ISTIKHARAH CINTA KUSUMA

ISTIKHARAH CINTA KUSUMA
BAB 41. AKANKAH JATUH CINTA, LAGI?


__ADS_3

Dewiq menghampiri Naya, menarik lengan wanita keturunan ningrat itu agar bergabung dengan team dokter di dekat ranjang Maira.


"Naya, baiknya kamu mendengar penuturan team dokter," bisik Dewiq.


Maira hanya memperhatikan dengan sorot mata kosong. Seakan masih gamang akan situasinya.


Indera pendengaran Ainnaya telah dalam mode siaga penuh, agar apapun kata yang terucap dari para ahli dapat dia terima dan cerna dengan baik.


"Nona Maira baiknya dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan sekaligus memastikan diagnosa kami. Kondisi organ vitalnya sudah mulai membaik dan dalam pasca pemulihan. Putri Anda masih terlihat shock. Ini kesimpulan sementara kami. Mohon di perhatikan perubahan perilakunya beberapa jam mendatang," terang salah satu team dokter.


"Jadi, besok pagi nanti aku kesini bawa Ambulance ya Naya atau jika Maira fit, bisa pakai kursi roda dan kalian antar ke Hermana Hospital," saran dewiq memberikan opsi lebih ringkas.


"Oh Ok. Akan aku perhatikan seksama kondisi putriku. Terima kasih banyak," jawab istri Mahendra Guna.


Dewiq lalu memeluk saudaranya sebelum keluar kamar Maira bersama para rombongan. Dia tetap meninggalkan suster disana, semalam petugas medis yang seharusnya berjaga meminta izin pulang awal sebab suaminya cedera. Maka, sepanjang malam itu wajar jika progress Maira menuju sadar tidak terdeteksi baik.


Ketegangan berangsur-angsur pudar. Ibu dua anak itu kembali duduk di hadapan putri sulungnya. "Kak, mau ngemil kueh?" tanya sang Bunda.


Gadis cantik itu terlihat ragu, namun sejurus kemudian dia mencoba bangkit. Infusnya sudah dilepas atas permintaan Mahendra karena keluarga Guna berjanji akan membantu menyiapkan menu sehat mulai siang nanti sebagai asupan makanan bagi Maira.


"Bunda bantu, mau ya." Naya membantu anaknya bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang.


Maira lalu menunjuk ke arah tenggorokannya seakan mengatakan bahwa disitulah pemicu rasa sakitnya.


"Sakit, Sayang?" selidik Naya lebih dekat mengamati.


Maira mengangguk dan tetap memegangi leher jenjangnya.


"Minum yang banyak, tapi pelan-pelan. Maira inget Bunda kan?" akhirnya keraguan akan pertanyaan itu mengemuka.


Tangan kanan Ibu Mifyaz mengambil gelas berisi air mineral dari atas meja, lalu membantu menempelkan ujung mulut tumbler pada bibir Maira agar putrinya dapat meneguk dengan baik.


Lagi-lagi, putri sulungnya mengangguk. Dia lalu meraih telapak tangan ibunda agar membuka. Lalu dengan jari telunjuk kanan, Maira menuliskan sesuatu disana.


"B u n d a N a y a, i b u k u," ucap Naya mengeja satu persatu huruf yang Maira somboliskan di telapak tangannya.


"Sayang, kamu bikin cemas Bunda aja," girang Naya, mengusap kepala Maira.


Gadis itu tersenyum samar, sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas membentuk seringai kesakitan.


"Sakit banget ya? masih ingat kan bacaan sholat?"


Lagi-lagi, putri sulung Mahendra mengangguk .


"Sholat dzuhur dulu lalu istirahat ya. Nanti Bunda bangunkan untuk ngemil sore. Lekas kembali menjadi Maira kami, Sayang." Naya mengecup dahi putrinya, membantu tayamum dan memakaikan mukena kemudian meluruskan tubuh agar nyaman berbaring serta menarik selimut. Menunggu Maira hingga selesai sholat.


Satu jam kemudian.


Seperti percakapan dalam telepon pagi tadi, Dilara mengunjungi Orchid dengan Ezra tepat pukul dua siang.


