
*
*
Setelah dua hari menunggu, akhirnya Xabiru pulang ke rumah hanya untuk menemui Asta yang selama dua hari ini tidak mengunjungi markas. Lebih tepatnya tidak memberikan makan siang dan makan malam seperti biasa ia lakukan, meski dititipkan pada K2 atau K3.
Xabiru juga tidak memaksakan diri bertemu Asta saat itu, karena ia memang harus melatih rencana dan strategi untuk pembalasan nanti.
Tapi hari ini berbeda, hari Minggu dan semua anak buah memang diberi keringanan dengan meliburkan diri, jadi Xabiru sendiri juga pulang ke rumah untuk menemui istrinya. Sekalian, bertanya karena dua hari ini Asta tidak datang, apa yang dilakukannya, dan apa alasannya tidak datang.
Tapi yang lebih penting adalah ia rindu masakannya, ia rindu pelukannya, ia rindu semuanya dari Asta. Meski terlihat seperti budak cinta, tapi jika waktunya bekerja ia akan dengan serius menekuni pekerjaannya. Kadang ia lupa waktu dan melupakan Asta juga. Makanya Asta sendiri selalu mengirimkan makanan untuk makan siang dan malam Xabiru.
Tapi selama beberapa hari ini, rasa makanan yang dimakannya berbeda. Jadi ia dengan cepat menebak jika itu memang bukan masakan istrinya. Membuat perasaan rindunya semakin besar, setiap harinya.
Tak hanya Xabiru, Asta pun sama, tapi karena ada Teren yang ternyata malah setiap hari datang menemuinya meminta jawaban, alhasil Asta malas keluar rumah, dan memilih berdiam diri di kamar, lebih tepatnya di cincin ruangnya. Sesekali keluar untuk setor muka pada kakek Xabiru, Nira, Soni dan Hana.
Meski Asta merasa keempat orang ini curiga pada rahasianya, ia tetap berlaku dan bersikap seperti biasa. Lagipula keempatnya juga tidak pernah bertanya apapun, dan lebih mempercayai Asta. Alhasil Asta juga tidak begitu waspada pada mereka.
Sampai akhirnya, hari ini Xabiru pulang, karena Teren belum datang, dan biasa datang setelah jam makan siang, Asta dengan cepat mengobrol kan masalah Teren pada Xabiru. Dimulai dari permohonannya, sampai perilakunya, yang setiap saat datang ke depan toko dan rumahnya.
Respon pertama yang Xabiru berikan adalah menghela nafas, keningnya sedikit mengerut memikirkan masalah tersebut. Teren memang tidak bersalah tapi malah ia yang kena getahnya.
Tapi tak lama, ide bagus muncul di pikiran Xabiru. "Sayang, aku ada ide. Bagaimana jika kita menyuruh Teren keluar dari Antana's?" Tanya Xabiru dengan senyum penuh arti.
__ADS_1
Tapi Asta belum sadar maksud dan tujuan Xabiru, akhirnya ia kebingungan dan lebih memilih bertanya perihal kejelasannya. "Maksudmu? Aku tidak begitu paham, kenapa menyuruhnya keluar mendadak?" Tanyanya.
Xabiru tersenyum, "Karena ia terus ditekan oleh atasannya padahal ia tidak bersalah, justru itu sebabnya, lebih baik dia keluar kan?" Tanya Xabiru lagi.
"Tapi, Teren sedang membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya. Jika dia berhenti, darimana ia dapat uang?" Tanya Asta.
"Kau lupa? Bukankah kita ada usaha juga? Kinerja Terenjuga bagus dan realistis. Tidak banyak neko-neko. Jadi, menurutku, ia bisa kita rekrut untuk bekerja disini." Balas Xabiru.
"Toko kita sudah cukup dengan karyawannya. Bagaimana bisa ditambah lagi? Penghasilannya bahkan berkurang karena kini kita tidakada kerja sama dengan Anatana's." Ucap Asta dengan wajah masam. "Jika kita tidak mampu membayar gaji karyawan, bagaimana? Lalu, kita memang hendak mendirikan restoran baru, tapi masih satu bulan lagi bukan? Apa keuangan kita akan cukup sampai saat itu?" Lanjut Asta dengan helaan nafas berat.
