ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 107. GETTING CLOSER


__ADS_3

Wisuda Fayyadh berakhir lancar, kini keluarga mereka mulai menjalankan rangkaian ibadah umroh.


Malam ini adalah malam jum'at, waktu tepat baginya memohon petunjuk dari Allah untuk semua urusan, baik dunia juga akhirat. Sebelum tidur dia menyempatkan melihat postingan Akshita, mengomentari dengan kalimat ambigu atau sekedar sapaan memberi semangat.


Keduanya masih diam dan berpura tak mengenal satu sama lain. Berharap apa yang mereka lakukan ini dapat membawa maslahat atau meluluhkan ilahi robbi atas usaha kedua insan dalam berjihad menahan hawa nafsu, gadhul bashar (menjaga pandangan) juga memelihara izzah wa iffah, serta marwah.


"Bismillah, mohon petunjuk ya Robb."


Fayyadh melangkah menuju bathroom untuk berwudhu, matanya sudah sangat berat namun tak ingin melewatkan waktu mustajab istikharah termudah yang dapat dia lakukan.


Dua rokaat sempurna di kerjakan, kini lelaki tampan itu menundukkan kepala dalam, menengadahkan kedua telapak tangannya, melantunkan banyak doa.


"Allahumma fa-in kunta talamu hadzal...."


"Ya Allah, bila pilihan Umma adalah baik untukku dan baginya, dunia, akhirat, masa depan juga keluarga kami. Maka berikanlah petunjuk-Mu melalui mimpi, berupa warna hijau atau putih. Namun apabila sebaliknya, maka tunjukkanlah dengan memakai warna hitam atau merah."


(Ijazah dari habib Syech Dul habib syech Muhammad Alaydrus)


"Ikhtiar ku secara bumi, sudah melalui Allen, entah sampai atau tidak. Juga meminta Shan menyelidiki, serta Umma untuk sekedar sowan. Bismillah, fase pasrah, manut cara Allah dan pilihan Umma," lirihnya naik ke pembaringan.


Bukan hanya Fayyadh semata yang tengah melakukan ikhtiar memohon petunjuk ilahi robbi. Kaffa Arbian, juga Athirah telah melakukan hal sama.


Dokter Nuha intens sowan ke kediaman Amir kala weekend disaat Athirah pulang dari asrama. Sepertinya lelaki tampan itu menaruh suka pada adik perempuan Fayyadh.


Aiswa yang menangkap gelagat sang dokter hanya dapat menahan agar lelaki muda itu mampu menjaga diri seraya meminta mendalami hadis arbain dengan isyarah pertanyaan Amir yang menjurus ke sana.


"Aku gak mau hanya Athirah yang paham duduk persoalan rumah tangga. Meski ku lihat, Nuha juga sangat santun dan taat ibadah, tapi hatiku belum teguh. Lagipula putriku masih belia," cecar Aiswa suatu malam.


Setelah kepulangan keluarga Zaidi dari Jeddah nanti, sederet tugas sudah menunggu Amir, salah satunya menjadi perantara untuk mengkhitbah Ryuki, putri Dokter Rayyan dan Dwiana. Setelah itu mengurus sekolah miliknya dan sang putra di Bekasi sebab kemungkinan Fayyadh akan menetap di Solo.


...***...


Indonesia.


Solo.


Abah menelaah amplop coklat yang berada di atas tumpukan map satunya. Perlahan beliau membuka tautan tali yang melingkar pada pengait.


Danarhadi tak sabar mendengarkan cucunya membacakan isi dari dua lembar kertas yang telah dalam genggaman Abah.


"Sa, lama amat."

__ADS_1


"Sabar Kek. Mataku ini plus nya nambah takut salah baca berabe," ujar Abah menggoda sang kakek.


Retina netra tua dibalik bingkai kacamata kotak dengan frame hitam itu nampak mengikuti deretan kalimat disana.


"Oh ini, proposal pengajuan punya Mas Fayyadh Kek pada Arwa. Disini di tulis perantaranya, Allen kemal, putra Nyai Shihab."


"Arwa? siapa? bukan Fio ya? lah payah sih Mas," keluhnya mendengar Fayyadh mengajukan ajakan ta'aruf pada selain Fio.


Abah terkekeh pelan, lalu menceritakan sekilas tentang isi surat dalam amplop putih tadi.


Danarhadi terlihat terkejut, binar mata sendunya kini nampak mengembun. "Beneran, Sa? Fio-ku?"


"Fio nya tuan Glenn, bukan Fio Kakek," Abah tertawa ringan melihat ekspresi sepuhnya ini.


"Iya itu maksudnya. Terus terus lagi lagi, ayok kamu cerita donk. Diem aja sih," omel Danarhadi mulai tak sabar, dia mengguncang lengan Abah hingga lelaki itu pindah tempat duduk.


