
*
*
Asta dan Xabiru tidak langsung menempati tempat tersebut. Keduanya, setelah cukup melihat-lihat dan merencanakan beberapa dekorasi juga renovasi kecil, langsung pergi meninggalkan rumah tersebut.
Keduanya masih harus kembali ke desa, lebih tepatnya ke kampung tempat keduanya tinggal di desa tersebut. Masih ada mobil yang harus dikembalikan, juga masih ada kereta kuda yang masih perlu diambil. Tidak lupa, Soni dan tanaman yang ditanam di rumah, yang sedang menunggui keduanya juga.
Setelah menempuh 2 jam setengah kembali ke desa, Xabiru langsung mengembalikan mobil dengan biaya sewa tambahan, sebab keduanya telat satu jam dalam pengembalian. Hanya sekitar 20rb, masih bisa keduanya bayar.
Lalu keduanya ke arah kereta kuda yang diparkir dan dititipkan pada Soni. Terlihat Soni yang sedang makan di atas kereta kuda dari kejauhan, karena memang gerbongnya tidak tertutup.
Soni melambaikan tangannya, begitu melihat dan sadar akan kedatangan keduanya. "Kalian lama sekali, astaga lihat kakiku kesemutan." Keluh Soni meringis.
Xabiru tertawa kecil, memang lama, sekitar 9 jam dari pukul 10 pagi keduanya berangkat. Saat ini, sudah pukul 7 malam. Jadi wajar saja Soni mengeluh. Lagipula, perjalanan ke kabupaten juga memakan waktu lama. Jadi, sebetulnya, yang lama adalah waktu diperjalanan bukan di tempat urusan.
"Aku kira kak Soni akan pulang meninggalkan kudaku sendirian, tidak disangka kau begitu setia." Goda Xabiru kembali tertawa.
"Hei, hei, aku ini orang jujur. Mana mungkin meninggalkan kuda yang dititipkan orang?" Balasnya sewot, "Ah, lagipula tidak apa-apa, karena aku disini lebih lama, bajuku jadi habis terjual. Besok, sudah bisa berjualan buah dan sayur darimu! Haha, kekayaan akan segera datang!" Lanjut Soni dengan semangat. Ia bahkan tidak mempedulikan lagi makanannya.
"Yo, semangat sekali? Tapi ini sudah malam, bagaimana menurutmu? Mau dibawa sekarang, atau besok pagi saja aku bawakan kemari buah dan sayurnya?", Tanya Xabiru, mengingatkan Soni tentang waktu.
Soni memukul kepalanya sendiri. "Aku bahkan melupakan hal sepenting ini! Baiklah, begini saja, hari ini aku akan pulang dulu, besok pagi sekali pukul 5 saja! Aku akan pergi dari rumah dan ke kampungmu, oke tidak?" Tanya Soni.
__ADS_1
" Sangat oke!" Balas Xabiru seraya tersenyum dan mengangguk. Asta juga ikut tersenyum, sebab ia suka pribadi Soni. Jujur dan semangat. Sangat bagus.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu, rumahku tidak terlalu jauh juga dari sini. Kalian juga pulanglah cepat, pasti sudah sangat lelah, bukan?" Ucap Soni tersenyum. Ia segera membereskan makanan dan barangnya, bersiap menggendong tas bekas baju-baju yang saat ini sudah kosong.
"Naik saja, kami antarkan. Tapi, tunggu sebentar lagi, kami sedang memesan makanan untuk makan malam. Sebentar lagi pelayan tersebut paling datang." Ucap Xabiru seraya mendudukkan Soni.
Soni tidak sungkan, jadi ia menurut saja. Malas pulang malam berjalan kaki, suka ada beberapa orang yang usil.
Tak lama kemudian, ada orang yang berjalan mendekati ketiganya, seraya membawa beberapa kresek yang berisi makanan.
"Banyak sekali?" Tanya Soni takjub.
