ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 76. STUNNING


__ADS_3

Shan mengulang video kala Maira terkejut di Bandara. Wajahnya cerah melihat ekspresi bahagia wanita pujaan. Dia lalu melihat watch di pergelangan tangan kiri, menduga bahwa Maira telah menuju gedung ballroom tempat acara.


"Hotel yang dekat dengan acara kamu, full booked. Jadi aku dapat penginapan dengan jarak lumayan sekitar seratus meter buat celebrate malamnya," sesal Shan, tak lebih awal mendapat informasi.


Bila Maira tengah bersiap memulai prosesi dan GR akhir. Pesawat Shan masih mengudara.


Wanita muda dalam balutan kebaya teracotta tua dipadu kain batik hitam dengan corak semburat Jingga abstrak, membuat kulit Maira sangat kontras meski memakai hijab.


Naya mengirimkan looks putri sulungnya pada Shan, tak lupa video saat GR akhir.


"Dia terlihat bersemangat meski tiada jeda waktu istirahat. Makasih ya Shan, boosternya. Acara akan dimulai. Hati-hati, semua perlengkapan kamu sudah Ayah titipkan di lobby Hotel."


Satu jam menjelang landing.


Shan membuka tab miliknya. Memeriksa jikalau ada pesan penting dari sang mertua. Benar saja, satu notif muncul disana.


Menantu Mahendra itu diam tak berkedip melihat tampilan foto istrinya. Berbagai pose berhasil Naya dapatkan, mulai dari cute, manis, cantik, happy, gurat wajah tegas, semua bidikan sangat memancarkan aura kebahagian Maira pagi itu.


"Maa sya Allah tabarokallah, hanya Allah yang Maha sempurna. Ini baru bidadari dunia, belum nyampe surga aja sudah begini. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad," Shan tak henti bersholawat, menghindari 'ain untuk sang istri.


Dia lalu membalas pesan Naya. "Ya Kheir Bun, syukron. Aku bentar lagi sampai dan langsung nyusul ke sana, mungkin gak bisa masuk ke dalam meski pake card yang Bunda siapkan. Tapi gak apa, jangan cemaskan aku," tulis Shan.


Tak lama kemudian, Co-pilot meminta Shan menonaktifkan ponsel sesaat.


California, USA.


Putra Dilara telah disambut oleh bell boy hotel tempatnya menginap, juga seseorang yang dia minta untuk mengatur kejutan kedua bagi Maira.


Lelaki bule itu menyerahkan draft juga rekaman drone pada Shan terhadap apa yang dia minta sebelumnya.


Putra mahkota Qavi nampak puas, dia pun meninggalkan Bandara menuju hotel dan bersiap ke tempat selanjutnya.


Beberapa menit berlalu, Shan tiba. Staff hotel membantunya merapikan bagasi juga membawakan semua barang milik tuan muda Qavi yang dititipkan di lobby.


Waktu terus bergulir, tak terasa satu jam telah dia habiskan setelah landing untuk bersiap. Shan kini menuju lokasi acara Maira. Sesuai dugaan, saat ia tiba, dirinya dilarang masuk oleh petugas panitia, dan harus puas melihat situasi didalam hanya dari layar kaca besar di luar ballroom.


Naya menerima pesan Shan. Membaca pelan dengan Mahendra. "Dia udah di luar, Maira bentar lagi speech."


"Biarkan dulu, toh Shan bisa lihat Maira dari big screen diluar. Juga panitia menyiapkan waiting room," bisik Mahen.


Prosesi ucapan beberapa Mahasiswa terbaik dimulai. Shan melihat istrinya berpidato singkat, sangat lugas diatas sana, "Ringan, padat dan jelas, keren Sayang." Dia pun memberikan standing applause selaras para hadirin didalam ruangan.


Sesudah acara inti, Shan meminta EO yang dia sewa bersiap. Tepat setelah master ceremony menutup acara. Big Screen dalam ruangan yang diletakkan di sisi para hadirin, menampilkan sesuatu.


Semua mata tertuju pada suguhan tontonan indah, dimulai dengan tulisan "Journey of love" di susul slide ijab qobul Shan, cuplikan video saat Maira memanah dalam acara Charity, berjalan di savana bersama Rollies, melihat Jasper sembari duduk di kursi roda, hingga foto ketika tiba di bandara kemarin. Tersusun apik bagai klip musik diiringi backsound lagu milik Sania Twain, from this moment.


Freeze. Hadirin terbius oleh nuansa temaram yang diciptakan dalam ruang.


"Is that, Mahya?" riuh bisik para sahabat Maira.

__ADS_1


Sementara sang tokoh utama, tersenyum penuh arti, matanya sudah berkaca-kaca. Hingga tibalah di akhir video, menampilkan sebaris tulisan "Terima kasih sudah bersedia kembali di sisiku and congratulations, Nyonya Shan Qavi." Slide berikutnya adalah suasana live, terlihat Shan telah berdiri di luar ruangan.


"Wow, that guy is your husband, Mahya?" seru para sahabat Maira, histeris. Wanita ayu yang terharu itu hanya mengangguk masih duduk di kursinya.


Shareef Shan Qavi, memakai setelan kemeja panjang selaras motif kain bawah kebaya Maira dipadu pants hitam dan sepatu pantofl mengkilap. Dia menata rambut menggunakan sedikit pomade. Putra Dilara nampak stunning. Pandangannya lurus kedepan menatap pintu, sekilas dia tersenyum ke arah kamera. (mengagumkan, memukau)


Pose cool layaknya seorang model, berdiri tegap dengan memasukkan tangan kanannya disalah satu saku pant.


"Aaaahhh, he's looks great!"


