
Keesokan pagi.
Ba'da subuh, Shan dan Maira telah tiba di Joglo Ageng. Lelaki tampan dalam balutan kemeja batik lengan panjang, bernuansa biru tua dengan gradasi corak dan warna keemasan, sibuk GR akhir untuk para laskar. Sementara Maira di ruang tamu memeriksa ulang barang bawaan. Dan membagi susunan iringan saat baru turun dari mobil juga tempat duduk di venue nanti.
"Nduk, sambil duduk," pinta Danarhadi agar Maira tidak terlalu banyak berdiri.
Perut rata itu mulai terlihat buncit. Shan meminta atasan kebaya yang dikenakan Maira dirombak agar tidak terlalu sempit di area perut, sebab itulah mereka memilih penerbangan sore hari.
Calon manten baru keluar kamar, Aiswa sudah ribut membangunkan kedua anaknya yang lain.
"Baru tahu kalau Umma panikan," kekeh Maira saat telah duduk disamping Danarhadi.
"Satu dua sama Naya, Bunda kamu, Maira." Danarhadi tak kalah riang, telapak tangan keriputnya mengusap perut sang cicit
"Sehat terus ya Nduk, lancar sampai lahiran. Ngupat disini, pokoknya. Semua Kusuma kudu lahiran di Solo biar Uyut bisa cium bayi, ngurusin kalian sampai bebersih nanti. Biar Shan tetep kelepek-klepek sama kamu, Nduk," tawa Danarhadi menggema.
"Dih Uyut, ini belum lahir udah main kelepek-klepek aja," sambut Maira tak kalah girang.
"Mahya, Shan mana?"
"Didepan, Kak. Udah ada draft ijab kan? ini lihat dulu biar langsung tahu ketika sampai," ujar Maira menyerahkan lembaran venue.
Fayyadh menyambar cepat uluran kertas dari Maira lalu menyambangi Shan di depan pendopo.
Mobil yang membawa keluarga besar, satu persatu memasuki pelataran Joglo Ageng. Elma dan Kuntara langsung mengatur posisi iringan mobil agar mudah saat akan keluar nanti.
"Shan."
"Ya Mas, ada yang kurang?" tanya Shan ketika baru mengecek mobil yang akan dia bawa.
Grepp. Fayyadh memeluk Shan tiba-tiba.
"Syukron ya Akhi. Sudah bantu banyak banget hingga sampai disini," bisik Fayyadh.
Shan menepuk lengan Fayyadh. "Afwan, Mas. Lancar ijab ya, satu nafas, insya Allah. Ada hadiah gak?"
Fayyadh mengurai pelukan. "Hadiah surat An-nur dan Muhammad, bil ghoib malam aja," kekeh sang calon manten.
"Jiaah, opening ya biar gak delay," balas Shan. Keduanya tertawa ditengah riuh para saudara yang mulai berdatangan. Lalu melangkah masuk sebab Naya dan Aiswa meminta mereka sarapan bersama dulu.
Tepat pukul tujuh pagi.
Semua keluarga sudah siap, Yai Hariri, kakek Fayyadh dari pihak Aiswa memimpin doa sebelum mereka keluar dari Joglo Ageng. Suasana haru kentara menyelimuti pendopo.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Kusuma bersamaan kala mulai menapaki anak tangga satu persatu, turun dan masuk kedalam mobil masing-masing.
Laskar standby dengan patwal. Terdengar suara klakson tiga kali menandakan rombongan siap melaju.
Mobil Shan dan Maira, membawa Fayyadh tepat di barisan ketiga. Iringan pertama berisi Mahen, Danarhadi, Abah dan keluarga inti Amir. Kedua, keluarga Tazkiya, Naya serta runut kebelakang menyusul yang lainnya.
Tiga puluh menit kemudian. Kediaman mewah Tusakti.
Tiada perubahan kentara pada halaman luar rumah megah bercat putih dengan style fasad American classic itu. Namun saat iringan tujuh mobil memasuki pelataran, nampak rangkaian bunga juga hamparan karpet merah menyambut mereka.
Standing flower dengan tirai tule biru, menjuntai indah dipadu bunga baby breath juga lily, menjadi lorong awal yang harus iringan lalui.
