
Menjelang senja, Jeddah dan Switzerland.
Jeddah.
Beberapa hari ini mimpi serupa dan berulang kerap hadir membuat kalbu sang keturunan Kusuma tergelitik ingin mencari tahu. Dia amat penasaran dengan Zaynah. CVnya sungguh sempurna, Fayyadh bagai melihat pantulan cermin diri. Dia kini memutuskan untuk melakukan panggilan pada Aiswa.
Tuut. Dering nada sambungan terdengar dua kali.
"Assalamu'alaikum, Mas. Ada apa, sering amat call Umma akhir-akhir ini," Aiswa melayangkan salam juga teguran.
"Umma, kan mau ada riset dikampus, sejak kamis kuliah libur hingga ahad. Aku pulang ya, ingin nadzor Zaynah," ujar Fayyadh.
"Kamu serius? pengen lanjutin ta'aruf dengan Zaynah?" cecar Aiswa.
"Iya."
Sunyi.
"Halo, Umma."
Beberapa saat kemudian.
"Hutang janji sama Umma bagaimana, Mas?" kali ini suara Amir terdengar, nampaknya Aiswa tadi menghilang sebab mencari sang suami.
"Katanya dia bersedia menunggu," ujar Fayyadh.
"Kelamaan gak? nanti gimana nasib dia digantung, Mas? ta'aruf itu bisa jadi tertolak atau diterima sebab belum jaminan kepastian meskipun memohon petunjuk pada Allah ala wajib," ujar Amir.
Fayyadh gamang, membenarkan apa yang dikatakan Abinya.
"Gini aja, izin dahulu sowan sambil kiasan lihat Zaynah dari jauh sebelum menerima atau melanjutkan sebab jika sudah ta'aruf itu kan dianjurkan tidak terlalu lama menuju khitbah ... sampaikan juga, apabila Zaynah memiliki rasa suka terhadap pria lain, Mas harus legowo sebab kalian gak ada ikatan. Kecuali setelah dari Solo, ada keputusan ingin lanjut dan Zaynah diikat langsung," Aiswa menimbang, urun saran.
"Aku gimana baiknya saja. Lusa akan pulang ke indo."
"Mas, kata Njid. Keluarga Yai Zainal sedang persiapan safar ke Solo, menghadiri haul Habib Alwi sabtu ini, Abi kamu juga kesana besok. Semoga kepanggih," tambah Aiswa menuturkan informasi. (bertemu)
"Umma tolong atur ya. Aku call Abah dulu sebab kata beliau mau jenguk Afra dan aku ingin ikut," ucap Fayyadh lagi.
"Jangan memberi harapan, Mas!" pesan Aiswa tegas.
"Enggak. Sudah ya Umma, aku mau siap-siap ngampus lagi sampai malam."
Fayyadh menutup sambungan setelah salam. Lalu melanjutkan jadwal berikutnya.
"Kebetulan sekali, Solo. Fio, semoga bisa ketemu," gumam Fayyadh, senyumnya tanpa sadar terbit menghias wajah tampan kala senja.
__ADS_1
...***...
Switzerland.
Setelah istirahat sejak kedatangan mereka, kondisi Maira petang ini terlihat bugar. Shan tengah berada di balkon membicarakan tentang pekerjaan yang lama dia tinggalkan disana.
"Zie, mau maghrib kayaknya. Ngemil dulu gak?" tawar Maira melihat kudapan yang di pesan Shan berjajar diatas meja.
Tak ada sahutan dari sosok diluar sana, Maira pun duduk di sofa, mulai mencecap teh Chamomile lebih dulu.
Menantu Guna masuk. "Seger banget sih, udah enakan ya?" tanya Shan saat dirinya mencium wangi semerbak floral dan citrus.
"He em, aku duluan makan ya Zie, lapar banget," sahut Maira seraya mengurai handuk basah yang melilit kepala.
Shan mengusap kepala istrinya pelan. "Tadi nanya sama room boy, ternyata ada masjid di sekitar sini. Aku sholat disana sampai isya ya Ai ... semoga dapat surprise saat pulang nanti," bisik Shan mesra, sambil lalu menuju bathroom.
Uhuk. Uhuk.
"Ya, Sayang." Shan mengerlingkan mata kanannya.
Maira hanya menunduk, tersenyum manis, dia tersipu. Otaknya membayangkan hal romantis.
Hampir pukul sembilan malam, Maira menunggu sang suami yang tak kunjung tiba. Dirinya bosan didalam kamar, lalu memutuskan membuka pintu balkon agar udara sejuk dapat bersirkulasi sejenak.
"Indahnya, kuasa Allah." Maira takjub melihat kebersihan tata kota negara ini.
Shan tertegun, dia melihat sang istri dengan balutan lingerie hitam diatas lutut dipadu jubah tipis berenda yang menjuntai. Rambut hitam sebahu itu terurai indah, kaki jenjangnya menapak lantai tanpa alas kaki. Gestur Maira berdiri membelakangi, menatap pemandangan di balkon nyata membuat gairah putra Ezra muncul, membumbung.
Dia mendekati wanitanya. "Assalamu'alaikum ya baabar rahmah," bisik Shan memeluk Maira dari belakang.
