Fio."
Putra bungsu Tusakti bergabung dengan keduanya, dia kangen suasana hangat seperti ini. Semua penghuni berkubang duka atas problema masing-masing tanpa saling menyadari bahwa mereka juga dapat menjadi sumber luka bagi orang lain.
"Ferdian, sini Nak." Glenn memeluk kedua harta, buah cintanya dengan Georgia.
Satu jam dalam suasana haru, akhirnya Fiora mencoba duduk bersandar di kepala ranjang. Kepalanya masih berdenyut akibat mabuk semalam.
__ADS_1
"Kenapa aku sampai bisa ketemu Fayyadh lagi, Pa? why lelaki itu selalu saja disekitar?"
"Dia mau pulang, habis kongkow di angkringan terus lihat kamu di goda preman jalanan," Glenn menceritakan detail peristiwa semalam.
Ferdian hanya mendengarkan, tak paham apa yang sedang mereka perbincangkan. "Pa, aku boleh home schooling gak?"
"Boleh, Papa sudah baca suratmu. Nanti kita bicara setelah ini. Janji, Papa akan hadir di setiap moment kalian sejak hari ini, Ok?" ujar Glenn. Dia sadar, peranan ayah penting bagi mereka, terlebih Fiora.
Setelah mendengar penjelasan sang ayah, baik Ferdian maupun Fiora tersenyum cerah. Sekelebat ingatan semalam perlahan kali muncul diingatan gadis itu.
"Ini, baca. Pesan Fayyadh kemarin. Diresapi, dan jangan salah paham lagi dengannya. Maksud anak muda itu baik, dua kali menyelamatkan kehormatan kamu, Fio," ujar Glenn bersiap pergi dengan Ferdian keluar kamar.
Nona sulung Tusakti, menerima uluran kertas yang kemarin Fayyadh tulis dan titipkan melalui asisten untuk Fiora.
"Dimakan ya Sayang, oat dan juice kesukaan kamu. Papa diruang kerja bilamana kamu butuh teman, call me," imbuh Glenn sambil lalu merangkul bahu putra bungsu.
"Iya, Pa. Thanks," lirih sang gadis.
Wajahnya kian pucat pasi bagai mayat. Bibir pink itu kering, tampak mengelupas di sudutnya. Rambut coklat sebahu sudah kehilangan kilau akibat gaya hidup urakan beberapa hari ini.
"Bagai zombie." Fiora mematut pantulan dirinya di cermin mini yang dia raih dari atas meja nakas.
"Richard, semudah itu kau melupakan aku? apa jadinya bila--"
Degh.
"Aaaaarrgghhhhh, bre-ngsek!"
"RICHARDDDDDDDDDD!"
Akhirnya, Fiora dapat melepaskan kesesakan hati yang dia pendam selama ini. Tubuhnya kian lunglai, nafasnya terengah. Namun terbersit sedikit kelegaan.
Makanan favorit yang tersaji diujung ranjang, dia raih. Tubuh ini harus segera fit meski hanya terlihat tegar dari luar. Luka hati menganga, biarlah menutup dengan sendirinya.
Suapan satu persatu berpindah dari pinggan ke lambung Fiora. Gadis itu lalu membuka pesan tertulis dari Fayyadh. Mencerna pelan setiap baris kalimatnya.
"Tulisan rapi persis looksnya. Dalem banget, apa iya dia sedang di fase yang sama sepertiku? namun tak terlihat bagai orang patah hati ... eh jangan-jangan waktu dia teriak di pinggir kebun bunga itu yaa?" gumam Fio. (bab 31)
"Kamu benar Fayyadh. Tiada orang peduli, maka diri ini yang harus stop menyentuh luka. Ku kira pemuda tampan sepertimu gak kenal dengan apa itu putus cinta dan patah hati."
.
.
__ADS_1
...______________________...