Shan setia disamping Maira, menggamit erat pinggang istri cantiknya itu, sementara Elma sigap mengingatkan barisan iringan Kusuma.
"Kalau Kusuma itu sudah kompak, Elma. Santuy ngapa Neng," goda Gamaliel pada korlap Laskar milik Maira.
"Biar keliatan kerjanya, Baba," kekeh Elma seraya berlalu berkoordinasi dengan EO milik Glenn.
__ADS_1
Lima belas menit setelah penerimaan rombongan, Fayyadh dan keluarga, serta para saksi menempati posisi masing-masing.
Tiba saat waktu pemberkasan. Penghulu memastikan identitas.
"Nduk Fiora Akshaya alias Arwa Feiyaz Akshita ... dua nama satu jiwa, benarkah ini pemuda pilihanmu? monggo di 3D diintip, diterawang, dilihat nyata dari balik tirai di atas sana, sementara gak boleh di raba ya, sebab palunya masih mencari ketok'an nya," tanya sang petugas KUA melalui microphone.
Hadirin mulai riuh atas kalimat sang petugas, kala menanti suara Fiora.
Pengantin wanita ada di ruang tamu yang telah disulap dengan hamparan karpet biru, diberikan microphone oleh staff EO untuk menjawab pertanyaan penghulu.
Mata lentik itu hanya dapat melihat situasi Venue dari layar televisi didalam ruangan yang disambungkan lewat kamera diluar sana.
"Betul," jawab Fiora lembut, mengundang riuh hadirin.
"Ciyyyeeeee."
Setelah admnistrasi selesai. Rangkaian acara dilanjutkan oleh master ceremony menuju khutbah nikah, doa juga pembacaan sholawat dan istighfar.
Glenn menyerahkan perwalian pada wali hakim sebab dirinya tidak satu keyakinan dengan sang putri, dia teringat pesan Wisesa ketika menjelaskan sebuah hadis dari riwayat Ahmad yang menyatakan : Sulthan (penguasa) adalah wali bagi seseorang jika tidak memiliki wali. Sebab rukun nikah salah satunya adalah adanya Wali yang beragama Islam.
Tibalah saat yang ditunggu.
"Ashadu allaa ilaaha ilallaah. Wa asyhadu anna Muhammadarrosulullah."
"Raden Mas Althafaris Fayyadh son of Raden Mas Amirzain Zaidi, I marry off and I wed off Fiora Akshaya daughter of Glenn Aldrich Tusakti, to you with the dowry 6.969.100 in cash."
Tek.
"I accept her marriage and wedding Fiora Akshaya daughter of Glenn Aldrich Tusakti with the dowry mentioned above, in cash." Suara Fayyadh tegas menjawab ijab sang wali.
"Sah?"
"Alhamdulillah. Allahumma inni as aluka khoyrohaa wa khoyro maa jabaltahaa alaih. Wa a'udzubika min syarri haa wa min syarri maa jabaltahaa alaih." Penghulu memimpin doa agar diikuti hadirin.
Aiswa memeluk suaminya, air mata haru sudah mengalir diwajah cantik wanita sholihah itu. Sementara Abah yang menjadi saksi nikah Fayyadh, menepuk lengan cucunya bangga.
Petugas meminta agar berkas ditandatangani oleh mempelai wanita. Aiswa membawa map berisi kelengkapan surat nikah putranya ke dalam, diikuti Fayyadh dan kerabat wanita lainnya.
"Hanya Mas Fayyadh loh ya, pria yang ikut ke dalam. Yang jadi manten itu cuma Den Mas Fayyadh, haloooo hadirin," seru pembawa acara kala para pria Kusuma dan Tusakti akan bangkit mengikuti para wanita.
Seketika hadirin riuh, lupa akan susunan acara sebab rasa ingin tahu lebih dominan ketimbang menunggu.
Sementara di dalam, Fiora ditemani Sindy, Athirah dan Maira. Saat telah selesai ijab tadi, wanita hamil dan adik Fayyadh itu menyelinap masuk kedalam.
Perlahan pintu besar bercat putih terbuka. Muncullah sosok pria idaman, tampan nan gagah dalam balutan jubah putih di padu outer navy dan ridak hitam tersampir di bahu kanannya. (ridak \= selendang, disampirkan dibahu kanan, sebab mengikuti kebiasaan Rosulullah kala memakai selendang).