"Coba lihat di rekeningku ada berapa? Kita jumlahkan dengan jumlah uang yang ada di rekeningku." Ucap Xabiru seraya mengeluarkan ponsel, untuk melihat jumlah saldo di rekeningnya kini.
Begitupun Asta, ia juga melihat jumlah uang direkeningnya. "Punyaku hanya ada 300 juta, jatah bulanan darimu." Ucap Asta seraya memperlihatkan tampilan rekening di ponselnya pada Xabiru.
Kedua mata Asta berbinar. "Ah, aku melupakan itu! Sudah dari 3 bulan yang lalu, kan? Menurutmu apakah jumlahnya bisa mencapai 1M?" Tanya Asta dengan semangat.
"Menurutku bahkan lebih, bukankah keuntungan toko sehari-harinya bisa sampai 300 juta? Jika sepi, mentok-mentok juga sekitar 80 sampai 90 juta kan? Jumlahkan saja dalam 1 bulan. Kita ambil 90 juta, dalam 1 bulan keuntungan bersih kita lebih dari 1M meski dikurangi hari libur toko." Jelas Xabiru seraya mengedipkan matanya.
Mata Asta semakin berbinar, kedua tangannya kini sudah saling menggenggam, seolah memuja Xabiru. "Aku sudah tidak mengurus masalah keuangan di toko, selain memenuhi pasokan barang setiap harinya, sisanya kak Soni dan Kak Hana yang mengurusnya. Tidak sangka, ternyata kita orang kaya?" Ucap Asta memekik, dengan nada antusias.
Xabiru terkekeh kecil, kemudian tangannya terangkat dan mengacak rambut Asta pelan. "Kau menggemaskan, ayo ke kamar." Ucap Xabiru.
"Xabiru! Apa hubungannya gemas dengan kamar!" Pekik Asta berubah, memelototkan kedua matanya dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Karena aku gemas, makanya aku ingin membawamu ke kamar. Cukup aku saja yang melihat kegemasan istriku, hmm?" Ucap Xabiru, seraya tersenyum. Kemudian beranjak, dan dengan cepat menggendong Asta, membawanya ke kamar.
Asta yang tidak siap, sempat memekik, tapi Xabiru tidak menggubrisnya dan terus berjalan. Asta juga sempat memberontak meminta di lepaskan, tapi akhirnya pasrah saja di bawa Xabiru ke kamarnya.
Tapi, belum Xabiru melakukan aksinya, pintu kamar keduanya diketuk berkali-kali oleh sang kakek, membuat Xabiru yang sudah panas memekik pelan dengan kesal.
Kini Xabiru memeluk Asta, menahan nafsunya. Padahal kakeknya sudah menyuruhnya keluar sejak awal. Akhirnya, karena kakek Xabiru memanggilnya lagi, Asta hanya bisa mengusap kepala Xabiru, dan membiarkan Xabiru pergi ke kamar mandi, sedangkan dirinya ke luar kamar, menemui kakek Xabiru.
"Kakek? Ada apa?" Tanya Asta seraya tersenyum.
"Kau tidur? Maaf kakek mengganggu, sudah waktunya makan siang, ayo. Meski anak nakal itu tidak di rumah beberapa hari ini, kau jangan mogok makan. Jangan membuat dirimu tersiksa oke? Ketika Xabiru pulang, nanti dia yang kakek buat tersiksa." Ucap Kakek Xabiru.
Asta tahu, kakeknya belum tahu Xabiru sudah kembali. Beberapa hari ini, memang ia telat makan siang karena berdiam diri di kamar. Kakeknya sering kali memanggilnya keluar untuk sekadar makan. Jika bukan kakek, juga ada kak Hana yang akan memanggilnya untuk makan.
"Baik, kakek, mari turun untuk makan siang." Balas Asta mengangguk setuju.
"Aish, bocah nakal itu. Kalau sudah bekerja memang suka lupa keluarga. Kau maklum saja ya? Tapi agar dia tidak begini lagi, ke depannya kakek akan beri pelajaran padanya agar tidak lupa keluarga lagi." Ucap kakek Xabiru, seraya berjalan beriringan dengan Asta, yang tertawa kecil mendengarnya.
Xabiru mungkin juga mendengar perkataan kakeknya, kan? Maksudnya yang sebelumnya, bukan yang perkataan yang barusan. Karena jelas posisi keduanya sudah sedikit jauh dari kamar.
*
*
__ADS_1