
"Hmm, A-ku," lirih Maira.
"Gak usah di jawab. Lupakan kalau kamu tidak tahu apa jawabannya," ujar Shan.
Pandangan lelaki tampan itu kembali lurus ke depan, berkonsentrasi mengemudi.
"Mau lihat Jasper gak? kalau iya, nanti kita belok di depan sana sebentar sebelum pulang ke Orchid," tawar Shan, tak menoleh pada Maira.
"Jasper, boleh deh."
Suara terakhir yang terdengar dalam kabin mobil mereka, sebab setelah ini keduanya hanya diam hingga jarak perjalanan itu terkikis habis oleh sunyi.
Saat akan meninggalkan rumkit tadi, Shan dan mertuanya berpisah tujuan. Pasangan itu menuju Kota Hujan untuk melakukan kontrol rutin perkebunan sayur juga menjenguk para anak asuh yang dikelola keluarga Guna. Sementara mereka menuju klinik hewan.
Shan mengurangi laju kendaraan dan mulai memasuki deretan ruko bisnis tempat kliniknya berada.
"Nah sampai, turun yuk. Mau pakai kursi roda atau aku papah?" tawar Shan sebelum dia turun.
"Sudah boleh jalan kan? meski pelan?" cicit Maira masih segan dengan suaminya itu.
"Boleh tapi gak bisa lama, jadi setelah masuk nanti, pake kursi roda lagi ya," balas Shan tanpa menunggu respon Maira, dia turun mendorong pintu dan ke belakang membuka bagasi untuk mengeluarkan chair.
Lelaki tampan kemudian memutar ke arah kiri, membuka tuas pintu mobil dan menjulurkan tangannya sebagai tumpuan saat Maira hendak turun. Namun ditampik wanita ayu itu.
Tiba-tiba. "Ai!" Dengan cekatan, lengan Shan meraih tubuh istrinya yang hendak jatuh.
"Kalau kau gak suka aku membantumu ya gak apa asal kondisimu telah sehat. Paling tidak dapat menopang beban tubuh sendiri," ujar Shan masih bicara lembut pada Maira.
"Bila semua bantuanku ini seakan mengkerdilkan dirimu sebagai wanita mandiri, aku minta maaf. Tiada niatan demikian karena semata hanya menunaikan tugasku sebagai suamimu. Namun jikalau yang ku lakukan membuatmu risih, aku akan berusaha mengurangi sentuhan fisik," tutur Shan.
Maira hanya diam, dia masih berusaha untuk perlahan berdiri dan meraih kursi rodanya. Shan hanya melihat, membantu yang dia bisa meski berkali di tampik wanita cantik ini.
Sepuluh menit kemudian.
Shan tiba-tiba bergegas masuk ke dalam klinik seorang diri, meninggalkan Maira disisi mobilnya. Tak lama kemudian datang dua orang wanita menghampiri Maira yang kesulitan mengendalikan laju roda sebab permukaan paving yang tak rata.
"Nyonya, mari kami bantu. Kata Dokter El, saya harus membawa Anda ke ruangan beliau. Sebab Dokter tadi dipanggil untuk melakukan tindakan urgent bagi kucing korban tabrak lari milik seorang member disini," ucap gadis ayu dengan kuncir kuda.
"Oh, dia ninggalin aku karena sesuatu? ku kira kesal padaku," batin Maira.
Putri Mahendra Guna mengangguk setelah mendengar penjelasan pegawai Shan tadi. Dia lalu di dorong oleh salah seorang gadis, sedangkan pegawai satu lagi mendampingi dan membantu menarik roda depan kala Maira akan menaiki teras klinik.
"Eh tempat ini? rasanya aku pernah kesini?"
__ADS_1
Saat masuk kedalam bangunan dengan fasad depan yang sangat mencerminkan pet shop, Maira terkesima.
"Indah sekali, bagai hotel khusus binatang peliharaan," gumamnya.
"Ruangan Dokter El, silakan Nyonya. Beliau di lantai dua, kira-kira masih dua puluh menit lagi selesai," terang gadis dengan rambut kuncir kuda.
"Ok. Di lorong kanan tadi apa Mbak," tanya Maira.
"Salon dan treatment serta playground untuk kucing dan lainnya. Sebelahnya lagi galery anakan kucing ras. Jika lorong kiri, itu juga sama. Bagian belakang ada pantry dan area karyawan. Jika lantai atas itu ruangan tindakan juga untuk perawatan termasuk penitipan," terang sang gadis.
"Yang di sebelah ruangan siapa? takut aku bosan nanti nyasar kalau gak tahu tempat," kilah Maira.
"Dokter Sandra, rekan Dokter El. Karena klinik ini ada dua shift jadi Dokternya juga double. Bila Nyonya butuh sesuatu, bisa tekan tombol ini nanti ada petugas datang karena terkoneksi dengan meja frontline di lobby depan," balas sang pegawai lagi sebelum ia meninggalkan Maira di ruangan mewah milik suaminya itu.
"Canggih, rapi dan wangi parfumnya. Begini ya ternyata ruangan dokter hewan itu, gak kayak ruang periksa untuk manusia," kekeh Maira melihat sekelilingnya.
