
*
*
Makan siang berakhir dengan damai, tapi tidak setelahnya, karena kakek Xabiru mulai menepati omongannya, yakni memberi pelajaran pada Xabiru. Memukul, memukul, dan menjewer telinga, adalah yang diberikan kakeknya pada Xabiru.
Xabiru hanya bisa meringis dan mencoba menghindari kakeknya yang tidak berhenti sampai 5 menit kemudian, karena Asta bergerak dan melerainya.
Awalnya Asta tidak berani memisahkan dan menghentikan kakek Xabiru, tapi semakin lama, melihat Xabiru yang sengaja tidak menghindar lagi, ia jadi kasihan karena rautnya menunjukkan kesakitan. Alhasil, Asta turun tangan dan menghentikan sang kakek.
Asta merangkul lengan kakek Xabiru dan mengajaknya beristirahat, kemudian duduk bersampingan di sofa ruang tengah di lantai dua. Sedangkan Xabiru, terlihat terengah dan menatap Asta dengan raut cemberut, karena Asta malah mengambil kakeknya bukan dirinya.
Xabiru yang tidak mau kalah, langsung berjalan dan duduk di samping Asta, mengeluh dan mengadu sakit, memperlihatkan memar di lengan pada Asta. Mencoba mengambil perhatian Asta agar berpusat sepenuhnya pada dirinya.
Asta yang berada di tengah antara dua laki-laki dewasa ini kebingungan, apalagi setelah keduanya kembali bertengkar dengan saling mengatai. Kakeknya tidak mau mengalah, Xabiru juga ikut-ikutan enggan.
Sampai akhirnya, Soni datang dan memberitahu jika Teren ada di luar, Asta barulah bisa menghela nafas lega. Karena Xabiru dan dirinya harus menemui Teren saat itu, untuk menjelaskan tujuannya.
Tapi sebelum benar-benar bertemu Teren, Xabiru menanyakan uang yang ada di rekening toko pada Soni. Bertanya tentang keuntungan bersih, apakah cukup untuk pembangunan nantinya juga biaya-biaya lainnya untuk markas.
"Keuntungan bersih, hanya sekitar 2M, setelah dikurangi gaji pegawai, uang bulanan rumah, uang pembelian bibit, dan uang untuk biaya lainnya, dalam artian biaya tak terduga." Ucap Soni.
__ADS_1
"2M masih kurang. Gaji anak buah di markas juga belum di bayar untuk bulan ini. Jika di kurangi biaya untuk markas, tersisa 500 juta. Pembangunan Restoran, masih kurang banyak." Gumam Xabiru bingung, ia berpikir keras mencari jalan keluarnya.
"Kalau 500 juta, kita tidak bisa meminta Teren keluar bulan ini, sayang." Ucap Asta. "Uang pembelian bahan dari antana's, selama ini selalu diangsurkan ke markas. Entah membeli peralatan, kemananan, senjata, dan kendaraan. Tidak ada yang tersisa juga." Lanjut Asta seraya menghela nafas.
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan? Aku tidak ingin memberikan pasokan bahan lagi pada antana's. Mereka berhianat, prinsip dan integritasku tinggi, tidak akan pernah memaafkan penghianat." Ucap Xabiru dengan nada tegas. "Andai saja ada satu tempat yang bisa mendapat pasokan dari kita." Gumam Xabiru kemudian, seraya menghela nafas.
"AH!" Pekik Asta kencang, membuat Xabiru dan Soni terkejut bukan main. Ketiga sedang dalam keheningan, tapi Asta tiba-tiba memekik begitu. Siapa yang tidak akan terkejut, oke?.
"Ada apa? Aku, ah, jantungku hampir copot." Keluh Xabiru dengan raut cemas, seperti kelelahan. Diangguki Soni, yang melayangkan tatapan protes pada Asta.
Asta tertawa kecil, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian meminta maaf pada keduanya. "Kak Soni, kau terima tamu dulu di depan, bawa dia ke ruang tamu di samping parkiran saja, nanti aku dan Xabiru ke sana menyusul." Ucap Asta, membuat Soni seketika paham, ia ingin berbicara empat mata dengan Xabiru.
