Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
1 bulan sebelum pembalasan


__ADS_3

*


*


Besoknya, ketiganya memutuskan untuk menolak kedua keluarga atas proposal yang diajukan. Dua-duanya secara bersamaan ditolak setelah informasi dari Clode meyakinkan Xabiru dan Asta.


Sebagai bentuk persiapan dari rencana licik dua keluarga yang tidak suka atas penolakan, Xabiru memerpeketat sistem keamanan perusahaan, toko, restaurant, dan setiap orang di keluarga.


Setiap orang di keluarga yang hendak keluar dari rumah dibekali senjata dan 2 penjaga. Karena semua orang telah berlatih cukup lama, hanya saja kasus berbeda untuk Nira dan Dean. Keduanya hanya bisa dikawal 4 penjaga sekaligus. Pergi dan pulang diantar dan dijemput.


Semuanya dijaga ketat.


Apalagi Nira dan Dean yang paling rawan dijahati. Keduanya keluar masuk rumah tanpa masker dan keduanya lebih sering terlihat oleh umum, jadi gampang dikenali oleh orang, apalagi oleh orang yang berniat jahat.


Asta sendiri, kini tinggal di markas. Tidak lagi bolak balik rumah markas. Toko telah merekrut tugas pegawai baru. Dua pegawai sebagai pengganti pegawai yang berhenti sebelumnya, dan satu pegawai adalah untuk menggantikan Hana. Agar Hana bisa lebih santai mengurus rumah dan kebun di halaman belakang.


Meski ada kakek, tapi Asta enggan membuatnya bergerak berlebihan. Meski kekuatannya masih terbilang bagus untuk seorang lansia, tapi ia tetap enggan membuatnya mengerjakan banyak pekerjaan.


Asta me-raja kan kakek. Ketika ia bosan, ia bisa menonton, memainkan ponsel, bermain catur dan sebagainya. Jika masih bosan, kakek bahkan bisa membantu Xabiru dengan berkas, atau membantu Hana di halaman belakang.


Sudah tidak ada orang tua dikeluarganya. Dan kakek adalah satu-satunya yang tersisa kini. Jadi, Asta ingin menjaganya sebaik mungkin.


"Ah, aku rasa lebih enak hidup di kampung." Keluh Asta seraya menghela nafas, ia sedang berbaring di atas sofa di kantor Xabiru kini.


Sedangkan Xabiru duduk di depan mejanya, dengan tumpukan berkas. Sedang memeriksa berkas seperti biasanya.


Mendengar ucapan Asta yang tiba-tiba, Xabiru langsung menghentikan kegiatannya. Dahinya mengernyit dengan pikiran bingung. "Tiba-tiba sekali?" Tanya Xabiru.


"Um. Kau tahu, ketika kita pulang ke kampung, meski di awasi tapi sangat nyaman, kehidupannya tetap terasa santai. Tapi sekarang, berbeda. Meski banyak properti, bisnis, dan uang, lihatlah kita masih akan memancing musuh ketika kita berlaku tidak sesuai dengan keinginan mereka." Jelas Asta. "Kecualikan Waverly dan Baskoro, mereka sejak awal memang musuhku dan aku ingin membalasnya. Tapi yang lain, ketika toko kecil kita buka dulu, toko sekecil itu saja bisa memancing orang jahat. Apalagi sekarang, restauran dan perusahaan jasa kita? Ibaratnya, semakin tinggi kita, semakin kencang angin yang datang." Lanjutnya.

__ADS_1


"Jadi? Kau mau kembali saja ke kampung?" Tanya Xabiru. Ia berdiri dan berjalan menghampiri Asta setelah mendengar penjelasan Asta perihal kenyamanan di daerah terpencil tersebut.


"Um, siapa yang enggan menjalani kehidupan damai? Setiap orang aku rasa menginginkannya. Tapi, kita juga tidak bisa mundur. Hanya bisa maju, menyelesaikan semuanya." Balas Asta.


Xabiru tersenyum kecil, ia berlutut dan diam di samping Asta. Asta menatap wajah lembutnya, melihat senyumnya, hatinya seketika lebih tenang.


"Tenang saja, meski angin semakin kencang, aku akan menjadi penghalangnya. Agar kau bisa terus menjalani kehidupan dengan nyaman. Oke, sayang? Jangan khawatirkan apapun, ada aku disini. Serahkan saja semuanya padaku." Ucap Xabiru dengan lembut.