Mahendra tengah membantu Shan keluar dari kamar Mandi saat kedua orang tuanya tiba. "Shan mau sholat dulu ya Bun, sudah akhir waktu," ujarnya saat melihat Dila cemas.

__ADS_1


Pasangan Qavi lalu duduk di sofa kamar sementara Naya memilih mendaratkan bo-kongnya di karpet seraya melonjorkan kedua kaki yang pegal. Melihat besan wanita duduk dibawah, Dilara ikut bergabung dengan Bunda Maira.


"Eh, Bu Dila duduk di atas, aku kemarin kram. Abang lupa mijitin semalam karena dia meeting streaming jadi masih berasa pegal ni kaki," jelas Naya pada sang besan, namun tetap tak Dilara gubris.


Setelah Shan selesai, Mahendra berinisiatif akan memapah menantunya itu untuk kembali duduk di kursi, namun Ezra mencegah. "Biar aku, Mas."


Melihat kedua pria paruh baya akan membantu dirinya, Shan menolak. Dia memilih merangkak menuju ibunda lalu merebahkan kepala di pangkuan Dila.


"Udah punya istri, kok masih manja Kak," tegur Dila pada putra sulung.


"Ai masih belum pulih, Bun. Semalam mau manja sama dia tapi kepalaku sakit, ponselku off dan entah dimana," keluh Shan.


"Pantesan Bunda telpon semalam gak aktif, kamu terlalu jahat sama diri sendiri, Kak. Sudah Bunda bilang, balance kan kegiatan apalagi ada Maira yang butuh banyak perhatian kamu," sambung Dila, mengingatkan agar putranya tak lagi lalai.


"Shan care and protect dengan Maira kok. Cuma maaf ya Shan, Bu Dila, kami kurang perhatian dengan kesehatan kamu sampai jatuh begitu. Pasti sakit banget itu ya," cemas Naya, sedikit sungkan pada besannya karena tidak dapat menjaga putra mereka dengan baik.


"Gak apa. Sudah mendingan, kepalaku udah lama gak sakit hebat begitu. Memang pressure kerjaan bejibun pekan ini. Salahku Bun," bantah Shan terhadap argumen Naya.


"Jangan bikin mertuamu khawatir Kak. Beneran ini gak apa? dokter jangan bohong loh," tegur Dila lagi.


"Enggak, Ayah Mahen udah sigap banget ngobatin luka aku tadi. Syukron Yah," ucap Shan untuk mertua laki-lakinya.


Mahendra hanya tersenyum, kedua pria itu lalu keluar kamar, membiarkan para wanita di sana.


Selepas kepergian suami mereka, Naya memberanikan diri mengungkap penilaian sementara team dokter pada pasangan ibu dan anak itu. Shan wajib tahu karena dia wali sah Maira kini.


"Hmm Shan, Bunda mau bicara serius. Sudah lebih baik kan? kira-kira siap gak kalau sekarang?" tanya Naya khawatir.


"Ya Allah, menantuku adem amat ya ... bismillah, Maira sudah sadar tepat saat Shan jatuh di depan pintu bathroom tadi. Hanya saja, dia masih kesulitan bicara sebab area mulutnya iritasi hingga ke pangkal tenggorokan. Kata dokter macam reaksi luka yang belum pulih juga karena lama tak sadarkan diri," ungkap Naya perlahan-lahan pada pasangan ibu dan anak di hadapannya.


"Alhamdulillah." Suara Dila dan Shan berbarengan mengucap syukur.


"Besok pagi, Maira akan menjalani pemeriksaan lanjutan. Semoga hasilnya baik, Bunda cemas saat dia sulit di ajak komunikasi tadi sebab seakan limbung," keluh Naya, mengutarakan kecemasan.


"Gak amnesia kan?" tebak Dila to the point.


"Semoga sih enggak Bu Dila. Dia ingat padaku, tapi entah yang lainnya karena tadi Dewiq gak menyarankan Maira banyak bicara dulu," jelas pemilik gelar Raden Ayu Ainur DinaraBraja itu.


"Shan, hmm seandainya hmm itu...." Naya diam, tak tega rasa hati mengungkapkan kemungkinan terburuk.


"Dia lupa padaku? itu kan maksud Bunda?" tegas Shan menohok tepat di hati Naya.


Wanita berusia empat puluh tahun itu mengangguk ragu. "I-iya."