"Mas Fayyadh ngajuin ini tepat saat Arwa sakit dan tengah di nadzor oleh kerabat Mangkunegaran. Sayangnya, saat akan melanjutkan ke proses khitbah, pihak lelaki membatalkan sebab ia memilih kerabatnya sendiri, walhasil Arwa melanjutkan ke proposal yang lain."


"Kata Nyai dalam suratnya, pengajuan Proposal sahabat Allen juga ditolak Arwa sebab dirinya diharuskan mengikuti sang pria untuk tinggal di Madinah mengurus bisnis keluarga pengampu CV," terang Abah.


"Berhubung saat Arwa sakit, Nyai menstop pengajuan ta'aruf gadis ini, CV Mas sudah terlanjur masuk via Allen, maka sekarang proposal Mas lah yang terakhir dan harus disampaikan pada Arwa," ungkap Abah lagi.


Danarhadi masih mencerna. Dia mulai bersemangat. "Jadi, kesempatan Mas buat nadzor ya?"


"Kalau Arwa gak ada di pondok, kenapa ini disampaikan ke kita semua?" tanya Danarhadi lagi.


"Sebab jika kita ingin melanjutkan, maka wajib langsung menghadap wali sahnya. Arwa sudah pulang," pungkas Abah.


Danarhadi menyimpulkan. "Ini kan dua ya Sa, satunya map punya siapa?"


Abah lalu melanjutkan membuka satu map lagi, beliau menarik dua lembar kertas dari dalam amplopnya dan membaca seksama.


"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad. Ini milik Arwa, di bagian bawah tertulis perantara Nyai Shihab, namun nampaknya dia menahan ini agar tidak sampai pada beliau dan baru saat ini terungkapkan."


"Jadi, jadi gimana?" desak Danarhadi.


"Nyai menyampaikan ini pada kita, tujuannya satu agar segera menyambungkan hajat keduanya sebab sama saling menaruh rasa meski dalam diam. Bentar aku telpon Aiswa dulu ya, Kek," pungkas Abah lagi.


Wisesa melakukan panggilan pada Aiswa. Wanita itu mendengarkan seksama semua runutan pesan sang ayah mertua.


"Nduk, sebab Mas manut pilihanmu, maka Abah meminta hanya kamu yang kesini, melihat Arwa setelah pulang umroh nanti. Jika Mas ingin kesini juga, ya bawa saja tapi jangan di sampaikan dahulu. Nanti Abah yang atur janji temu dengan Tuan Glenn. Kamu pulang kapan?"

__ADS_1


"Alhamdulillah, lusa Bah, nanti Aish titip anak-anak di Tazkiya dulu, sebab Qolbi ke Bekasi. Kita berdua langsung terbang lagi ke Solo," jawab Aiswa.


Sederet rencana disusun oleh keduanya. Aiswa melibatkan Shan agar semua kian rapi dalam memuluskan aksi mereka.


...***...


Bandung.


Menjelang tengah malam, Maira muntah hebat hingga Shan sedikit khawatir. Dia menyiapkan pertolongan pertama bagi sang istri dengan meminta bantuan penjaga di sana.


Hingga pagi, kondisi Nyonya Shan berangsur membaik namun kali ini super duper manja, tak ingin jauh dengan Shan barang satu inchi meski keduanya sama tengah berbaring di atas ranjang.


"Besok pulang, langsung ke rumah sakit ya, Sayang. Aku gak mau, kalian kenapa-napa," bisik Shan lembut, membelai anak rambut yang menutupi wajah ayu Maira.


"Kalian?"


"Hanya dugaanku. Kamu gak sadar, Ai? sudah telat hampir satu bulan?"


"Bukan gak sadar, tapi enggan berharap Zie, takut nanti kecewa lagi," isakan Maira muncul.


Shan mengecup dahi Maira. "Kalau gak menjaga sejak dini, khawatir kondisi kamu drop, Ahya. Namanya juga usaha, tetap berharapnya sama Allah, lillah. Nanti mau kan, cobain ini esok pagi sebelum pulang," tunjuk Shan pada alat test kehamilan di tangannya.


Maira terpaku, melihat alat yang biasa dia gunakan selama hampir lima belas bulan ini, dia takut.


"Nanti gimana?" cemasnya datang.


"Gak gimana-gimana, terus coba lagi dengan berbagai style, mumpung belum ada baby nya jadi bebas berfantasi secara nyata," kekeh Shan dihadiahi cubitan oleh Maira.


"Fantasimu aneh-aneh, Zie."


"Kan dari kamu juga sih, lawanku strength. Harga diri pria akan diletakkan dimana jika urusan ranjang saja, aku kalah," tawanya riang.


"Bener ya, selalu ada kebaikan dalam setiap peristiwa."


Kriiing. Ponsel Shan berdering.


"Siapa, Zie?"


.


.

__ADS_1


...________________________...


...izzah \= kemuliaan, keutamaan. Iffah \= cara menahan nafsu untuk menjaga izzah. Marwah \= kehormatan atau harga diri....


__ADS_2