
*
*
"Disini, di perut yang langsung menembus organ dalam. Aku kehilangan banyak darah, dan, dan..." Asta tidak melanjutkan perkataannya. Xabiru menenggelamkan kepalanya ke dadanya agar ia tidak mendengar lanjutan ucapan Asta.
Penusukan itu, Xabiru juga melihatnya. Sempat beredar videonya, bahkan menjadi trending topik. Sangat populer sampai dirinya yang tidak pernah membaca dan mengikuti gosip pun tahu.
Dan Asta memang ditusuk berkali-kali dengan brutal, juga, jangan lupakan wajah kejam dari perempuan yang menusuk Asta. Xabiru bahkan terbayang rasa sakit yang di derita Asta kini. Asta terlihat sangat kesakitan, ia bahkan memohon untuk menghentikan penusukan, tapi tidak di dengar.
Xabiru kala itu belum tahu apa-apa bahkan sudah membenci orang yang menusuk. Lalu setelah kini tahu apa yang terjadi dan ternyata Asta lah yang sebetulnya mengalaminya, ia benar-benar sangat marah. Emosinya memuncak, tatapan matanya menjadi tajam dan lebih dingin lagi.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi setelah semuanya aku bisa menyimpulkan, hal yang membuat Sintia membuatku tersiksa adalah hanya karena ia iri pada kehidupanku." Ucap Asta. "Kau percaya kelahiran kembali?" Tanya Asta.
Xabiru terdiam, mengontrol emosinya sejenak sebelum menganggukkan kepalanya cepat. Tentu saja ia percaya, bukankah orang di depannya juga mengalami hal yang hampir serupa? "Ugh, maksudmu Sintia terlahir kembali?" Tanya Xabiru.
Asta menganggukkan kepalanya. "Ya, dia telah dilahirkan kembali. Aku tidak tahu jelasnya apa yang terjadi padanya di kehidupan sebelumnya sampai ia melakukan hal keji padaku waktu itu. Tapi yang ia tekankan adalah ke irian. Bisa jadi, aku mempunyai kehidupan yang sangat baik di kehidupan sebelumnya? Entahlah. Aku bahkan masih penasaran detail hidupnya seperti apa, dan ingin bertanya dengan jelas apa yang membuat Sintia melakukan hal ini padaku." Jelas Asta.
Ia memang penasaran, apa yang terjadi? Seberapa parah kehidupan dan nasib Sintia sebelumnya sampai ia berbuat jahat dan tak segan menyiksanya di akhir. Tapi ia tidak punya kesempatan itu, ia sudah mati sebelumnya dengan tidak rela. Tapi begitu kembali hidup di tubuh baru, keingin tahuannya juga semakin kuat. Hanya saja, ia menahannya dalam-dalam, karena memang Xabiru dan pemilik tubuh juga punya masalah sendiri. Asta ingin menunggu waktu yang tepat, dan menyelesaikan semuanya sekaligus.
"Aku sendirian bahkan di akhir hidupku. Orang tua dan tunanganku sebelumnya juga bersekongkol dengan Sintia menjebakku. Aku ketakutan waktu itu, tapi aku meredamnya dalam-dalam karena tidak ingin terlihat lemah. Yang paling penting adalah, aku kesakitan. Sangat sakit..." Ucap Asta dengan nada sendu, kedua matanya sudah mengeluarkan air tanpa bisa dicegah.
__ADS_1
Xabiru mendekap Asta, membuat Asta merasa terlindungi, tapi tangisnya kini pecah.
"Aku, hiks... sangat takut. Aku sendirian, tidak punya siapa-siapa, tidak ada seorangpun di sampingku. Bahkan tidak ada yang membela dan mau menolongku. Semuanya, hiks semuanya mengkhianatiku, mereka pergi, meninggalkan aku bahkan sebelum aku meninggal." Ucap Asta parau.
Xabiru semakin mengeratkan pelukannya. "Jangan diteruskan, sayang. Aku mohon." Pinta Xabiru dengan kedua mata terpejam.
Bahkan hatinya ikut sakit. Bagaimana bisa Asta-nya sendirian menerima perlakuan kejam seperti itu? Bayangkan kau sendirian, orang tua, sahabat dan tunangan bermuka dua, bahkan menyiksa dan membunuhmu. Selain dendam besar, rasa sakit yang dalam akan selalu terus teringat, bukan?
Asta menggelengkan kepalanya dalam dekapan Xabiru. Ia tidak ingin berhenti, tapi isakannya membuat dirinya tidak bisa melanjutkan perkataannya. Akhirnya Asta menyerah, dan hanya menangis dalam dekapan Xabiru.