Istri Shareef Shan Qavi mendorong kursi rodanya menuju meja tamu, lalu meraih katalog klinik milik sang suami yang dipajang diatas meja. Juga beberapa majalah berisi berbagai macam jenis kucing ras serta binatang peliharaan lainnya.
"Eh ini, dia kan? pemilik franchise pet shop terbersih, canggih di beberapa kota besar," Maira melihat ulasan di salah satu artikel majalah tentang sosok Shan.
Seakan belum puas mengenal pria bertitel suaminya itu, Maira membuka lembar demi lembar halaman majalah kedua. Tepat dibagian akhir, lagi-lagi dia menemukan satu artikel yang membahas sang dokter hewan. Kali ini bahkan dua page full lengkap dengan foto Shan yang menampilkan gaya cool bersedekap mengenakan jas putih.
"Oh dia juga mempunyai penangkaran kucing ras unggul juga membuka pelatihan bagi para pecinta kitty sekaligus mempunyai komunitas charity untuk binatang liar yang cacat atau membutuhkan perawatan, vaksin dan membantu tugas dinas sosial dalam menekan populasi hewan di ibukota, maa sya Allah, banyak sekali kegiatannya tapi gak kelihatan sibuk," gumam Maira. Tak menyadari bila Shan sudah ada di belakang tubuhnya.
"Maaf ya tadi ninggalin kamu disana gitu aja karena tadi ditarik Rudy, veteriner disini," jelas Shan mengagetkan Maira yang masih asik membaca ulasan tentang dirinya.
Maira terjengit kaget, sontak menutup majalah yang tengah dia pegang dan baca. "Eh, sejak kapan?" gugupnya.
"Sejak tadi. Kamu mau lihat Jasper sekarang? atau makan dulu?"
"Lihat kucing," jawab Maira antusias. Binar matanya bagai bertabur kerlip bintang, berkilau.
"Happy banget. Aku dorong ya," izin Shan takut bilamana wanitanya merasa di rendahkan lagi.
Maira mengangguk, seraya tersenyum manis pada Shan.
"Booster," ujar Shan, dia meraih handle kursi roda Maira, dan mulai mendorongnya.
Saat baru keluar ruangan, sebuah suara lembut memanggil Shan.
"El." Suara seorang wanita.
Maira dan Shan menoleh ke arah belakang mereka, mendapati sosok cantik dengan rambut kecoklatan mendekat.
__ADS_1
"El. Sorry telat karena muterin satu blok dan kejebak macet, udah dikasih tindakan ya?" tanyanya dengan nada lembut, lalu sekilas melihat pada Maira.
"Iya, kebetulan baru sampai sini tadi. Kamu teruskan observasi, datanya ada sama Rudy. Aku duluan ya, habis ini langsung pulang," sahut Shan, berbalik badan hendak meninggalkan Sandra.
"El, siapa?"
Shan berhenti lagi, kali ini dia memutar kursi roda Maira menghadap Sandra. "Siapa apanya?"
"Dia, saudara yang mau adopt kucing?" selidik wanita cantik keturunan bule, melirik pada Maira.
Shan mengerti lalu mengenalkan keduanya. "Mahya Humaira, istriku ... Sayang, dia Sandra, rekan sejawat disini," ujar Shan menggenggam erat jemari Maira lalu mengecupnya.
Sandra terkejut, raut wajahnya menyiratkan kekecewaan. "Kapan kamu nikah? kok gak ngabarin? sengaja di sembunyikan karena--" sindirnya.
"Nanti undangan resmi bakalan sampai kok, kalau disembunyikan gak mungkin aku ajak jalan istriku sekarang ... menikah bukan karena terjadi sesuatu lah, murni cinta," sahut Shan lagi.
"Ini kenapa? sakit atau ca--" cibir Sandra atas kondisi Maira yang duduk di kursi roda.
"San! jangan gitu lah. Ai-ku sangat se--" hardik Shan sedikit tersinggung Sandra mengira Maira cacat.
"Suamiku tak ingin kakiku terluka lagi sebab heelsku goyang akibat permukaan paving didepan yang gak rata, dia overprotective," sambar Maira, perlahan dia bangkit.
Shan mengerti maksud hati istrinya, tak ingin di remehkan. Dia menahan kuat handle kursi roda agar Maira tegap bangkit tanpa bantuan. Setelah wanitanya berdiri, Shan tahu pijakan kaki jenjang itu belum tegap maka sejurus kemudian menantu Naya mengalungkan lengan kanan, menggamit pinggang Maira agar bisa dijadikan penopang tanpa Sandra sadari.
Saat Maira menyadari itu, dia menoleh ke arah Shan yang justru memberinya senyuman menawan.
Sandra kesal. Ada rasa cemburu melihat kemesraan mereka di depan matanya.
"Duluan ya, San. Cuti ku masih enam hari lagi, titip klinik ... yuk, Sayang." Shan meninggalkan Sandra disana, memutar tubuh Maira perlahan masih mengalungkan lengan di pinggang ramping istrinya.
"Thanks," bisik Maira.
"Sama-sama, Sayang. Terimakasih banyak sudah berusaha untukku," bisik Shan.
"Untuk kehormatan aku, bukan kamu."
"Iya iya Nyonya Shan. Iya," kekeh Shan, kali ini Maira ikut tertawa ringan.
.
.
...______________________...
__ADS_1