
Semua pemberian Shan sejak dia tiba kemarin, terpajang rapi di sofa panjang tengah ruangan kamar suite yang mereka tempati.
Maira tertarik dengan satu goodie bag berwarna hitam yang teronggok diatas meja dengan buket bunga baru. "Apalagi ini, Kak?" serunya.
"Apa?" ujar Shan, dia lebih dulu masuk ke dalam bathroom.
Maira membuka pita pengaitnya lalu meraih sesuatu dari dalam sana. "Lembut, silky." Tangannya menarik benda itu keluar dari tas kertas.
Alangkah terkejutnya sang princes Kusuma, benda ditangan kanan kini adalah sesuatu yang dapat membangkitkan gairah lelaki. Wanita ayu itu terburu memasukkan kembali ke tempat semula.
Tanpa Maira sadari, Shan memperhatikan dari ambang pintu bathroom. Dia pun bersiul. "Dipake, Sayang."
Blush.
Menantu El Qavi merona. Mengacuhkan apa yang Shan katakan. Dia langsung membuka kopernya, mencari piyama tidur dan bergegas ke kamar mandi.
"Kak, permisi. Mau make kamar mandinya," ujar Maira meminta Shan menyingkir dari sana.
Putra sulung Ezra hanya tersenyum melihat istrinya gugup. "Dipake ya nanti, udah dibeliin Bunda, itu bukan aku yang siapin," kekehnya.
"Hah, Bunda?"
"He em. Biar putrinya panen pahala, kata Bunda. Gak percaya? kita buka chat beliau nanti. Lekas ya Sayang, sudah dini hari," ujar Shan berlalu dari sana.
Pillow talk.
Keduanya kini sudah bergelung dibawah selimut yang sama. Maira memberikan ponsel Shan yang dia bawa. Lelaki itu pun langsung mengaktifkan dan membagi kabar pada keluarganya via video call.
"Kak, masih lama?" ujar Maira sangat lirih. Dia mulai mengantuk.
Shan langsung mengakhiri panggilan mendengar istrinya mengeluh. Dia pun meletakkan ponsel disamping tab diatas meja nakas.
"Kita tinggal dimana nanti?"
"Terserah Kakak, aku ikut," ujar Maira mulai masuk ke pelukan Shan.
"Apart atau rumah?" tanya Shan.
"Rumah."
"Besar atau kecil?"
"Asri tapi gak terlalu besar," jawab Maira cepat.
"Ok, done. Alhamdulillah, nanti kita hunting dan selesaikan interiornya. Mau lihat?"
__ADS_1
"Lihat apa?"
"Rumah impian kamu," Shan meraih tab diatas meja, lalu membuka file disana, memperlihatkan pada Maira tentang project yang dia kerjakan dengan Syaharan.
Kantuk yang datang seketika hilang. Maira mengamati site plan bangunan dua lantai, mengusung konsep rumah bertumbuh nan asri.
"Suka?"
Istri Shan Qavi mengangguk antusias. "Fasadnya dapat darimana? bebatuan warna Jingga?" tanya Maira terheran.
"Rahasia, nanti kita lihat ya. Belum sepenuhnya jadi. Makasih Sayang, ini terinspirasi dari kamu, aku ikutkan dalam event konsep design rumah bertumbuh yang sedang trend in ... semoga kita pun growth up menjadi lebih baik dari sebelumnya selama bersama, bagai rumah ini," tutur Shan, mengecup kening Maira.
"Aku, gak tau harus bilang apa."
"Gak usah bilang apa-apa, ini aja...." Shan meletakkan tab begitu saja. Dia menelusupkan tangan ke balik gaun tidur Maira, mengusap kulit mulus nan halus, perlahan dia mendekatkan wajahnya, mulai mencecap manis bibir sang istri.
Semua perlakuan istimewa, Maira terima juga nikmati sepanjang hari sejak kemarin berkat lelaki tampan disampingnya kini.
...***...
Jeddah.
Fayyadh meradang kala mendengar kisah kelam keluarga Afra yang diceritakan Aiswa. Wanita cantik keturunan Tazkiya itu kemudian meminta sang putra agar lekas memberikan keputusan terhadap pengajuan ta'aruf gadis bermarga Arundati.
"Aku kirimkan draft ke Umma ya. Jawabannya," ujar Fayyadh.
"Siapa?" selidik Fayyadh.
"Putri Yai Zainal, kawan baik Njid kamu. Namanya Zaynah Nur bintu Zain. Profile dia sudah Umma send by e-mail ya," ujar Aiswa.
"Ok, tapi final answer ... Umma pilih mana yang terbaik untukku. Sudah paham kan kriteria wanita idaman aku," gelak Fayyadh ringan tanpa beban.