"Dia istriku, Bun. Diterima atau tidaknya kehadiran ku disisi Ai tidak akan menyurutkan hati ini untuk tetap sayang padanya. Kan sudah niat sejak awal aku menikahi Ahya berarti satu paket dengan risikonya," jawab Shan mencoba tegar meski hatinya tercubit, bagaimana reaksi yang dia tunjukkan nanti agar tak terselip nafsu amarah pada ilahi mendapati kenyataan demikian.


"Bunda merasa gagal, Shan." Tangis Naya akhirnya pecah.


"Bu Naya. Banyak ikhtiar yang bisa kami lakukan. Aku dan Shan tidak akan menyerah pada garis nasib, ujian bagi putraku akan di terima. Bukankah Allah sudah menyiapkan solusi untuk setiap masalah?" Dila menenangkan Naya. Dia tahu, hati ibu disampingnya ini hancur sebab kebahagiaan tak kunjung menemukan tempat singgah dalam biduk rumah tangga putrinya.


"Jangan pesimis Bun. Bantu aku selalu agar tak merasa sendiri...." Shan meraih tangan Naya untuk di kecupnya.

__ADS_1


Perlahan mentari meredup bersiap menyerahkan tugas menyinari semesta pada dewi malam. Menjelang Maghrib, pasangan Qavi pamit pulang. Mereka menyempatkan menyapa menantu tercinta.


"Maa sya Allah, pantesan Shan jatuh cinta pada pandangan pertama saat lihat kamu. Cantik banget," Dilara membelai lembut wajah ayu Maira. Gadis itu hanya tersenyum manis tanpa menanggapi.


Sepuluh menit waktu yang Dila habiskan untuk memandang, mendoakan juga memeluk Maira. Tak berapa lama, mereka pun keluar ruangan meninggalkan pasangan pengantin baru disana.


Shan hanya mengantar kedua orang tuanya di ambang pintu kamar, kemudian menutup lempeng kayu itu pelan. Pandangan pria itu lalu menoleh ke arah ranjang dimana istrinya berada, berjalan lambat menghampiri.


"Ai, welcome home Sayang." Shan meraih pucuk kepala Maira lalu mengecupnya, saat dia telah berada di sisi tempat tidur.


Sontak Maira terkejut atas sentuhan itu, dia beringsut menjauh enggan di dekati oleh Shan.


"Allah, Ai kenapa lagi?"


"Aku suamimu, Sayang. Halal menyentuhmu bukan? apa kau marah padaku?" tanya Shan berusaha menenangkan Maira yang gelisah.


Wanita cantik itu lalu menutup diri dengan selimut hingga kepalanya. Menghindari tatapan intens Shan.


Huft. "Sabar, Shan."


"Mahya Humaira, mau lihat ini gak sebentar, Baby?" bujuk Shan meraih tab di atas meja, dimana semua momen sakral mereka diabadikan oleh Ajmi.


Sunyi.


Mendengar suara lembut Shan, Maira terpicu untuk melihat apa yang pria itu sebutkan tadi. Perlahan selimut pun terbuka, sedikit demi sedikit mengintip lelaki yang mengaku suaminya itu.


Shan tersenyum, sangat menawan, saat melihat tingkah lucu Maira yang bagaikan anak kecil sedang merasa ketakutan akan sesuatu.


"Cakep banget sih, suamiku?"


"Coba lihat, bisa scroll kan? aku gak akan sentuh kamu lagi. Sementara ini." Shan menjulurkan tab ke pangkuan Maira saat istrinya telah duduk.


Jemari kurus itu mulai menyentuh benda pipih berlayar 10 Inc diatas pangkuan. Membuka tombol kuncinya lalu mencari galeri foto disana.


Ekspresi wajah cantik itu berubah-ubah. Dia mendongakkan kepala ke arah Shan lalu menunduk kembali seakan tengah memindai sebuah wajah.


"Itu fotoku saat kita menikah. Kini aku telah sah sebagai suamimu, namaku Shareef Shan Qavi," ujar Shan kembali melayangkan senyuman manis.


"Bunda, Buun, dia tampan banget sih."


Degh.


Degh.


Degh.


.


.


...______________________...

__ADS_1


...Kisah Shan & Maira, dimulai 😌...


__ADS_2