"Wa'alaikumsalam ya sayyidal amin," balasnya lirih, degup jantung putri Naya berpacu.
Shan meraih kedua tangan Maira juga meniupkan di ubun-ubun sang istri. "Roditu billa hi robba, Ya Lathifullah nurun 'ala nur syahidannur 'ala man yasya." Melanjutkan mengecup kedua telinga, "Sam'ika Allahussami." Juga pipi kemerahan Maira. "Ya Karimu Ya Rohmanu Ya Rohimu Ya Allah."
Shan membalikkan tubuh Maira menghadapnya, mengecup hidung bangir seraya berdoa. "Farouhun Waroihanun Wa Jannaatun na'im." Dilanjutkan mencium bahu wanita ayu, "Rohmanaddu-nya Ya Rohimal Akhiroh." Lalu perlahan menjejakkan kecupan untuk sang princess. "Allahu Nurus Samawati Wal Ardhi, Nuru Habibil Iiman Min 'Ibadikas Sholihin." Shan menutup doa, meraih dagu juga menyentuh bibir Maira lembut.
C-up.
"Zie." Maira meletakkan kedua telapak tangannya didada Shan.
"Boleh gak dilanjut?" kilatan sorot mata Shan nampak memuja, mendamba ingin melakukan lebih.
"Boleh, Ridho," senyum Maira tersuguh manis untuk Shan.
"Maa sya Allah, syukron Sayang." Shan membuka telapak tangan Maira, mengecup disana. "Ma Kaddzabal Fuadu Ma Ro,a."
__ADS_1
Angin malam negara bersalju yang masuk lewat celah pintu balkon membuat Maira tak merasakan hawa dingin. Gelenyar hangat mulai menjalari tubuh seksi putri Mahendra kala kedua tangan kekar itu meraba punggung nan terbuka, menarik pinggul hingga menempel ketat dengan tubuh Shan.
Putra sulung Ezra, mengangkat tubuh Maira ala bridal style setelah mengucapkan runutan doa tadi. Perlahan merebahkan tubuh molek nan sintal ke atas pembaringan tanpa melepas aktivitas sebelumnya.
Jemari Shan mencari remote untuk meredupkan cahaya kamar. Sedangkan Maira mengucapkan banyak bait doa sebelum kewarasannya menipis.
"Alaika Mahabbatan Minni. Doa Sayang," bisik Shan lirih seraya menarik selimut.
"Bismillahi Allahumma jannibnaa asy-- " ucapan kian lirih hingga berlanjut dalam kalbu.
"Ziiee," lirih Maira saat telah usai.
Raga keduanya berpeluh setelah belasan menit ibadah halal untuk pertama kalinya.
"Cantik banget sih," puji Shan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah dan dahinya.
Maira tersipu, dia membelai wajah suaminya, menatap ke dalam bola mata elang lalu mulai mendekatkan wajah menempel pada sang pria tampan.
"Doa, Sayang," lirihnya tiada tenaga tersisa.
"Legal terstempel, milik Shan Qavi."
"Aku istrimu seutuhnya, My Zie."
"Meski ingatan itu masih terberai dan belum sepenuhnya utuh, tapi hatiku yakin bahwa memang dirimulah yang termaktub dalam setiap kata tertoreh di buku jurnal milikku. Entah mengapa hadirmu begitu terbias tergambarkan oleh serangkaian kata nan ambigu. Mengapa pula aku tak lantas menyebutkan secara gamblang bahwa aku mencintaimu."
"Knight of Roollies. Sesungguhnya hatiku terdalam, mengenali sosok berwibawa meski rentang usia kita sedikit berbeda. Namun, kamu begitu dewasa, ya Azizi, Shan Qavi. Semestinya aku sangat bahagia. Terimakasih ayah, sangat mengenali putrimu sehingga keputusan yang engkau ambil, justru menjadi sumber bahagia kami."
"Mikirin apa?" suara Shan parau, menahan kantuk.
"Zie," jawab Maira singkat.
"Why?"
"Bersyukur bahwa keputusan ayah gak salah. Beliau pasti kesulitan saat akan mengambil sikap tegas untuk keluarga besar," lirih Maira, menduga bahwa dirinya penyebab kesusahan hati kedua orang tua kala itu.
"Hem, susah. Sampai aku berusaha meyakinkan beliau tapi ayah teguh ingin menjaga keutuhan keluarga besar. Gak tahu jiga, mungkin semua berkat support abah juga abi Amir," imbuh Shan.
"Garis nasib. Semoga berjodoh panjang dan tak hanya di dunia ya, Zie," tambah Maira saat akan bersiap turun menuju bathroom.
"Hmm, aamiin. Ayo berwudhu lalu istirahat, Sayang. Masih banyak agenda kita di negara ini, jangan sampai tidak dimanfaatkan dengan baik waktu yang Oma siapkan sebab setelah ini aku dan kamu pasti akan sangat sibuk," kata Shan kemudian.
"Oke, Zie." Putri Naya, mengikuti segala ucapan suaminya. Bakti Maira, bakti secara penuh agar engkau mendapat kemuliaan, batin Maira.
.
__ADS_1
.
..._____________________...