"Untuk besok pagi, sekalian. Karena aku rasa, sepertinya kami tidak akan bisa bangun pagi besok untuk memasak, haha." Ucap Xabiru tertawa. Keduanya kelelahan di perjalanan, jadi dirasa keduanya mungkin akan sulit bangun pagi besoknya. "Tapi masih ada beberapa buah dan sayur mentah milikku, tadi sengaja aku sisakan." Lanjut Xabiru. Ia dan Asta telah berunding sebelumnya.
Soni menganggukkan kepalanya mengerti, tapi pikirannya berbeda, merujuk ke yang iya-iya haha. Padahal keduanya hanya ingin beristirahat saja.
Soni tertawa canggung, mengenyahkan pikirannya. Kemudian bergeser dan Asta naik ke dalam, sedangkan Xabiru dan Soni diam di depan sebagai kusir.
Di dalam, Asta diam-diam menyiapkan satu kresek kosong. Kemudian diisilah kresek tersebut dengan beberapa produk tanaman yang dibawanya dari ruang tanpa sepengetahuan keduanya, sebab masih ada tirai didalam yang memudahkan Asta masuk dan keluar cincin ruang.
Kresek menjadi gembung. Asta isi dengan pir dua buah, apel dua buah, dan mangga dua buah. Sisanya ada tomat, labu Siam, kangkung, dan dua bawang yakni merah dan putih.
Tidak semua Asta masukkan, sebab kresek yang ada tidak muat. Rata-rata ukurannya juga sama. Soni juga tidak akan curiga karena Xabiru tadi sudah bilang ada sisa bahan mentah tanaman miliknya. Memang keduanya sudah berunding perihal hal tersebut.
__ADS_1
Tapi, kresek yang dibawa memang berisi makanan matang, dan ada satu tambahan kresek kosong di dalamnya. Sengaja disiapkan untuk memberi Soni beberapa macam buah dan sayur. Anggap saja upah karena sudah menjaga kudanya. Selain itu, Asta juga menyelipkan uang dua lembaran berwarna biru di dalam kresek.
15 menit, kereta kuda sampai di depan rumah Soni. Terlihat di luar istri dan anaknya menunggui dengan raut cemas, mungkin karena Soni pulang terlambat.
Soni melambaikan tangannya dengan semangat begitu melihat anak istrinya didepan rumah. Rumah sederhana yang masih sama memakai papan. Hanya saja lebih baik dari rumah Xabiru dan Asta di kampung.
"Kak Soni, bawa ini." Ucap Asta menghentikan Soni yang hendak turun dari kereta.
"Ah? Apa ini? Tidak perlu repot-repot, aku jadi tidak enak." Ucap Soni menolak.
Asta menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa, kak Soni sudah menunggui kuda dan kereta kami lama sekali, anggap saja ini bonus sebelum besok resmi bekerja sama, oke? Ada beberapa camilan juga, ingat berikan pada anakmu." Ucap Asta.
Soni menatap Xabiru, dan melihat Xabiru mengangguk. Kemudian Soni menerimanya dengan penuh rasa terimakasih. Setelahnya, keduanya pun pergi, meninggalkan rumah Soni, pulang ke rumah di kampung.
Sepeninggal Asta dan Xabiru, Soni cepat-cepat menyuruh anak dan istrinya masuk, dengan senyum sumringah. Lalu langsung membongkar kresek yang dibawakan Asta di ruang tengah rumahnya.
Soni tertegun. Isinya sangat banyak, lalu ada uang juga! Astaga, hampir menangis, ia berkali-kali mengucap syukur telah dipertemukan dengan dua orang baik ini.
Lalu istrinya, dengan cepat memasak makan malam, karena memang dirinya dan anak-anak belum makan. Soni juga masihlah belum, karena tadi ia tidak sempat menyelesaikan makannya.
Disisi lain, Asta dan Xabiru juga sampai di rumah pada pukul 8 lebih. Kampungnya sudah gelap, karena memang pencahayaan kurang disana. Ada beberapa bagian jalan yang diterangi, hanya saja, didaerah rumah keduanya, itu benar-benar sangat gelap. Ingat, rumah keduanya adalah yang paling ujung.
Begitu sampai, setelah memasukkan kuda ke kandang dan memberi makan juga minum, keduanya langsung makan malam dengan suasana hangat.
__ADS_1
*
*