Asta menatap, dan mendengar, kedua matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Rasa haru besar menyeruak dari hatinya. Bangun dari tidurnya, ia langsung datang ke pelukan Xabiru.


"Um. Kau akan selalu menjadi rumah. Terimakasih, aku bersyukur punya orang yang selalu ada di sampingku seperti dirimu. Yang bahkan tidak peduli tentang kekuranganku." Ucap Asta.


Xabiru mengusap punggung Asta lembut. "Begini saja, ketika semuanya selesai, mari serahkan semua pekerjaan Yang ada di sini pada Clode dan anak buah kita. Lalu kita kembali ke kampung, dan hidup berdua di sana dengan nyaman. Bagaimana?" Tawar Xabiru.


"Bawa kakek, jangan tinggalkan." Balas Asta.


"Haha, tentu saja mari bawa kakek juga. Nira sekolah, jadi mari tinggalkan dia dengan kak Hana. Ada Dean dan orangku yang mengawasi nanti." Ucap Xabiru.


"Sepakat, bulan depan. 3 Minggu pakai untuk membenahi pengaturan Restauran, toko, dan perusahaan. Dan 1 Minggu terakhir, full, mari pakai untuk merencanakan rencana pembalasan dendam." Balas Xabiru.


Sudah lama dalam posisi berpelukan, Xabiru mulai menurunkan tangan yang ada di punggung Asta dengan pelan, karena tidak ingin Asta mengetahui niatnya.


"Ekhem!"


Mendengar suara orang yang berdehem, Asta dengan cepat melepaskan pelukan, menarik diri dari Xabiru yang mendesah kecewa. Kemudian bersama-sama menatap ke arah pintu masuk kantor.


"Kakek!" "Kakek?"


Asta dan Xabiru berucap bersamaan. Yang satu antusias, yang satu dengan nada tanya.

__ADS_1


Asta berdiri, beranjak cepat menghampiri kakek Xabiru dan merangkul lengannya. Membuat kakek Xabiru tertawa kecil melihat tingkah kekanak-kanakkan Asta.


Sedangkan Xabiru menghela nafas, bukan tidak suka, tapi kakeknya datang di saat yang tidak tepat. Baru saja ia mau meluncurkan niatnya pada Asta. Tapi belum di mulai, Asta bahkan sudah menarik diri dan berlari.


"Ada apa dengan wajahmu? Tidak suka aku datang?" Tanya kakeknya dengan nada menyindir.


"Kau tidak suka, sayang?" Tanya Asta bingung.


"Tidak, tidak, aku senang tentu saja. Bukankah kita sudah lumayan lama tidak bertemu? Lagipula, apa yang membuatku tidak senang? Tidak ada, tidak ada." Balas Xabiru seraya mengibaskan tangannya di udara kosong.


Asta menganggukkan kepalanya senang, sudah dua Minggu sejak sistem keamanan diperkuat. Asta seperti terkurung di markas. Dan semua orang hidup dengan tertekan karena tidak sebebas biasanya. Hal inilah yang membuat Asta mengeluh tentang kenyamanan hidup di desa.


Kakek belum menemui keduanya sejak itu, begitupula yang lain. Hanya Nira dan Dean yang sesekali datang untuk melihat keduanya, menyempatkan waktu ketika keduanya pulang sekolah.


Kakek Xabiru mendengus mendengar jawaban Xabiru. Ia beralih pada Asta. "Temani kakek berkeliling mau tidak? Xabiru sedang sibuk sepertinya, tidak apa-apa kan cucu kakek?" Tanya kakeknya pada Xabiru, dengan senyum pongah.


"Y-ya, tidak apa-apa." Balas Xabiru dengan senyum yang membuat matanya menyipit.


Asta menatap keduanya bergantian, merasa aneh tapi tidak tahu apa yang aneh tersebut.


"Bagaimana kalau ke atap? Piknik berdua denganku, menyenangkan tidak menurut kakek?" Tanya Asta ceria.


"Piknik?!" "Piknik?"


Xabiru dan kakeknya berucap bersamaan. Xabiru memekik dan kakeknya mempertimbangkan.


"Baiklah, ayo pergi." Ajak kakeknya, meninggalkan Xabiru yang memegang dada dengan perasaan sesak.


*

__ADS_1


*


__ADS_2