ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 65. AKU PULAAAANG


__ADS_3

Shan berjalan gontai menuju basement. Meninggalkan Maira disana dengan Ratih. Dia hanya fokus ingin segera tiba di mobilnya.


Biip. Biip. Bunyi remote CR-V miliknya.


Pria tampan dengan kemeja hitam di padu dasi silver itu duduk dibelakang kemudi. Dia melonggarkan simpul dasinya, membuka satu kancing bagian kerah berharap mengurangi sesak.


Pandangan netra elang itu tajam, namun seketika meredup seiring cengkeraman jemari pada kemudi hingga urat tangannya terlihat.


Shan menahan marah, lara, duka menjadi satu. Dia bagai Dila, hanya diam ketika hati terlampau pedih.


"Bun, boleh gak sih pulang sebentar?" lirihnya susah payah mengeluarkan kata.


Keturunan bangsawan Qavi menghela tarikan panjang beberapa kali. Kemudian dia melajukan mobilnya menuju kampus sebab hampir terlambat. Amanah melanjutkan prodi sang rektor harus tetap dijalankan.


Siang ini, mungkin hari terakhir ia mengajar. Bertepatan jelang libur semester dia akan mengajukan cuti yang tak pernah diambilnya semenjak menapak kaki di kampus ternama itu.


Beberapa menit selanjutnya. Indonesia Universiti.


Shan bergegas menuju kelas dimana dia harus lekas membagi materi akhir juga sekalian mengumumkan tugas liburan untuk membuat suatu darft project.


Hampir tiga jam dikelas, menjelang Ashar, putra Ezra lalu menuju kubikel bermaksud merapikan beberapa benda yang terpajang disana.


Pria yang selalu berpenampilan rapi ini duduk dibelakang meja. Dia meraih pigura dengan kaca retak yang dijatuhkan Maira kemarin. "Apa ini tandanya kita bakal berpisah, Ai?" hubungan yang retak," gumam Shan.


Lelah hati merayapi raga, Shan meletakkan ponsel diatas meja lalu menyandarkan kepalanya pada bantalan lengan yang di tumpukan di sana. Dia ingin rileks sekejap.


Tanpa terasa, satu jam sudah Shan tertidur disana. Dering ponsel berbunyi tak serta merta membuatnya bangun. Hingga Sumayyah menghampiri kubikel sang sahabat.


"El. Ponsel kamu tuh, bergetar mulu. Eh, El, sakit?" Sumayyah melihat Shan tertidur diatas meja.


"Lah, gak biasanya begini. Bininya ngapain aja sampe dia kelihatan lelah dan ketiduran?" gerutu Sumayyah, melihat Shan nampak kacau.


Kriing.


"Siapa sih, ganggu aja." Wanita muda itu meraih ponsel Shan yang tidak terkunci. Dia melihat satu nama disana.


"Ai El Hayati, ck lebay juga ya kamu, El. Apa coba artinya ini?" decak Sumayyah.


Tak lama kemudian, pop-up notip pesan masuk dari nomer yang sama, menanyakan keberadaan dirinya.


Shan masih pulas, meski Sumayyah mengguncang badannya. Gawai canggih itupun dia letakkan kembali.


Menjelang waktu Ashar habis, menantu Kusuma terbangun. Ponselnya mati, kehabisan daya. Tak dia jumpai dosen lain diruangan itu selain dua orang pengajar khusus kelas malam.


"Eh, El. Ku kira gak ngajar," sapa sahabatnya.


"Ngajar siang tadi tapi ketiduran di kubikel, ini mau balik. Duluan ya," balas Shan seraya keluar ruangan.

__ADS_1


Petang ini saat berkutat dengan kemacetan jalan raya, tiba-tiba Shan kangen kamarnya. Dia pun memutar arah dipersimpangan, berniat menuju rumah Qavi.


Ingin merenung sendiri, Shan memutuskan membeli beberapa porsi fast food agar dirinya tak perlu keluar kamar bila telah tiba di rumah nanti. Enggan menemui banyak manusia untuk saat ini.


Menjelang maghrib, PIK Tower.


Mobilnya dia parkir di ujung karena berniat hibernasi, agar tak menghalangi lalu lalang kendaraan penghuni lain. Shan kemudian bergegas menuju unit mewah milik sang ayah dilantai sepuluh.


Saat tiba di sana.


"Sepi banget, pada kemana ini? Bun? Nenek, Eyang?" panggil Shan menyusuri kamar mereka.


"Eh, nenek tidur. Eyang dan Bunda gak ada, pergi kayaknya," kakak sulung Syaharan tak ambil pusing.


Dia lalu menuju dapur meraih totebag dan mengisinya dengan dua botol air mineral besar dari kulkas, beberapa buah, snack, susu, kopi, jus kemasan bahkan roti. Persis akan berkemah, lalu menaiki tangga menuju kamar.