Beberapa menit kemudian, Asta menjadi lebih baik. "Aku ingin membalas mereka, meski Sintia terlahir kembali tapi di kehidupan sebelumnya aku tidak pindah tubuh. Jadi aku tidak ada di daftar prediksi masa depannya." Jelas Asta. "Dean, aku mintai tolong membantuku mengawasi keluarga Baskoro dan terutama pergerakan Sintia. Karena dia mampu. Aku bukan meragukan K1 dan team IT di markas, tapi mereka sudah cukup sibuk menangani urusan markas. Jadi Dean adalah pilihanku satu-satunya." Lanjut Asta. "Lalu kenapa aku tidak meminta bantuanmu? Karena saat itu, aku masih belum jujur tentang diriku, dan setelah aku jujur, kau masih sakit. Aku tidak mau menambah pekerjaanmu, aku hanya mau kau istirahat dengan baik agar kau pulih dan dapat pulang lebih cepat." Jelasnya lagi.
Asta melepaskan pelukannya pelan, dan Xabiru melonggarkan pelukannya perlahan. Asta menaikkan sedikit tubuhnya membuat kepala keduanya sejajar, tatapan mata keduanya akhirnya bertemu.
"Maaf..." Gumam Xabiru lirih, kemudian tersenyum kecil membalas Asta. "Terimakasih sudah menemani dan mau memahamiku." Lanjutnya, lalu balas mengecup singkat bibir Asta.
Asta menganggukkan kepalanya dan tertawa kecil. Ah, mood nya memang sering berubah jika dihadapkan dengan Xabiru. Tapi, mood senang, ceria, dan bahagia adalah yang paling sering ia rasakan jika sedang bersamanya. Dan Asta suka perasaan tersebut.
"Lalu sekarang, apa rencanamu ke depannya?" Tanya Xabiru.
Asta mengedikkan bahu, "Mari awasi pergerakan keluarga Baskoro untuk sementara. Belum waktunya turun tangan. Aku masih harus menyelesaikan masalah dengan keluarga Waverly. Mereka sudah terlalu lama bersantai, kan?" Ucap Asta seraya tersenyum.
__ADS_1
Xabiru tidak bertanya perihal Asta yang mengungkit keluarga Waverly, ia tahu, Asta pasti hanya ingin membantu membalaskan dendam dari saabat6masa kecilnya dulu. Jadi, begitu keluarga Waverly di ungkit, ia dengan cepat menyetujuinya dan mendukungnya.
"Um, tunggu aku keluar rumah sakit. Mari buat perhitungan bersama." Ucap Xabiru balas tersenyum. Membuat Asta menganggukkan kepalanya setuju. "Selain itu, kita juga harus mengawasi gerak gerik mereka dulu untuk sementara, sampai aku keluar. Mari perintahkan K1 saja untuk tugas ini. Di markas tidak terlalu banyak masalah yang menyangkut team IT, jadi aku rasa K1 bisa menghandle nya." Ucap Xabiru lagi.
"Baik, sudah diputuskan." Ucap Asta semangat. Ia tidak peduli kenapa Xabiru tidak bertanya kenapa dirinya ingin balas dendam, tapi karena Xabiru mendukung dan bahkan mau menemaninya nanti, ia sangat senang dan sangat bersemangat.
Dirinya tidak sendirian lagi. Kini, meski ia pergi dan melakukan satu hal, akan ada satu orang yang akan selalu mendukung dan menemaninya. Asta merasa aman, merasa terlindungi, rasa sedih dan sakit atas penghianatan akan terobati seiring berjalannya waktu.
Yang terpenting adalah, batu di hatinya akhirnya terangkat. Ia kini merasa lega setelah menjelaskan dan mengungkapkan semuanya.
"Sebelum itu, ayo masuk ke ruangan! Kau tidak akan bisa kabur lagi kalo ini, oke." Ucap Xabiru memegang bahu Asta dan akhirnya keduanya memasuki ruangan.
"Kau bajingan yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan! Aku tidak akan lagi tertipu di masa depan!" Pekikan terakhir sebelum keduanya benar-benar memasuki ruang.
Asta kesal, Xabiru tertawa lebar.
*
*
Untuk request dari mmh ganteng, next time ya kak, maaf banget belum bisa up lebih dari dua bab. Lisa aku usahain upa lebih dari dua bab ya kakak sayang 🤗😚
__ADS_1
Ngomong² makasih buat semua pembaca setia udah dukung cerita ini sampai sekarang hehe, loveee banyak-banyak ❤️❤️❤️❤️❤️