"Apa yang mau kau katakan?" Tanya Xabiru menatap Asta lembut.
"Aku teringat obat herbal di dalam cincin ruang. Sudah lama sejak mereka semua di tanam. Satupun belum pernah aku panen untuk bagian obat herbal. Jadi, bagaimana dengan diam-diam ke ibukota dan menjual obat-obat ini ke perusahaan farmasi yang dulu kau bilang tersebut." Jelas Asta dengan mata berbinar. "Ini langkah bagus yang bisa dipakai untuk mengatasi masalah keuangan bukan?" Lanjut Asta.
"Ah, kau benar." Ucap Xabiru, tapi ia terdiam setelahnya, berpikir cepat untuk menemukan ide agar perusahaan farmasi tersebut saja yang datang ke kabupaten, agar dirinya tidak perlu susah-susah pergi ke ibukota nantinya. "Tapi ibukota tidak adakan sekarang, akan lebih baik jika orang dari farmasi yang datang sendiri.", Lanjut Xabiru.
"Oh! Oh! Itu Jordan! Apakah dia masih di kabupaten? Bukankah dia juga termasuk orang perusahaan farmasi? Jika bukan dia, orang di sampingnya juga sangat mungkin, kan? Seingatkunorang di sampingnya adalah wakil direkturnya, pak Gabriel?" Tanya Asta menemukan secercah ide.
Xabiru tidak terpikirkan ke sana, apalagi Jordan ini sekarang adalah musuhnya. Tapi, untuk bekerja sama dengan perusahaan Farmasi harus tetap di lakukan. Hanya saja, Jordan? Dia memang salah satu bagiannya, tapi ia hanya pemegang saham, jadi untuk urusan kerja sama, sepertinya memang harus bertemu dengan wakil direkturnya, Gabriel.
__ADS_1
"Sayang, hubungi Clode dan K1 agar mereka datang kemari sekarang. Aku akan ke depan dulu, menemui Teren. Permasalahan keuangan terpecahkan dalam satu Minggu ini, jadi mari beri jawaban pada Teren sekarang, dan tunggu keputusannya dalam satu minggu. Bagaimana jika begini? Kau ada tambahan poin lain?" Tanya Xabiru seraya tersenyum, ia menusuk-nusuk pipi Asta dengan gemas.
Asta menggelengkan kepalanya, dan mengangguk setuju. "Itu saja, cepatlah pergi dan jelaskan. Aku akan menunggumu disini, untuk menghubungi Clode dan K1." Balas Asta seraya tersenyum.
Kemudian Xabiru pergi meninggalkan Asta setelah mengecup keningnya sekilas. Ke depan dan menemui Teren yang sudah menunggu di ruangan samping.
Begitu sampai, sudah ada Soni di sana yang terlihat baru saja duduk setelah menyajikan teh dan camilan. Tanpa menunggu lagi, Xabiru kemudian masuk dan menjelaskan maksud tujuannya.
Teren mendengarkan dengan seksama, kemudian ia menjadi ragu setelahnya. Tapi setelah Xabiru menjelaskan alasan ia menghentikan pasokan bahan karena pimpinannya berniat mencelakainya, akhirnya raut ragunya sedikit berubah. Di tambah Xabiru memberikan waktu satu Minggu ke pada Teren, alhasil setelah semuanya selesai, Xabiru mempersilahkan Teren kembali dulu saja.
Tinggal Soni dan Xabiru, kemudian Soni bertanya masalah keuangan yang kurang.
"Jangan khawatir, serahkan padaku. Semuanya ada dalam kendaliku." Ucap Xabiru seraya tersenyum dan menepuk pundak Soni penuh ketegasan dan kepercaya dirian.
Soni menatap mata tegas Xabiru, kemudian menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kalau begitu. Aku jadi tenang." Ucap Soni seraya tersenyum.
"Sayang, Clode dan K1 dalam perjalanan. Mari siapkan obatnya dulu, sekarang. Kak Soni aku minta tolong Carikan kotak kecil dengan kain bersih di dalamnya, ya, hehe." Ucap Asta yang tiba-tiba datang ke ruangan tersebut.
*
*
__ADS_1