Sebelum masuk ke ruangan maskulin mikiknya, Shan membuka kamar sang adik kembar. "Loh, Shafiq mana? cuma ada Syamil? ... Mil, Shaf mana?" dia mengguncang badan sang adik yang jika sudah tertidur akan sulit dibangunkan.


Nasib Shan mujur, keberadaannya di rumah tak diketahui siapapun. Dia melenggang bebas mengurung diri.


"Kamarku." Pria dengan tiga adik lelaki, melihat sekeliling.


Seketika hatinya gerimis, dia meletakkan semua bawaannya diatas meja sofa. Lalu membuka mini balkon kamar.


"Maaf ya Ai. Aku butuh waktu sendiri agar ketika kembali nanti, hati ini jauh lebih ringan kala melepasmu atau bisa jadi, tadi adalah moment terakhir kita ketemu," tatap Shan sendu pada cakrawala, melepas sesak ke udara.


...***...


Orchid.


Maira kembali dari Bandara langsung menuju kamarnya. Dia ingin memeluk suaminya itu. "El. Dimana?" serunya riang mencari.


"Gak ada. Kemana dia?" kali ini, Maira kembali turun mencari kedua orang tuanya.


"Yah. Dimana dia?"


"Loh, Maira kok disini? Shan mana? kan tadi dia nyusulin kamu," ucap Mahendra kala baru keluar dari kamar bersama Naya.


"Ke Bandara, kita gak lihat ya, Ratih." Maira meminta penguatan argumen pada asistennya itu.


Ratih mengangguk. "Iya, Nona. Gak lihat Tuan Muda disana," jawabnya.


"Abang, cari Shan. Cari," pinta Naya cemas.


"Ke kampus kali ya. Aku call deh," ujar Maira mengeluarkan ponselnya.


"Udah saling save kontak, Sayang?" goda Mahendra.

__ADS_1


"Udah dari dua hari lalu. Yah, kok gak diangkat?" Maira kecewa panggilannya dialihkan hingga beberapa kali.


"Jadi hatimu gimana?" tanya Naya, menarik lengan Maira agar duduk di sofa ruang keluarga.


"Ehm? apa? ... entah, masih ragu," jawab Maira disela usaha menghubungi Shan.


"Hatimu gak sakit, Sayang?" tanya Mahendra.


"Aku suka Fayyadh tapi gak mau nyakitin dia. Tapi hatiku, berat untuk mengucapkan itu padanya. Inget El dirumah," jawabnya lagi.


"Eh ada pesan dari El...."


"Apa katanya?" Naya penasaran.


Bluk. Ponsel Maira terjatuh ke lantai. Wajahnya memucat.


"Di-dia pergi?"


Mahendra meraih gawai yang tergeletak di lantai. Membaca pesan disana. "Jangan ganggu aku lagi, pergilah."


"Shan. Kok bisa seenteng ini," keluh Mahen.


Naya meraih gawai Maira dari tangan suaminya. "Belum tentu Shan. Coba cari tahu, bukan gaya nulis dia begini. Kita cocokan dengan pesan dia ke Bunda," ungkap Naya, dia menerima pesan Shan kala mereka mengurung diri kemarin.


Maira berlari ke kamarnya, dia merasa kehilangan sosok itu.


"Maira!" seru Mahendra.


"Gini amat ya? kacau semua jadinya? gimana mau nyatuin mereka yang terluka sih, Sayang? satu pergi, patah hati. Satu ngilang. Sementara Maira mengurung diri," Mahen bingung, ikut buntu tak bisa berpikir mana yang harus diselesaikan lebih dulu.


"Sabar. Kita tunggu Maira. Hatinya adalah jawaban segala kemelut ini. Biarkan mereka berkutat, menekuri diri sendiri dulu," saran wanita Kusuma itu.


Brakk.


Princess Kusuma jatuh luruh dibalik pintu. Dia lemas sekaligus kecewa. "Katanya kamu janji gak pergi sebelum semua jelas? aku bertahan denganmu meski hati ini masih ragu," isaknya pilu.


Rasa bersalah kian menggelayuti kalbu wanita ayu. Dia telah melukai hati kedua pria, keluarga juga banyak lainnya.


"Ampuni aku ya Allah. Melukai suamiku, sepupu juga keluarga. Maafkan kebodohan logika hambamu ini," Maira menekuk lutut, memeluk erat dengan kedua lengan lalu membenamkan kepala disana, berharap isakan itu hanya didengar Tuhannya.


Sementara kondisi Fayyadh tak jauh berbeda. Pemandangan di luar jendela, tiada membuat kalbunya terhibur. Pria muda itu menutupi wajah dengan topi dan masker yang dia kenakan. Berkali menarik nafas, menghembus kasar hanya untuk meredam sesak akibat susah payah menahan agar bulir beningnya tak turun.


"Apa memang kau tidak akan pernah kuraih, Maira? Aku selalu saja kalah."


.


.

__ADS_1


...________________________...


__ADS_2