"He's really handsome." Teriakan para gadis, tak memperdulikan bahwa Maira istrinya.


"Pesona menantuku," bisik Naya, membuat Mahendra cemburu. Dia tak punya kesempatan men-treath Naya seperti ini dulu, sebab kisah perjuangan mereka pelik.


Maira di tarik, di elukan agar segera bangkit dan menyongsong lelaki pujaan. Para sahabat menggiringnya ke depan pintu. Karena acara telah selesai, pintu besar ruangan pun terbuka perlahan.


Wanita ayu itu menunduk, jantungnya berdegup kencang. Ini perjumpaan mereka setelah satu pekan lebih terpisah. Rindu memupuk dikalbu meronta agar diluruhkan.


Para sahabat Maira histeris saat celah daun pintu itu sempurna menampilkan sosok tampan nan gagah diluar sana.


"Go on Mahya!" bisikan para gadis.


Maira mengulas senyum manis untuk lelaki pujaan didepan sana. Shan, membalas hadiah sang istri untuknya.


"Assalamu'alaikum, Sayang." Dia merentangkan kedua lengannya, berharap Maira menghambur ke pelukan.


Beberapa langkah mendekati posisi dimana sang suami berdiri, Maira berlari kecil hingga masuk ke pelukan Shan.


Brugh. Tubuh Maira membentur badan tegap Shan.


"Yeeaaaayyy!"


"Wuhuuuuuu, Mahya!" suara riuh para gadis dibelakang, memecah angkasa. Sorak applaus hadirin menjadi hadiah pasangan yang saling merindu.


"Alhamdulillah, kangen istriku. Selamat Sayang," bisik Shan memeluk erat Maira.


"Kangen Kakak."


Shan mengusap kepala istrinya, mengecup lembut kening Maira, membisikkan doa disana.


Suara para sahabat Maira yang meminta dikenalkan dengan Shan membuat sesi pelukan mesra mereka terganggu. Wanita itu berdiri didepan tubuh suaminya, menghalangi uluran tangan gadis bule pecicilan.


Shan hanya tersenyum melihat sikap protective Maira, hingga suara kedua mertua mengalihkan perhatian pria tampan yang tengah jadi pusat perhatian.


"Shan, capek ya. Sudah makan?" tanya Mahen mendahului Naya.


"Belum Yah, nunggu Ai. Bentar lagi lunch kan?" sahutnya meraih pinggang ramping Maira.


Mereka beramah tamah disana hingga satu jam lamanya. Kemudian memutuskan menuju hotel untuk bersua dengan kerabat Kusuma, Jimsey alias Galuh, pemilik Exona tempat Mahen dulu mengabdi sekaligus sepupu Kakek Maira. Maira berpelukan, farewell dengan para sahabat dari berbagai negara sebelum dia pergi.

__ADS_1


Menjelang sore hari.


Kusuma pamit undur diri setelah perbincangan lama dengan Galuh di sebuah Resto hotel tempat Mahen menginap. Lelaki sebaya Abah itu mengatakan agar keluarga Mahendra mengunjungi kediaman mereka sebelum terbang kembali ke tanah air.


Shan menolak halus sebab susunan acara yang telah Oma Dubai nya buat tak memiliki spare waktu tersisa, sehingga mereka memutuskan berpisah. Mertua Shan pergi dengan Galuh sementara dia dan Maira stay di hotel reservasi Mahen untuk beristirahat.


"Pakai kamar Ayah dulu, lumayan masih lama batas waktu check-out nya. Malam nanti setelah acara, barulah pindah hotel ke reservasi Shan. Gaun dan jas kalian sudah siap diatas, istirahat dulu gih. Kami ke eyang Galuh dan langsung pulang," tutur Mahendra.


Keduanya sepakat, lalu pasangan muda melambai melepas para Sepuh pergi.


"Ayo, Sayang." Shan menarik jemari Maira menuju kamar mereka.


Biip.


Canggung. Meski bukan pertama kalinya berada dalam satu kamar, namun ini moment dimana Maira baru mengakui dengan jujur perasaannya pada Shan.


"Kenapa, kok diem di situ?" tanya Shan usil, mengerti kecanggungan Maira.


"Sini," Shan menarik pergelangan tangan Maira, menjauh dari ambang pintu.


"Mau mandi duluan atau bareng?" goda Shan lagi.


"Ish, aku duluan." Maira berdiri di depan meja rias. Mulai membuka satu persatu kain yang menutup tubuhnya. Dimulai dari hijab, hingga pengait kebaya.


"Aku bantu," Shan menyingkirkan ikat rambut istrinya ke samping, lalu melepaskan kancing pengait dan menarik resleting hingga batas bra.


Huuuffff.


"Kak!" bulu kuduk Maira meremang akibat ulah usil Shan yang meniup tengkuknya.


"Apa? itu ada semut," kekehnya menggoda.


"Mana ada ya. Ehm, rambut belakang belum tumbuh ya, bekas operasi itu?"


"Sudah, Sayang. Tapi belum panjang. Gak penting ini sih, bagus malah pendek jadi terekspos jelas." Shan memeluk pinggang Maira, menempel dengan tubuhnya tanpa celah lalu mengecupi tengkuknya yang terbuka, leluasa.


"Enghh." De-sah halus lolos dari bibir Maira.


Shan hanya berniat menggoda, dia lalu melepaskan tubuh yang meremang itu begitu saja. "Lekas mandi, Ai."


"Lekas, lekas, gak ngerti atau apa ya, kalau aku nervous."


"Jantungku, duh, pelan Shan, pelan."


.


.


..._____________________...

__ADS_1


__ADS_2