"Masa Umma? kan menikah itu kalian nanti yang bakal menjalaninya. Cinta atau enggak," ujar Aiswa.
"Pilihan Ibu itu gak pernah salah. Aku yakin Umma dan Abi pasti gak sembrono. Bakalan poll ikhtiar langit dan bumi untukku ... jadi aku sami'na wa atho'na sareng Umma, kheir in sya Allah. Cinta itu bisa dipupuk, yang penting orang tua ku ridho, keluarga juga dan dia gadis baik, mau sama-sama ibadah nyenengin Allah, Rosulullah, juga Umma," tutur Fayyadh, pasrah.
"Tapi nanti Mas pasti nadzor kan?" cemas Aiswa.
"Nggih, in sya Allah kalau Umma sudah setuju. CV nya tolong kirimkan padaku, jadi aku tenang menyelesaikan kuliah disini," jelasnya lagi.
"Mas. Gak lagi pasrah karena putus cinta, kan?" selidik Aiswa.
"Enggak. Aku cuma mikir gini terhadap kejadian lalu. Kalau aku milih, Umma gak setuju ya sakit akhirnya. Beda cerita jika ibuku memilihkan, meskipun aku belum cinta tapi yakin doa akan deras mengalir dari Umma juga Abi untuk kami, itu paling penting," jawab Fayyadh tegas.
"Alhamdulillah, ilmunya dipake," ucap Amir menyambung obrolan mereka berdua yang di loudspeaker oleh Aiswa.
__ADS_1
"Berkat belajar sama Abi ini. Merelakan kekasih hati menikah dengan pria lain lalu pasrah dan mendapatkan Umma lagi," gelak Fayyadh menyindir telak ayahnya.
Aiswa tertawa. "Mas. Kamu itu."
"Afra sakit loh, Mas. Kamu gak kasihan? Abi kan menikah dengan Ibu Runi dulu karena alasan yang sama. Mau ikut jejak Abi?" seloroh Aiswa.
"Afra sakit?"
"Iya. Katanya gak mau berobat."
"Kasihan amat ya. Terus apa hubungannya dengan aku?" tanya Fayyadh.
"Ayahnya mohon kamu bujuk dia agar mau berobat. Bahkan minta kalian pedekate," jelas Amir lagi.
"Begitu ya," ucap Fayyadh terdengar ragu. "Hmm, Umma."
"Apa? jangan bilang keputusanmu berubah, Mas. Keluarga gak ridho loh, terlebih Uyut," tegas Aiswa.
"Tapi, kasihan dia," balas Fayyadh.
"Istikharah, Mas. Jangan buru-buru, tanya hati dan teguhkan niat. Menikah bukan karena iba atau lainnya. Barusan kamu bilang alasan bakti tadi itu," cecar Aiswa mengingatkan.
Hening.
"Abi, dulu niat menikah dengan Ibu Runi kenapa?"
"Karena Umma kamu sudah milik pria lain. Abi gak mau terjerumus dosa mendamba wanita milik saudaranya sendiri. Mana tahu juga akan ada kisah tak terduga, kalau bisa menerawang tentunya Abi akan menunggu Umma menjanda. Kondisi Abi dan kamu berbeda ... Maira dan Shan saling cinta, mereka disetujui kedua kubu dan tiada tabir, Mas!" tegas Amir.
Obrolan panjang nan serius membahas Afra Arundati membuat Fayyadh gamang. Dia lalu memutuskan mengakhiri panggilan dengan kedua orang tuanya.
Pria tampan Kusuma, membuka e-mail, membaca deretan pesan disana yang berisi biodata Zaynah.
"Allah." Fayyadh menekan pangkal alisnya, memijat pelipis pelan.
Dia bangkit, membuka pintu mini balkon kamar dan menerawang angkasa. Ucapan Aiswa, nasehat Amir bahkan amukan Danarhadi berputar bergilir memenuhi otak dan terngiang dalam pendengaran.
"Afra sesungguhnya wanita ideal untukku. Namun apa aku sanggup melawan banyaknya pertentangan ditengah opini keluarga? terlebih uyut. Meskipun Umma merestui, apakah nanti jalanku dengan dia akan mulus? sanggupkah kami apabila mereka menjaga jarak?"
"Kusuma, memegang teguh aturan. Gadis putri Yai kawan Njid, Zaynah Nur juga sama baiknya, bahkan dia bagai cerminku," lirih Fayyadh melepaskan ganjalan hati, membaginya ke udara.
"Fio. Andai...."
.
.
__ADS_1
...________________________...
...Banyak amat kandidat lelaki idaman 😌...