"Ayo Mas, baca doa dulu."
Fayyadh terpana, benarkah ini Fiora? dalam balutan gamis putih dan niqab menutup wajahnya. Sebab dia melihat tampilan ini sebagai Arwa.
Wanita yang baru saja sah menjadi istri Fayyadh perlahan bangkit di bantu Maira dan Sindy, Fio hanya menatap sekilas lalu menunduk kembali.
"Mas!" desak Aiswa.
"Eh. I-iya Umma." Perlahan dia mendekat. Sementara Fio diarahkan agar berdiri berhadapan dengan sang suami.
Tangan kanan Fayyadh terangkat, hampir menyentuh kepala Fio, namun seketika dia urungkan. "Astaghfirullah," ucapnya mengelus dada.
Maira dan Athirah tertawa melihat kecanggungan Fayyadh. "Ayo Kak. Lama ish," cibir keduanya.
"Mas, ayo."
__ADS_1
"Bentar Umma, sik toh, gemeter loh ini," bisiknya pada sang Bunda yang dihadiahi senyuman Aiswa.
Sontak saja kekehan para wanita bergema, kegugupan Fayyadh terekam jelas oleh kamera yang tersambung di layar ruangan itu sehingga hadirin pun ikut gemas melihat keuwuan pengantin.
"Bismillah dulu kak, baca doa gini nih, ikuti ya," ujar Maira. "Allahumma...."
"Allahumma...."
"Bariklana, fii ma...." sambung Maira lagi.
"Ngerjain, doa makan itu Mahya!" sungut Fayyadh merasa konyol.
Geerrrr. Terdengar tawa riuh hadirin dari luar dan dalam ruangan, termasuk Fiora yang tertawa samar.
"Fei, dih, ikutan," gerutu Fayyadh lagi menegur Fiora, sadar dirinya jadi bulan-bulanan candaan.
"Ciyee, Fei," celetuk para wanita.
Perlahan, tangan kanan itu terulur dan kali ini lebih mantap menyentuh sisi pipi kanan Fio, ubun-ubun seraya melantunkan doa.
"Aamiin." Suara hadirin.
"Ayo salim, sambut suamimu, Nak," pinta Aiswa.
Keduanya saling bersitatap lalu sama menundukkan pandangan, membuat gemas yang melihat.
"Ayo dong." Maira dan Athirah menyemangati.
Pelan, tangan Fio terulur hendak meraih telapak tangan Fayyadh, namun lelaki itu hanya diam sehingga Fiora pun ragu. Gerakan tarik ulur keduanya membuat gempar suasana.
"Gimana sih, lama amat mau salim doang," kekeh Aiswa.
"Umma, untung udah sarapan. Ini jantung bikin lemas," Fayyadh mentertawakan dirinya.
Athirah meminta Aiswa menuntun mereka kembali. "Bismillah yuk, Fio coba lagi, Sayang."
Meski masih ragu namun kini keduanya sama bereaksi, hingga sentuhan itu sempurna. Fiora menundukkan wajahnya dan membawa telapak tangan Fayyadh untuk dia cium takzim.
Maira tak dapat menyembunyikan kekehan kala Fayyadh justru memejamkan mata seraya menyentuh dada dengan tangan kiri saat wanita ayu itu perlahan membalik telapak tangannya.
"Deg-degan ampe sesek loh iki, ya Allah."
Keluhan Fayyadh tak henti membuat tamu undangan terhibur.
"Alhamdulillah. Ciye, yang punya makmum," goda para wanita didalam ruangan.
"Mas, mau buka niqab Arwa gak? nanti camera off," tanya Aiswa sebelum meminta Fio tandatangan berkas.
"Enggak ah, nanti aja dikamar," balas Fayyadh cepat.
Geeeeeerrr. Tawa hadirin kembali menggema. Sementara keduanya tersipu.
"Fei, sign please," bisik Fayyadh saat Aiswa memberikan map berisi data mereka.
.
.
...________________...
...Cari teman kalau mau mesem-mesem. Hore, selesai 😌. ...
__ADS_1